
Tim V-V atau V-H? 🤭
...***...
Pulang sekolah, Vincent berdiri di depan kelas Viani dengan perasaan gugup. Dia tentunya sudah mendengar curhatan Hana yang bersedih karena Viani tak mau lagi menjadi temannya.
Dan pikiran remaja Vincent yang masih labil itu akhirnya melunak saat mendengar kesaksian kalau kejadian itu adalah sesuatu yang dirancang Chicrich, hingga dia jadi merasa bersalah karena sudah salah sangka.
Namun belum sempat Vincent memanggil Viani, gadis itu sudah berlalu pergi tanpa memedulikannya yang berdiri di luar menunggunya.
Sesampainya di rumah, Viani turun dari mobil yang dikendarai Gala saat menjemputnya dari sekolah tadi. Gala sengaja pulang lebih cepat saat itu, untuk makan siang bersama di sebuah restoran sebelum pulang.
Sejak Gala menikah dengan Gemma, pria itu memang sering mengajak Viani makan berdua di mana pun Viani suka demi membuat bonding di antara sebagai ayah dan anak.
Namun saat Gala dan Viani menuju teras, sosok Vincent yang masih dengan seragam SMA-nya--yang berantakan dengan ujung seragam yang keluar dari celananya--telah duduk di meja tamu di teras, ditemani segelas jus jeruk di depannya. Gemma yang mungkin menerima Vincent di sana dan sempat menjamu anak itu dengan minuman dan camilan.
Anak lelaki itu lalu berdiri saat Viani berjalan mendekat menuju pintu kembar rumah mereka.
“Hai … Ngapain lo di sini?” tanya Viani pelan. Dia sengaja tak ingin meninggikan suaranya agar terkesan akur di hadapan Gala.
“Om masuk dulu ya, Vi … Vin …” ucapnya seraya menatap Viani dan Vincent satu per satu dan masuk ke dalam.
Setelah memastikan pria itu benar-benar ke dalam, Vincent maju, mendekati Viani dan menatapnya intens. “Di sekolah, lo nggak kasih gue kesempatan ngomong. Gue harus gimana coba?”
“Gue sama lo udah nggak ada urusan apa-apa, Vin. Lo pulang deh.”
“Vi, dengerin gue dulu!” Vincent mencekal lengan Viani yang langsung ditepis olehnya.
“Jangan sentuh gue, ya!”
“Gue suka sama elo!” Vincent tak tahan lagi tanpa melepaskan lengan halus itu.
Dia mengatakan rasa sukanya dengan setengah berteriak. Jengah selalu dihindari, tak pelak membuat kesabaran Vincent habis. Perasaan yang menggelora dalam dadanya sudah tak bisa ditahan-tahan ketika gadis itu terus saja menjauhinya tanpa memberinya waktu sedetik pun untuk bicara.
Viani menatap Vincent dengan sengit. Keduanya bernapas terengah-engah karena letupan emosi tertahan. Namun Vincent tahu, di saat ini, bukanlah dirinya yang pantas untuk marah. Dialah yang harusnya menerima kemarahan dari Viani.
“Gue suka elo,” ulangnya dengan suara lemah. “Gue suka elo sejak kita main bareng di Dufan, sejak kita sama-sama makan di Ancol. Gue beneran suka sama elo.”
Sejenak, Vincent bisa melihat ada binar berbeda pada mata bulat itu. Mata yang sebenarnya selalu curi-curi pandang padanya sepanjang waktu, dan membuat hati Vincent seakan luluh meski hanya lewat tatapan.
“Gue ganggu elo bukan karena gue benci. Gue nggak suka saat elo ngelihat gue dalam keadaan nggak berdaya tiap kali fisik gue berdekatan sama elo. Gue terlalu malu natap mata lo. Karena itu gue lebih suka ganggu, lo jadi lebih mudah gue gapai.
Dan … gue minta maaf, karena gue sempat salah paham. Nadia itu bukan siapa-siapa, Vi. Gue sama Nadia nggak ada apa-apa."
“Foto itu udah cukup nunjukin semuanya, Vincent ... Lo jangan maruk ... Di sini lo bilang suka sama gue, tapi nyatanya yang gue lihat tiap hari, lo ngekor dia kayak kucing persia. Nadia dari awal nge-bully gue karena elo. Gue capek berhadapan sama Nadia, Vin. Lagian, lo nggak bisa nge-date 2 cewek sekaligus.”
“Gue beneran nggak ada hubungan sama Nadia,” terang Vincent yang melepaskan tangannya dari lengan Viani dan menjambak rambutnya sendiri dengan putus asa. “Kenapa sih lo nggak bisa percaya?”
“Terus kenapa mobil Nadia ngintilin elo sampe ke sini, Vin?”
“Apa?”
Mata Vincent membesar kaget. Dilihatnya sebuah mobil BMW terparkir di depan rumah Viani, di luar pagar yang belum ditutup itu. Di dalamnya, Nadia duduk gelisah bersama seorang temannya, menatap ke arah Vincent dengan tajam dan menusuk.
