Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
S2 Bab 9 – Aku Maafin Kamu


“Lo ngapain di sini?! Harry mana?” tanya Viani yang hampir panik saat melihat sosok Vincent duduk di sebelahnya sambil membawa satu gelas soda dan dua kotak hotdog di tangannya. “Kenapa lo jadi di sini sih?!”


“Harry di bawah tuh,” jawab Vincent. Dagunya menunjuk pada sepasang muda-mudi yang tengah duduk di kursi F. Ada Harry dan Hana yang duduk di sana.


Viani yang jengkel lantas berdiri dan hendak pergi dari sana, tapi Vincent segera mencekal tangan itu. “Mau ke mana?”


“Pulang …”


“Vi, jangan gitu …” Vincent mencekal lengan Viani dan berusaha menariknya untuk duduk kembali ke kursinya. Gadis itu pun duduk dan membuang mukanya dari Vincent. “Gue nggak ada niat jahat kok … Gini aja … kita nonton, dan lo boleh anggap gue nggak ada.”


Viani mengambil soda miliknya dan meminumnya tanpa memandang Vincent. Tapi dia tak bisa membohongi rasa itu, kalau sampai saat ini, getaran tersebut masih ada.


Film sudah setengah jalan, sementara hati Viani semakin tersiksa pada pertanyaan-pertanyaan yang hanya Vincentlah yang punya jawabannya. Dia tak kuat menahan tak bicara pada lelaki itu.


Diliriknya Vincent yang ternyata kini juga sedang curi pandang padanya. “Vin …”


“Hm?” Terdengar bunyi seruput sedotan pada soda yang diminumnya.


“Gue boleh nanya?”


“Tanya aja …” Vincent menoleh, menatap lurus pada mata cokelat bulat yang membuatnya selalu luluh tersebut.


“Kenapa lo nolongin gue?”


Ada jeda panjang seiring dengan tatapan mereka yang tak putus jua. Vincent berusaha mencari kata-kata yang tepat tetapi ragu, mengingat pernyataan perasaannya tempo hari ditolak mentah-mentah oleh sang empunya hati.


“Lo tau sendiri alasan gue, Vi …”


“Kenapa lo harus dihukum? Emangnya nggak sempat lo bikin ulang?”


Vincent tersenyum dan melepas tatapannya dari Viani. “Nggak sempat. Soalnya jadwal pelajaran kita biasanya kelas gue dulu, baru habis itu langsung jadwal kelas elo.”


“Oh … begitu ternyata …” Viani mengangguk dan mengembalikan fokusnya pada film yang ditonton, pada wajah Benedict Cumberbatch yang terlalu putih dengan bagian hidung dan bibir yang memerah, semacam orang punya alergi parah terhadap seafood.


Film sudah tiga per empat jalan dan mereka masih diam. Viani tak bisa menebak isi kepala Vincent yang terlihat begitu serius. Entah pada film itu atau pada hubungan mereka yang masih canggung.


Dia pun memakan hotdog yang sempat Vincent berikan padanya tadi sampai habis dan menutup film hari ini dengan satu teguk terakhir dari soda yang diminumnya.


Perlahan, lampu telah dihidupkan. Namun tak ada satu pun dari mereka yang beranjak berdiri ketika semua orang sudah berbaris bagai semut yang mencium bau gula. Laki-laki itu masih bergeming pada tempatnya.


“Eng … Vin …” Viani menyentuh lengan Vincent sampai dia menoleh. “Film udah habis.”


Vincent memendarkan mata ke sekelilingnya, masih banyak orang yang mengantri turun. “Tunggu agak sepi, biar nggak desakan … Kamu nggak buru-buru, kan?”


Eh! Sejak kapan pula panggilan itu berubah? Terakhir kali Viani pakai aku-kamu berujung di-friendzone oleh Harry.


Tapi, jujur saja, Viani tidak keberatan. Seakan itu petunjuk kalau kemungkinan besar malam ini akan jadi lebih panjang, Viani kembali bersandar sampai bioskop itu sedikit lebih lengang.


“Ayo,” ajak Vincent.


Vincent berjalan lebih dahulu diikuti oleh Viani yang hanya berjarak satu anak tangga darinya. Namun ketika Viani hampir mencapai anak tangga terakhir, sneakers Viani menginjak kantong plastik bekas penonton yang tak dibuang pada tempatnya, dan … terjungkal.


Refleks, Vincent berbalik dan langsung menangkap tubuh Viani, mencegah gadis itu terjerembap dengan pose yang tidak estetik. Viani juga refleks mendaratkan kedua tangannya tepat di atas dada Vincent.


Saat euforia terkejut sudah hilang, Viani yang baru sadar akan dekatnya wajah mereka sekarang, tak bisa menahan semburat malu yang membuat pipinya bersemu merah muda. Dada Vincent pada telapak tangannya terasa begitu hangat. Begitu kontras dengan debaran jantung lelaki itu yang kian menggila, tak jauh beda dengan dirinya sekarang ini.


