Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
67. Bibit Jelek


Hingga seminggu kemudian, Gemma masih juga belum bisa menghubungi Viani. Di sekolah, Gemma tak bisa menemukan anak itu. Pun di apartemen, Gemma seperti kehilangan jejak sang anak.


Lalu saat nama Indra terbersit lagi, darah Gemma jadi mendidih. Pria itu berusaha menjauhkan dirinya dari sang anak. Tak peduli bagaimana putus asanya Gemma mencari, dia tak akan membiarkannya bertemu dengan sang anak lagi.


Gemma bersumpah kalau pria itu akan menerima akibatnya suatu saat nanti. Hanya saja, dia masih belum bisa menemukan ide untuk membalas.


Tapi… Haruskah dia membalas? Atau dia biarkan saja semesta yang menentukan kapan pembalasan itu tiba?


Nurani yang dimilikinya selalu merasa tak sanggup untuk berbuat demikian. Dia sebenarnya memang terlalu baik hati, meski hatinya telah dihancurkan berkali-kali. Bahkan kali ini dia masih menerima sang mantan untuk berada di sisinya, padahal pria itu juga dulu pernah menyakitinya.


Sungguh… Bodoh, Polos, dan Pemaaf, adalah 3 kata yang beda-beda tipis untuk menggambarkan keadaan Gemma sekarang.


Dia menyugar rambutnya dengan kasar, menahan kepalanya dengan sebelah tangannya sambil meminum satu gelas alkohol yang ada di depannya.


Gemma mengangkat kepalanya saat dia mendengar suara bel rumahnya berbunyi. Dia membukakan pintu rumahnya dan mendapati pria yang baru saja dipikirkannya muncul.


“Gem, ini masih sore untuk minum alkohol. Udah berapa banyak?” tanya Gala saat aroma alkohol itu menyusup masuk ke hidungnya.


“Belum ada dua gelas,” jawab Gemma yang lalu melebarkan pintu itu agar Gala bisa masuk.


“Pemeriksaannya udah mau selesai,” kata Gala saat dia menghampiri meja, mengambil botol minuman keras yang Gemma letakkan di sana untuk dikembalikan menuju lemari penyimpanan, memberi tatapan yang sarat perintah pada Gemma untuk tidak menambah lagi alkohol dalam gelasnya.


Tak membantah, Gemma menghabiskan minuman yang masih tersisa dalam gelas dan meletakkannya gelas bekasnya di kitchen sink. “Lalu? Rencana kamu selanjutnya?”


“Tunggu penetapan tersangka…”


Gemma menganggukkan kepalanya dan mulai mengobrak-abrik isi kulkasnya, mencari apa saja yang akan digunakannya untuk membuat makan malam. Namun pikiran-pikiran tentang Indra, dia biarkan menguasainya saat itu juga.


Gemma baru sadar kalau dirinya masih ada di depan kulkas yang terbuka saat Gala mendatanginya dan menyentuh lengannya.


“Are you okay?” tanyanya.


Wanita itu hanya mengangguk lagi seraya mengambil ayam dari freezer dan sayur-mayur dari chiller.


Saat dirasanya kalau wanita itu tak sepenuhnya berkata jujur, Gala mengambil semua bahan makanan itu dan meletakkannya ulang dalam lemari pendingin. Tetapi rasanya sekarang bukanlah saat yang tepat untuk membahas itu semua.


“Kamu lupa?”


Gemma mengangkat alisnya lalu menepuk dahinya. “Astaga, kita ada makan malam sama mereka!”


...***...


Gala tak berhenti tersenyum saat melihat penampilan Gemma sekarang. Meski tampilannya sederhana, hanya kaos berkerah putih dan celana kulot senada, Gemma terkesan lebih segar, tidak begitu kusut seperti tadi.


Dia seperti masih gadis dan sangat menawan. Setidaknya, Gala yang berpikir begitu.



Tiba di sebuah restoran pinggir pantai di daerah Jakarta Utara, mereka disambut oleh teman-teman lama mereka. Diana, Erika, Niko dan Febri duduk di sana. Mereka terkesan ingin merayakan cerainya Gemma dan Indra, padahal sidang saja belum.


“Aaaaaa lo pada cute banget siiii,” ujar Diana yang lalu menyandarkan kepalanya pada bahu sang suami.


Febri menggeleng. “Hush! Orang Gemma belom cerai!”


“Bentar lagi,” jawab sang istri tak mau kalah.


Di tengah perbincangan mereka yang tak habis-habisnya, Gemma menangkap satu sosok yang sangat dikenalnya. Mira, sang ibu mertua, tengah duduk beberapa meja tak jauh dari mereka. Dia sedang mengobrol dengan seorang wanita cantik.


“Permisi sebentar,” pamit Gemma pada semua orang.


Gala yang tahu ke mana arah pandangan Gemma tadi langsung menarik tangannya. “Aku temani?”


“Nggak usah…”


Dengan yakin, Gemma mendatangi sang Ibu mertua yang terlihat asyik mengobrol seru. Biar bagaimanapun, Mira tetaplah orang yang pernah menjadi keluarganya kan? Setidaknya itu dulu.


“Ayo, kita ngobrol di tempat lain.”


Mira menuntun Gemma menuju ke titian panjang di atas air laut yang ada di restoran beratap unik tersebut.


“Saya nggak nyangka kamu berani muncul di depan saya, bahkan panggil saya ‘Mami’ setelah kamu gugat cerai anak saya saat dia lagi dalam kesulitan seperti itu.”


“Indra sudah bilang sama Mami kalau kami akan cerai?”


