Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
S2 Bab 31 – Kunjungan Alvin


Viani jadi tidak banyak bicara. Gadis itu lebih banyak menghabiskan waktu di kamar menyendiri. Kalau pun dia keluar, hanya untuk bekerja saja.


Beberapa orang datang ke rumahnya dan membujuknya bicara termasuk Harry dan Hana. Toni dan April sampai datang untuk melihat kondisi Viani langsung sebab di kantor, Viani sangat diam.


Vincent menolak mentah-mentah keinginan Viani pada saat itu, tetapi Viani bersikeras membatalkannya.


Beban moril yang Viani terima saat melihat Niko hampir mencekik dan memukul Gala di rumah sakit jadi bayang-bayang mengerikan yang tidak bisa dia hempaskan begitu saja dari benaknya.


Belum lagi kondisi Erika yang tiba-tiba—diakibatkan pertengkarannya dengan Niko saat membahas pernikahan Viani dan Vincent—membuat gadis itu merasa bersalah. Keluarga mereka jadi tercerai berai karena ulah Viani, itu yang diyakininya sampai sekarang.


Terdengar kabar bahwa Erika sudah diperbolehkan pulang dan dia terus membaik setelah pemasangan ring tersebut. Tapi hal itu tetap saja tak membuat Viani jadi lebih baik.


Lima minggu setelah kejadian itu, Viani kini telah menetap di rumah orang tuanya.


“Vi … ada Vincent di bawah,” panggil Gemma pada Viani. “Ayo, Sayang, kamu temui dulu tunanganmu.”


Tunangan? Itu adalah kata-kata yang hampir tidak pernah dia dengar selama beebrapa minggu ini. Biasanya Bu Marni dan ibunya selalu menyebutkan nama saja.


Kakinya pun bergerak melangkah untuk mengambil sebuah kotak beludru hitam dari tasnya. Dia melepas cincin tunangan yang masih melekat di jari manisnya dan meletakkannya kembali dalam kotak. “Berikan ini pada Vincent, Ma …”


“Tapi, Viani … Mama rasa ini bukan solusi, kalian masih bisa menikah, Vi …” Gemma masih berusaha mencoba membujuk anaknya agar pernikahan itu tetap terjadi.


Tetapi Viani sudah tidak mau lagi, sepertinya. Gadis itu menggeleng, dia lelah untuk menolak dan terus menolak pada orang-orang yang berusaha meyakinkannya.


“Kita lagi nggak berdiskusi, Ma …” ujar Viani tegas dengan tone yang begitu pelan, memotong segala ajakan Gemma yang selalu bergaung di telinganya setiap hari.


Gemma sudah kehabisan akal. “Mama tidak akan kasih ini sama Vincent. Kamu yang harus kasih sendiri, Vi!” ujarnya kesal dan meninggalkan sang anak dalam kamar.


Setelah sang ibu keluar dan menutup pintu, Viani menguncinya agar tidak ada yang bisa masuk. Lalu kembali duduk di tepi ranjang sambil menonton film barat apa saja. Dia menghindari drama dan segala jenis genre film yang dapat menguras air mata.


“Viani …” Suara Vincent terdengar dari luar diiringi suara ketukan pelan. “Vi … open the door, please.”


Viani memilih mengabaikan suara Vincent dan memasang headset saja. Diliriknya kotak beludru berisi cincin yang mengikat hubungan mereka dulu. Dia sadar kalau dia tidak sanggup memberikan itu pada Vincent, maka dia memilih mengabaikan saja ketukan pria itu.


***


Satu jam kemudian, Viani yang tiba-tiba merasa lapar, membuka pintunya. Namun pergerakannya terhenti saat tubuhnya didorong paksa oleh Vincent hingga masuk kembali ke dalam kamar.


“Keluar, Vin!” usir Viani.


Tetapi lelaki tiu tidak menjawab, malah terus maju dan menghimpit Viani sampai ke dinding. “Aku nggak mau keluar dari sini, Vi!”


“Di antara kita udah nggak ada apa-apa, Vin … kumohon pergilah.”


“Kamu nggak bisa batalin pernikahan kita begitu aja!”


“Aku bisa! Buktinya aku udah telepon pihak gedung dan mereka udah ngembaliin uang kamu 100%. Kalau nggak percaya, cek aja!”


Vincent mengerutkan kening, sebegitu tidakinginnya kah Viani padanya? “Vi … ayolah, kita masih bisa bujuk Papa.”


“Om Niko sudah dengan jelas bilang sama kamu, Vin, harus memilih antara siapa. Apa kamu mau mengulang apa yang terjadi sama Tante Erika—“


“Mama udah sehat ... kamu nggak usah merasa bersalah sama beliau—“


“Coba kamu di posisi aku, Vin!”


Kalimat itu membungkam mulut Vincent, dengan susah payah dia menelan ludahnya dan mencoba mendengarkan Viani.


