Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
S2 Bab 35 - Operasi


Cepat-cepat Vincent membawa Viani ke rumah sakit. Sayangnya, Trisinar dan Aryaditya posisinya sangat berjauhan dari rumah mereka. Dia pun tak punya pilihan membawa Viani ke rumah sakit terdekat yang juga tak kalah bagus dan besar.


Dilihatnya Viani yang terlihat semakin pucat dan lemah. Tangannya tak mau melepas genggaman tangan sang istri yang semakin dingin.


“Mau minum dulu?” tanya Vincent pada Viani yang dijawab dengan anggukan. Lalu pria itu menoleh pada Tiwi yang segera memberi botol minum yang sudah dipersiapkan dari rumah.


Hati Vincent terasa diremas-remas melihat kondisi pucat sang istri. Wajah Viani sudah kehilangan warna, tubuhnya terlihat lemas dan keringat dingin membanjir di tubuhnya.


Sebelah hati Vincent tercabik pada fakta bahwa dia adalah seorang dokter yang sudah terbiasa melihat orang yang sakit. Di sini, dia tetaplah seorang manusia dan hanyalah seorang suami yang putus asa yang sedang menanti uluran tangan orang lain untuk menolong istrinya.


Untungnya, di sana dia bertemu dengan beberapa orang yang dikenalnya, sehingga Vincent dapat sedikit lebih percaya. Kawannya, dokter Mikael yang merupakan salah satu dokter jaga, akhirnya datang. Mereka bersalaman karena cukup lama tidak bertemu sejak pernikahan itu.


“Ini Viani, kan?” tanya dokter Mikael seraya memasang hand scoon. “Viani kenapa, Bro?”


“KPD, Mik. Tolongin istri gue, please!” ujar Vincent menatap Mikael penuh harap.


Mikael langsung mengambil alih dari dokter jaga lain setelah membaca status Viani. Setelah Mikael melakukan panggilan pada seseorang, serangkaian pemeriksaan pun dilakukan dengan cukup cepat.


Mata Mikael menyorot tajam pada hasil pemeriksaan dan dia segera membuat panggilan. Saat Mikael tengah menghubungi dokter spesialis kandungan, tiba-tiba sosok yang sudah lama tak dilihat Vincent pun muncul.


Dengan snelli, sosok itu berjalan dengan penuh wibawa dan ketampanan yang masih tercetak pada wajah dewasa itu, bermaksud menuju seorang ibu hamil yang posisinya berada tepat di sebelah Viani.


“Dokter Niko,” sapa Mikael pada dokter senior tersebut dengan sopan. Dia pun menunjukkan pasien miliknya pada sang dokter dengan perasaan segan, tahu kalau saat ini anak dan menantunya sendiri berada di sini. “Ini …”


Niko berhenti berjalan. Dia menoleh pada Viani yang kini menatapnya dengan sedikit takut sambil meringis sakit. Lelaki itu tidak bicara, dia lantas langsung membaca status Viani yang disodorkan oleh Mikael.


Seketika keningnya berkerut dan dia pun segera memerintahkan perawat untuk menyiapkan ruang operasi setelah berkomunikasi dengan Erika.


Mendengar kata operasi, Vincent langsung meraih tangan Viani. Operasi ini tentunya bukanlah operasi biasa seperti ceasar pada umumnya, ada dua nyawa yang dipertaruhkan di sana yang dalam kondisi tidak terlalu bagus.


“Dokter Mikael, mohon maaf, saya yang ambil alih.”


Mikael tidak masalah dengan hal itu. Dia pun mundur, segera bertukar pasien dan menghubungi dokter kandungan yang sempat diteleponnya mengenai pasien berbeda.


Semua orang sudah tahu apa yang terjadi dengan Vincent dan juga Niko. Namun Mikael tahu, bahwa dalam hal ini, hati Niko pasti sedikit terketuk dengan rasa tanggung jawab.


“Papa—ehm. Dokter Niko,” panggil Vincent yang masih meragu pada panggilannya. Segan pada ekspresi datar Niko saat ini. “Bagaimana dengan istri saya?”


“Seperti yang kamu bilang tadi,” jawab Niko datar sambil melengkapi status Viani.


Ketika Niko hendak berlalu dari sana untuk segera bersiap-siap, Vincent menahan tangan ayahnya. Lama dia tidak berdiri sedekat ini pada sang ayah, tangannya tergerak begitu saja meremas lengan sang ayah.


