
Viani terlihat sangat bahagia setelah ciuman pertama di antara mereka terjadi. Tak tampak lagi rasa bad mood yang sempat bertahan hingga seminggu, hingga teman kerjanya sempat mempertanyakan perubahan sikapnya yang begitu drastis.
Sabtu dan Minggu berturut-turut, mereka jalan-jalan bersama. Melakukan banyak hal yang pasangan lakukan pada umumnya. Nonton, makan, bermain di wahana yang menyenangkan atau mengobrol seperti biasa.
Namun satu hal yang tak boleh dilakukan pria itu, yaitu memegang tangan Viani di depan umum. Gadis itu masih ketakutan terhadap segala kemungkinan terburuk. Ketahuan, misalnya?
Rinto yang selalu siap, tetap pada aktifitasnya mengikuti Viani ke tempat yang pasangan itu kunjungi, namun hanya sampai sebatas parkiran.
Tapi entah, Viani belum merasa kalau mereka pasangan yang sebenar-benarnya, karena itu hanya sekedar ciuman. Belum ada perasaan apapun yang bisa dikonfirmasi Vincent padanya.
Mereka baru saja keluar dari bioskop saat seseorang tiba-tiba muncul dan membuat Viani kaget. Ketakutan Viani jadi nyata!
“Astaga!” Wajah Viani memucat.
“Kenapa, Vi?” tanya Vincent.
Pria yang dikenalnya itu sedang jalan-jalan bersama istrinya, berdua saja. Dan kini, mata mereka berdua tertuju pada Vincent dan Viani. Oh tidak!
“Ayo kita lari, Vin!”
Viani mengambil langkah seribu dengan menarik tangan Vincent, keluar dari mal itu secepat mungkin.
Setelah sampai di parkiran, Viani yang ngos-ngosan beristirahat di bangku tunggu yang ada di sana. “Capek!”
“Kamu kenapa? Kita lari dari siapa?” Vincent turut duduk di sebelah Viani.
“Om Felix …”
Ponsel Viani pun berdering nyaring. Dia mengangkatnya dan mendapati nama Felix di sana. Viani tidak berani menjawab panggilan Omnya.
Dia tak mengatakan apa-apa lagi, dan langsung mengajak Vincent pulang. Lagi pula, hari itu sudah malam. Mereka sempatkan diri untuk singgah di sebuah drive thru gerai ayam goreng terkenal dan membawanya pulang.
Mobil Vincent baru masuk ke dalam area parkir di basement. Ini adalah kompleks apartemen mewah, membuat Vincent sedikit rendah diri. Butuh beberapa tahun lagi baginya untuk mengumpulkan uang, agar dapat membeli properti atas namanya sendiri.
“Kamu tingal di sini?” tanya Vincent.
“Iya di lantai 15, di nomor 153. Kamu keberatan nggak, kalo kita makan di mobil aja? Papa pasang CCTV di apartemen aku.” Viani fokus pada ponselnya, menyuruh Rinto pulang sekarang juga.
“No problem, Vi.”
Satu hal yang Vincent sukai dari Viani adalah, gadis ini cukup sederhana. Semahal apapun outfit yang dia gunakan, gadis ini tetap bisa menyesuaikan diri.
Keluarga Aditya terkenal humble dan tak terlalu suka membeli barang branded. Mobil mewah pun tidak hobi, paling-paling BMW dan Mercy tipe lama. Tapi mereka punya 2 jet pribadi dan satu heli, by the way.
Seperti sekarang, saat Vincent hanya membelikannya satu kotak nasi dan ayam goreng tepung beserta soda dan kentang goreng—yang untuk ukuran Viani, harganya sangat murah—tidak pernah jadi masalah untuknya. Vincent tak punya pilihan sebab Viani tadi sudah panik, dan merengek minta pulang.
Tapi di sini, dia makan dengan cuek, seolah-olah semua sudah biasa. Viani tidak terganggu sama sekali perihal tempat makannya yang kurang nyaman. Bahkan dia lebih cepat menghabiskan makanan itu ketimbang Vincent sendiri.
Setelah mereka makan sampai kenyang, Viani tak langsung turun. Dia masih berada di mobil Vincent untuk bersantai sejenak bersama lelaki itu sambil mengobrol singkat, mengalihkannya dari rasa gugup setelah bertemu Felix.
Tapi dering ponsel itu lagi-lagi membuat Viani terlonjak kaget. Gala meneleponnya. Felix pasti sudah menghubungi sepupunya itu dan memberitahukan kalau dia bertemu dengan Viani.
Viani menyuruh Vincent diam dan mengangkatnya dengan pengeras suara.
“Vi. Kamu jalan sama siapa?” tanyanya langsung tanpa membiarkan Viani bersiap dengan jawabannya. “Jawab, Vi …”
Detak jantung Viani meningkat drastis saat mendengar suara bariton ayah sambungnya. Terpaksa Viani menjawabnya dengan jujur meski terbata-bata. Tak ada gunanya lagi bohong karena Felix sendiri sudah jadi saksi mata. “Sa-sama … sama Vincent, Pa.”
"Kalian pacaran?"
Viani terdiam mendengar pertanyaan Gala. Entah kenapa, dua kata itu terasa jadi ribuan kata yang membuat Viani kesulitan menjawab.
“Setelah ini, Papa mau bicara sama kalian... Dan Vincent, kamu sebaiknya siap-siap ketika saya sampai di Jakarta. Jangan sekali-sekali kamu masuk apartemen anak saya! Saya akan tahu kalau kamu sampai nekat!”
