
Jam enam sore, Gemma sudah was-was. Tak ada kabar yang diberikan oleh anaknya. Ditelepon tak pernah menjawab. Begitu juga sang suami, tak satu pun yang menjawab telepon Gemma. Namun di dapur ini, wanita itu tetap tak bisa berhenti untuk tak overthinking. Tangannya yang tak pernah lagi menyentuh gitar itu tetap saja bergerak mengikuti kebiasaannya, masak untuk makan malam, meski keluarganya belum hadir di sini.
“Mereka kemana sih?”
Sementara menit demi menit berlalu dengan sia-sia, Gemma bolak-balik berjalan tak tenang. Berulang kali dia mengecek ponselnya, tetap tak ada jawaban. Dia pun mematikan kompor, memindahkan kuah sup ke mangkuk lalu melanjutkan memasak makanan lain meski hatinya dalam keadaan kalut.
Hingga pukul 7 malam, pintu apartemen akhirnya terbuka. Masuklah dua sosok yang dinanti Gemma. Tapi sayang, ada orang lain yang sama sekali di luar ekspektasinya.
“Viani, kamu kemana aja? Mama jemput di sekolah, tapi kamu kenapa nggak ada?!” kata Gemma menghampiri Viani. “Kamu juga, Mas. Kenapa nggak bisa dihubungin juga?”
“Aku lagi meeting internal, Sayang… Aku mandi dulu.” ujar Indra seraya meletakkan tas kerjanya di nakas dan berjalan menuju kamar mereka di lantai 2.
Gemma menahan Indra. "Untuk apa lagi Ranita di sini, Mas?"
"Dia akan makan malam sama kita. Viani yang ajak," kata Indra seraya melanjutkan tujuannya.
“Tadi Tante Ranita ajak aku nonton Spider-Man, Ma… Terus hape aku mati. Jadi aku nggak sempat hubungin Mama…”
“Maaf Mbak, hape saya juga mati tadi. Jadi nggak bisa ngabarin, Mbak…” kata Rania dengan wajah tak enak. "Tapi itu Pak Indra yang perintahin buat ajak Viani jalan dulu."
Tak ingin merespon Ranita, Gemma kembali menatap Viani. “Bukannya kemarin Mama sudah ajak kamu nonton bareng? Kemarin kamu nolak-nolak! Sekarang, kamu malah setuju diajak orang lain. Kamu gimana sih?”
Viani menatapnya dengan jengah. “Ma… aku capek dan mau mandi.”
Buru-buru Gemma menarik tangan anaknya sebelum dia berbalik menuju kamarnya. “Viani, Mama belum selesai ngomong.”
“Apalagi sih, Ma?!”
“Kamu ngerti nggak sih kalau Mama kuatir banget sama kamu?! Kenapa kamu belakangan begini sama Mama? Pulang nggak pernah ke rumah dulu, dan sering nggak ngabarin! Kalau Mama ajak jalan, kamu tuh selalu nolak! Masakan Mama kamu bilang nggak enak, lalu sekarang apa lagi, Vi?”
“Mau tau kenapa Viani nggak mau dijemput Mama? Karena Viani malu! Lihat sendiri diri Mama di cermin kayak gimana! Temen-temen Viani, Mamanya cantik-cantik, jago dandan, kalo ke mal nggak bikin malu. Sedangkan Mama?” Viani menatap Gemma dari atas sampai ke bawah. Daster batik kebesaran dengan rambut dicepol asal itu membuat Viani gemas.
Kadang, outfit seperti itulah yang dipakai ibunya untuk pergi ke sekolah, sekalipun dia tak pernah turun dari mobil. “Lagian, Tante Ranita itu baik, nggak galak kayak Mama yang dikit-dikit marah karena hal sepele!”
“Viani!” Ranita menegur Viani yang mulai kurang ajar.
“Lunaviani Suteja! Masuk ke kamar!” bentak Gemma yang akhirnya tak tahan lagi.
“Ini juga mau masuk kamar!” Anak itu tetap menyahut. Bahkan dia sudah melupakan kalau dirinya belum menyalami sang ibu.
Bukan hanya Gemma yang terkejut, Ranita juga turut memandang bingung pada Viani yang terlihat ketus pada ibunya sendiri. Dengan mengabaikan keberadaan Ranita, Gemma kembali ke dapur, melanjutkan apa yang tadi sempat tertunda.
