Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
S2 Bab 15 – Setengah Di-ghosting



Say Hi ke visual Vincent~


...***...


“Bego lo, Vi! Bego!”


Setelah memaki diri sendiri, Viani menggelengkan kepalanya dan buru-buru pergi dari klub itu, meninggalkan Vincent yang masih terpaku pada tempatnya.


Demi apapun, bertemu dengan orang yang telah mengkhianatinya dan memutuskannya secara sepihak sepuluh tahun yang lalu—kemudian melambai padanya seperti ondel-ondel, adalah sebuah tindakan paling bodoh yang Viani lakukan seumur hidupnya.


Viani tidak menyangka bahwa gestur sekecil dan sesingkat itu bisa membuatnya malu setengah mati sampai ingin mengantongi saja wajahnya agar tak dilihat orang, terutama orang itu.  


Kenapa dia bisa keceplosan seperti ini? Why??


Kalau dipikir-pikir, reaksi spontan dari tubuhnya itu benar-benar mengkhianati perasaannya. Dia sering kali memikirkan kalau tiba-tiba dia bertemu dengan Vincent, apa yang harus dia katakan?


Skenario itu sudah dia coba ulang-ulang lakukan, tetapi praktek lapangannya tetap saja tidak semulus latihan itu. Dia seharusnya marah, bukannya melambai seperti orang-orangan sawah.


Kakinya terus membawanya turun dengan lift hingga ke lantai paling bawah, melewati lobby menuju parkiran.


Diangkatnya benda kecil persegi berwarna hitam itu dan menekannya sekali, membuat lampu mobil mobil Mini Cooper Countryman hitam yang terparkir paling ujung itu berkedip satu kali.


“Viani! Tunggu!”


Samar-samar terdengar suara Vincent yang memanggil namanya berulang-ulang. Lelaki itu mengejar Viani dan meninggalkan teman ubanannya tadi begitu saja.


Tapi Viani tak juga memelankan langkahnya, dia seperti terburu-buru mencapai mobilnya. Saat Viani bermaksud lebih cepat, Vincent sudah menghalangi langkahnya. Terpaksa pergerakannya terhenti tepat di depan lelaki itu.


“Vi, tunggu dulu~"


“Sori, Vin. Aku beneran harus pulang.” Viani mencoba menghindar.


Tubuh Viani yang akan maju itu tetap ditahan oleh sosok Vincent yang berdiri di depannya dengan tubuh tinggi menjulang.


“Kita udah lama nggak ketemu, Vi …”


“Ya. dan aku harap, kita nggak usah ketemu lagi."


Viani menerobos blokade Vincent, masuk ke mobilnya dan pergi meninggalkan pria itu.


...***...


Pada hari Minggu, Viani pulang ke rumah Gala dan Gemma. Di sana, ternyata sudah menunggu Emon yang dipanggil oleh Gemma untuk membicarakan kasusnya dengan Alvin.


Di sana Emon memberikan arahan yang baik menurut pandangan hukum. Kendati Viani memang kelihatannya bersalah, tetapi baik Gala maupun Gemma sama sekali tidak merasa kalau pemukulan itu adalah sesuatu yang salah.


“Seorang gadis harus bisa membela diri kalau harga dirinya udah diinjak-injak,” kata-kata itu juga keluar dari Emon sebelum pertemuan mereka selesai dan teman SMA ayah-ibunya tersebut kembali ke rumahnya sendiri.


Viani sempat menghabiskan makan siangnya bersama dengan orang-orang yang ada di rumah itu, termasuk Rinto.


Pada momen kali ini, Viani ingin mencoba bernegosiasi dengan ayah dan ibunya perihal sosok bodyguard yang selama ini kemana-mana selalu mengikutinya.


Setelah negosiasi yang alot, akhirnya Viani tak lagi diikuti oleh Rinto. Sebagai gantinya, Rinto ditugaskan untuk jadi supir pribadi Viani.


“Ini mah sama aja, Pa!”


“Ini untuk kebaikan kamu juga, Sayang,” ujar Gemma membela keputusan Gala. “Kamu baru aja nonjok putra Chandra Wiratama. Mama takutnya dia dendam sama kamu, Vi.”


“Si Chipmunk itu nggak bakal sampe segitunya, Ma,” kata Viani begitu yakin.


“Buktinya dia berani selingkuhin kamu,” Gala menyambung.


“Trust me, Pa, Ma. Lagian aku udah gede dan bisa jaga diri. Kurang aman apalagi apartemen yang aku tempati sekarang? Udah gitu, Papa pake pasang CCTV di depan pintu masuk apartemen aku, Papa akan tau kapan aku pulang dan pergi, kan?”


“Nggak bisa, Vi,” tolak Gala.


“Ayolah, Pa … selama ini aku selalu nurutin apa kata Mama dan Papa loh. Waktu Papa nyuruh aku kuliah di Aussie, aku nurut. Padahal aku udah diterima di kampus yang aku mau, Papa dan Mama sudah lihat sendiri pengumumannya.


Aku nggak pernah bantah keinginan kalian. Aku juga nggak hedon, circle aku sempit, dan teman aku nggak banyak. Aku juga nggak terlalu ikutin style orang-orang. Ingat kan kalo aku pernah minta Rocky, tapi yang Papa kasih Mini Cooper? Dari situ aja, Papa udah bisa lihat aku ini gimana orangnya.”


Gemma dan Gala berpandangan ragu.


