
Sepanjang dua jam pelajaran terakhir, Gala sama sekali tidak berkonsentrasi. Pikirannya melayang pada omongan Niko dan Febri yang sempat mengejeknya tadi.
“Dahlah, lo bakal kita kecengin terus kalo begini… Mending lo ngomong langsung. Kita geregetan juga ngelihat tampang lo kaku kayak kanebo kering,” bisik Niko iseng.
Tapi Gala tidak mendengarkan Niko sama sekali. Matanya asik melayang pada sebuah pintu kelas XII IPS 1 yang terbuka lebar, memandangi sosok seorang gadis manis bermata hijau dengan paras setengah bule yang duduk paling depan, posisi yang sama persis dengan yang didudukinya sekarang.
Cewek itu tampak serius, tetapi sesekali matanya terlihat merenung. Beberapa kali dia menggelengkan kepalanya, dan berusaha fokus pada pelajaran. Entah apa yang jadi pikiran dalam kepala indah itu.
“Padahal dulu gue benci banget sama nih orang…” gumamnya.
PLETAK!
Sebuah mistar panjang mendarat keras di meja Gala. Cowok itu terkejut bukan main dan mendongak, hanya untuk mendapati wajah Susanti---sang guru Bahasa Indonesia killer--- menatapnya dengan mata merah.
“Kamu benci sama siapa, Hah!? Melamun aja dari tadi! Kamu pikir saya tidak tahu?! Hukuman buat kamu, presentasikan 15 majas SENDIRIAN! Dua hari lagi saya tunggu!”
Kelas mendadak riuh karena menahan tawa, terutama Niko dan Febri yang duduk tak jauh darinya.
Gala tidak mempermasalahkan hukuman ini, toh ini bukan perkara sulit untuknya. Tapi dia masih terlalu penasaran pada Gemma. Meski sudah diperingatkan Susanti, matanya masih tetap saja memandang Gemma dengan penuh minat.
Susanti yang sudah tidak tahan dengan ketidakacuhan Gala, akhirnya menambah hukuman tersebut.
***
“Lo dihukum Bu Susanti ya? Lo kenapa sih? Nggak biasanya begini.”
Gala menoleh pada asal suara, ternyata ada Gemma yang sudah muncul di depan kelasnya, tepat saat dia hendak keluar kelas setelah bel pulang berbunyi.
Sial! Mata bulat berwarna hijau tua itu membuat lutut Gala hampir lemas. Entah bagaimana lagi dia harus menghindari cewek satu ini. Bagaimanapun juga, dia tidak bisa. Dia dan Gemma telah terlanjur akrab dan dia bingung bagaimana harus menjauhinya.
“Dari mana lo tau gue dihukum?” tanya Gala dengan nada suara amat datar.
“Dari Febri waktu mo anter Diana pulang tadi… Terus ini… Tadi gue ketemu sama Bu Susanti. Beliau nitip ini buat lo, katanya makalah yang lo buat nanti dari sini.”
Sebuah buku tebal tentang majas diberikan oleh Susanti lewat Gemma. Semua guru tahu betapa akrabnya mereka berdua, bahkan hampir semua orang berasumsi kalau mereka pacaran. Beliau mengharuskan Gala untuk menulis kembali makalah presentasinya menggunakan tulisan tangan yang sangat amat banyak.
“Gue bantuin lo buat nulis makalahnya,” ujar Gemma lagi sebelum Gala dapat meraih buku itu. “Nanti gue coba mirip-miripin deh sama tulisan lo. Tapi sebagai gantinya, lo harus nolongin gue ya. Nanti gue kasih tau gue minta tolong apa.”
Minta tolong? Itu artinya dia akan makin sering bertemu gadis itu. Gala jadi makin ingin menjauh dari Gemma. Kenapa sih cewek itu harus berdiri sedekat itu padanya? Jantung Gala berdetak makin tidak karuan, seakan hendak lompat dari tempatnya.