Sial, Gala sudah tahu kalau Vincent sedang bersama dengan Viani. Terpaksa pula Vincent menjawab. “Iya, Om … Saya ngerti. Saya nggak akan macam-macam."
"Saya pegang kata-kata kamu."
Telepon itu kemudian ditutup begitu saja oleh Gala. Mereka hening selama beberapa menit, masih mencerna apa yang Gala ucapkan tadi di telepon. Keduanya terlihat begitu kaget dan syok. Lidah mereka mendadak kelu dan terlihat sedikit kebingungan, terutama Viani.
Belum sempat reda rasa syok mereka, Indra pula menelepon. Seakan menuang bensin ke api kecil, perasaan Viani dan Vincent semakin kalang kabut. Sebab reaksi Indra tidak begitu ramah dan meninggalkan ruang tanya besar dalam diri mereka.
“Papa-papa kamu udah tau.”
“Kita ketahuan.”
“Iya.”
Vincent menatap lurus pada gadis itu. “Terus gimana?”
“Nggak tau. Aku nggak—“
Vincent langsung membungkam bibir itu tanpa permisi. Untuk kedua kalinya, dia mengecup lagi dan mengklaim bibir itu untuk beberapa detik saja.
Dia perlu ketenangan dari sentuhan itu, untuk sejenak menyelamatkan Vincent dari kekuatirannya pada ancaman Papa dari gadis yang dia sukai.
Lalu Vincent menggenggam tangan Viani erat-erat. Ditatapnya Viani dengan ekspresi begitu serius.
Awalnya Vincent ragu, tapi kini, dia sudah mantap terhadap keputusannya. Tidak akan disia-siakan lagi Viani begitu saja. Kalau sudah ketahuan, sekalian saja semuanya dilakukan!
“Kita nggak usah tutupi hubungan kita lagi dari Papa kamu. Kita hadapin bareng.”
Viani tak setuju. “Vin, biarkan aku ngomong sama Papa dulu—“
“Nggak. Aku nggak mau, Vi ... Aku sayang kamu dan aku nggak mau lagi sembunyi. Kalau jalan aku buat dapatin kamu sulit, aku tetap mau coba. Selama itu, kamu tunggu aku, ya?”
“Hah?”
“Kalau seandainya Papa kamu tetap nggak setuju, bisakah kamu bertahan sedikit lagi?” Mata Vincent mengunci tatapan Viani, memastikan bahwa hanya dirinya yang ada di pandangan gadis itu. “Aku akan berusaha cari cara biar kita bisa bersama.”
“Tapi ‘kan, kita emang udah sama-sama, Vin.”
Vincent menggeleng pada maksud Viani yang tak sesuai dengan maksudnya. “Aku nggak mau backstreet. Aku pengen bebas pegang tangan kamu dan jalan sama kamu. Aku pengen kita nikah!”
“APA?!”
...***...
Viani kini sudah berada dalam apartemennya, seorang diri. Dia sudah beberapa kali bolak-balik di ranjangnya, tapi dia tetap tidak bisa tidur.
Bayang-bayang Vincent ketika bilang bahwa dia ingin menikah terdengar begitu horor.
Menikah? Pacaran saja rasanya belum resmi. Mereka masih menjalani hubungan tanpa status walaupun perasaan sayang itu semakin lama semakin memuncak.
Sebelum pulang, Vincent tak ragu untuk mengantar Viani sampai ke depan pintu apartemennya. Bahkan mencium kening Viani untuk mengucapkan selamat malam. Di luar pintu apartemen itu masih ada CCTV yang Gala bisa lihat dari ponselnya kapan saja!
Lalu Gemma meneleponnya. Mereka membahas hal yang rupanya sudah diceritakan Gala pada sang Mama.
“Jadi kamu sama Vincent, udah pacaran, Vi? Sejak kapan?”
“Baru aja, Ma …” Ya sudah, Viani jawab saja seadanya biar tidak ditanya lagi. Kalau dia ceritakan Vincent yang belum benar-benar memintanya jadi kekasihnya, obrolan ini pasti akan panjang.
“Oh. Jadi begitu …”
“Papa ada cerita apa aja tentang kami, Ma?”
“Nggak banyak. Beliau sebenarnya masih belum komentar tentang hubungan kalian. Kalau Mama sih, support aja. Toh Mama udah kenal Vincent dan pekerjaannya juga bagus. Anaknya ganteng. Cocoklah buat anak Mama yang cantik.”
“Ih, Mama bokis!”
Gemma tertawa di seberang sana. Itu menurut Gemma, bagaimana menurut Gala yang tidak bisa ditebak itu? Viani bahkan belum bercerita dengan Indra. Tugas Viani jadi tambah banyak.
“Tinggal Papa kamu aja. Nantilah ya, kita omongin waktu kami udah pulang. Kalau sekarang, timing-nya kurang tepat.”
Gemma benar. Viani harus menunggu sedikit lagi untuk membicarakannya. Masalahnya, Vincent inginnya menikah, bukan pacaran lagi! Ini adalah sesuatu yang sangat serius!
Dan bisa-bisanya lelaki itu bilang dengan cara tidak romantis seperti itu. Terhadap pernyataan Vincent tersebut, Viani tidak menjawab.
Tak menolak, tak juga mengiyakan. Vincent juga tak menanyakan Viani bersedia atau tidak. Dengan kata lain, pria itu hanya ingin Viani tahu, belum benar-benar akan melamar.
Seharusnya dia tak terbeban dengan keinginan Vincent, kan? Karena itu masih hanya sebatas keinginan.
Gadis itu berusaha meredam perasaannya yang sangat campur aduk hari ini, hingga kantuk menjemputnya untuk mengistirahatkan diri.
...****************...