Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
S2 Bab 12 – Perselingkuhan


Santaiii … badai udah lumayan reda walau masih mendung.


***


10 Years Later …


Beberapa orang dewasa yang sudah berusia 40an berkumpul bersama di sebuah restoran tepi laut di daerah Ancol, Jakarta Utara. Malam itu, ketika mereka sadar kalau sudah satu tahun tidak berkumpul bersama, masing-masing dari mereka saling berinisiatif untuk kembali mengajak bertemu.


“Vincent dan Viani mana?” tanya Febri yang kini terlihat semakin botak dengan perut semakin buncit. Pangkatnya yang lebih tinggi sekarang membuatnya jadi hampir tak pernah olah raga. Di sampingnya duduklah sang istri, Diana yang masih kelihatan manis dengan rambut pendek sebahu sambil memangku Brian, yang kini usianya 5 tahun, anak bungsu mereka.


Gala menjawab, “Lagi ke ulang tahun temennya.”


“Udah lama loh Viani sama Vincent nggak ikut kita ngumpul-ngumpul,” komentar Diana. Di sampingnya telah duduk berjejer para anak-anak yaitu Briana yang kini berusia 11 tahun, Geraldo 10 tahun, dan Gemini 7 tahun, anak Gemma dan Gala yang terakhir yang benar-benar mirip dengan pria itu.


“Kalo anak gue, nggak tau. Tiap kali diajak nolak melulu,” ujar Niko yang menu pesanannya sama dengan Febri. Mulutnya penuh akan daging sapi panggang tenderloin yang begitu menggoda lidahnya.


“Yang, pelan-pelan makannya. Nggak ada lagi nambah-nambah ya! Berat badanmu udah kelebihan!” Erika mengomel di samping Niko yang terus saja mengunyah bakan mengambil potongan daging milik istrinya. “Oh ya, Gala. Viani kerja di mana?”


“Kerja di Trisinar Hospital, jadi Manajer Purchasing,” kata Gala seraya menghapus noda di sudut bibir Gemini. “Udah 2 tahun ini.”


“Vincent juga, udah dapat STR setahun lalu. Sekarang, dia kerja di klinik gue.” Niko menyelesaikan makan malam itu dengan segelas penuh jus sirsak, memenuhi perutnya yang kini sama buncitnya dengan perut Febri. “Nggak nyangka sih Vincent milih jadi dokter, kayak gue.”


“Kalo mesumnya kayak elo, najis,” sindir Gala pada Niko.


“Eh! Gini-gini gue dokter ya—“


“Yang! Udah ah ngomong mesum-mesum! Eh, tapi … kenapa Viani nggak di Aryaditya Hospital aja yang punya elo, Gala?”


“Mau mandiri dulu katanya. Entar umur 28 baru balik. Gue sih selow. Biar dia bisa belajar dulu di lapangan.”


Erika menyelidik, semakin penasaran. “Dia single?”


“Kemarin Chandra Wiratama dateng ke rumah. Alvin, anaknya, naksir sama Viani. Ketemu sebulan yang lalu pas anak itu kecelakaan mobil, tepatnya pas lagi nebus obat. Kita sih baru ngobrol-ngobrol aja. Dan kalau nggak ada aral mellintang, dua bulan lagi Viani bakal tunangan sama Alvin.”


Mulut Niko yang penuh dengan kentang goreng itu membundar. “Wiratama … Wiraindo Textile? Wiratama Group itu?”


“Yep!”


“Tanpa pacaran dulu nih? Idih ... jaman ya jodoh-jodohin anak?” komentar Diana tak percaya.


“Ya, nggak juga. Kalo ada yang naksir, terus anaknya baik-baik ya kenapa enggak? Soalnya Viani dari lulus SMA jomblo melulu.”


Gemma memutar bola matanya. “Itu karena kamu selalu usil tiap kali Viani dapat gebetan, Yang. Mana enak dia kalo lagi kencan diintilin terus.”


“By the way …” Niko meletakkan potongan kentang gorengnya dan menatap Gala intens. “Lo yakin mau jodohin Viani sama Alvin? Lo udah denger sepak terjang tuh anak belom?”


...***...


Sementara itu, di sudut lain kota Jakarta.


Seorang gadis bersurai cokelat sedada dengan mata cokelat bulat tengah berdiri di depan pintu kamar di sebuah unit apartemen.


Ya, itu Viani, yang kini telah menjelma jadi seorang gadis manis bertubuh langsing. Kalau saat remaja dia lebih mirip sang ibu, kini parasnya jadi benar-benar mirip Indra, ayah kandungnya yang telah bebas lima tahun yang lalu.


