Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
S2 Bab 21– Ruang Praktik


Saat itu hari Jumat. Sepanjang hari kerja beberapa hari ini, kesabaran Viani sedang diuji karena ada dua PO yang barangnya kembali bermasalah.


Bolak balik, dia harus ke ruang dr. Toni untuk mengonfirmasi semua dugaan yang tak pernah dia lakukan. Entah apa yang ada dalam pikiran para karyawan lain sampai mereka juga membawa-bawa kasus Indra yang dulu ke ranah pekerjaan mereka sekarang. Dia juga semakin bad mood saat harus diinterogasi oleh pihak audit berkepanjangan.


“Beberapa orang pengen agar aku dipecat aja. Termasuk si Bunga, Manajer Operasional yang songong itu. Tapi dr. Toni untungnya ngebela aku,” Viani bercerita pada Vincent lewat sebuah video call setelah pertemuannya dengan Toni.


“Selama nggak ada bukti, kamu kerja terus aja, Vi … tapi kalo emang lingkungannya nggak enak, pindah dari sana nggak ada salahnya, kok.”


“Kamu bener juga. Nanggung tapinya, 2 tahun lagi aku emang udah rencana resign dan fokus di Aryaditya Hospital … Ngomong-ngomong, kamu bukannya lagi sibuk sekarang? Masih nerima pasien kan?”


“Masih 5 menit lagi. Aku masih pengen lihat kamu, calon istri aku …” Vincent mengangkat kepala saat ada orang yang memanggilnya. Dia menganggukkan kepalanya pada Lana, sang asisten yang mengatakan bahwa masih ada 4 pasien lagi untuk siang itu. Diberinya kode agar mereka dapat menunggu 5 menit lagi.


Wajah Viani spontan memerah. “Vin … Aku belum bilang ‘iya’ ya! Enak aja main klaim calon istri!”


Vincent semakin ingin menggoda Viani. “Kan kenyataannya emang gitu, kamu juga kemarin nggak menolak atau ngebantah aku …”


Yah, Viani makin terpojok dengan pernyataan Vincent itu. “Udah ah, urus pasien sana, Dok! Entar pasiennya ngomel-ngomel …”


“Enggak bakal! Kalau udah ngelihat pesona aku, nggak mungkin mereka marah-marah. Kecuali pasiennya cowok!”


“Vin!”


Vincent terkekeh pada Viani yang kesal tapi masih menahan diri. “Anyway, aku pengen ketemu kamu, mungkin nanti malem? Aku ada kejutan buat kamu.”


“Apa sih?”


“Ya kalo disampein sekarang namanya bukan kejutan lagi, Sayaaaangg!”


“Viiiin!” Apakah ada perbandingan yang lebih mendekati dari pada seekor kepiting rebus yang terduduk pasrah dalam sebuah panci dengan air mendidih? Atau pada cokelat batang beku yang dimasukkan dalam microwave dan terjebak di sana untuk beberapa menit?


Hal itulah yang terjadi pada Viani. Mendengar Vincent mengucapkan kata ‘sayang’ itu, wajahnya memerah dan hatinya langsung meleleh. Ini baru kata sayang, bagaimana dengan hal lainnya?


Vincent tertawa pelan lalu menutup telepon itu. Tak membiarkan Viani mencari cara untuk membalas kelakuan Vincent yang sudah semakin berani menggodanya.


Namun hal itu hanya sebentar. Viani kembali dihadapkan pada segudang masalah di kantor. Memang tak ada temuan bahwa Viani benar-benar melakukan approval karena gratifikasi, tetapi tetap saja hal itu tak dapat dipercaya oleh sebagian orang.


Sebenarnya gratifikasi adalah hal yang lumrah di dunia purchasing, apalagi pada perusahaan keluarga. Namun, akan jadi masalah besar ketika barang yang datang tidak sesuai hingga menimbulkan kerugian besar bagi perusahaan, mau itu perusahaan yang terbuka atau tidak.


Bermunculan pula beberapa manusia yang suka cari gara-gara terhadap kesalahan yang tak pernah dia buat sama sekali. Viani sedang ke toilet bersama April, menjelang jam makan siang panjang karena dibarengi dengan Ishoma.


April dan Viani melewati segerombolan gadis-gadis dari divisi finance yang berkumpul di rest room. Mereka sedang bergosip ria. Mendadak, keributan itu terhenti saat Viani lewat untuk masuk ke bilik toilet.


“Stt Stt! Miss Approval lewat!”


“Apa-apa approve, pantes mobilnya baru!”


“Jangan-jangan, simpanan Om-om juga, Sis!”


“Eh, kalian nggak tau? Doi kan deket sama dr. Toni? Direktur kita yang tampan dan fvcking hot itu?”


“Lo lupa? Dia anaknya Indra Suteja yang itu! Bibit koruptornya udah ada keles, dari lahir!”


“Oh … pantes dia mau tinggal sama Bokapnya yang sekarang, duitnya lebih banyak pasti, ye khaaan? Si Indra itu kan udah miskin? Mana mau doi tinggal sama bokap kere!"


Gadis itu memutuskan untuk tidak peduli pada semua itu. Dia keluar dari bilik dengan tenang. Berbeda dengan April yang terlihat sangat terganggu dengan apa yang mereka sampaikan. Mata April sampai berkaca-kaca.


