Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
S2 Bab 28 – Persiapan


Malam itu juga, Vincent dan Viani melakukan planning terhadap pernikahan mereka. Satu minggu, waktu yang mereka pilih untuk pernikahan kilat mereka. Yang pasti untuk catatan sipil terpaksa harus tertunda.


Viani baru saja menutup teleponnya dengan seorang pendeta.


"Altar, souvenir sudah …” Viani membuat list dalam notebook yang selalu dia bawa dalam tas kerjanya. “Tinggal cincin, itu gampanglah. MUA dan Hair Stylist, banyak. Tapi attire? Aku pengen yang simpel. Kita udah nggak ada waktu.”


“Casual aja Sayang …” Dalam hal ini, tentu pembuatan pakaian pernikahan tentunya akan sangat memakan waktu. “Dress simpel dan vest, nggak usah pake gaun atau tuxedo. Kita bisa beli di mal aja supaya menghemat waktu. Apa pun yang kamu pakai, kamu tetap cantik.”


Viani melempar Vincent dengan bantal sofa. “Gombal!”


Vincent menangkap bantal itu, “Emang bener kok!” Lelaki itu belum selesai berbicara dengan salah seorang teman yang pernah menikah di sebuah venue di kawasan Tanjung Duren untuk reservasi tempat sekaligus catering. “Iya. Hmm gitu … Oke. Minta nomor contact person-nya dong.”


Kedua calon pengantin itu bahkan telah sepakat dalam penggunaan budget. Viani akan mengurus semua yang disiapkan di luar gedung, sedangkan Vincent mengurus tempat, cincin dan makanan.


“Venue katanya ada paket include semua, catering, décor, entertainment, parkir, semua udah jadi satu. Kita terima beres."


“Hm … sesuai budget kamu?”


“Masih sesuai, Sayang. Coba liat list besok, kita mau ke mana aja?”


“Besok pagi-pagi lihat ketemu vendor di venue, lalu ke mal. Beli cincin dan attire. Ngomong-ngomong, kamu yakin sama venue-nya?”


“Yakin! Kita bisa indoor atau outdoor di sana, tinggal pilih. Kapasitas 100 orang.”


“Kita lihat aja nanti ya.” Viani memasukkan notebook-nya dalam tas kerjanya, melepas ikatan rambutnya dan bersandar pada sofa.


Vincent meletakkan ponselnya kemudian duduk di sebelah Viani. Tangannya melingkar di bahu Viani, membawa gadis itu dalam pelukannya.


“Vi … Sabtu ini kita nikah. Tapi aku harus jujur sama kamu. Sekarang aku adalah dokter pengangguran. Aku nggak mungkin kembali ke klinik Papa …”


Helaan napas berat Vincent menyapu wajah Viani. “Aku nggak tau masa depan apa yang menanti kita di depan sana. Kalau kamu hamil, aku nggak tau bisa memenuhi kebutuhan kamu atau nggak."


Viani merangkum wajah Vincent, memperhatikan bulu-bulu halus yang tumbuh di sekitar dagu dan rahang tunangannya. Dipandanginya wajah yang lelah karena beban pikiran itu. Senyumnya getir, otot wajahnya kaku dan tidak bersemangat.


“Kita jalanin sama-sama, Vin. Kita bisa mulai semuanya dari awal. Aku juga takut, tapi lebih menakutkan lagi kalau kita nggak sama-sama.”


“Aku hanya punya kamu, Vi …” Vincent menunduk dan mencium Viani dalam-dalam. Semua keresahan, kekuatiran dan rasa tak berdayanya, dia buka dan dia curahkan hanya pada Viani seorang.


Hanya gadis itu yang pernah melihatnya dalam titik terendah seperti ini. Tak berdaya dan terbuang.


Ciuman yang membuat Viani kehabisan napas itu pun disudahi dengan belaian lembut Vincent pada wajahnya.


Viani kembali mengernyit. “Ngomong-ngomong. Kita melupakan perkara wali dan saksi … Aku pikir …”


“Om Febri!”


“Om Febri!”


Saat satu nama itu tercetus, senyum Viani dan Vincent kembali merekah dengan begitu alami. Sahabat orang tua mereka tersebut kemungkinan besar tidak tahu kalau sekarang tengah ada prahara yang begitu pelik.


Mereka harus menyiapkan mental mereka sekali lagi untuk menceritakan semuanya. Mereka tak tahu apa yang akan terjadi di rumah Febri nanti, mereka hanya akan mencoba menjalaninya.


“Istirahatlah, Sayang …” bisik Vincent.


“Kesusahan kita hari ini, biarlah cukup untuk hari ini.”


...***...


