
Febri, Diana, Niko dan Erika sudah sampai di rumah Gala pukul 5 sore, sangat terlambat dari janji Febri tadi. Mereka kini telah dipersilakan duduk oleh Bik Yana di ruang tengah, tempat televisi paling besar berada.
Sambil menonton channel luar negeri, mereka duduk dengan ekspresi sulit. Masing-masing dengan raut wajah berbeda. Ada yang gelisah, ada yang sedih, ada yang tidak konsentrasi, dan ada juga yang amat tegang seperti Diana.
Gala datang membawakan cemilan berupa kentang goreng dan kue-kue basah.
“Lo semua kenapa?” tanya Gala dengan bingung. Dari semua orang yang ada di sini, hanya Gala sendiri yang bersikap biasa.
Masing-masing dari mereka saling menyikut, menyenggol, dan menoel satu sama lain. Seperti ada sesuatu yang ingin disampaikan, tetapi ragu-ragu. Hanya Diana yang masih bertahan dengan tampang keras.
Febri akhirnya maju mendekati Gala dan duduk di sampingnya. Mengambil satu piring kentang goreng hangat yang baru saja digoreng Bik Yana dari tangan Gala itu, dan menempatkannya di atas meja.
“Ada sesuatu yang kita harus kasih tau sama lo …”
“Ngomong aja napa? Lo semua tuh aneh, tau nggak? Tinggal ngomong, apa susahnya?”
Niko pun maju, mencoba menolong Febri yang terlihat kesulitan menemukan kata-kata. “Gala … lo kan udah kasih tau kita semua kemarin kalo lo sama Gemma udah end?”
“Ya.Terus?”
“Weekend ini, gue dan Erika lagi honeymoon kecil-kecilan di Bogor. Rencananya, gue sama dia mau stay tiga hari. Tapi batal, dan kita langsung ke sini. Dan karena jalanan macet, kita jadi baru nyampe ke sini jam segini."
“Kok bisa batal? Emangnya ada hubungannya sama gue?”
“Ada!”
Gala mengernyit tidak mengerti kenapa teman-temannya seperti tidak mau to the point. Apa sebenarnya yang mereka sembunyikan? Satu menit, mereka semua diam, tak ada satu pun yang angkat bicara.
“Gemma married … hari ini …” Semua mata kini tertuju pada Diana. “Dan satu pun dari kita nggak ada yang tau atau diundang!”
Married? Hari ini?
Ketiga kata itu terus berputar di kepala Gala seperti kaset rusak yang membekukan seluruh panca indera Gala beberapa detik.
Hingga sudut bibir Gala tertarik, menampilkan senyum kecut. Betapa percaya diri sekali dia beberapa hari ini kalau Gemma tidak akan dengan mudah melupakannya. Ternyata gadis itu begitu cepat move on.
“Kemarin dia mohon-mohon ke gue jangan diputusin, sekarang malah married sama orang lain… untung gue end-in,” ucap Gala dengan dingin. “Dasar, pengkhianat! Berarti dia selingkuh di belakang gue kan? Syukur gue nggak lama pacaran sama tuh orang.”
“GALA! JAGA BICARA LO. BIAR GIMANA PUN DIA TUH TEMAN GUE! DIA NGGAK SEBURUK ITU!” Diana menghardik Gala dengan amarah yang meninggi. “Lo kira cuma lo yang kaget?”
“Lo nggak ada di posisi gue, Di … Dia married sama orang lain, berarti dia udah selingkuh di belakang gue! I feel betrayed!"
“I’ve known her since primary school! Dia sahabat gue! Bapaknya yang super strict and galak itu bikin dia nggak gaul sama sekali! Nggak kenal namanya cinta, apalagi cowok. Lo cinta pertama buat dia!”
“Mana lo tau kan, kali aja dia boongin lo!”
Erika maju dan mencoba menengahi. “Stop. Biar gue yang ngomong di sini…”
Semua pun senyap mendengarkan Erika.
“Jadi gini… menurut gue… Gemma itu sama sekali nggak selingkuh.”
“Apa alasan lo?”
“Kita ada di hotel itu dari sejak malam sebelum pernikahan Gemma. Malamnya, kita ngelihat Gemma lagi duduk sendirian di depan sebuah kamar, sambil nangis… matanya sembab dan penampilannya berantakan banget.
Gue nggak ngerasa dia ada dalam kondisi yang kondusif buat melakukan pernikahan itu. Sebelum kita sempat dekatin, Gemma langsung masuk kamar."
Niko menambahkan. “Kayak, nggak wajar gitu. Dan besok besoknya kita ngelihat dia menikah sama cowok itu yang kayaknya jauh lebih tua dari dia, tapi masih muda juga sih.
Gala menatap Erika dan Niko dengan tatapan skeptis. “Lo lupa kalau masih ada kemungkinan Gemma dijodohin dan dia mau? Nggak mungkin Gemma nggak tau dari awal kalo dia mau dijodohin!”
