
Present day…
Setelah pesta di klub malam tersebut, Gala mengatur pertemuannya dengan Paul dan Mona di rumah Mona sendiri bersama juga dengan Felix.
Keempat orang itu kini berada dalam ruang kerja Bobby Aditya yang kini sudah menjadi ruang kerja Mona. Mereka adalah pemegang saham terbesar di Rapidash Express.
Itu artinya, mereka berempat berhak tau perkembangan masalah yang terjadi di tubuh perusahaan ekspedisi tersebut. Tentang kenapa tak ada keuntungan selama dua tahun, dan alasan mereka sampai meminjam uang pada perusahaan lain.
“Gimana pengamatan kamu selama dua minggu di sana?” tanya Paul seraya meletakkan dokumen yang Gala berikan tadi di meja. “Apa yang bikin kamu curiga pertama kali?”
“Kalo dari laporan aja memang agak sulit melihat keganjilannya, Om. Tapi kalo Om lihat bagian sini," ujar Gala menunjukkan data transaksi yang dia tandai, "Udah kelihatan sedikit ganjil kan? Dan juga, Om Bambang sendiri yang sudah buka pintu buat kita.
Koleksi mobil mewah Om Bambang udah menguatkan kecurigaan aku. Belum puas sama McLaren, dia udah beli lagi Rolls Royce Phantom. Barusan kemarin kami ketemu ada mark up harga, yang menggunakan Konveksi punya sepupunya."
“...”
“Selain dugaan ada mark up harga besar-besaran, aku malah curiga banget kalau auditor kita udah pada disuap. Dugaanku, korupsinya bukan cuma di satu proyek atau tender, hanya saja aku belum ketemu dokumen, data, atau inventaris yang ada hubungannya.
Kalau begini terus, performa RE bakal turun drastis dan investasi kita nggak akan ada untungnya sama sekali, atau malah merugi! Sudah begitu, mereka berani-beraninya pinjam ke Diverto karena sudah kehabisan dana operasional. Ini belum perintilannya.”
“Dari faktur pembelian, apa nggak ketahuan?” tanya Paul sambil menggosok jenggot tipisnya.
Felix juga buka suara. “Gini Pah… Masalahnya hal ini melibatkan perusahaan aktif, which, lebih sulit diungkap karena secara data, mereka perusahaan yang punya legalitas dan terdaftar.”
Mona menambahkan, “Itu berarti kamu nggak bisa sendiri, Gala. Kalau emang dugaan korupsi ini dihasilkan dari sejumlah transaksi, kita harus bikin tim investigasi. Aku akan suruh orang-orang kepercayaanku untuk investigasi diam-diam. Om Bambang dan komplotannya udah terlalu lama jadi parasit di perusahaan kita.”
Paul mengangguk, “Kalau kamu kesulitan, akan coba bantu… Dan kamu, Gala. Kamu nggak akan bisa selamanya sembunyiin identitas kamu. Terlalu riskan.”
“Aku janji sebentar lagi, Om. Ada hal yang harus kupastikan lagi. Aku juga pengen lihat sampai sejauh mana mereka bergerak. Karena dalam waktu dekat ini ada PO yang akan keluar lagi untuk divisi operasional. Tinggal tunggu persetujuan dari manager purchasing dan CFO aja.”
Felix menatap ayahnya. “Out of topic nih... Papa ingat nggak, sama cewek namanya Gemma waktu mereka SMA?”
“Kayaknya pernah dengar. Namanya nggak asing. Jangan bilang dia mantan kamu, Gala…” ujar Paul mengalihkan pandangannya ke Gala, lalu menatap keponakannya dengan tajam.
“Emang!” celetuk Mona enteng sambil menggoda adiknya. “Nggak bisa move on dia, Om!”
Ish, semua orang sudah melabelinya sebagai pria yang tak bisa move on. “Emangnya aku se-desperate itukah sampe selalu dibilang nggak bisa move on! Nggak ada istilah lain apa?”
“Bu to the chin… Bu-Cin,” kata Felix lagi sambil tergelak.
“Ketawain aja terus,” decak Gala jengkel pada sepupunya.
“Lantas, apa hubungannya sama kasus ini?” tanya Paul.
“Gemma itu istri Indra Suteja, yang sekarang jadi CFO di RE. Beberapa waktu lalu, Indra sempat membeli apartemen seharga 4,1 milyar atas nama Gemma,” Felix menambahkan. “Gala ingin mastikan kalau Gemma benar-benar aman.”
