
Setelah puas bersenang-senang di destinasi terakhir mereka, yaitu Pulau Jeju, Gala dan Gemma kembali ke rombongan untuk pulang ke Jakarta. Sepertinya, hanya Viani saja yang masih tidak terima ketika mereka pulang ke Indonesia.
Ya, mau tidak mau mereka harus pulang saat itu juga. Gala barusan mendapat kabar dari asistennya kalau sidang perdana Bambang—untuk kasus pencucian uang—akan dilakukan dalam beberapa hari ini.
Keluarga kecil itu kini sudah berada di sebuah rumah di kawasan Puri. Gala membeli properti di sana untuk mereka tempati bersama sebagai satu keluarga. Sedangkan apartemen lamanya sudah tak ia gunakan lagi. Viani masih suka sedih kalau ingat apartemen di kawasan itu. Bahkan, rencananya properti itu akan dijual.
Gemma menyiapkan makan malam, sedangkan Viani sedang duduk di ruang makan. Dia terlihat tak bersemangat dengan bibir cemberut yang sudah maju beberapa senti.
“Udahan ngambeknya dong, Vi,” bujuk Gala.
“Kita di sana kurang lama, Om …”
“Om masih ada pekerjaan yang nggak bisa ditinggal. Kita bisa ke sana kalau kerjaan Om udah legaan dan kamu sudah libur sekolah.”
Viani bergeming. Gala di sampingnya masih berusaha membujuk sang anak sambung. Sedangkan Gemma masih berkutat di dapur sambil curi-curi pandang pada kedua orang itu seraya tersenyum-senyum sendiri.
Gala menghela napas. “Emang nggak mau jenguk Papa Indra?”
Tiba-tiba Viani menoleh dengan mata berbinar. Dia baru ingat kalau dia telah membelikan sebuah oleh-oleh untuk Philip, Mira, dan juga Indra.
“Eh? Iya juga, kemarin Viani kan ada beli oleh-oleh untuk Oma, Opa dan Papa.”
Gala tersenyum. “Besok pagi, kita ke tempat Papa ya.”
Viani mendesah pelan dan pasrah. Dari helaan napasnya, Gala yakin bahwa akhirnya Viani terdengar bisa menerima kenyataan kalau dia sudah ada di Indonesia.
“Jangan lama-lama halunya, Vi …” ujar Gemma sambil menggantung apron dekat kulkas. Dia tahu kalau impian Viani ketemu Jungkook belum kesampaian.
“Kamu sekolah dulu yang bener, baru nanti kita pertimbangkan, negara mana lagi yang mau kamu datengin. Emangnya kamu mau, kamu enak-enakkan terus liburan sedangkan Papa kamu sendirian di sana?”
Viani menutup bibirnya. Dia juga lupa kalau banyak teman yang harus dia buat iri setelah membawa segudang souvenir dan merchandise BTS dan SM idols.
Gala dan Gemma berusaha berlemah lembut pada Viani, seakan tabu menyebutkan kata ‘penjara’.
Mereka memang masih berusaha hati-hati untuk hal yang satu ini. Terlebih Gala, yang masih harus menyesuaikan diri dalam menghadapi anak remaja labil seperti Viani.
...***...
Kini, Gala, Gemma dan Viani sudah berada di ruang tunggu. Mereka mengantar gadis kecil itu untuk menemui sang ayah. Di tangannya, dia membawa satu paper bag berisi cemilan dan berbagai oleh-oleh dari Korea.
“Papa!” pekik Viani begitu Indra keluar dari sebuah pintu dengan seragam berwarna oranye.
Indra mendatangi Viani dan merentangkan tangan untuk memeluknya erat sekali. “Papa kangen, Vi!”
“Viani juga,” gadis itu mengurai pelukannya dan menatap Indra. “Papa apa kabar?”
“Baik, Sayang.”
Gala dan Gemma berdiri dari jauh untuk memperhatikan interaksi antara ayah dan anak yang begitu hangat itu. Indra terlihat sangat bahagia saat bertemu dengan Viani dan tangannya tak pernah lepas dari genggaman tangan anak tunggalnya itu.
Indra menjelma jadi pribadi yang sangat berbeda setelah kasus yang menimpanya. Gemma sebenarnya cukup kagum dengan perubahan drastik sang mantan suami. Indra bahkan merelakan sang mantan istri untuk dinikahi orang lain.