Namun kini, ekspresi marahlah yang menguasai seluruh otot wajahnya, saat mengintip pada pintu yang terbuka sedikit itu. Saking syoknya dengan pemandangan yang dia lihat, tangan kirinya menjatuhkan kotak kado yang rencananya dia akan berikan tadi pada sang lelaki.


Dia mengangkat ponselnya dan mulai merekam sebanyak yang dia mau. Beberapa menit kemudian, tak kuat lagi melihat adegan yang terlalu menjijikan dari pasangan non halal tersebut, dia membuka paksa pintu itu hingga terdengar bunyi hentakkan keras. Rekaman Viani pun terhenti.


Sepasang muda-mudi itu terlonjak dengan begitu kaget dan langsung memisahkan diri sebelum menutupi tubuh mereka dengan selimut.


“Dasar penjahat kela*min!” maki Viani nyaring-nyaring. Dia langsung menuju tepi ranjang menghampiri lelaki itu dan langsung menamparnya sekuat tenaga pada pipi kanan dan kiri.


Wanita berambut pirang di sebelahnya terlihat begitu kaget dan takut saat melihat wajah teman tidurnya ditampar oleh seorang wanita yang dikenalnya sebagai pacar cowok yang tadi. “Please … jangan pukul Alvin!”


Viani malah semakin meradang. Wajah wanita itu tak luput dari tamparan Viani hingga sebelah pipinya memerah. “Ini pec*n lo, Vin?” Viani mendengkus kesal, setelah memperhatikan cewek itu. “Cih! Cantikkan gue!”


“Enak aja ya lo kalo ngomong!” protes si cewek kesal.


“DIEM! Sekali lagi lo ngomong, gue bikin lo nyesel!”


Bukannya Alvin diam, cowok itu malah terkekeh, “Cantik sih cantik. Nggak bisa digrepe-***** … Atau lo punya kelainan makanya gue nggak bisa pegang-pegang lo?! Atau jangan-jangan, lo lesbong??”


Buk!


Segalanya berlangsung cepat. Kepala Viani sedikit pusing dan dia sedikit terhuyung. Yang dia lihat sekarang adalah Alvin yang terjatuh di atas kasur, kesakitan sambil memegangi hidungnya yang berdarah. Ujung kepalan tangannya terasa begitu nyeri, setelah melepaskan bogem mentah tepat di hidung pria itu.


“Gue bakal tuntut lo!!” teriak Alvin.


Sebuah ponsel Apple 15 yang terlihat tipis sekaligus berat muncul dari dalam. Viani menyeringai dan melempar ponsel itu tepat mengenai wajah Alvin hingga pria itu terjatuh sekali lagi ke atas kasur dengan keras, dan mengerang kesakitan.


“Hidung gue sakit!”


"Ya ... itu hadiah ulang tahun buat elo!"


***


Viani keluar dari apartemen laknat itu dengan ngos-ngosan. Kepalanya masih pusing dan perutnya terasa mual. Bayangan mereka tadi membuatnya hendak muntah. Dia pun duduk di lobby, tersengal, lalu terhuyung hingga terduduk di sofa.


Dia menyugar kasar rambutnya yang berantakan sambil menutup matanya dan memperbaiki deru napasnya yang memburu.


Alvin sialan! Makinya dengan marah. Diliriknya lelaki tinggi besar yang menunggu di lobby. "Please, Bang Rinto, tinggalin saya sendiri. Saya lagi pengen sendiri."


Dia mengambil ponselnya dan menelepon Gala. “Halo, Papa … Nanti Viani pulang besok aja. Viani lagi … soal Alvin, Pa, malam ini Viani ijin stay di apartemen. Pengen tenangin diri dulu … Suruh Bang Rinto pulang."


Dirinya sudah tak berselera makan lagi. Diliriknya jam yang sudah menunjukkan pukul 9 malam.


Dia buru-buru singgah ke sini setelah jam lembur yang panjang di Trisinar Hospital karena ada seminar kedokteran dan rumah sakit itu menjadi tuan rumah.


Sayang sekali, kejutan itu berbuah zonk. Untung saja yang memutuskan hubungan mereka adalah Viani. Jika tidak, harga dirinya sebagai seorang wanita pasti akan hancur.


Dia menuju ke basement dan segera menderu mobilnya keluar dari apartemen itu menuju jalan raya, ditinggalnya Rinto begitu saja.