“Aku tunggu jawaban Papa dan Mama entar malam … bentar lagi usia aku 27. Rasanya malu-maluin aja kalau aku masih tinggal di rumah orang tua dan kemana-mana diintilin terus.”


...***...


Hana berteriak heboh saat pertama kali berjumpa dengan Viani setelah dua tahun tak bertemu. Tiba-tiba saja dua orang sahabatnya itu mengajak bertemu malam ini.


“Itu siapa dah?” tanya Hana penasaran saat melihat Rinto yang duduk santai di luar sambil merokok. “Perasaan ngeliatin lo terus dari tadi.”


“Bodyguard gue,” Viani berdecak tepat saat pizza pesanan mereka datang.


“Kayak artis aja lo dijagain melulu,” ledek Harry.


“Ya gitu deh. Bokap nyokap. Ngomongin hal lain aja ah! Bete gue!”


Hana menyuapi anaknya MP ASI ke mulut bayi besar itu yang sedang duduk di hipseat yang melingkar di perut Harry. “Makin seksi aja lo gue lihat, bestie.”


“Ish, baru nyadar,” Viani memakan potongan pizzanya dengan satu gigitan besar. “Anyway, tebak gue ketemu siapa!”


“Siapa?” tanya Harry.


“Vincent.”


Harry dan Hana cukup terkejut. “Lo ketemu Vincent? Serius?” tanya Hana tak percaya.


Viani mengacungkan dua jarinya. “Dua rius malah. Terus gue tinggal, ogah gue ketemu dia!”


“Lo tinggal?” Entah kenapa cara itu tidak masuk dalam nalar kedua insan yang duduk di depan gadis perawan tersebut.


“Lo pada kenapa sih?”


Sambil bertumpu tangan pada meja dan memakan kunyahan terakhir dari potongan pizza yang dia pegang, Harry merespon dengan alis terangkat. “Lo ngebalas dia, Vi?”


Ingatan tentang apa yang terjadi pada masa lalu mereka pun mulai terproyeksi kembali dalam kepala Viani.


Semua kenangan yang sebenarnya tidak begitu buruk. Vincent dan dirinya punya awal yang cukup rumit, namun mereka tetap berhasil sampai pada titik di mana semua rasa itu jadi nyata, meski semua rasa itu akhirnya harus berakhir dengan luka.


“Bisa jadi … Kalo dia ngerasa begitu, ya baguslah!”


“But, I think he deserves a chance, Vi …” celetuk Harry.


Viani menyorot Harry dengan tajam. “Lo ngomong semua ini kayak selama sepuluh tahun ini dia pernah nyari gue aja!”


Hana menyenggol sang suami, “Hon, kamu nggak mikir gimana perasaan Viani selama ini, hah? Diputusin tanpa ada sebabnya. Nggak usah Viani, gue aja nggak ngerasa kalau Vincent beneran selingkuh. Dan tuh cowok nggak pernah jelasin alasan yang sebenarnya. Ya wajar dong Viani sakit hati dan nggak mau ketemu dia lagi."


Kepala Viani mengangguk-angguk karena pembelaan Hana.


“Bukan gitu, Hon. Justru di sanalah letak masalahnya …” Harry mengambil potongan pizza yang lain dan beralih pada Viani. “Lo emang nggak penasaran apa alasannya ‘setengah nge-ghosting’ elo, Vi?”


Seketika selera makan Viani hilang. “Gue udah nggak penasaran lagi, Har.”


Harry menatap Viani dengan tatapan menyelidik, “Yakin?”


“Udah nggak ada yang tersisa dalam hubungan kami, Har. Penjelasan apa yang mesti gue harap? Nggak ada gunanya ngungkit masa lalu.”


“Ini bukan masalah ngungkit masa lalu, Vi. Lo berhak penjelasan, supaya lo bisa move on dengan hati yang lapang.”


“Sayangnya, kali ini gue setuju sama laki gue,” sambung Hana.


“Udah ah! Gue udah mutusin kalau gue dan dia udah end.” Melihat ketegasan itu, Harry dan Hana hanya bisa diam dan menghargai keputusan Viani. "Kalau dia mau jelasin, dia harusnya nyariin gue. Bukan mendadak ketemu baru mau jelasin!"


...***...


Setelah pertemuan dengan Harry dan Hana, Viani malah jadi tak bisa tidur.


Berkali-kali Viani mengubah posisi tidur di atas ranjang queen size itu tanpa dapat menutup mata sama sekali. Kalimat nasihat dari Harry terus mendengung di telinganya seumpama lebah lewat.


Namun, jangan sangka Viani akan dapat tidur nyenyak sebentar lagi. Tidak setelah ponselnya berbunyi pertanda chat masuk pada aplikasi hijau bulat.


[ Viani. Ini aku, Vincent. ]


Viani menganga. Tubuh Viani spontan terduduk dan tangannya tak sengaja menyentak ponselnya hingga jatuh ke lantai.


"Astaga!" Buru-buru gadis itu memungut iPhone-nya.


Awalnya Viani mencoba mengabaikan pesan Vincent, tapi dia gelisab juga karena penasaran. Gadis itu membulatkan hati untuk menanyakan langsung. Viani mengerutkan kening dan membalas, [ Tau dari mana nomorku? Kamu stalking aku ya? ]


[ Aku nggak stalking kamu. Aku dapat nomor kamu dari Harry. ]


Viani mendesis. ******! Harry!!


...****************...