Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
13. Bukan Benci


“Gue mau dibawa kemana? Berhenti!” perintah Gala yang langsung dituruti oleh Gemma.


Saking tenggelam dalam emosi, Gala sampai baru menyadari kalau cewek itu membawanya ke area pantai di utara, dipinggiran kota Jakarta. Gemma menuruti perintah Gala untuk menepikan mobilnya dekat trotoar. Dia pun membuka jendelanya dan mematikan AC, menikmati angin sore yang berhembus lembut. Berharap suasana ini dapat menetralisir badai di hati Gala yang masih mengamuk.


Tapi angin itu tidak berpengaruh banyak pada orang tersebut. Darah dalam nadinya masih berdesir cepat. Jantungnya telah lama berdegup kencang sedari tadi. Gemma melepas seatbelt-nya hendak turun, tetapi urung karena Gala ternyata masih bergeming.


“Ngapain kita ke sini?” tanya Gala tidak suka.


“Gue pengen lo lebih tenang… Lo sempat kepancing sama omongan Julian yang—“


“Tenang? Lo kira setelah semua kejadian tadi, gue bakal tenang? Kenapa lo bela dia?!” Sayangnya yang membuat Gala semakin emosi karena Gemma tiba-tiba membela cowok brengsek itu. Gemma paham kalau Gala seratus persen sudah terprovokasi.


“Bukan gitu Gala… Sumpah, gue nggak bermaksud bela dia! Lo harus—“


“Harus apa?! Kalo lo suka sama Julian, lo harusnya bilang dari awal, biar gue nggak ganggu lo! Gue ngerasa jadi kambing congek gara-gara ngebelain lo yang ternyata malah memihak orang lain!”


“Gue nggak bisa biarin lo berantem sama Julian. Lo mikir nggak sih, kalo lo mukul dia duluan, dia yang bakal diuntungin?”


“Gue justru ngerasa bego! Gue ngerasa tolol! Kalo gue tau lo bakal belain dia, nggak bakal gue maju dan pasang badan buat lo!”


Kembali Gemma menghembuskan napasnya dengan pelan, berusaha agar emosinya sendiri tidak terpancing. “Gue cuma nggak mau lihat lo dipukul balik Julian… Gue nggak bisa lihat lo disakitin orang. Ngelihat lo berantem sama Julian sudah bikin gue ketakutan. Kalo lo kenapa-napa gimana?”


“Nggak usah sok care sama gue, Gem!”


“Tapi gue emang care sama lo…” cicit Gemma dengan menundukkan kepalanya, tak berani memandang cowok yang ada di depannya.


“Bullshit!” Sontak, Gala tertawa kecut.


Gadis itu mengangkat kepalanya, menatap lurus pada netra Gala. “No. It’s not…” bisik Gemma dengan wajahnya yang memerah.


“Mentang-mentang sekarang lo jadi populer dan semua orang suka sama lo, lo pikir semua omongan lo bisa dipercaya?”


“Hah?” alis Gemma terangkat tidak mengerti dengan apa yang Gala barusan bilang. “Apa itu yang lo pikirin selama ini tentang gue?”


“Keluar!”


Mata Gemma melebar tidak percaya. “Keluar? Tu-turun? Di sini?”


Dengan kesal, Gala membukakan pintu mobilnya dan memaksa Gemma turun. Kemudian pergi membawa mobilnya begitu saja untuk menjauh.


“Fvck you, Julian!” maki cowok itu sambil meremas kemudinya.


Belum ada seratus meter Gala menjauh dari Gemma, akal sehatnya kembali. Matanya yang tadi menggelap, mulai tampak manusiawi. Dia kembali pada Gemma, turun dari mobil dan menghampiri gadis yang saat ini tengah berdiri kaku, matanya tertuju pada titik semu di hamparan pasir yang begitu luas dan hangat.