“Mbak, mau saya bantu?” tanya Ranita sambil melipat lengan kemejanya sampai ke siku.
Alis Gemma terangkat seiring melihat pergerakan Ranita yang mengambil alih pisau dan bawang bombay dari tangannya. “Saya bisa sendiri.”
“It’s oke, Mbak… Saya mau bantuin kok. Saya merasa bersalah karena yang tadi. Jadi saya mohon, biarkan saya bantu Mbak untuk nebus kesalahan saya,” paksa Ranita.
Sejenak, mereka dirundung sunyi. Tak ada yang berbicara satu sama lain. Terlihat beberapa kali, Ranita ingin mengajak Gemma berbicara, tetapi urung karena wajah wanita itu sudah kepalang masam.
Makan malam itu pun terjadi dengan amat dingin, kendati makanan yang mereka makan terasa hangat dan lezat.
“Mmm… Ini pasti Tante Ranita yang masak,” komentar Viani. “Aku udah hapal banget rasa masakan Tante Ranita.”
“Bisa aja, Vi…” kata Ranita yang wajahnya tersipu. “Masih enak buatan Mama kamulah!”
“Habis ini, bantuin Viani ngerjain PR ya, Tante!”
"Vi... Mama yakin kalo Tante Ranita punya kehidupan sendiri dan ada keluarganya yang nunggu di rumah. Dia bisa pulang setelah ini," tegur Gemma pada Viani.
“Nggak pa-pa, Mbak. Saya juga udah janji sama Viani tadi." Ranita menoleh pada Viani dengan tatapan lembut. "Oke… Habis ini ya…”
Sesi makan malam itu pun berakhir dengan damai. Gemma membersihkan meja makan itu sendirian dengan hati yang kacau balau. Melihat sang anak lebih antusias pada orang lain, membuat Gemma merasa iri sekali. Indra bahkan terlihat tak peduli dan pergi ke lantai 2 untuk mengerjakan sesuatu di sana.
Saat ini, Gemma telah selesai mencuci piring. Dia tengah duduk di kursi, menghadap meja makan yang telah kosong dengan tatapan hampa. Sampai dia tidak menyadari kalau sekarang sudah pukul 9 malam.
“Mbak …”
Suara lembut itu terdengar seperti suara setan di telinga Gemma. Wania itu tidak mau menoleh sama sekali. Dia mengambil ponselnya dan pura-pura memainkannya.
“Pulanglah. Jangan kembali kalau nggak kami panggil.”
“Mbak… Saya minta maaf.”
Gemma memandang tajam pada Ranita saat wanita itu berucap sesuatu. Istri Indra itu meremas tangan Ranita dan menyeretnya menuju balkon, tepat di balik dinding sehingga posisinya lebih private.
“Apa maumu, hah? Kamu ada tujuan apa di sini sampai empat hari berturut-turut datang ke rumah saya dan main terus sama Viani? Bahkan kamu berani-beraninya sentuh dapur saya!” tanya Gemma dengan rahang mengeras.
Ranita memandang segan pada Gemma yang menuntut jawabannya. “Sa-saya nggak ada maksud apa-apa, Mbak.”
“Beberapa kali kamu jemput Viani sebelum saya sempat jemput dia. Apa maksud kamu?”
“Saya hanya mengiyakan permintaan Viani dan perintah Pak Indra, Mbak.”
Tatapan Gemma semakin tajam. Perempuan bertubuh sintal di depannya itu kelihatan terintimidasi dan semakin segan.
“Ngaku kamu! Ada hubungan apa sama suami saya? Kamu Rita kan! Nama kalian aja hampir mirip! Kamu selingkuhan Mas Indra, kan?”
“Nggak, Mbak! Saya--Aw…” Ranita mengaduh saat kuku Gemma menusuk kulit lengannya yang mulus.
“Jangan pura-pura!” Gemma semakin mengeratkan cengkeramannya dan tak peduli pada kulit wanita itu meski sudah terasa perih.
“Tapi Mbak, lengan saya beneran sakit!”
“Gemma!”