Semua perasaan itu membuat Gala ingin sekali kabur.
“Gue nggak perlu bantuan lo! Lo minta orang lain aja nolongin lo.” Untuk menutupi kegugupannya, Gala langsung merampas buku itu dari tangan Gemma.
Gemma tiba-tiba mendesis dan spontan memegangi telapak tangannya. Dari posisi berdirinya, Gala bisa melihat dengan jelas kalau ada satu garis panjang melintang di sana. Merah, sedikit terkoyak dan berdarah pada ujungnya. Telapak tangan gadis itu jelas terluka karena salah satu kuku Gala yang dia biarkan memanjang tak sengaja mencakar tangan gadis itu saat mengambil paksa buku tersebut.
“Ge-Gem?” terkejut karena luka kecil itu, Gala hanya bisa mematung.
“Kalo lo nggak mau temenan sama gue lagi, ngomong aja langsung. Nggak usah kasar!” Gemma berbalik lalu menjauh.
Berulang kali Gala memanggil Gemma, tetapi cewek tersebut tak ingin berpaling. Salah… Gala kali ini sudah salah…
***
Keesokan harinya setelah pulang sekolah, Gala menunggu di depan kelas Gemma, membawa sebuah CD band My Chemical Romance album “The Black Parade” di tangannya, benda yang ingin dibeli Gemma sejak minggu lalu. Tapi seharian ini, dia tidak punya nyali untuk memberikan CD itu pada Gemma.
Setelah meyakinkan diri kalau hari ini dia harus meluruskan semuanya, mendadak semua keberanian yang dimilikinya langsung padam. Dia tidak lagi bersikap lebih agresif sewaktu dulu, sebelum perasaan yang aneh itu ada dan mengganggu pikirannya akhir-akhir ini. Gala seperti kehilangan arah untuk mengartikan apa yang dirasanya saat ini.
“Gem… aku minta ma… Arghh! Gem… kita baikan yuk? Hmm… Gem… jangan marah lagi dong.”
Saat ini, cowok itu duduk dekat tanaman sambil berlatih kata-kata maaf yang akan dia sampaikan pada Gemma. Lalu matanya menatap siluet tubuh Gemma dari jauh.
Gadis itu ternyata sudah keluar lebih dulu dari kelas sebelum Gala datang. Dia tengah duduk dengan memegang selembar kertas yang serius dibacanya di kantin yang tak jauh dari kelas mereka. Di sampingnya ada seorang siswa dari sekolah lain. Seragam batik hujaunya begitu kontras dengan seragam kotak-kotak biru milik siswa di sini. Gala amat familiar terhadap orang tersebut.
Kenapa ada Julian di sini?
“Ngapain Julian ke mari?”
Kepala Gemma mendongak untuk menatap mata Gala. “Mau apa lo di sini?”
“Ikut gue!” Ucap Gala sambil menarik tangan Gemma dengan kencang.
Gemma mengaduh saat tangannya yang sempat terluka itu digenggam erat oleh Gala. “Aw! Lepas!”
“Ada masalah apa nih?” tanya Julian yang kini sudah berdiri di depan Gala. Di belakangnya, Gemma sudah hendak mengikuti Gala. “Gem, kamu nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa. Julian, aku sama Gala mau ngomong bentar. Tunggu ya?” kata Gemma dengan senyum yang dipaksakan.
“Tapi---“
“Lo denger dia kan? Kami mau ngomong BERDUA!” hardik Gala ketus, menarik Gemma dari kantin menuju lahan parkir sepeda.
Gala tersenyum penuh kemenangan saat Gemma menurutinya dan mengikutinya.
Sesampainya di parkiran, ponsel Gemma bergetar, dia langsung menerima telepon itu yang ternyata dari sang Ibu. Gadis itu mengangkat telapak tangannya yang memegang kertas selebaran yang dibacanya tadi, meminta Gala untuk memberinya waktu bicara.