Gala mengaduh dalam hati, tidak sanggup membayangkan wajah itu tak lagi memandangnya dengan ceria. Dia mantap harus menyelesaikan perang batinnya saat ini. Bukankah itu juga yang dijanjikannya pada Gemma tadi? Dan kenapa sekarang jadi Gemma yang malah menjelaskan perasaannya?


Gala sadar betul. Tadi dia marah, sekarang dia malah menyesal. Kenapa setiap bersama gadis ini, perasaannya selalu fluktuatif?


“Gemma… Gue kebawa emosi tadi.” Hanya itu yang bisa dikatakan Gala saat ini. Otaknya buntu. Dia sudah tidak tahu bagaimana caranya hendak bicara lagi pada gadis itu.


Gemma menghela napas berat, sebab kejadian hari ini benar-benar menguras emosinya. Gadis itu tampak letih, dan terlalu lelah untuk balik marah. “Maafin gue, Gala… gue yang salah udah libatin Julian di sini. Nggak seharusnya gue minta tolong Julian. Harusnya gue minta tolong Mommy atau siapapun itu. Gue bersalah sama lo."


Ya… akhirnya Gemma yang minta maaf. Padahal sebelumnya, dia sempat marah pada Gala karena sikapnya selama ini.


Gala semakin merasa bersalah. “Harusnya gue yang berhutang penjelasan sama lo. Tapi jujur, gue bingung mau ngomong apa. Gue nggak tau harus mulai dari mana.“


“Lo nggak usah jelasin apa-apa. Gue tau, perubahan gue ngebuat lo nggak nyaman lagi ada di dekat gue. Gue makin banyak teman, makin banyak yang suka sama gue. Tapi hati gue terhadap teman-teman akrab gue nggak berubah sama sekali, terutama sama lo.”


Kedua tangan Gemma terpasang di depan dada, memeluk dirinya sendiri. “Selama sebulan ini gue diam aja ngelihat lo ngejauhin gue… Apa lo tau? Dicuekin sama lo… bikin gue nggak enak buat ngapa-ngapain… gue nggak bisa mikir, gue nggak konsen, gue nggak bisa maksimal membuat sesuatu. Lo bikin gue kepikiran untuk hal yang gue nggak pengin pikirin. Gue—“


“Stop, Gem! Bukan lo yang harusnya menjelaskan…”


Cowok itu menelan ludahnya, ingin mencegah semua pengakuan yang seharusnya menjadi pengakuannya. Kenapa isi hati gadis itu sama persis dengan isi hatinya saat ini?


“Lo tau kenapa gue selama ini dingin sama lo?” tanya Gala. Dengan semua sisa emosi positif yang ada dalam otaknya, Gala mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk menyudahi konflik sore ini. Menyudahi rasa bersalah yang dimiliki gadis itu yang seharusnya menjadi rasa bersalah miliknya. “Bukan lo yang harusnya minta maaf. Bukan lo yang harusnya merasa bersalah. I’m guilty, karena gue ngerasa udah nggak bisa temenan lagi sama lo…”


"Kenapa lo mikir gitu?" Mata Gemma memerah dan berkaca-kaca. “Apa lo benci gue sekarang?"


“Bukan benci Gem… Tapi… "


"Tapi apa?" tanya Gemma putus asa saat cowok itu kembali terdiam. Menggigit bibir ragu lalu bicara, "Beritahu gue alasannya kenapa lo seperti ini... gue nggak mau kehilangan lo... gue... gue akan perbaiki diri gue kalo itu yang lo mau!"


"Bukan! Nggak ada yang salah sama lo, Gem. You're perfect!"


"Lalu kenapa?"


"Alasannya... Karena…” Lidah Gala mendadak kelu. Keningnya mengernyit saat otaknya bekerja keras mencari kalimat yang benar, yang tidak akan menyakiti gadis itu atau membuat mereka salah paham lagi.


“Karena apa?”


“Karena aku sayang sama kamu.”


...****************...


Jangan lupa tarik napas ya beib!