Gemma yang kaget setengah mati itu langsung menoleh ke sumber suara, di mana dia bisa melihat Indra berdiri di ambang pintu geser balkon dengan amarah yang lebih memuncak darinya.
“Mas?”
“Apa-apaan sih!” Indra menarik Ranita ke dalam dan menyuruhnya pulang.
Setelah memastikan Ranita telah menghilang dari apartemen mereka, Indra segera membawa Gemma ke dalam kamar mereka di lantai 2.
Gemma menghempas pegangan Indra padanya saat mereka sudah mencapai balkon kamar. “Kamu yang apa-apaan, Mas! Dia itu Rita kan?! Ngaku aja!”
“Dia bukan Rita!” bantah Indra dengan frustrasi.
“Kebohongan kamu tuh terlalu tipis, Mas. Nama mereka terlalu mirip!”
“Kenapa kamu terus bawa-bawa kesalahan aku yang dulu?! Aku sudah minta maaf sama kamu!”
“Kamu pikir aku bisa maafin kamu gitu aja, hah? Baru aja aku mulai yakin sama kamu, kenapa kamu harus bawa perempuan lain ke sini? Ke rumah kita?”
“Dia bukan siapa-siapa, Ya Tuhan! Dia itu Cuma asisten yang menerima perintah aku!” Ekspresi Indra yang tadinya penuh amarah seketika berubah saat dirinya menyadari sesuatu. “Kamu cemburu, Sayang?”
“Jangan alihkan pembicaraan! Ini bukan masalah cemburu atau nggak, Mas! Ini masalah kepercayaan di antara kita yang udah runtuh dan hampir nggak bersisa!”
Selesai Gemma menumpahkan amarahnya, dia pun berpaling, tak mampu menatap pria yang sebenarnya hampir dicintainya itu. Air matanya luruh perlahan seiring desah napas Gemma yang tak kunjung berhenti kala usahanya menurunkan emosi jiwanya masih belum berhasil.
“Kalau aku kehilangan kamu dan Viani, sia-sia aku hidup, Mas.”
Meski dia kelihatan rapuh sekali saat ini, itulah suara jujur yang keluar dari hati Gemma. Hidupnya sudah terlalu bergantung pada Indra, dan Viani adalah orang yang membuatnya tetap bertahan di dalam keluarga ini. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau Indra mengambil Viani pergi darinya.
“Apa kamu mikirin perasaan aku? Membiarkan asistenmu lebih dekat dengan anak kita dari pada ibunya sendiri, benar-benar buat hatiku sakit.”
Lutut Gemma gemetaran dan membuatnya kehilangan keseimbangan. Tetapi sebelum tubuhnya benar-benar jatuh, lengan kekar Indra langsung menangkapnya, mendekapnya dalam pelukan yang amat erat. Tangannya terulur untuk membelai kepala wanita itu dan mengecup puncak kepalanya.
“Maaf… Maafkan aku, Sayang. Aku nggak bermaksud begitu… Aku nggak tahu kalau kamu sebegitu terlukanya. Aku cuma mau bikin kerjaan kamu lebih mudah dengan membiarkan Viani dijemput oleh Ranita.
Dan FYI, Ranita bukanlah Rita. Dia adalah orang lain yang sudah kubuang jauh-jauh dari hidup kita. Aku janji, nggak ada wanita lain lagi di antara kita… dan aku janji akan batasin Ranita ketemu Viani.”
“Kamu jahat, Mas,” bisik Gemma dalam tangis.
“Maafkan aku, Sayang. Please… Jangan nangis lagi. Aku nggak tahan lihat kamu kayak gini.”
Gemma pun menyudahi tangisnya dengan menghapus air mata itu menggunakan punggung tangannya.
“Aku nggak akan biarkan pernikahan kita yang udah terjadi selama ini hancur, Sayang. Kita sama-sama berjuang, ya? Aku akan berjuang untuk dapatkan kepercayaan kamu kembali, dan kamu harus berjuang untuk percaya. Demi aku, demi Viani.”
Dalam diamnya, Gemma mengangguk dan membiarkan Indra merengkuhnya lebih erat. “Kamu adalah hidup aku, Gemma.”
Indra pun menunduk, meraih wajah Gemma dengan kedua tangannya. “Aku hanya cinta sama kamu."
...****************...
Gimana? Hati2 darting ya guys 😂