Jangan kira setelah menghindari orang-orang itu, langkah Viani akan jadi lebih mudah. Sesampainya di parkiran, dia melihat Rinto yang ketiduran seperti biasanya, setelah lelah bergadang menjaga sang ibu yang masih di opname di rumah sakit.


Namun ada yang aneh di sana. Mobil Viani terlihat timpang. Benar saja, ban kiri belakang mobilnya sebelah telah kempes dengan 3 buah paku besar dan panjang yang tertancap rapi di sana.


Viani tak bisa menyalahkan Rinto yang tak bisa menjaga mobil miliknya karena keadaan. Dia pun pergi ke ruang CCTV yang ada di pos satpam, meminta salah satu dari satpam memutarkan rekaman pagi ini di parkiran. Dan benar saja, gadis-gadis itulah yang melakukannya.


“B!tch,” umpat Viani kesal, sedangkan April terlihat diam saja namun cukup gelisah. Siapa yang tidak gelisah melihat sekelas manajer saja, para mbak-mbak itu bertindak barbar bak yang punya Trisinar.


Dia pun membangunkan Rinto, dan meminta lelaki itu menggantikan ban kempes tersebut. Berulang kali Rinto minta maaf, tetapi Viani menyuruhnya diam dan konsentrasi saja pada pekerjaannya.


Tapi beruntung, setelah makan siang, Indra tiba-tiba meneleponnya. Ayahnya yang kini tinggal dengan Philip dan Mira itu mengatakan ada seorang anak muda bernama Vincent, yang datang ke rumahnya dan menanyakan apakah dia boleh melamar Viani.


Indra dan Philip mengenalnya sebagai anak dari Niko dan Erika yang mereka temui saat pernikahan Gemma dan Gala. Namun, kalau saja saat itu Vincent tidak memperkenalkan diri, mungkin Indra dan Philip pasti lupa. Maklum, sudah tua ….


“Papa, ngijinin?” tanya Viani penasaran.


“Ya iyalah. Apa sih yang nggak buat anak Papa. Kamu suka kan sama dia? Anaknya baik dan sopan. Papa senang juga kalau punya menantu seorang dokter. Kesannya keren gitu ... Kamu pinter nyari calon!”


Bukan suka lagi, tapi udah cinta. “Hehehe. Papa bisa aja.”


Oh, jadi ini kejutan yang Vincent maksudkan? Viani terkesan. Lelaki itu tak pernah bilang padanya kalau akan bertemu langsung dengan Indra dan meminta izin padanya. Ini adalah sebuah kejutan di luar ekspektasinya yang membuatnya semakin yakin pada Vincent.


Mood Viani kembali. Meski dalam hati dia masih merasa kesal, tapi dia harus menyambut kabar ini dengan hati berbunga-bunga. Sepertinya dia harus mendatangi kekasihnya sore ini. Entah untuk apa, dia hanya bahagia.


...***...


Pada pukul 3, dia langsung minta izin untuk pulang lebih cepat dari biasanya. Dia ingin mengunjungi Vincent di klinik Niko. Namun sebelum itu, dia singgah dulu ke sebuah toko alat kesehatan untuk membelikan Vincent sebuah stetoskop baru.


Di panggilan video tadi, terlihat jelas kalau benda tersebut sudah terlihat usang dan layak diganti. Maka, Viani membelikan dengan harga paling mahal, kemudian dia menyimpannya dalam tasnya.


Rinto mengantarkannya sampai di depan parkiran klinik tepat pada pukul 4 sore lewat 15 menit. Saat itu, klinik terlihat sudah sepi. Hanya ada dua buah mobil dan beberapa motor karyawan saja di sana. Viani kenal mobil putih itu milik Vincent. Sedangkan mobil yang satu lagi entah milik siapa.


Dari jendela, Viani bisa melihat masih ada seorang asisten yang biasa menunggu di depan ruangan Vincent. Tebakan Viani, bahwa Vincent masih ada di dalam ruang praktiknya. Dia pun bergegas ke sana dan mendapati ada seorang perempuan yang dia kenal sebagai Jenny, mantan pacar Vincent.


Asistennya memanggil Vincent agar keluar dari sana. Dengan snellinya, Vincent keluar dari ruangannya dan menemui wanita tersebut. Perempuan itu dan Vincent sempat terlibat percakapan yang Viani tak bisa menebak tentang apa. Lalu, tiba-tiba perempuan itu mendadak rebah.


Vincent dan asistennya segera mengangkat tubuhnya dan memasukkannya ke dalam ruang praktik. Tak lama berselang, sang asisten keluar dengan wajah memerah.


Viani segera mendatangi asistennya. “Hai, Mbak Lana.”


“Oh, ada Kak Viani!” serunya dengan terkejut. “Nyari dokter Vincent ya?”


“Iya …”


“Dia lagi … err … ada pasien, Kak!”


Sayup-sayup, Viani mendengar suara gesekan. Diiringi dengan suara lirih wanita yang tak jelas bergumam apa.


Viani maju, dan membuka pintunya tanpa menghiraukan Lana yang terlihat berusaha menahan, tapi juga tak berubat apa-apa.


Kedua orang yang ada di dalam sana terkejut saat melihat pintu yang tiba-tiba terbuka. Mata Vincent melebar saat melihat Viani berdiri di sana, menyaksikan Jenny dan dirinya dalam posisi sedang … berpelukan.


...****************...