
Vincent telah mengkalkulasi waktunya, kapan kira-kira obat dari botol biru itu akan bereaksi. Setengah jam telah berlalu tepat saat mereka sampai di depan lift, tapi Viani tidak menunjukkan reaksi apa-apa.
Dia jadi bertanya-tanya dalam hati, apa Viani tidak merasa apa pun? Ini terlalu lama, obat itu harusnya sudah bereaksi!
Viani membuka apartemennya dengan kartu akses dan meminta Vincent menunggu sebentar di ruang tamu, sementara gadis itu pergi ke toilet.
Vincent dan Viani telah banyak melalui kejadian-kejadian yang cukup menguras tenaga dan emosi pada hari ini. Terutama pertemuan Vincent dengan Jenny yang bukan dia rencanakan.
Dia sudah tak peduli pada CCTV yang terpasang pada pintu depan apartemen Viani atau janji pada ayah kekasihnya. Mereka harus meluruskan kesalahpahaman itu malam ini juga.
Viani pun kembali dari toilet lalu duduk di sofa di seberang Vincent. Mereka terdiam untuk menit yang cukup lama. Mata Vincent tak lepas dari Viani, memindai setiap pergerakan kecil kalau-kalau reaksi itu muncul.
Mungkin dia akan mengunci Viani di kamar? Atau mengguyur gadis itu dengan air dingin misalnya. Tapi reaksi itu masih nihil. Maka mungkin saat ini adalah saat tepat untuk membahas masalah mereka.
“Jenny yang datang ke klinik, Vi …” Vincent mengalah untuk memulai semuanya. “Dia yang emang punya tekanan darah rendah, tiba-tiba pingsan. Aku dan Lana yang angkat dia—“
“Ralat, kamu yang gendong, Lana yang buka pintu!”
Vincent hanya bisa mendesah pelan saat Viani mengoreksinya dengan begitu judes.
“Ya, aku yang gendong, Lana yang buka pintu. Aku baringin dia di bed, tapi tiba-tiba dia bangun dan berusaha cium dan peluk aku. Aku refleks mundur dan udah mau keluar ruangan. Tapi dia berhasil peluk aku, dan terjadilah seperti yang kamu lihat, Vi …”
Mata Viani berkaca-kaca. Gadis itu masih membuang muka dari Vincent meski telah mendengar penjelasan lengkap dari pria itu.
“Gimana lagi cara aku jelasin, Vi? Apa kamu mau terus marah sama aku untuk sesuatu di luar kendali aku? Kalau gitu, aku juga berhak marah sama kamu dong. Kamu juga udah ketemu Alvin.”
"Aku dan Alvin cuma kebetulan ketemu di sana. Dan FYI, kami nggak ada pegang-pegangan!" Tatapan tajam pun dilayangkan Viani pada Vincent.
“Kamu tuh mukul Alvin duluan! Terus terang, aku nggak suka, Vincent! Meski dia pernah selingkuh, dia itu orang baik dan nggak seharusnya kamu pukul!”
“Loh, kok kamu jadi belain Alvin? Jelas-jelas dia niat nyelakain kamu, Vi! Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri kalau kamu dikasih obat perangsang!"
Viani berdecak, menggeleng tak percaya. “Dia nggak mungkin jahat sama aku, Vin!”
“Terusin aja ngebela cowok lain, Vi!”
"Buktinya aku baik-baik aja sekarang!!"
"Vi, kamu tuh buta atau apa sih? Atau jangan-jangan, kamu masih sayang sama dia dan cuma mau main-main sama aku?!"
Viani tampak begitu emosi saat Vincent membahas Alvin. Lelaki itu tak percaya kalau sang calon istri malah membela sang mantan yang jelas-jelas sudah berbuat tidak baik.
“Sembarangan! Kenapa kamu yang jadinya marah?” Gadis itu bersedekap tak terima, bahunya naik turun dan dadanya kembang kempis dengan rahang yang mengetat.
“Ya harusnya memang aku yang marah, Vi! Pacar mana yang suka lihat ceweknya deket sama—“ Vincent mengerutkan kening pada reaksi tubuh Viani saat gadis itu menurunkan kedua tangannya.
Viani langsung menyerang Vincent. Ciumannya kasar, menuntut dan terburu-buru.
Menerima sentuhan tiba-tiba itu, Vincent jadi ikut panas. Sesuatu dalam dirinya mendadak melonjak dan membuat aliran darahnya kacau balau.
Mungkinkah dia ...
“Vi—lepas dulu!“ Dengan segenap kendali diri yang masih tersisa, Vincent melepas pagutan Viani dan menatap botol air mineral yang ada di meja dengan mata terbelalak. Dia dan Viani minum dari botol yang sama beberapa menit lalu!
Tak perlu menunggu lama, hasrat Vincent langsung menggulung naik.
***
Sinar matahari yang masuk melalui celah gorden yang tak tertutup rapat itu membangunkan Vincent dari tidurnya.
Dia membuka matanya perlahan dan menatap pada langit-langit yang bukan bagian dari kamarnya. Ini masih di kamar Viani.
“Bukan mimpi, ternyata.” Diliriknya jam yang ada di nakas, yang menunjukkan kalau sekarang pukul 9 pagi.
Perasaan Vincent tambah berkecamuk saat melihat Viani melakukan pergerakan kecil di dalam selimut itu.
Posisi gadis itu masih dalam pelukannya dan bergelung di dalam selimut yang sama. Vincent tersenyum getir pada hal kecil, namun begitu manis. Sebuah hal yang selalu Vincent bayangkan setelah mereka menikah.
Vincent tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini. Apakah Viani akan marah padanya, atau malah diam saja, Vincent tidak tahu. Mereka sama-sama mendapat obat terkutuk tersebut. Hal ini benar-benar di luar kendali Vincent.
Kendati Vincent berusaha mencari celah untuk menyesal, dia tidak mendapatkannya. Sebaliknya, dia malah bersyukur sebab Viani berakhir dalam pelukannya. Apa jadinya jika Viani berakhir dalam pelukan pria lain? Mungkin Vincent akan tetap menerima, tapi pasti tidak dengan Viani.
Mental gadis--ralat--wanita ini pasti akan hancur, bisa jadi akan masuk ke gangguan emosi. Atau paling buruk, depresi.
Tak ingin larut dalam bayangan Viani yang tengah depresi, dia pun memutuskan untuk membangunkan kekasihnya. Tangan Vincent hinggap pada wajah Viani.
Lelaki itu membelai rambut Viani lalu berbisik, “Wake up, Honey …”
Viani mengerang pelan. Vincent bermaksud hendak membangunkan Viani lagi saat pintu kamar itu tiba-tiba terbuka dari luar.
“Viani, bangun—“
Wajah Vincent memucat saat melihat orang yang mereka kenal tengah berdiri di sana, memandang lurus kepada keduanya di atas ranjang yang sama dan dalam selimut yang sama.
Yang mana di balik kain itu, mereka masih dalam keadaan … polos.
...****************...