Masing-masing dari mereka terdiam, belum ada yang menyanggah omongan Gala. Cowok itu akhirnya merasa menang. “Gue yakin seratus persen, kalo perkiraan gue benar. Bahwa Gemma udah selingkuh sebelum putus sama gue. Dia udah nggak setia dari awal!"
"Jaga bicara lo, Gala. Gue peringatin!" ujar Dianna geram.
Gala mendengus dengan senyum mengejek. “Titip salam sama temen lo yang tukang selingkuh itu ya! Sumpah, gue hampir ketipu sama muka polosnya dia!”
“Brengsek!” Makian itu lolos dari mulut Diana begitu saja seiring dengan tubuhnya yang merangsek maju dengan tangan terjulur cepat mengunci saluran napas Gala, membuat Gala termundur sampai punggung sofa dengan napas satu-satu.
Febri langsung maju dan mencoba melepaskan tangan Diana yang masih menghimpit leher Gala dengan sengit. “Di… lepas! Gala bisa mati, Di!”
Ingat kan kalo Diana juara Tae Kwon Do? Hal seperti ini bakal membuat Febri kesusahan untuk memisahkan Diana dari Gala.
“Ngapain lo belain teman kayak dia ini, Feb? Di mana dia pas lo down? Pas bokap lo masuk rumah sakit gara-gara kena serangan jantung setelah beliau bangkrut?” kata Diana tanpa melonggarkan tangannya dari Gala.
Runtutan kalimat itu mengalir begitu saja dari mulut Diana yang sudah kalap. Niko dan Erika segera turun tangan berusaha melepas Diana. Sesaat kemudian, Diana akhirnya melepas Gala, hanya untuk menampar wajah bedebah yang ada di depannya itu.
“Gemma bener! Lo udah berubah banget. Kalo segitu ngebetnya lo pengen ke luar negeri dan ninggalin kita semua silakan! Pergi lo jauh-jauh dari kita semua! Nggak ada gunanya Febri dan Niko punya temen kayak lo!”
Gala memegang lehernya sambil berusaha mengambil napas sedalam-dalamnya. Informasi itu, kenapa Gala sampai tidak mengetahuinya? Febri dan ayahnya.
Kenapa otaknya masih lambat menyerap semua ini? “Apa maksud lo? Kenapa gue nggak tau?”
Febri menggelengkan kepalanya melihat situasi yang semakin rumit ini. Niko dan Erika tak berani memandang Gala sama sekali, sedangkan Diana masih berusaha menahan emosi yang membuncah dalam dadanya.
“Pertemanan kita sampai berantakan kayak gini, Gala. Dan lo nggak tau… lo sibuk sendiri ngedorong kita semua ngejauh dari lo.
Kita tau, sampe sekarang, lo masih berduka banget atas meninggalnya Om Bobby makanya waktu kejadian Om Togar kemarin, kita nggak ngasih tau lo. Sedih itu wajar, tapi jangan sampe lo matiin rasa lo. Banyak yang peduli sama lo dan lo sia-siain semuanya karena lo terlalu denial dan marah entah sama siapa … dan akhirnya lo sakitin semua orang yang sayang sama lo,” ujar Niko getir.
Rasa bersalah itu langsung menghujam jantung Gala bagai ribuan peluru yang ditembak dari jarak dekat, dan membuat dadanya hampir hancur. Cowok itu menatap Febri lalu Niko yang selama ini selalu ada bersamanya disaat suka dan dukanya dengan rasa sesal yang dalam.
Saat mereka ada saat sang Mama meninggal, mereka bahkan merayu kedua orang tua mereka untuk sama-sama tidak naik kelas, mengikuti Gala yang masih down berkepanjangan.
Begitu pula saat Bobby meninggal, sikap mereka tidak ada yang berubah. Di tambah Gemma yang setia menemaninya, walau berapa kali keberadaannya terus diusir oleh Gala.
Bahwa semua sikap arogan dan self-centered yang dia miliki kali ini tak berdampak baik untuknya sendiri. Bahwa semua sikap pura-pura baik-baik saja yang dia pelihara selama ini ternyata membuat orang di sekelilingnya sakit hati.
Belum sempat urusannya dengan Febri selesai, tiba-tiba seseorang datang dengan raut wajah cemas.
Paramitha Wilson berdiri di ambang pintu rumah Gala sambil menggenggam ponselnya. Bik Yana memanggil Gala yang segera datang menuju beliau.
“Gala, Gemma ada di sini kah? Tolong bilang, dia pasti di sini!” tanya Mitha yang terlihat gelisah.
“Nggak, Tan, dia nggak di sini. Emangnya Tante nggak tau?”
“Tau apa? Bilang sama saya! Gemma kenapa dan dia kemana?!” tanya Mitha yang semakin terlihat panik.
Diana maju ke depan. “Gemma lagi di Bogor, Tan…”
“Bogor? Kenapa dia ke sana?!”
“Tante beneran nggak tau? Gemma nikah…” ucap Gala lagi. Dalam hati, Gala tidak percaya kalo Mitha sampai tidak tahu.
Mata Mitha mengerjap-ngerjap tak percaya. Beberapa detik kemudian, gitaris The Blues Mixer itu limbung tak sadarkan diri.
...****************...