
Viani duduk di kursi penumpang di belakang Gemma dan Gala. Kedua orang dewasa itu menjemputnya di sekolah dan kini mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit di mana Indra masih dirawat.
“Viani sudah makan siang?” tanya Gala tanpa menoleh.
“Sudah, Om.”
Gala menepikan mobilnya di sebuah gerai roti kincir angin. Pria itu mengajak Viani turun untuk membelikan roti yang akan dibawa nanti.
“Yang mana kesukaan Papa, Vi?” tanya Gala.
“Mmm… Yang itu,” Viani menunjuk ke tumpukan kotak roti bertuliskan ‘Pisang Bolen’.
Gala mengambil dua kotak, plus beberapa bungkus Danish Raisin dan Korean Garlic Bread.
“Buat siapa tuh Om?” tanya Viani yang matanya masih tertuju pada kilauan kismis yang ada di pastry yang diambil Gala tadi.
“Ini bukannya kesukaan kamu dan Mama, Vi?”
Hati Viani menghangat lagi karena perhatian Gala yang ternyata diam-diam tahu apa kesukaannya. Padahal tadi sudah terasa begitu dingin.
Tetapi saat mereka sampai di mobil, semua jadi seperti kopi dingin, tidak enak di lidah.
Kendati Gala mencoba ramah, tetapi suasana kaku antara dia dan Gemma tak bisa direkayasa.
Atmosfir yang ditimbulkan benar-benar berbeda. Sang ibu dan Gala tak berbicara sepatah kata pun. Dari belakang, Viani bisa melihat betapa tegangnya mereka, tampak dari urat-urat leher Gala yang mencuat dan Gemma yang tak mau menatap Gala.
Mereka turun dalam senyap, berjalan masing-masing tak mesra seperti biasanya. Viani yang malah merasakan aneh. Biasanya ada kehangatan ketika mereka berkumpul bertiga. Dia sudah terbiasa dengan adanya Gala dan sang ibu.
“Kita sampai,” Gala menoleh pada Viani dan memberikan bungkusan berisi Pisang Bolen tadi padanya untuk diberikan pada Indra. “Kamu baik-baik aja kan kalau Om dan Mama kamu nggak ikut ke dalam?”
“Iya…”
“Kalau ada apa-apa, Om dan Mama ada di depan, oke?”
Senyuman lembut Gala jadi penghantar Viani masuk ke dalam kamar Indra yang telah dibukakan oleh seorang polisi berpakaian preman.
“Papa?” panggil Viani saat masuk ke dalam.
“Vi?” senyuman Indra melebar. Pria itu kini sedang duduk di brankar dalam posisi setengah duduk. Tangannya masih disangga dengan arm sling dan kepalanya yang semalam dibebat perban telah dilepas, meninggalkan luka yang telah mengering.
“Papa gimana sekarang?” tanya Viani yang mengambil posisi duduk di samping sang ayah, di atas kursi penunggu pasien.
“Papa udah baikan. Papa sebentar lagi bisa rawat jalan,” Indra terdiam sejenak tanpa memandang Viani. “Mama gimana kabarnya?”
Wajah Indra yang berubah sendu ketika dia dengan susah payah menyebut Gemma langsung menyentuh hati Viani. Gadis itu tersenyum dan menjawab, “Mama baik-baik aja, Pa.”
“Sekolah kamu gimana?”
“Aman Pa.”
“Ada yang ganggu?”
Pertanyaan yang intinya hampir sama dengan pertanyaan Gala tempo hari. Mereka mengkhawatirkan keadaan Viani di sekolah, mengingat Indra dan kawan-kawan sempat heboh dan masuk pemberitaan secara gila-gilaan. Meksi sekarang, berita itu sudah surut total, tetap saja hal ini bisa jadi punya dampak besar bagi Viani.
“Nggak pa-pa, Pa. Viani nggak kena bully kok. Udah sebulan, mereka juga udah pada lupa sama kasus Papa.”
Lalu hening. Setelah semua yang terjadi, segalanya jadi terasa asing bagi Viani. Indra seakan tahu apa yang Viani pikirkan, mulai buka suara.
“Kamu pasti malu punya ayah kayak Papa...” Indra menatap lantai dengan gamang. “Nggak heran Mama minta cerai dari Papa. Papa minta maaf karena mempermalukan kalian.”
Air mata Viani menetes begitu saja. Bagaimanapun salahnya Indra, dia tetaplah ayah kandungnya. Ayah yang selama ini mencintainya sepenuh hati. Yang tak pernah mengabaikan permintaannya sekalipun dia tahu itu berlebihan dan akan membuatnya bertengkar dengan sang ibu.