Namun di tengah perjalanannya menuju apartemen miliknya, dia melihat sebuah bar dengan lampu terang menyala. Seketika dia ingin mencoba meredam rasa stresnya dengan cara berbeda. Tanpa ragu, dia memutar kemudinya, mengarahkannya menuju bar tersebut.


Untungnya di sana tak terlalu banyak orang meski sekarang sudah hari Jumat. Dia segera duduk di stool bar dan menumpukan sikunya pada meja counter.


“Selamat datang, mau minum apa Mbak? Kita lagi ada menu spesial,” ujar seorang bartender.


Viani kaget. Dia langsung menurunkan tangannya, dan menumpukannya pada kedua lututnya, lalu mengangkat wajahnya malu-malu. “Sebenarnya, ini pertama kalinya saya ke sini, Mas.”


“Oh!” sang bartender paham. “Kalau begitu, Mbak mesti mencoba Mocktail di sini. Kami punya ....”


Tentu saja Viani mau saja kalau itu bukan alkohol. Seumur hidupnya, dia tidak pernah meminum minuman itu sama sekali, sekalipun terkadang dia melihat orang tuanya minum dan berujung pada terkuncinya kamar mereka selama berjam-jam.


Sebelum bartender menunjukkan menu, Viani langsung memilih, “Mocktail yang paling sering dipesan aja, Mas.”


“Oke,” bartender itu tersenyum dan segera meracik minumannya. Dalam hitungan menit, satu gelas mocktail merah kuning hijau pun tersaji di depan mata Viani. “Enjoy!”


Tangan Viani merambat menuju gelas itu. Dia meminumnya sedikit lalu meletakkannya. Memang, mata Viani tertuju pada gelas itu, tapi pikirannya sudah menjalar ke mana-mana. Pada pengkhianatan Alvin yang terjadi di depan matanya. Ini sudah ketiga kalinya dia dikhianati kekasih, termasuk Vincent.


Tapi entah itu firasat atau tidak, yang Viani rasakan terhadap Vincent bukanlah rasa terkhianati, melainkan lebih pada rasa penasaran. Ada apa, bagaimana dan kenapa? Sampai sekarang, wanita itu sama sekali tidak mendapat jawaban yang layak dan masuk akal.


Dia juga tak pernah punya kesempatan untuk mendesak Vincent menjelaskan lebih jauh, karena Gemma langsung memindahkannya ke sekolah lain.


Alasannya karena ibunya tidak ingin kasus bullying itu terjadi lagi. Gemma memang marah besar saat tahu dari Gala bahwa anaknya jadi korban perundungan. Bahkan tanpa kompromi dengan Viani, Indra atau Gala, Gemma langsung memindahkan Viani dari sekolah itu.


Ponselnya pun berbunyi, nomor Alvin tertera di sana, tapi dia tidak mengangkatnya. Tak lama kemudian, ponselnya berbunyi lagi, dari nomor berbeda.


“Gue bakal bikin perhitungan ke elo! Gue bak—“


Belum sempat laki-laki itu memaki sepuasnya, dia sudah menutup teleponnya dan memblokir nomornya. Tak ada gunanya meladeni orang gila macam Alvin yang mencak-mencak kesetanan seperti itu.


Alasan dia tidak pulang ke rumah adalah kemungkinan besar setelah ini, Alvin akan pergi ke rumahnya dan melakukan sesuatu. Besok, dia akan segera menghubungi Pak Emon untuk mengurus semuanya kalau-kalau Alvin menyampaikan tuntutan.


Setelah membayar minumannya, dia berjalan menuju pintu keluar. Namun dari ekor matanya, Viani sepertinya tertarik pada sesuatu.


Dilayangkan matanya pada seluruh area bar. Tapi dia tak menemukan siapa-siapa. Baru setelah dia akan pergi, sesosok pria lewat beberapa meter di belakangnya.


Dia menoleh ke belakang, pada punggung pria tinggi bersurai tebal itu. Dia pun menggeleng samar, mungkin dia salah orang.


Tetapi jam tangan hitam dengan aksen oranye itu benar-benar menarik perhatiannya. Sekilas, dia bernostalgia pada kenangan indahnya semasa SMA, pada orang yang sudah menawan hatinya selama bertahun-tahun.


Sulit move on? Ya!


Masih buncin? Ya, pada tahun-tahun pertama!


Ada secercah harap di benaknya, mungkin pria itu akan berbalik dan membawanya ke dalam pelukannya yang hangat dan tak terlupakan.


Namun, Viani kembali tertawa sinis pada imajinasi konyolnya. Jam tangan seperti itu pasti banyak yang punya.


Viani pergi dari sana, tanpa ingin menoleh ke belakang lagi.


...****************...