Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
54. Party


Pagi ini, satu jam sebelum jam kantor di mulai, Gala turun ke kantornya dengan wajah berseri-seri. Dia juga menyapa siapa saja yang ada di kantor begitu ceria membawa sekantong roti di tangan kanannya.


Tak banyak orang yang ada di sana. Hanya ada Daniar dan juga Hendra, sedangkan yang lain belum tampak batang hidungnya.


“Pagi Mbak Daniar, Pak Hendra.”


“Pagi,” sapa Hendra yang saat itu sedang mengobrol serius dengan Daniar di dekat meja kubikel milik wanita itu. Buru-buru mereka mengubah perangai. Wajah yang tadi seperti tegang, kini berubah lebih santai. “Wah… happy sekali pagi ini…”


“Lo kenapa, Gala? Kesambet apaan?” tanya Daniar sambil cengengesan yang terkesan dipaksakan.


“Mau, Pak, Mbak?” kata Gala sambil menawarkan sebuah Bread Bun dalam kertas roti dengan rasa kopi yang nikmat. Gala lalu membagi-bagikan makanan itu dengan meletakkannya di atas meja karyawan satu per satu dalam ruang itu. “Khusus buat Pak Hendra, ambil dua!”


“Yee! Gue nggak nih?”


“Mbak Daniar juga boleh, tapi sembunyiin satu, biar Gio dan Anton nggak minta!”


“Kamu kenapa? Kasih tau lah,” Hendra mengangkat alisnya.


“Tanda-tanda jatuh cinta itu, Pak,” celetuk Daniar asal.


Gala hanya menyeringai dengan gestur yang kikuk, lalu duduk di kursinya dan menyampirkan tasnya di kursinya. “Ya… gitu deh, Pak. Saya lagi senang aja.”


“Saya heran, umur segini kamu belum menikah. Lalu bertingkah kayak anak remaja…”


“Hehehe… Saya emang habis CLBK, Pak!”


“Ooo pantesan!” ujar Hendra dan Daniar serentak.


“Ya sudah. Jadinya harusnya tambah semangat dong ya? CLBK sama siapa kalau bole tau?” tanya Hendra.


“Ya sama mantan dong Pak, masa sama tembok? Temen SMA saya, kebetulan dah cerai dari suaminya. Saya langsung tembak aja!”


Hendra tertawa lalu menggelengkan kepalanya. “Jadi kamu pilih yang berpengalaman? Hahaha!”


Daniar yang juga masih single itu tiba-tiba merasa gerah. “Saya ijin ah, mau bikin kopi!”


“Et… ke ruangan saya dulu, Niar…” pinta Hendra yang kini sudah berjalan menuju ruangannya.


Mendengar perintah, Daniar langsung mengikuti Hendra setelah mengucapkan terima kasih pada roti yang telah diberikan pria itu.


Tentu saja, mata Gala tak bisa lepas dari Daniar dan Hendra yang kini terlibat pembicaraan yang cukup serius di sana. Daniar terlihat menggelengkan kepalanya, sedangkan Hendra duduk dengan arogan sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di atas meja.


“Saya nggak bisa lagi, Pak. Saya takut…”


“Saya juga. Tapi kamu jangan kuatir, kita akan cari solusi sama-sama.”


Entah apa yang dibicarakan kedua orang itu. Yang jelas, saat Gala kembali dari toilet, dia memergoki Daniar tengah dipeluk oleh Hendra dengan begitu erat.


Dua minggu sudah Gala bekerja di sini. Semua berjalan seperti biasa dan juga sangat normal. Yang aneh hanyalah pelukan antara Daniar dan Hendra yang saat itu terlihat lelah. Tapi selebihnya, kedua orang itu bersikap wajar seperti tak terjadi apa-apa.


Daniar menatap Gala dengan bingung saat melihat Gala mengabaikan ponsel yang dari tadi terus berbunyi berulang kali. “Nggak diangkat dulu, Gala?”


“Eng? Nggak ah Mbak… Males.”


“Orang gila, Mbak. Mantan psycho!” celetuk Gala sambil membicarakan panggilan Leticia.


“Wiii, jangan-jangan nggak terima gara-gara lo jadian sama orang lain.”


“Ya gitu deh.”