Namun, ada satu hal yang masih Gemma pendam saat ini.
Video syur Indra dan mendiang Ranita, masih tersimpan dengan rapi dalam ponselnya. Bahkan Gala sendiri tidak tahu akan hal itu.
Gemma tidak pernah bercerita tentang keburukan Indra pada Gala, sang suami hanya tahu hal-hal seperlunya saja. Itulah salah satu hal yang Gemma suka dari Gala. Dia masih menghormati privasi antara Gemma dan Indra. Dan hanya sesekali bertanya jika itu diperlukan.
Entahlah, ada satu dorongan yang membuatnya untuk tetap menyimpan bukti memalukan tersebut. Dia sendiri tak tahu untuk apa. Gemma juga baru sadar kalau dirinya belum pernah berinteraksi lagi dengan Indra selama ini.
Lamunannya buyar saat dia merasakan ada sentuhan pelan pada lengannya. Gala sedang menatapnya intens. “Mikirin apa, Gem?”
Gemma menghembuskan napasnya. ”Gala, aku boleh nggak ketemu Mas Indra?”
Pertanyaan itu membuat kening Gala mengkerut. “Untuk apa?”
“Cuma menyapa sebentar. Lagi pula, aku belum pernah ngomong apa-apa ke Mas Indra tentang perkembangan Viani. Dia berhak tau bagaimana Viani selama ada dalam asuhan kita.”
Suaminya terlihat memicingkan mata. Ditatapnya Gemma dengan sengit beberapa detik, sebelum dia mengangguk untuk mengiyakan. Tentu saja itu bukan hal yang disukai Gala, tapi dia setuju pada sang istri.
“Aku nggak bakal lama kok,” ucap Gemma meyakinkan sang suami sebelum berjalan menuju meja Viani dan Indra.
...***...
“Halo, Mas Indra,” sapa Gemma.
Indra mengangkat kepalanya, melihat sang mantan istri yang semakin hari terlihat semakin cantik. Rambutnya terlihat lebih bagus dan bersinar. Kulitnya kini tak lagi pucat. Serta pipi yang dulunya tirus ini kini jadi padat berisi.
Namun, satu hal yang Indra perhatikan dari sang mantan bahwa dia menjadi pribadi yang sangat jauh berbeda. Gemma terlihat sangat percaya diri dan nada suaranya tidak lagi menyiratkan kalau dirinya itu sangat rendah diri.
“Sayang, Mama mau ngomong bentar sama Papa,” kata Viani sambil menempatkan tangannya di punggung Viani.
Gadis kecil itu mengangguk lalu pergi meninggalkan kedua orangtuanya.
Gemma duduk di kursi di depan Indra dan anggun. Dia meletakkan siku dan kedua tangannya di atas meja.
“Apa kabar, Mas?”
Indra juga turut meletakkan kedua tangannya di atas meja. Situasi mereka terlihat santai. “Baik. Kamu sendiri, gimana?”
“Sehat ... Aku sehat …”
“Kamu sekarang begitu berbeda, Gem.”
Komentar Indra tidak membuat Gemma bereaksi. Dia masih diam saja sambil menatap meja kayu di depan mereka.
“Gem …” Indra melihat dari ekor matanya, Gala dan Viani bersama-sama berjalan keluar dari ruang tunggu itu, menuju lapangan parkir. “Apa kamu yakin, Gala adalah suami yang baik buat kamu?”
Otak Gemma mendadak waspada dengan pertanyaan memancing seperti ini. Mari kita lihat apa maksudmu, Mas. Batin Gemma yang sudah merasakan sebuah firasat.
“Tentu aku yakin, Mas.”
“Bagaimanapun kamu berusaha merubah penampilan kamu, kamu itu tetap aja nggak bisa menyamai Gala , Gem.”
Perasaan tidak enak Gemma terbukti. Dia menurunkan tangannya dari meja, masuk ke dalam tasnya dan meremas ponselnya.
“Kamu kira, Gala itu benar-benar suka sama kamu? Aku nggak ngerasa dia tulus ke kamu.”
“Tau apa kamu, Mas?”