“Aku bikin Tante serangan jantung bahkan sebelum jadi menantunya. Ini semua salah aku, Vin … semua orang kena getahnya karena aku yang nggak bisa jaga diri. Papa dan Mama bertengkar karena aku, kamu ditampar Papa, kamu diusir Om Niko, Om Niko dan Tante Erika bertengkar, semuanya karena aku …”


Viani berusaha menahan tangis dengan menggigit bibirnya. “Pergilah, Vin … aku nggak akan tuntut apa-apa dari kamu.”


Cengkeraman Vincent pada lengan Viani mengendur. Semua ini semakin pelik jauh di luar dugaannya. Wanita di depannya sudah terlalu banyak menyalahkan diri sendiri sampai dia tidak bisa berpikir rasional. Tapi Vincent tidak mau menyerah, tidak akan.


Dengan berat hati, Vincent melepas Viani dan pergi dari kamarnya.  Saat itu juga Viani dapat bernapas dengan lega. Padahal baru beberapa hari dia tidak bertemu Vincent, tetapi rasanya sudah seabad. Viani tidak menampik kalau dia merindukan pria itu.


Ah, memikirkannya saja sudah membuat kepala Viani pening!


***


Satu-satunya orang yang mau dia temui hari ini adalah Alvin.  Alvin dibawa Viani menuju ruang keluarga di mana Marni sudah menyajikan berbagai kudapan yang bisa mereka nikmati sambil menonton film laga yang baru tayang di HBO.


Hanya di depan pria itu, Viani dapat menjadi dirinya sendiri dan bercerita dengan santai.


Selain karena perangai Alvin yang terkadang lucu dan polos, dia juga merupakan pendengar yang baik. Pria itu begitu kaget mendengar Viani dan Vincent tidak jadi menikah.


Mereka kini duduk di sofa L besar di sudut berlawanan sambil bersandar dan minum lemonade.


“Apa? Lo dah gila, Vi?!” ujar Alvin dengan mulut menganga sambil memegang satu mangkuk krmbang jagung di tangannya. “Elo ceritanya santai banget sih?”


Viani yang gagal married, dia yang panik kan? “Terus lo mau lihat gue gimana? Nangis-nangis? Meraung-raung? Udah cape gue.”


“Berarti kemarin begitu dong?” ledek Alvin dengan seringaian menggoda.


Viani mengambil bantal sofa dan melemparnya pada Alvin, “Berisik lo!”


Alvin terkekeh lalu meneguk kembali lemonade-nya. “Tapi, Vi. In my humble opinion, lo seharusnya nggak perlu batalin pernikahan kalian. Postpone aja udah cukup. Emang mau sampai kapan Om Niko marahnya lama-lama?”


Viani berhenti memakan pop corn-nya tepat saat senyumannya menghilang. “Gue trauma banget ngeliat kondisi Tante Erika, Vin … gue takut ini berulang dan berefek sama pernikahan mereka. Kalau cerai gegara gue gimana?”


Alvin terdiam. Dia memang tidak memikirkan sejauh itu. Tapi bukan berarti solusinya seperti ini juga. “Jangan terlalu overthinking dulu. Lo udah pernah ngomong langsung sama Tante Erika?”


Viani menggeleng. “Sampai sekarang, Tante Erika nggak pernah ngomong sama gue. Terakhir kali dia coba menengahi berakibat satu ring harus di pasang di pembuluh darahnya setelah bertengkar hebat sama suaminya. Ya karena bahas masalah gue!"


“Well, kalau Om Niko cinta sama Tante Erika, maka dia nggak akan mengulangi kesalahannya sama istrinya. Mereka nggak akan semudah itu menjadi hambar atau bercerai, Vi.”


“Tau sih. Tapi habis itu nggak ada lagi tuh beliau coba ngomong ke Om Niko.”


“Tante Erika pasti ada alasannya, Vi. Buktinya lo bilang sendiri kalau Om dan Tante berantem karena masalah ini kan? Barang kali, dia belum nemu waktu yang tepat buat ngomong lagi ke Om.”


Viani mulai berpikir sejenak. Dia sudah mengetahui semua yang terjadi antara Niko dan Erika. Betapa lelaki itu sangat mencintai istrinya. Bukankah dengan adanya perkara ini, sebenarnya Niko bisa jadi lebih gampang dibujuk melalui Erika? Tapi rasa-rasanya sudah terlambat untuk minta bantuan pada Erika.


“Gue nggak nyangka lo bisa dewasa juga?”


Alvin terbahak. “Lo pada ngeremehin gue melulu sih.”


“Lo kebanyakan makan coki-coki kali, makanya dianggap bocil slengean!”


“Apa lo bilang?”


Sementara Alvin, melempar Viani balik dengan bantal dan mereka saling melemparkan guyonan. Saat Viani berdiri, dia kembali merasa pusing.


“Alvin …” ujarnya sambil memegangi kepalanya.


Sadar akan sesuatu yang berbeda, lelaki itu segera berdiri dan memegang tangan Viani. Wajahnya berubah cemas. “Lo tiba-tiba pucat! Lo nggak pa-pa?”


“Gue laper sih tadi … terus—“


“Eh … eh … eh, Vi!! Viani!!”


Alvin langsung menangkap tubuh Viani yang tiba-tiba lunglai di pelukannya.


...****************...