Ngomong-ngomong soal Leticia… Tanpa Leticia ketahui, kepulangannya ke Australia itu bukanlah sesuatu yang kebetulan. Gala adalah orang di balik itu semua. Sesaat setelah kebekuan di antara Gala dan Gemma mencair, pria itu tak buang-buang waktu untuk mengeleminasi setiap ancaman yang bisa mengganggu hubungan mereka dengan menelepon pemilik agency di mana Leticia bekerja untuk mengembalikan wanita itu ke Negri Kangguru. Sudah cukup Indra yang menjadi ancaman utama, Gala harus fokus pada orang itu.


Sampai sekarang, Gala dan Gemma masih berusaha untuk berhubungan secara diam-diam dan sepelan mungkin. Gemma bukan orang yang gampang untuk melanggar komitmennya meski dia tahu kalau sang suami lebih brengsek dari apa yang dia lakukan bersama Gala.


Bahkan Niko saja tidak percaya saat dirinya bercerita kalau Gemma masih menghindar ketika hendak dicium. Jadi ciuman saat itu adalah memang ciuman satu-satunya yang terjadi di antara mereka.


Tapi Gala bisa menunggu. Kalau memang wanita itu masih perlu waktu, dia akan menanti. Kalau dulu dia bisa melewati 15 tahun dengan begitu sabar, kenapa sekarang dia tidak bisa menunggu lagi?


Sorenya, Daniar mencegat kepulangan Gala ketika pria itu hendak pulang. Wanita itu tidak banyak bicara hingga mereka sampai ke sebuah klub malam ekslusif di Jakarta Selatan.


“Di sini tempat orang-orang kepercayaan Pak Bambang. Lo diundang ke sini berarti lo adalah orang yang benar-benar dipercaya,” ujar Daniar sambil menggamit tangan Gala sambil berjalan masuk ke dalam sana.


“Oh ini toh yang namanya Gala… admin purchasing kita?” ujar Indra yang menangkap kehadiran Gala bersama Daniar. Wanita itu telah melepas tangannya dan melangkah menuju kursi Pak Hendra. “Kamu mau minum apa?”


“Saya nggak minum, Pak…” jawab Gala dengan menunduk segan dengan tampang pura-pura polos.


“Oh ayolah… Di sini nggak usah takut. Minum apa aja yang kamu mau,” Indra tiba-tiba maju dan berbisik. “Atau mau cewek? Saya bisa pesankan.”


“Oh nggak, Pak. Makasih. Saya sudah punya pacar,” kata Gala setengah jujur. ‘Dan dia istri Bapak sendiri yang sudah Anda sia-siakan!’ katanya dalam hati dengan penuh kemenangan.


Sebenarnya tak ada acara tembak menembak antara Gala dan Gemma. Mereka hanya hang out bersama, berpegangan tangan, tidak terlalu mesra tapi tak juga terlalu renggang. Masih slow, tapi Gala tetap mengusahakan kalau hubungan ini akan pasti setelah drama perusahaan ini berakhir.


“Lalu kamu mau apa?”


“Soda aja, Pak.”


Indra memanggil pelayan dan memesankan minuman tanpa alkohol untuknya. Sementara ini Gala hanya duduk di bar sambil memperhatikan gelagat orang-orang di sini.


Pria itu bisa melihat Bambang Hanggara sedang berada dalam ruang VIP yang tertutup. Entah apa yang mereka bicarakan di sana, tapi yang jelas, salah satu dari mereka adalah Happy Valentina, seorang designer yang cukup dikenal di masyarakat kelas menengah ke atas berusia 40 tahunan.


Indra tidak main perempuan, tetapi di dalam kelompok ini, sudah bukan rahasia lagi kalau Ranita memanglah simpanan Indra. Mereka terlihat begitu mesra dan sempat berjoget dan pelukan di depan umum.


Gala tak bisa membayangkan betapa sakit hati Gemma saat memergoki suaminya selingkuh.


Lalu, sebuah notifikasi masuk ke dalam ponselnya dari Felix.


[ Felix : Lo di mana sih? ]


[ Me : Di klub. Kenapa? Ada kabar apa? ]


[ Felix : Guess what? Garmen yang bikin seragam kantor lo itu ternyata punya desainer terkenal Happy Valentina. Nama aslinya, Happy Valentina Hanggara, sepupu Bambang Hanggara. ]


[ Me : Nepotisme itu selalu ada seninya, kan, Lix?


...****************...