“Itu personal banget sebenarnya, Om. Tapi aku pastikan kalau itu nggak mungkin… Kalo dia juga menerima uang haram itu, hidupnya nggak bakal sesederhana itu. Indra itu selingkuh sama sekretarisnya yang aku curiga juga terlibat. Untungnya selama ini dia lebih royal ke orang lain daripada istri sendiri."
Felix mengangkat sebelah alisnya saat merasakan ada yang tidak beres dari ekspresi Gala. “Bro, sejauh apa hubungan lo sama Gemma sekarang? Apa yang lo belum ceritain ke gue?” tanya Felix dengan tatapan tidak percaya. “Jangan bilang, lo sama dia udah jadian?”
Gala mendesah pelan. Dia terdiam sesaat, bersedekap, lalu mengiyakan. Felix, Paul dan Mona langsung menggelengkan kepalanya.
“Seumur-umur, semua orang tua kita nggak pernah ngajarin buat main-main sama pasangan orang,” ujar Mona sambil memijit pangkal hidungnya.
“I know… Maka dari itu, aku akan menunggu dia cerai sama suaminya. Dan yang paling penting, aku harus memastikan kalau Gemma aman, dan bahkan, nggak dapat pembagian harta sama sekali dari Indra. Aku takutnya Gemma pernah dapat aliran dana macam-macam dari suaminya itu untuk nyembunyiin duit.”
Mona, Felix dan Paul sama-sama menampilkan ekspresi rumit. Kakaknya lalu memajukan tubuhnya memperhatikan wajah adiknya. “Sampai kapan harus nunggu? Ya, kalo sidangnya cepat! Kalo pelik gimana?”
“Kalau soal perceraian, Gemma udah mantap mau pisah dari Indra. Tapi yang bikin pelik ini adalah Indra nggak mau cerai sama sekali. Dia udah pernah mohon-mohon untuk nggak ditinggal sama Gemma. Lalu ada Viani, anak mereka. Dia nggak mau pisah dari anaknya,” ujar Gala sambil memandang titik semu di atas mejanya.
“Om mau kamu secepatnya out dari RE. Kamu bisa-bisa dicurigai. Kamu juga nggak bisa bohong selamanya. Bambang bisa lihat kamu kapan aja, Nak. Jangan sampai kamu kenapa-napa!”
Gala merespon Paul dengan anggukkan singkat, lalu menoleh pada Felix. “Lix, setujui aja permintaan dana kemarin. Kita kasih mereka jus jeruk dulu sebelum kita kasih paham."
...***...
“Bapak mau kopi?” tanya Gala yang datang menawarkan bantuan saat melihat Hendra yang terlihat begitu tenggelam dalam pekerjaannya. “Tadi Mbak Daniar dan OB pada sibuk, jadi saya inisiatif ke sini.”
“Oh, boleh-boleh. Kopi biasa aja, gulanya sebungkus.”
Tak lama kemudian, Gala kembali dan meletakkan secangkir kopi di atas meja.
“Terima kasih,” ucap Hendra tanpa basa basi meminum kopinya.
Ketika Gala kembali ke tempat duduknya, Daniar menengadah, menyembulkan kepalanya dari balik kubikelnya memanggil Gala. “Lo kenapa nggak cerita kalau Pak Eko mau resign?”
Gala menjawab dengan santai, “Wah, saya kurang tau sih, Mbak. Om nggak pernah cerita sama saya,” matanya tak lepas dari layar sambil mengetik PO yang akan diterbitkan. "Tapi, denger-denger dia dapat kerjaan baru."
“Itu juga sih yang kudengar. Mendadak banget,” komentar Daniar.
Lalu ruangan itu kembali hening sejenak. Sesaat kemudian, wanita itu berdiri dan berjalan menuju ruangan Hendra setelah ponselnya berbunyi satu kali pertanda notifikasi masuk.
Mereka berbicara serius di sana beberapa menit. Setelah keluar dari ruang Hendra, Daniar duduk, mengambil tisu dan menghapus lelehan air mata yang sempat membuat wajahnya sembab.
Gala mengeluarkan sepasang headset Bluetooth. Memasangnya di telinganya untuk mendengar dengan seksama melalui aplikasi penyadap suara.
Tanpa sadar, pria itu tersenyum misterius.
...****************...