“Vincent rindu Papa.” Lelaki itu menggunakan kesempatan ini untuk menumpahkan perasaannya. “Vincent nggak akan nyerah sampai Papa maafin aku dan Om Gala … aku percaya, jauh di lubuk hati Papa, Papa menyayangi aku dan Viani ... Aku titip istriku sama Papa. Tolong selamatin Viani, Pa …”


Niko menatap Vincent dengan ekspresi rumit seraya berlalu dari Vincent tanpa mengatakan apa-apa dan berlalu begitu saja. Viani sempat menahan napas sebentar sebelum akhirnya bernapas dengan lega setelah sosok Niko menjauh.


Kepala Vincent terangkat, menyadarkannya dari pikirannya. “Ya, Sayang?”


“Aku nggak tau rasanya di operasi. Sakit kah?” tanya Viani dengan mata membulat.


Vincent serasa sedang meneguk batu besar. Kalau dengan orang lain, mungkin dia akan dengan mudah menjelaskan kalau ada prosedur anastesi yang dapat menghilangkan rasa sakit.


Tapi seperti biasa, operasi besar seperti ini adalah sebuah prosedur yang riskan, dan selalu memerlukan tanda tangan wali yang bertanggung jawab terhadap pasien.


Selama ini, Vincent tak terlalu peduli terhadap resiko-resiko yang tertera dan memerlukan tanda tangan para pendamping pasien. Itu memanglah hal biasa dalam dunia medis.


Tapi kali ini, membayangkan daftar resiko yang harus ditandatanganinya saat dirinya dihadapakan dalam posisi ini, membuatnya jadi sangat takut. Resiko itulah yang sewaktu-waktu dapat terjadi pada istrinya. Posisinya sekarang tidak lebih dari wali pasien lainnya.


Vincent menghela napas berat dan menghembuskannya perlahan. “Kan dibius, Sayang? Nggak akan sakit.”


Viani mengangguk lemah, sambil sesekali berdesis merasakan kontraksi. Matanya terpejam dan meringis beberapa detik. “Sshh!” Viani refleks menggenggam tangan Vincent sedikit lebih kuat.


“Sakit, Vi?” bisik Vincent. “Tahan ya, Sayang. Bentar lagi.”


Mata sendu Viani menyapu wajah Vincent yang terlihat lelah. Pada netra dalam kelopak mata sipit yang selalu hangat, bibir tipis yang selalu menyebut kata ‘sayang’ dengan perasaan yang dalam, serta kedua tangan dan jemari seksi kalau sedang menggunakan alat-alat medis. Entahlah, semua jadi terasa begitu indah di mata Viani. Viani merasakan sebuah firasat yang ...


Seketika itu juga, dia jadi merindukan bibir suaminya. “Cium aku, boleh?”


Lelaki itu tak membuang waktu. Dia langsung menunduk dan mencium bibir istrinya dengan lembut dan mesra. Tangan kanannya tak lepas dari genggaman tangan Viani, sedangkan tangan kirinya mengelus perut sang istri.


“I love you, Vin …” bisik Viani saat mereka menyudahi ciuman mereka. Kedua tangan Viani menarik tubuh Vincent untuk menunduk, sehingga dia dapat memeluk tubuh suaminya.


Kening Vincent mengkerut. Sudah sering mereka berkata hal yang sama dan melakukan ini setiap hari, tetapi saat ini dia tidak suka mendengarnya. “Vi … jangan bilang seakan-akan ini—“


“Apa aja bisa terjadi. Kita harus—“


Amarah membuat wajah Vincent memerah. Dia langsung menjauhkan diri dari Viani yang tubuhnya memang terlihat bengkak. “Vi! Berhenti ngomong aneh! Kamu akan baik-baik aja!”


Mata Viani berkaca-kaca. Dia tidak bisa menepis pikiran itu dari kepalanya, pada kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Dia ingin menyangkal, tetapi dia tidak bisa. Vincent di sini lebih denial, dia menghindari topik ini, berusaha tetap positif ditengah kekalutan pikirannya.


“Tapi, Vin—“


“Nggak ada tapi-tapian!” Vincent terlihat begitu emosi dan pergi dari hadapan Viani.


Diberondong dengan rasa cinta, cemas dan rasa takut kehilangan membuat kendali Vincent habis. Dia berlari menuju ke luar, sebelum ada yang melihat setitik air mata yang sudah jatuh di pipinya.


***