Jari telunjuk Mira teracung tepat di depan wajah Gemma. “Jangan panggil saya ‘Mami’! Kamu bukan lagi menantu saya. Kamu tinggalkan dia saat lagi sakit-sakitnya dan bersenang-senang di luar sini saat dia mengalami kesulitan.


"Kamu pikir, cuma kamu yang bisa selingkuh, hah? Indra bisa dapatkan banyak sekali wanita jika dia mau. Salah satunya Wanda, cewek yang tadi. Dia lajang, manajer di sebuah perusahaan kosmetik dan sangat cantik. Nggak kayak kamu!” katanya lagi sambil memindai penampilan Gemma dari atas sampai ke bawah.


Jadi itukah alasan wanita itu berada di sini? Sedang mencari jodoh buat anaknya? Dan kenyataannya Indra malah memutarbalikkan fakta pada sang ibu. Tapi entah kenapa, Gemma tak berencana membela diri seperti yang sudah-sudah.


Maka dari itu, setengah mati Gemma menahan emosi. Untungnya, dia masih mampu mengendalikan diri. “Saya tidak selingkuh, Tante.”


“Setidaknya itulah yang saya dengar tadi siang. Coba sekarang tunjukkan sama saya, yang mana pacar kamu? Dari antara tiga laki-laki yang ketemu sama kamu sekarang?” cecar Mira menunjuk ke arah Febri, Niko dan Gala. “Belum cerai saja sudah kegatelan!”


“Saya nggak kegatelan! Saya adalah wanita yang bebas berteman dengan siapa aja dengan teman-teman saya. Saya mau pacaran dengan siapa itu adalah hak saya…


Lagi pula, Indra-lah yang melarang saya untuk bekerja selama kami menikah. Saya tidak bisa Anda bandingkan dengan perempuan itu.”


“Tapi nyatanya dia jauh lebih baik dari kamu!”


“Apa dia bisa jauh lebih baik dari saya dalam mengasuh Viani?”


“Viani itu udah nggak bisa kamu miliki lagi Gem… Menyerahlah. Kamu itu nggak punya apa-apa, nggak ada harta untuk nyewa pengacara.”


“Gimana kalau saya bilang kalau anak Anda itu adalah seorang pria pembohong yang tidak punya kemampuan apa-apa kecuali hobi bertukar lendir di atas ranjang dengan wanita lain? Terus terang aja, saya sudah bosan menyebut kata ‘selingkuh’ setidaknya 10 kali sehari, selama beberapa minggu belakangan ini.”


“Apa maksud kamu?” tiba-tiba wanita tua itu merasakan aura mencekam dari omongan Gemma.


Wajah Gemma kini berubah jadi amat dingin. “Bagaimana kalau saya punya semua bukti?"


“Omong kosong! Kamu yang tukang selingkuh! Kamu itu dari awal bukan istri yang baik buat Indra! Kalau servis kamu bagus, dia nggak akan lari kemana-mana! Kamu aja yang jelek, nggak bisa jaga diri, kampungan!”


“Atau mungkin anak Tante aja yang nggak pernah puas dengan satu wanita! Selama ini saya berusaha menjadi menantu dan istri yang baik untuk keluarga Suteja. Tapi apa yang saya dapat??”


Gemma menggertakkan giginya dengan geram. “Saya selalu dapat nasehat kalau saya tidak boleh cerita masalah rumah tangga keluar, saya diikat dalam pernikahan toxic tanpa bisa memiliki teman. Apa nasihat itu juga berlaku pada Om Philip saat memergoki Tante sedang main bersama Pool Boy 12 tahun yang lalu?”


“Kamu?!” wajah Mira memucat seperti kehabisan darah.


“Saya nggak pernah bisa bayangin gimana perasaan Om Philip. Atau jangan-jangan dia bertahan karena harta dari keluarga Tante?” Wajah Gemma semakin tanpa emosi dan dingin.


“Tentang anak Tante, saya punya video panasnya, durasi satu menit. Mungkin bisa jadi referensi buat Tante dan selingkuhan Tante nan—“


Wush! Hampir saja!


Tangan Mira melayang dan hampir mengenai wajah Gemma jika wanita itu tak sigap menangkap lengannya.


“Saya bukan wanita lemah yang mau ditindas lagi. Sekarang saya tahu bibit jelek keluarga Suteja itu berasal dari mana,” Gemma menghempas tangan Mira. Kini wanita tua itu terlihat kalah. Tetapi Gemma merasa belum puas.


“Saya optimis kalau Viani akan kembali pada saya apalagi setelah semua kecurangan yang Indra lakukan, baik dalam pernikahan kami maupun perbuatannya yang melawan hukum.”


Mira menatap tajam pada Gemma, dia begitu ingin menyakiti mantan menantunya itu dengan sebelah tangannya yang bebas, tetapi Gemma dengan sigap mencengkeram kedua tangannya. “Anda tidak bisa menyakiti saya lagi!”


“Saya yakin Indra tidak bersalah! Jangan mimpi kamu!”


“Anda mau tau satu hal lagi? Anak Anda itu juga pandai berbuat curang. Meski Anda bisa dengan hebat membela anak Anda melebihi dari seorang pengacara, hal itu tetap tak bisa menghapus fakta kalau anak Anda adalah seorang koruptor kelas teri yang dengan gampangnya ketahuan.


FYI, ada sebuah tempat yang menanti seorang kriminal seperti anak Anda, namanya ‘pen-ja-ra’. Dan cepat atau lambat, Viani pasti akan kembali pada saya!”


...****************...