
Gemma yang tahu persis itu suara siapa, langsung berbalik. Dalam hatinya, Gemma panik!
Dia ke sini setelah berdebat lagi dengan Indra untuk menenangkan diri. Tetapi dia malah bertemu dengan orang terakhir yang ingin dia temui dalam keadaan seperti ini.
Gemma sedang kacau balau. Dia dalam penampilan terburuk. Piyama tangan pendek dan celana panjang itu terlihat kebesaran. Wajahnya sedang polos tanpa polesan make up sedikit pun, kusam tak glowing.
Parahnya lagi, Gemma habis menangis, menangisi pernikahannya dengan Indra. Tetapi pria itu sudah di sini! Ya sudah… Sekalian saja nyebur!
“Gala?"
“Apa kabar?” tanya Gala yang mencoba untuk lebih tenang. Tanpa Gemma ketahui kalau hati pria itu juga sedang kocar kacir tak beraturan saat bertemu dengannya.
“Baik … Kamu?”
“Baik juga.”
Mereka diam beberapa saat. Awkward… canggung… dan tidak tahu pertanyaan apa yang harus masing-masing tanyakan. Masing-masing sedang berperang dengan hormon yang mengacaukan suasana hati mereka hari ini.
“Kamu …”
“Kamu …”
Menyadari kalau mereka sama-sama hendak bertanya, masing-masing Gala dan Gemma langsung berhenti dan tersenyum kaku.
“Kamu duluan,” kata Gala mempersilakan.
“Kamu aja …”
“No. Ladies first …”
“Sejak kapan kamu di sini?”
“Sejak dua minggu ini. Kamu sendiri, udah lama tinggal di sini?”
“Sekitar dua tahun ini …”
“Aku nggak nyangka kita jadi tetangga …”
Gemma menatap Gala sebentar lalu mengalihkan pandangannya pada kolam renang. “Aku juga …”
Untuk beberapa menit yang lama, mereka hanya terdiam. Gemma masih memusatkan perhatiannya pada kolam renang. Sedangkan Gala yang kini sudah duduk di lounger yang ada di sebelah Gemma. Pria itu terlihat kikuk.
“Suami kamu … apa masih dia? Yang kemarin?”
“Masih …”
Mendengar konfirmasi kalau Gemma masih bersama orang yang sama, emosi Gala kembali memuncak. Ingin sekali Gala membawa orang itu ke bawah dan menenggelamkannya di kolam renang ini tanpa memberi ampun sedikit saja. “Masih?”
“Iya, emang kenapa?”
“Kamu masih sama orang yang udah nyakitin kamu? Kamu itu jelas-jelas habis nangis!"
Gurat kesal muncul di wajah Gemma. “Dia udah minta maaf.”
"You're joking?" Gala semakin tidak terima. “Gem … Aku bukan mau ikut campur, tapi…”
“Berhenti!” ujar Gemma yang menatap Gala dengan tajam. “Aku tau kamu mau komentar apa. Ini bukan urusan kamu … Jangan ikut campur! Lebih baik, keep your mouth shut!”
Duh … Sikap dingin Gemma yang terkenal sejak dia SMA itu masih melekat dengan erat. Beginilah Gemma jika masalah pribadinya diusik atau diungkit.
Beruntung kalau dia hanya diam, terkadang wanita itu bisa bersikap ketus, bahkan mencaci maki orang yang ingin tahu. Dia benar-benar mendorong semua orang menjauh darinya.
“I see … Kamu belum berubah …”
“Excuse me?” tanya Gemma yang tak suka.
“Kamu itu … masih jadi Es Batu …”
“Es batu apaan?!”
Perempuan berusia 33 tahun itu berdiri, bermaksud hendak menjauh dari Gala. Dia benar-benar berusaha mengontrol dirinya untuk tak larut dalam masa lalu antara dia dan Gala. Tapi pria ini sepertinya malah mencoba mengorek apa yang sudah dia kubur rapat-rapat di masa lalu.
Tanpa menunda, Gala menarik tangan Gemma, menahannya agar tidak menjauh darinya.
Kalau memang wanita itu tidak ingin bercerita tentang apa pun, maka Gala akan diam. Itu lebih baik daripada melihatnya pergi dan tak pernah muncul lagi.
“Maafin aku … I promise I won’t cross the line. Just stay here … kita udah lama nggak ketemu. At least, kita harus ngobrol sebentar. Sebagai teman …”
Kaki Gemma berhenti melangkah. Dia menatap Gala yang kali ini memegang tangannya dengan erat.
Bagai flashback, rasa itu masih tetap sama seperti dulu, membuat bulu kuduknya meremang saat otaknya memutar kenangan indah itu. Tetapi semua ini harus dihentikan… selama ini dia hanya menikmatinya dalam bayang-bayang.
Dan karena statusnya sudah menikah, maka pria ini hanyalah bagian dari masa lalunya saja. Gemma mati-matian meyakinkan hatinya untuk hal itu.
“Sebagai teman?”
“Ya!”
Mendengar itu, Gemma kembali duduk pada lounger tadi. “Fair enough …”
“Maksudnya apa lagi nih?”
