
“Tante udah sadar,” pekik Diana lega.
Mitha membuka matanya perlahan. Cahaya berpendar itu akhirnya bersatu untuk membentuk satu pemandangan yang utuh yang dapat dilihatnya dengan jelas.
Dia kemudian duduk, saat merasakan ada sepasang tangan yang membantunya dan mengambilkannya minum yang dapat dia reguk.
“Makasih,” kata Mitha yang mulai lebih tenang.
Hari sudah menjelang malam. Di dapur, terdengar suara Bik Yana sedang masak-masak, sedangkan beberapa asisten rumah tangga lain yang tugasnya membersihkan rumah, sudah pamit pulang satu per satu.
Di atas sofa yang mereka duduki tadi, Mitha sudah terbangun. Tatapannya kosong, tertuju pada satu titik semu pada coffee table yang ada di tengah mereka.
“Ini semua salah Tante …” bisik Mitha dengan setitik air mata jatuh di pipinya.
“Maksud Tante?” tanya Gala penasaran.
“Minggu lalu, saya bertengkar hebat dengan Ayahnya Gemma. Dan dia ancam saya … dia bilang kalau dia nggak bisa miliki Gemma, maka nggak ada satu pun dari kami yang bisa.”
Mitha meneguk ludahnya dengan berat mencoba menahan tangis yang tadi sudah reda, namun tak mampu. “Tapi saya nggak tau kalau kejadiannya akan kayak gini.”
“Saya sudah siapkan semua hari ini! Tiket penerbangan ke Sydney, visa, kampus seni terbaik untuk Gemma! Hari ini, dia harusnya berangkat. Saya sudah menunggu di bandara sejak siang. Saya menelepon Gemma, dan tak ada jawaban.
Kami sudah siap! Barang-barang Gemma sudah ada pada saya, yang dia cicil sejak minggu lalu agar kepergiannya tidak diketahui Yahya! Tapi…” Mitha kembali histeris hebat dan dipeluk Diana. “Rencana kami pasti ketahuan! Cita-cita Gemma runtuh sudah! Tante nggak tau harus gimana lagi!"
Mata Gala kembali membola mendengar rencana Mitha. Pantas saja saat pertemuan mereka terakhir, Gemma sepertinya tidak mempermasalahkan dirinya yang akan pergi ke Aussie.
“Karena dia dengar kamu akan ke sana … dan saya setuju, sebab band kami sering dapat pekerjaan di sana. Saya dan Gemma jadi bisa lebih dekat. Saya sudah lama menginginkan ini terjadi. Sudah lama saya dipisah dari Gemma bahkan ketika usianya 17 di mana dia harusnya bisa memilih, Yahya masih menjauhkan kami.
Gala … apa yang harus saya lakukan?!” Mitha menatapnya putus asa.
Namun, rasa belum percaya masih menyelimuti Gala. “Tapi Tan… Masih ada kemungkinan sebenarnya Gemma setuju dengan perjodohan itu, kan?”
“Dan Om Yahya menikahkan Gemma tepat di hari kepergian mereka, di mana Tante sama Gemma udah janjian di bandara? Apa itu masih masuk akal menurut lo kalo Gemma setuju buat dijodohin?” tanya Diana yang terganggu dengan perkiraan Gala yang masih berusaha membuat Gemma tetap bersalah di sini.
Erika menyentuh lengan Gala, mencoba bicara pada lelaki itu. “Gemma pasti dalam tekanan dan ancaman.”
“Lo kenapa bisa yakin?”
“Gue udah sering melihat cewek-cewek kayak gitu sebelum gue sama Niko… Dan gue bisa tau mana cewek yang rela nyerahin dirinya dan mana yang nggak.
Mana yang murahan, mana yang bukan.
Bahkan Niko aja bisa ngeliat gimana Gemma waktu itu. Benar kata Diana, Gemma pasti nggak mau setuju dijodohin, kecuali ada something yang terjadi.”
"Lo bayangkan aja sendiri, Gala. Bentuk pemaksaan apa aja yang bisa membuat Gemma pasrah seperti itu. Gue sendiri nggak berani bayangin," sambung Niko yang langsung membuat Paramitha memekik histeris.
...****************...