Ayah yang selalu jadi tempat pelariannya ketika dia dan Gemma tak akur. Mendengar sang ayah mengutarakan perasaannya seperti ini, dia jadi tak tega.
“Papa minta maaf karena Papa memang mengkhianati Mama… Papa khilaf… Papa hanya nggak tau dan nggak ngerasa cukup baik buat kalian sampai-sampai Papa cari pelarian yang lain. Papa orang tua yang buruk buat kamu… Papa pantas dihukum… Papa pantas dibenci sama kamu, Sayang.”
Hati Viani mendadak porak-poranda karena rindu dan juga sayang. Tanpa dikomando, tubuhnya yang dikuasai rasa penyesalan itu langsung memeluk sang ayah begitu erat seperti tak ada lagi hari esok.
“Viani sayang Papa. Sampai kapan pun, Viani akan sayang Papa!”
Mata Indra juga tiba-tiba membanjir. Dipeluknya anak semata wayangnya itu dengan satu tangannya yang bebas.
Saat-saat seperti ini, dia baru sadar bagaimana keluarga adalah support system yang sangat penting. Keluarga adalah tempat dia bisa kembali, sekalipun dunia menolaknya dan menelantarkannya habis-habisan.
Tapi kemana dia sekarang mau pulang? Atas kebodohannya sendiri, jeruji besi adalah rumahnya begitu dia keluar dari rumah sakit.
Tak ada persinggahan, tak ada lagi kasih sayang yang menyambutnya di rumah, sebab rumah itu sudah tidak ada. Apartemen yang menjadi kediaman mereka pun disita polisi sebagai barang bukti yang entah akan dikembalikan atau tidak. Dia hanya bisa meratapi diri dalam hati.
Betapa bodoh dirinya menyia-nyiakan keluarga yang begitu mencintainya. Istri yang bertahan selama 15 tahun kini tak mau menampakkan diri lagi padanya. Anaknya pun tak dapat dia jumpai setiap hari.
“Papa rasa, inilah harga yang Papa harus dibayar karena kesalahan Papa. Jangan contohi Papa, Vi… Kamu harus jadi anak yang lebih baik, jauh lebih baik dari pada Papa.”
Viani tak menjawab, dia malah semakin terisak pilu. Sebab dia tahu, dia akan terpisah dari sang ayah begitu lama. Belasan menit berlalu, Viani masih memeluk sang ayah sampai air matanya kering.
“Sampai kapan pun, Papa akan cinta sama kamu dan Mama kamu. Tumbuhlah dewasa dengan baik ya, Nak… Berbahagialah… Nggak usah pikirkan Papa. Meskipun Papa dan Mama udah nggak sama-sama, Papa akan baik-baik aja.”
Anggukan di kepala Viani memisahkan pelukan mereka. Indra membelai kepala anaknya dengan sayang dan mencium keningnya dengan begitu lama.
“Papa masih cinta sama Mama?”
“Sangat… Ranita itu hanya persinggahan Papa. Tapi Papa terlambat menyadarinya, Vi. Semua terasa begitu berharga saat kita kehilangan. Ini adalah pelajaran hidup buat Papa yang paling berharga. Jangan sampai kamu jatuh ke kesalahan yang sama, ingat itu ya, Sayang.”
“Viani sayang Papa.”
“Papa juga… Udah jangan nangis lagi ya…”
“Viani hampir lupa… Ini Pa.” Viani memberikan isinya pada sang ayah.
“Pisang Bolen? Kesukaan Papa, Sayang… Terima kasih.”
“Tadi Om Gala singgahin Viani beli roti—“
Indra menaikkan alisnya. “Jadi ini dari Gala?”
Oh sial. Viani refleks menyentuh bibirnya begitu dia sadar kalau dia lupa menjaga mulutnya.
“Seberapa dekat kamu sama dia?”
Entah kenapa setelah dia keceplosan tadi, pertanyaan itu terdengar begitu horor. Viani langsung salah tingkah, kebingungan hendak menjawab apa pada sang ayah. Dia menundukkan kepalanya, matanya berbinar ke sana ke mari karena tak tahu apa yang harus dia lakukan.
“Sayang. Jangan takut. Papa cuma mau tau.”
“Ta-tapi… Viani… Eng—“ gadis itu tergagap.
“Papa nggak akan marah. Papa udah tau hubungan Mama kamu dan Om Gala itu seperti apa… Kamu jangan khawatir, mereka nggak selingkuh. Sebab Papa yang--"
Indra meneguk ludah karena hampir keceplosan. Dia pun menggeleng lalu bertanya lagi. "Beritahu Papa, Om Gala baik sama kamu?”