“Nggak ada.”


Vincent melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 7 malam. “Mau ke cabang bakery punya Mamaku? Nggak jauh dari sini kok, bisa jalan kaki. Di sana nggak cuma ada roti dan cake, ada makan berat juga. Kita bisa sekalian dinner.”


Viani mengikuti saja kemana Vincent menuntunnya. Mereka keluar dari area bioskop dan bersiap pada zebra cross yang dipenuhi banyak kendaraan melintas. Begitu lampu hijau untuk para pedestrian menyala, mereka menyeberang jalan bersama.


Entah ini sudah refleks ke-berapa kalinya, Vincent langsung meraih tangan Viani, sementara kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, tetap waspada meski kendaraan semua terhenti hingga mereka sampai di seberang dengan selamat.


Tangan itu tak jua melepas Viani sampai mereka tiba di sebuah kafe milik Erika yang dikelola oleh Store Manager bernama Dini, yang terlihat sedang membantu para karyawan melayani para pelanggan yang datang silih berganti.


“Eh, ada Ko Vincent,” kata Dini saat melihat Vincent dan Viani masuk lewat pintu depan. “Mau dinner ya? Di balkon atau—“


“Balkon aja, Kak. Maaf ngerepotin …”


“Ck! Selow, Ko …” Dini kemudian berbisik, “Cemewew ya, Ko?”


Telunjuk Vincent teracung pada depan bibirnya, menyuruh Dini agar diam-diam saja dan tak ikut campur.


“Aman! Dini will be quiet,” Dini terkekeh dan segera mengikuti mereka ke atas menuju balkon, melayani orderan para remaja yang terlihat malu-malu kucing itu sampai mereka berdua kenyang.


...***...


Pukul 8 malam, Vincent dan Viani sudah ada dalam taksi. Mereka masih minim percakapan hingga sekarang, dan kesunyian itu membuat Vincent merasa sepi.


Viani tak kunjung mengajaknya bicara sampai mereka diturunkan taksi pada pintu komplek yang sepi. Lelaki itu meminta supir untuk menurunkan agak jauh dari rumah Viani, sengaja ingin mengulur waktu, siapa tahu Viani ingin mengutarakan sesuatu.


Mereka berjalan beriringan. Tangan Vincent masuk ke kantong jaket varsity bisbol St. Louis Cardinals sambil mempermainkan sebuah kelereng yang ada di dalamnya. Dia jelas sedang gugup sekarang. Gugup menanti apakah malam ini perasaannya terbalaskan atau zonk.


Vincent masih terlalu malu untuk bicara. Dia ragu, pada wajah datar Viani yang hampir tak terbaca. Rasa penasaran pun membuat gengsinya longgar. Kalau tidak sekarang, kapan lagi dia punya kesempatan? Dia harus bilang sesuatu sebelum malam ini jadi malam yang sia-sia.


“Vi …” panggilnya dengan ragu.


“Aku maafin kamu …”


Vincent berhenti pada tempatnya, menautkan matanya pada mata bulat cokelat gelap yang kini memandanginya dengan wajah tersipu malu. Wajahnya diterpa cahaya temaram dari lampu jalan, membuat gadis itu terlihat kuat dan rapuh di saat bersamaan, ekspresi yang benar-benar Vincent sukai.


“Apa kamu masih suka sama aku?” tanya Viani lagi. Gadis itu juga sebenarnya dalam keadaan gugup setengah mati, sekuat tenaga dia mengumpulkan keberaniannya agar momen ini tidak lewat begitu saja.


Bibir Vincent yang semula terkatup, menjadi terbuka karena kata-kata yang mengalir begitu saja dari Viani.


"Apa yang bikin kamu mikir kalo aku bakal berhenti suka sama kamu?"


Tanpa menunggu jawaban Viani, Vincent membiarkan nalurinya bergerak, merangkum wajah Viani dengan kedua tangannya dan mengecup bibir merah merekah yang masih mempertanyakan rasa sayangnya pada gadis itu.


Mata mereka terpejam pada desiran darah yang terpompa habis-habisan dalam tubuh masing-masing. Hingga kecupan itu terjadi lebih dari satu kali. Lembut, hangat, dan membuat mereka lupa kalau mereka sedang berada di ruang terbuka.


“Aku sayang kamu,” tiga kata paling menyentuh dari bibir Vincent pun keluar. Netranya mengunci mata Viani, mencoba mencari jawaban di balik warna cokelat yang indah itu.


Viani membasahi bibirnya yang sempat kering. Dan dengan senyum samar, dia merespon Vincent yang sudah sabar menunggu. Sudah saatnya lelaki itu tahu isi hatinya.


“Aku juga sayang kamu …”


...****************...