Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
90. Marah


Lalu di sinilah mereka keesokan harinya, di kabin first class yang kesemuanya penuh, diborong oleh keluarga Aditya. Gala memboyong keluarga besarnya untuk berlibur bersama ke Korea Selatan setelah resepsi besar yang diadakan di hotel yang sama. Mereka berangkat dari bandara sekitar pukul 9 pagi dan akan sampai di Seoul pada malam hari.


Dari semua orang yang ikut, Vianilah yang paling bersemangat. Gadis itu sampai bolak-balik toilet, gugup dengan apa yang akan dia lihat nanti ketika sampai di bandara.


“Vi… Vi! Lagakmu kayak udah mau ketemu Jungkook,” ujar Mona yang jengah melihat gadis itu begitu gelisah.


“Ih, Tante! Viani excited nih! Emangnya Rachel nggak suka juga sama BTS?”


Rachel, anak Mona yang hanya muda satu tahun darinya merespon datar, “Nggak tuh. Aku sukanya Olivia Rodrigo!”


“Nggak seru, ah!” sergah Viani dengan tangan yang semakin dingin. Viani kembali ke kursinya yang tepat berada di belakang Gala dan Gemma.


Semua orang di kabin itu punya rencana sendiri-sendiri. Felix dan istrinya sekalian akan baby moon. Mona akan mendatangi sang suami yang kebetulan sedang ada bisnis di Busan. Sedangkan Paul dan sang istri juga ikut meramaikan suasana karena sudah lama tidak liburan. Setelah 4 hari di Korea, mereka akan langsung berangkat ke Jepang. Sedangkan Viani, berharap bisa bertemu BTS. Tetapi secara bersama-sama, mereka akan memakai waktu sebanyak 2 hari untuk jalan-jalan dengan personel yang lengkap.


Kini, kedua pengantin baru tersebut tergolek tak beradaya di atas kursi dalam keadaan tertidur pulas setelah 'bekerja keras-banting tulang-pantang menyerah itulah pedomanmu' demi menghadirkan penerus klan Aditya dari benih Gala.


Tak peduli betapa ributnya anak-anak Mona bermain di kabin, mereka tetap diam di tempat dan tidak terbangun sepanjang 7 jam perjalanan.


...***...


Sampai di hotel, mereka langsung buru-buru memesan layanan makan malam di kamar karena semua orang sudah cukup lelah.


Mereka sedang berkumpul di suite tempat Gala dan Gemma menginap untuk makan bersama. Kali ini bergantian, pria itulah yang terlihat tak nyaman saat makan malam.


Pria itu rupanya tidak begitu cocok dengan makanan Korea. Dia lebih memilih makan pizza atau ayam goreng tepung saja. Untungnya di sini sangat banyak hidangan non Korea yang bisa dia pilih. Berbeda dengan Viani yang sangat menikmati, gadis kecil itu sedang menyantap hidangan di depannya dengan lahap.


“Napa, Om?” tanya Viani yang merasa diperhatikan Gala dengan kening berkerut.


“Gimana rasa daunnya?” tanya Gala penasaran.


“Nih, mau?” Viani menyodorkan selembar daun Ssam.


“Nggak. Om cuma nanya rasanya? Apa nggak kayak makan rumput gitu?”


Mona melihat ekspresi lucu Gala saat memperhatikan sayur tersebut. "Ini cuman sayur, bukan percobaan nuklir. Nggak ada beda sama selada kok."


Dan pada akhirnya semua benar-benar kekenyangan dan kelelahan, satu per satu meninggalkan kamar mereka termasuk Viani yang tidur bersama Rachel di kamar yang sama, di suite yang ditempati Mona.


Kini Gala dan Gemma telah sama-sama selesai mandi, dan sudah siap-siap untuk tidur.


“Sayang…” panggil Gemma pelan.


“Ya.”


“Satu aja belum jadi, udah nanya berapa.”


Gemma menepuk lengan Gala dengan gemas, “Ya mesti ada perencanaan!”


“Berapa aja, terserah, Sayang.”


Gemma mendesah pelan, tatapannya menerawang. “Aku baru aja lepas IUD seminggu lalu. Nggak tau kapan hamil lagi. Gimana kalo aku nanti susah hamil?”


“Emang itu masalah?”


“Buat banyak pria di luar sana, itu masalah. Masalah besar malah.”


“Kita kan kemarin udah sepakat. Sedikasihnya Tuhan. Artinya ya terserah yang di atas mau ngasihnya kapan dan berapanya."


"Kalo aku belum langsung hamil, gimana?"


"Ya nggak pa-pa, selow."


“Kamu nggak takut dapat tekanan sosial? Belum lagi mertua, dan—“


“Kamu lupa kalau aku udah yatim piatu? Mana ada yang bisa paksa kita. Lagi pula, kenapa anak harus dipersoalkan? Apa itu jadi tolok ukur kadar kebahagiaan orang?”


“Buat kebanyakan orang, iya.”


“Tapi aku menikah sama kamu bukan hanya karena pengen punya anak dari kamu. Aku memilih kamu karena cinta, karena sayang. Punya anak itu bonus. Nggak punya ya udah.”


“Gampang banget sih ngomonnya! Kamu mungkin awalnya bisa aja berpikir kayak gitu. Kamu belum aja ngerasain gimana tekanan keluarga nantinya saat kamu lambat punya anak atau kenapa punya anak cuma satu. Mantan ipar aku, adik iparnya Mas Indra digunjing habis-habisan sama Tante Mira dan suaminya sendiri karena sampe sekarang belum punya anak."


“Come on, kita udah hidup di abad 21, Gem. Di luar sana banyak orang tua bunuh anak, banyak bayi di titip ke panti asuhan karena orang tuanya nggak siap lahir batin. Aku juga nggak tau nantinya aku subur atau nggak. Seandainya, aku yang nggak bisa punya anak, kamu mau apa? Apa kamu mau berhenti cinta sama aku?”


Gemma terdiam sesaat menatap Gala dengan kaget. Tak menyangka kalau kalimat itu akan terlontar dari Gala. “Kenapa kamu malah nanya gitu?”


“Ya jelas aku nggak suka sama pembahasan ini, Gem. Dari awal aku mati-matian kejar kamu, mohon-mohon cinta kamu bukan untuk kamu ragukan. Tapi dengan bahas ini, kamu sama aja nyamain aku sama keluarga mantan suami kamu!” Gala berdiri dari ranjang dan pergi ke toilet tanpa menoleh pada Gemma yang terperanjat pada tempatnya.


Gemma terduduk di tempat tidur, tercenung dengan apa yang terjadi. Lalu dia menyadari satu hal saat Gala kembali mengenakan pakaian lengkap lalu tidur membelakanginya.


Gala marah.


...****************...