“Terus ini apa?” Vincent mengeluarkan sebuah topi bisbol dari dalam tasnya, dan seketika wajah Viani berubah dengan ekspresi malu hingga dia membuang muka. “Ini dari elo kan? Elo tau gue suka tim baseball ini dari Nyokap, elo yang nanya sendiri!”
Diberondong dengan kalimat-kalimat itu hanya membuat Viani semakin membuang mukanya sebab hal itu memang benar. Dia sempat menanyakan ke Erika apa kesukaan Vincent, dan Erika menjawab kalau dia suka nonton bisbol dan menyebut nama tim favoritnya. Dia memberikan topi itu lewat Erika dan tak mungkin wanita itu tidak memberitahukan anaknya.
“Kalau gue bilang itu bukan dari gue, apa elo bakal biarin gue masuk ke dalam sekarang juga?” tanya Viani pada Vincent yang sudah kehabisan akal bagaimana menghindar dari lelaki ini. Setelah menunggu, kealpaan respon Vincent membuat Viani mengerti. “Sampai jumpa, Vincent …”
“Gue bakal usaha—“
Seketika langkah Viani terhenti.
“Gue bakal usaha buat dapatin elo.”
Viani melirik Vincent. “Terus kalo elo dapatin gue, dan kita nanti punya masalah lagi, lo bakal lampiasinnya dengan mesraan sama orang lain?"
Mulut Vincent mengatup dengan urat leher mengeras. Di satu sisi, dia merasa begitu menyesal sudah membiarkan Nadia menciumnya dan bahkan mengambil foto mereka malam itu.
Viani berusaha untuk tak peduli pada wajah yang penuh dengan rasa bersalah itu. Dia berlalu masuk ke dalam rumahnya dan meninggalkan Vincent sendirian di sana.
Lelaki itu menatap nanar pada Viani sampai gadis itu menghilang ke dalam.
Dia mengambil ranselnya, menyampirkannya di bahu lalu bersiap pulang. Tapi langkahnya terhenti saat suara laki-laki memanggilnya dari belakang. Dia pun memutar badan, melihat sosok Gala sudah berdiri tegak di tempatnya.
“Vincent, duduk dulu, Om mau bicara.” Gala mempersilakan Vincent untuk kembali duduk di kursi tersebut, berseberangan dengan dirinya.
Peluh di kening Vincent mulai bercucuran. Akal sehatnya mulai membayangkan yang tidak-tidak karena mungkin saja, Gala sudah mendengar apa yang terjadi antara Vincent dan Viani tadi.
“Saya tau kalau kamu suka sama anak saya …”
Perut Vincent seakan baru saja ditinju. Dia seakan mual dengan tudingan—yang sayangnya benar tersebut. Telapak tangannya mulai basah dan detak jantungnya semakin tak beraturan.
Dilihatnya Gala dengan takut-takut. Kalau selama ini, Gala selalu jadi pribadi yang santai saat bergaul, namun di hadapannya, Gala benar-benar jadi orang yang kaku dan tak terjamah. Pria kini begitu berbeda dan amat menakutkan.
“Viani sudah bilang kalau dia tidak suka sama kamu, kan? Jadi saya hanya menegaskan sama kamu … lupakan Viani. Cinta kamu bertepuk sebelah tangan dan kamu hanya akan sakit hati. Lebih baik, kamu temui cewek yang ada di mobil itu. Buatlah anak saya sekolah dengan tenang di sana. Jangan libatkan dia dalam cinta segitiga yang bikin dia nggak nyaman.”
“Tapi Om—“
“Om nggak suka kalau kamu dekat-dekat Viani. Saya, personally nggak suka sama kamu. Saya udah kehilangan kesan yang baik setelah memperhatikan apa yang terjadi di antara kalian saat di restoran itu.”
Gala mengatakannya tanpa difilter, tanpa dipikirkan. Semua spontan keluar begitu saja dari bibirnya dengan begitu mulus, dan tak peduli siapa ayah dari anak laki-laki yang ada di depannya itu.
Vincent menaikkan sebelah alisnya. Dia tidak menyangka kalau Gala tahu kejadian di restoran tersebut. Dia pun mencoba membela diri. “Saya dalam posisi bingung pada saat itu Om. Awalnya saya kecewa. Tapi sekarang saya udah tau semuanya, dan saya hanya pengen minta maaf."
"Kalau keadaan itu saya balik dan terjadi di kamu, bagaimana kira-kira reaksi yang kamu harapin dari Viani? Saya hanya pasang badan dari orang yang mencoba menyakiti anak saya dan bikin dia menangis semalam suntuk." Gala menatapnya tajam, tatapan itu seakan menjadi kunci yang membuat mulut Vicent tertutup rapat tanpa bisa menyanggah perkataannya.
Sesungguhnya, Gala tidak tega mencecar Vincent. Perdebatan itu pastilah akan dimenangkan oleh pria dewasa, dan Vincent masih terlalu naif untuk melawan nalar orang dewasa. Tapi dia sendiri tak suka kalau ada orang yang menyakiti keluarganya.
“Sudah saatnya kamu pulang, Vincent.”
...****************...