Vincent mengerutkan keningnya saat dia mencium bau harum yang berasal dari dapur. Lelaki itu membuka matanya dan menemukan dirinya tertidur di atas ranjang yang ada di kamar sebelah yang tidak terpakai.


Dan begitulah ceritanya kenapa Vincent bisa tidur terpisah dari Viani.


Lelaki itu pun turun dari ranjangnya. Pertama kali yang dia lihat di dapur, adalah punggung Viani yang tengah sibuk mengoseng nasi yang telah dicampurnya dengan bawang putih, bawang merah, daun bawang, kacang polong dan beberapa bumbu. Di lain tempat, di meja makan sudah tersedia Chicken Katsu yang telah digoreng dan masih hangat.


Pelan-pelan, Vincent mendatanginya dan memeluknya dari belakang.


“Astaga!” Viani hampir terjungkal kalau tidak dipeluk Vincent. “Ngagetin tau!”


“Morning, Fiance!” ucapnya sambil mengecup ujung kepala Viani.


“Pagi, Vin. Munduran dikit, aku mau masak,” pinta Viani sambil membawa spatulanya kembali mengoseng dalam wajan.


Vincent mundur dan duduk di depan meja makan, dengan segelas teh yang sudah Viani siapkan. Jadilah sarapan pagi itu selesai, mereka menikmatinya bersama dengan hangat.


Setelah semua telah mereka dapatkan, mulai dari deal dengan pihak venue, pencarian wedding attire dengan berkeliling di mal dan membeli sepasang cincin dari katalog yang tersedia di sebuah gerai perhiasan ternama, mereka kembali ke apartemen untuk meletakkan seluruh belanjaan mereka dan bersiap-siap ke rumah Febri.


Dan di sinilah mereka, tepat di depan rumah Febri. Mereka telah menelepon Diana, dan memastikan malam ini mereka ada di tempat.


“Loh, Viani, Vincent?” Diana mengira hanya akan ada Viani yang datang.


Betapa kagetnya Diana saat membuka pintu, anak kedua sahabatnya sudah berdiri di depan pintu rumahnya, bergandengan tangan.


Jiwa penasaran mereka sudah meronta-ronta kala melihat kedekatan yang sangat mengejutkan itu. Sahabatnya tak bercerita apa pun tentang hal ini.


“Masuk, ayo! Tante udah masak loh buat kalian. Suka masakan Medan, kan?”


Mereka pun makan malam dengan santai. Tak terlihat ada kecanggungan karena mereka pada dasarnya cukup akrab dengan Diana yang cerewet.


Tapi semua berubah saat mereka digiring ke ruang tengah, di mana Diana telah menyuguhkan teh hangat di sana. Mereka terpaksa menceritakan semuanya dari awal sampai akhir pada Diana dan Febri.


Wajah kedua prajurit TNI itu langsung pias.


“Jadi, Om …” Vincent memperbaiki posisi duduknya dan menatap Febri yang sudah agak botak dengan perut sedikit membuncit.


Digenggamnya tangan Viani di hadapan kedua orang tersebut, seakan hendak memberi tahu kalau mereka benar-benar serius. “Kedatangan Viani dan Vincent kemari, ingin meminta Om dan Tante untuk jadi saksi dan wali kami saat menikah nanti.”


Viani menambahkan, “Papa dan Mama kami, terutama Om Niko sudah menolak. Aku sendiri belum bicara pada Papa dan Mama, tetapi mereka … sudah seakan lepas tangan dari aku.” Gadis itu tertunduk dengan wajah sedih.


Febri dan Diana saling berpandangan, mulut mereka masih terkunci dan mereka belum memberikan reaksi apa-apa. Keempat orang dewasa itu terdiam dan sibuk dalam pemikirannya masing-masing.


“Itu juga, kalau Om Febri dan Tante Diana berkenan … kami nggak pa-pa jika seandainya Om Febri menolak.”


Febri bersedekap dan memandang Viani tak percaya. “Kamu ini seperti bicara dengan orang lain! Tapi sebelum Om mengiyakan, ada yang harus Om perbuat dulu."


“Apa itu Om?” tanya Viani.


“Om mau ketemu Niko dan Gala.”


Diana menatap suaminya. “Apa itu ide yang bagus, Sayang?”


“Kita kesampingkan dulu siapa yang akan jadi saksi dan wali mereka. Seseorang harus jadi penengah, Di … kalau bukan kita, siapa lagi?


Lagi pula, aku nggak mungkin langkahin kedua sahabatku. Mereka harus tau kalau anaknya akan menikah. Kalau mereka masih mengeraskan hati, maka kita yang akan pasang badan untuk Vincent dan Viani."


...***...