
Dari kaca depan, Viani hanya bisa menyaksikan anak mereka sedang ditangani oleh beberapa paramedis. Wanita di kursi roda tersebut hanya bisa bersandar lemah pada sang suami.
Mata Alvin berkaca-kaca, berdoa dalam hati semoga bayi itu tidak kenapa-napa. Matanya melirik pada Vincent yang memeluk tubuh Viani yang sudah terlihat pasrah. Pasangan itu menyaksikan detik-detik bayi mereka meregang nyawa.
Sakit. Dada Alvin sesak melihatnya. Begitu pula semua orang yang menyaksikan.
Niko dan Erika muncul tak lama setelahnya. Mereka langsung merangkul anak dan menantu mereka yang tengah dilanda ketakutan luar biasa.
“Kita serahin sama Tuhan ya, Vin …” bisik Erika pada Vincent.
Kesemua orang itu menatap penuh cemas pada sosok di dalam inkubator itu. Semua berdoa dalam hati, semua bergandengan tangan, memberi kekuatan pada Vincent terutama Viani.
Namun, tidak semua usaha itu tidak berkhianat pada hasil. Mata Viani terbelalak pada saat semua paramedis itu akhirnya melepas tangan mereka dari bayi mereka.
Mendadak tubuh Viani gemetaran.
“Vi?” Vincent memanggil Viani yang terlihat aneh. Tubuhnya gemetar tiada henti seperti tidak dapat dikendalikan. Semua orang panik dan berusaha menyadarkan wanita itu.
Tidak lama kemudian, Viani pun kehilangan kesadarannya.
***
Kulit kuning langsat Viani merasakan suhu rendah di sekitar tubuhnya. Saat dia membuka mata, dirinya sudah berada di sebuah ruangan berbeda dari ruangan yang kemarin. AC tersebut terasa dingin. Terasa familiar.
Ah, ini adalah ruangan pernah dia datangi. Matanya pun mengerjap-ngerjap dan memperhatikan sekeliling. Tidak ada orang di ruangannya. Hanya beberapa paramedis yang lalu lalang di seberangnya.
Bunyi “bip” bersahut-sahutan antara ruangan satu dan ruangan lainnya. Dia pun berusaha menggerakkan kepalanya ke samping dan bersuara. Tetapi tenggorokannya tercekat pada sebuah selang yang masuk lewat hidungnya.
Salah seorang perawat yang menyadari bahwa Viani telah membuka matanya pun mendatanginya. “Bu Viani? Apa Bu Viani bisa lihat saya? Kalau bisa, tolong berkedip 2 kali, Bu.”
Viani pun berkedip dua kali. Tak lama, Viani tertidur kembali.
***
“Apa dia memang banyak tidur seperti ini? Sudah satu hari dia nggak sadar."
“Tidak apa-apa, Pak. Ibu Viani sudah dalam keadaan stabil.”
“Nggak apa-apa memangnya kalau istri saya dipindahkan sekarang?”
“Dokter sudah mengizinkan, Pak.”
Viani sadar kembali dan mendapati dirinya sudah tak mengenakan selang di hidungnya. Saat matanya membuka, Viani serasa mendapat kekuatan baru untuk bersuara lebih nyaring, meskipun terdengar begitu lirih.
“Vin …”
Yang dipanggil menoleh, tersenyum lebar dan langsung duduk di sampingnya. “Sayang? Udah sadar?”
Saat ini, imej yang Viani tangkap adalah suaminya terlihat berubah. Tubuhnya sekarang jauh lebih kurus. Rambutnya terpotong pendek rapi, penampilannya terjaga, tidak ada jambang tipis di wajahnya seperti yang dia lihat di NICU tempo hari. Segar sekali, dan amat sangat tampan, meski berat badannya tidak seperti kemarin.
Berbeda sekali dengan dirinya yang terlihat amat bengkak—tunggu!
Viani menatap tangannya yang terpasang infus. Kurus--ralat--lebih kecil? Apa dalam satu malam Viani langsung turun berat badan? Kembali dia menatap bagian bawah tubuhnya, tidak lagi bengkak seperti kemarin.
“Mari kita pindah ruangan, Mbak,” ucap seorang perawat yang muncul dan mendorong brankar Viani keluar dari ruang ICU.
Dengan tenang, Vincent berjalan di samping Viani menuju ruang VVIP yang dia tempati kemarin. Bau ruangan ini terasa lebih segar dibanding ruang ICU tadi. Viani trauma melihat ICU karena … seketika Viani berubah sendu.
“Saya tinggal dulu ya, Pak, Bu …” ujar si perawat dengan sopan setelah Viani pindah ke brankar yang baru.
Wanita itu menghiraukan si perawat tadi. Dia hanya menatap sekeliling ruangan dalam diam.
“Selamat datang kembali Sayangku,” ucap Vincent yang duduk di sampingnya dan membelai kepala sang istri dengan sayang dan kerinduan yang amat dalam.
"Kembali?" tanya Viani bingung.
"Kamu koma, Sayang."
"Hah?!"
Dari mulut Vincent mengalirlah semua kilas balik apa yang terjadi dengannya. Viani sampai menutup mulutnya, dia syok sendiri mendengar kenyataan. Pre eklamsianya kambuh, dia pun sempat mengalami gagal jantung.
"Satu bulan?" tanyanya lagi tak percaya.
"Iya. Tapi sekarang, kamu sudah bangun." Vincent meraih tangan Viani, mengecup pergelangan tangannya dalam-dalam tanpa memutus tatapannya dari sang istri lalu memejamkan matanya kala hangat tangan Viani menerpa wajahnya.
Pelupuk mata Vincent dipenuhi tetesan air mata yang siap jatuh. "Aku sangat takut kehilangan kamu. Aku bersyukur pada Tuhan karena kamu sudah kembali sama aku."
Tubuh Vincent bergerak maju lalu merengkuh Viani. Bahu lelaki itu gemetar dan suara erangan itu terdengar lirih.
"Aku udah bangun, Vin."
Pria itu mengecup puncak kepala Viani lalu duduk kembali. "Siang ini semua akan datang, Sayang. Aku sudah kabari orang tua kita. Mama Gemma nggak berhenti temanin kamu. Tadi malam dia pulang untuk kembali lagi siang ini."
Lalu tiba-tiba suatu perasaan membuat Viani kembali dirundung duka. "Dia udah dimakamkan?"
Vincent mengerutkan keningnya. Dia siapa?
Tangan Viani pun terulur, mengelus perutnya yang sudah tidak memiliki bayi di dalamnya. Dadanya begitu sesak.
Vincent yang menyadari diamnya Viani langsung menggenggam erat tangan istrinya. “Kenapa, Sayang?”
Seketika air mata Viani tumpah bak bendungan pecah. Tubuh itu kembali Vincent rengkuh, kedua tangannya memeluk erat istrinya. "Vi... jangan nangis."
"Aku ibu yang buruk, bahkan belum sempat kasih ASI."
Tidak ada respon lagi dari Vincent. Lelaki itu malah melepaskan pelukannya. Dia mengambil air dan minum dari sebuah gelas. Tak memedulikan Viani yang masih terus menangis dalam duka.
"Antarkan aku, Vin! Antarkan aku ke pemakaman. Aku mau ketemu anak ki--"
"Permisi, bayi tuan Vincent sudah selesai mandi," kata seorang perawat setelah mengetuk dan membuka pintu.
Viani terperanjat. "My Babyyyyy!!"
...****************...