“Kamu cantik …”
Sial … apa pria di depannya ini sedang merayunya? Tapi jika dia marah, maka urusannya akan jadi panjang, dan Gala pasti akan semakin ingin mendekatinya. Hell! Dia mengutuk diri karena terlalu pede, bahwa pria itu masih menaruh rasa padanya.
‘Wake up! Bangun! Lo itik buruk rupa, dan dia pangeran tampan! Jangan kepedean!’ maki Gemma dalam hati.
Maka respon yang paling tepat untuk membuat Gala diam dan tak melanjutkan pujiannya adalah dengan mengucapkan, “Thanks …”
“Kegiatan kamu apa sekarang?”
Gemma mendesah pelan saat pertanyaan itu akhirnya terdengar. “Aku ibu rumah tangga … nggak ngapa-ngapain.”
Gala tersenyum. “Kamu mengurus rumah tangga, itu adalah pekerjaan. Mau kamu bekerja di rumah atau di kantor, semua sama kok.”
“Ya … Untungnya, suamiku bertanggung jawab. Aku dan anakku hidup layak.”
“Siapa nama suami kamu?”
“Indra.”
“Dia baik sama kamu?”
“Jelas … kalau dia nggak baik, aku mungkin udah dibuang dan hidup miskin.”
Ada sedikit rasa tak terima dalam hati Gala. Pelaku pelecehan semacam Indra ternyata bisa baik juga pada istrinya, bahkan Gemma bertahan selama ini dalam pernikahannya.
Jadi mungkin, label itu tidak selamanya menunjukkan kalau orang itu buruk. Tapi… benarkah? Benarkah Indra sebaik itu padanya? Apakah Gemma tidak merasa trauma?
Atau apa mungkin sekarang Gemma malah hidup berdamai saja dengan masa lalunya dan menerima keadaan itu? Tapi sayangnya, Gala tidak bisa bertanya lebih jauh lagi. Gemma pasti akan lebih marah lagi jika Gala bertanya lebih dalam.
“Anak kamu siapa namanya?”
“Lunaviani, udah kelas IX SMP. Tahun depan udah masuk SMA.”
“Wah … anak kamu udah besar ya. Kayak pernah denger namanya … tapi lupa di mana.”
“Masa sih? Tapi namanya Luna atau Viani pasti banyak … Ngomong-ngomong … Kamu sendiri, kenapa bisa jadi ada di sini?”
“Aku disuruh Kak Mona balik.”
“Oh … Kak Mona gimana kabarnya?”
“Baik … dia udah nikah dan anaknya tiga.”
“Aku suka karakter dia, orangnya baik banget dan giat kerja. Aku sempat kepengen banget bisa jadi kayak dia… jadi wanita karir yang benar-benar enerjik…”
Gemma berhenti disitu saat dia menyadari kalau dia sudah terlalu banyak bicara. Kenapa sih kalau dekat lelaki ini, mulutnya selalu susah dikontrol.
Pelan-pelan, Gemma melirik Gala. Pria itu saat ini tengah memandanginya dengan tatapan intens. Ekspreksinya sulit dibaca dan posisi duduknya seakan-akan sedang menuntut penjelasan lebih panjang dari ini.
Tidak … Gemma tidak boleh jatuh lagi pada lubang yang sama. Dia mengingatkan diri sendiri kalau keadaan ini tidak sama dengan saat 15 tahun yang lalu.
“Gala … Aku harus pergi sekarang.”
“Kenapa?”
“Aku … aku nggak bisa duduk di sini lama-lama.”
Begitu Gemma kembali hendak pergi dari sana, tangannya kembali dicekal oleh Gala. “Gem, apa kamu bahagia sama Indra?”
Begitu lama Gemma terdiam dalam kesunyian yang dia ciptakan sendiri saat lama menjawab pertanyaan Gala.
“Aku pengen dengar kalau kamu bahagia. Karena kalau nggak, akulah orang yang paling bertanggung jawab atas derita yang kamu alamin.”
Jantung Gemma berdetak semakin tak terkendali. Tapi dia yakin, wajah datar dan dingin miliknya itu bisa menutupi semuanya. Sayangnya, tidak dengan jari-jarinya yang terlihat sebentar lagi akan ikut bergetar seiring dengan denyut nadinya yang tereskalasi.
“Bahagia,” jawab Gemma dengan senyum tipis terpaksa, berharap Gala percaya akan penuturannya. “Aku harus balik. Nice meeting you.”
"Gem."
Langkah Gemma terhenti.
"Aku akan bertindak kalau dia sampai nyakitin kamu."
"Berhenti ngurusin yang bukan urusan kamu!"
Gemma menatap jengkel pada Gala sebelum kembali ke tower C dan menghilang di balik lift.
Gala memandanginya dalam diam. Mata hijau itu tidak bisa membohongi Gala.
Dia begitu yakin kalau Gemma tidak baik-baik saja. Dua kali Gala melihat Gemma, dua kali itu pula kesimpulan Gala--bahwa pernikahan Gemma tidak baik-baik saja--tidak berubah.
...****************...