Mata Viani membulat menatap sang ayah dan mendapat lampu hijau darinya, dia pun menceritakan semua hal yang dia lihat pada Indra dengan begitu santai.
“Papa marah?”
“Marah? Untuk apa?” tanya Indra dengan nada suara sedikit meninggi.
“Mama… Mama udah mau nikah sama Om Gala. Sepertinya…” Viani menyatakan pendapatnya yang tak pasti. “Om Gala belum kelihatan melamar Mama.”
“Vi… Terus terang Papa nggak suka sama Gala.”
Mampus…
“Tapi kalau itu yang bikin Mama kamu bahagia, Papa bisa apa?”
...*** ...
“Itu Viani,” seru Gala saat gadis itu keluar dari kamar sang Papa.
Anak itu berlari, mendatangi sang ibu dan memeluknya dengan erat. Gemma menyambut anak itu tanpa bertanya. Awalnya Gemma kira Viani hanya ingin pelukan. Tetapi gadis ini rupanya menangis, kemeja Gemma basah terkena air mata Viani yang masih menetes.
“Sayang, kamu kenapa?” tanya Gemma padanya. Ada gurat cemas di wajah Gemma kalau-kalau anak itu disakiti oleh Indra. “Kamu diapain sama Papa?”
“Nggak… Vi…ani nggak diapa-apain…” Viani menghapus air matanya dengan tisu yang diberikan Gala padanya. “Viani sedih kita nggak sama-sama lagi, Ma… Papa kasian, Papa sendirian.”
“Vi…” Gemma speechless melihat Viani yang masih memeluknya dan menangis sesenggukan.
Gala yang juga tak tega melihat tangisan pilu Viani menyentuh kepala gadis itu dan membelainya. “Om janji akan bawa Viani sering mengunjungi Papa. Kita nggak akan ninggalin Papa. Kamu tenang aja sayang.”
“Iya Om…”
Dengan tangannya yang kokoh, Gala membawa Viani dan Gemma dalam pelukannya, berharap dapat menyalurkan seluruh kekuatan yang dia miliki pada kedua perempuan yang sudah melewati begitu banyak hal berat ini.
Kalau ditanya, di benak Gala memang sudah tumbuh rasa sayang pada Viani sejak dia membuka diri pada anak itu.
Meskipun ketus, gadis ini bukanlah anak yang sulit didekati. Dia manis dan baik hati. Gala rasa, seluruh kebaikan dalam diri ayahnya yang brengsek masih menurun pada Viani, dan dia tak ingin mencoreng seluruh kebaikan itu.
“Papa udah relakan Mama kalau Om mau nikahin Mama…”
Mulut Gemma dan Gala sama-sama menganga dengan dahi yang sama-sama mengernyit. Apa mereka salah dengar?
“Masa sih, Vi? Kamu jangan ngarang!” tukas Gemma kesal.
Viani menggelengkan kepalanya dengan begitu polos. “Papa memang bilang kalau Papa nggak suka sama Om Gala. Tapi kalau itu yang bikin Mama bahagia, dia bisa apa? Papa begitu menyesal karena udah nyakitin Mama.”
“Benarkah?”
Air muka Viani berubah lebih sendu. “Papa menangisi Mama lama banget.”
Berita baik itu disambut dengan senyuman lembut dari Gala untuk Gemma. Ditatapnya wanita yang begitu dia cintai dengan lembut.
Gala meraih tangan Gemma dan menggenggamnya dengan erat. Semua rasa bersalah dan rasa kesal karena bertemu dengan Yahya tadi semua terhempas sudah. Mana mungkin dia akan menyia-nyiakan momen ini begitu saja.
Kalau-kalau Gemma nanti berubah pikiran, bagaimana?
Sebelum hal itu terjadi, Gala akan mengambil tindakan cepat. Dia tak peduli kalau Gemma mungkin masih kesal padanya, tapi dia akan memanfaatkan hal ini sebaik mungkin.
“Ayo kita pulang…” ajaknya pada Viani dan Gemma. Kakinya membawanya kembali ke mobil dan mengantarkan mereka ke tempat kerja Gemma.
"Nanti aku jemput jam 8, Oke?" tanya Gala pada Gemma.
Setelah mereka berdua masuk tempat kursus musik itu, Gala membuat panggilan pada Felix.
"Lix, lo ada waktu luang nggak? Sekarang."
"Mo ngapain emangnya lo?"
"Temenin gue ke mal, nyari cincin."
...****************...