“Halo Mom, gimana Sidney? Oh… Oke… Oleh-oleh? Nggak ada, tapi nanti kalo pulang, kabarin. Gemma kangen! Apa??? Satu bulan?! Lama amat Mom? Oh gitu… ya udah… Oke Mom… Bye…”
Mata Gala terbelalak lebar-lebar. Dia lupa sama sekali perihal jadwal manggung The Blues Mixer di luar negeri. Padahal Gemma sudah berulang kali ingin mengingatkan Gala, tapi karena berusaha ingin menyembunyikan kedongkolannya, Gala selalu memotong omongan Gemma tanpa gadis itu bisa menyelesaikan apa yang hendak dikatakannya.
‘Aduh suer deh, bego banget lo, Gala! Kenapa sih ceroboh banget sampe lupa?!’ maki cowok itu dalam hati.
“Gemma, maafin gue… gue bener-bener lupa kalo harus ngantar lo ke bandara kemarin!” kata Gala langsung.
“That’s okay. Gue kemarin pergi sendiri pake taksi,” ucap Gemma tanpa mau memandang Gala.
Gala mengaduh dalam hatinya. Jika ketahuan Om Yahya kalau Gemma ketemu Tante Mitha di tempat umum seperti bandara, bagaimana ini? Bisa-bisa Gemma jadi korban!
“I’m really sorry, Gem. Maafin gue ya?” ulang Gala memandang mata Gemma dengan penuh penyesalan.
Gemma mengangguk pelan dan menatap datar padanya. “Kalo udah nggak ada yang diomongin, gue mau balik ke Julian. Kasian dia sendirian.”
Gala langsung menghadang Gemma dengan tubuhnya yang tinggi menjulang. “Nggak! Lo nggak boleh ketemu Julian! Buat apa sih ketemu sama dia lagi?”
“Ada apa Gem? Apa Gala di sini ganggu kamu?” tanya Julian dengan wajahnya yang tak ramah. Cowok itu ternyata mengikuti Gala dan Gemma hingga ke sini.
Gala berbalik berdiri menghadapi Julian tanpa ada rasa takut. Matanya menyipit, menghujam Julian dengan tatapannya yang menusuk dengan rasa tidak suka yang amat tinggi. “Lo yang mau apa di sini, hah? Dah gue bilang dari dulu, jangan deketin cewek gue!”
Tawa Julian pecah. “Sejak kapan dia pacaran sama lo?”
Walau ketahuan bohong, Gala tidak ingin mundur. “Jauhin Gemma, gue peringatin lo!”
“Gini aja, lo tanya Gemma! Siapa yang seharusnya menjauh?”
Gemma menyembulkan kepalanya dari balik punggung Gala untuk menengahi kedua siswa beda sekolah bertubuh jangkung itu. “Gala, sori banget. Gue yang minta Julian kemari. Gue yang panggil dia ke sini, gue lagi butuh pertolongan dia.”
“Pertolongan macam apa sih yang lo mau? Gue ada di sini, kenapa lo harus minta tolong dia?” suara Gala meninggi karena emosi pada Gemma.
Ada desah kasar yang keluar dari mulut Gemma. “Apa lo udah lupa? Gue udah minta tolong sama lo kemarin tapi lo bilang nggak bisa. Gue udah bosan sama sikap lo Gala. Bentar-bentar lo baik sama gue, bentar-bentar lo dorong gue ngejauh. Gue nggak ngerti banget sama sikap lo yang childish kayak gini.”
Gala maju selangkah menatap Gemma tidak percaya. “Lo bilang gue childish?”
“Udahlah, waktu gue sama Julian makin mepet!” tanpa menoleh lagi pada Gala, Gemma menarik tangan Julian untuk menjauh.
“See you later, dude!” ujar Julian dengan seringai mengejeknya.
Gala menatap kepergian mereka dengan rasa tidak suka yang meluap-luap. Memangnya Gemma mau minta tolong apa sih? Kenapa sampai harus ke Julian segala?!
...****************...