“Kamu lihat sendiri Gala itu siapa, Gem. Paling-paling sebentar lagi kamu ditinggal karena dia lebih pilih orang yang jauh lebih cantik dari kamu. Tentunya, orang satu circle dia banyak yang jauh lebih layak dari kamu.”
Inti dari omongan Indra benar-benar kurang lebih dengan apa yang Leticia sampaikan tempo hari.
“Kamu berlagak sok tau, Mas.”
“Aku hanya berpikir logis ... Aku tau gimana lingkungan pergaulan Gala seperti apa. Kamu nyerah deh, Gem. Sebelum kamu disakitin lagi.”
Sudut bibir Gemma tertarik. “Kalo kamu bener-bener tau Gala seperti apa, harusnya kamu kenal sama bosmu sendiri waktu di Rapidash Express.”
Rahang Indra mengeras mendengar Gemma ternyata tahu tentang penyamaran Gala di sana. Gala adalah orang yang membongkar semua kejahatan mereka. Sesungguhnya sekarang, hati Indra dipenuhi amarah berapi-api. Tetapi demi Viani, dia menahan semua kemarahannya.
“Kalian bersekongkol untuk nyingkirin aku. Kalian memang pasangan yang epic.” Indra akhirnya memuntahkan tuduhan itu.
“Aku dan Gala nggak pernah berencana sejahat itu, Mas. Justru kamulah yang sudah main-main di perusahaan orang. Kamu yang melakukan kejahatan, bukan suamiku!”
Indra menarik tangan Gemma dengan kasar. Dia menatap Gemma dengan mata melotot dan urat-urat leher yang mengetat. Gemma bisa melihat api dendam di mata Indra.
Gemma terkesiap. Dia mencari keberadaan Gala, tetapi pria itu sudah tidak ada. Kemudian dia menatap Indra, yang seakan-akan siap mengulitinya saat ini.
“Aku akan bawa Viani pergi dari kamu!”
“Aku udah punya feeling hari ini ketika aku bertemu dengan kamu, Mas. Kamu ternyata nggak berubah sama sekali.” Gemma menepis tangan Indra dari lengannya, lebih tepatnya, dia menghempas lengan itu. Sambil memberi gestur bersih-bersih di lengannya, Gemma berusaha tetap bersikap tenang. “Ngomong-ngomong, Aku masih punya bukti kamu ML sama Ranita …”
Gemma mengambil ponselnya dan memperlihatkan video itu pada Indra. Mata Indra terbelalak, hendak lepas dari tempatnya karena begitu kaget.
“Hentikan!”
Entah dorongan dari mana, Gemma malah menaikkan suara video tersebut hingga suara des*hannya semakin terdengar nyaring.
“STOP!!” Indra memekik dengan emosi. Dia hampir merampas ponsel Gemma, tapi wanita itu lebih cepat.
“Kalau kamu sampai berani macam-macamin Gala atau Viani, siap-siap aja, Mas. Satu negara bakal kenal kamu, bukan hanya sebagai koruptor, tapi juga bintang-film-bokep-murahan-tukang-selingkuh yang bakal dihujat semua orang. Pikirkan aja, bagaimana Tante Mira dan Om Philip kalau mereka melihat video ini atau tahu videonya tersebar di …”
Gemma tak melanjutkan kata-katanya seraya menyeringai dan memasukkan kembali ponsel itu ke dalam tas. “Jadi, pikirkan ulang niat kamu untuk bikin kekacauan dalam keluarga kami atau bikin Viani benci sama Gala.”
Indra terduduk di kursinya dengan wajah sendu dan kalah. Satu menit, dia terdiam dalam perasaan campur aduk. "Congratulations. Kamu udah dapat semua, sementara aku, I've lost everything."
Ketika Gemma menyaksikan perubahan ekspresi Indra, dia sadar bahwa hinaan dan ancaman Indra tadi hanyalah bentuk dari rasa kalah dan iri yang menyeruak dalam dada sang mantan.
Ada rasa kasihan dalam diri Gemma. Dia masih mencoba memahami posisi Indra. Bahwa tidak semua orang akan rela melihat mantannya sudah jauh lebih bahagia.
Terutama saat Indra melihat Gemma dari posisi sekarang, terpuruk, terhina bahkan sudah kehilangan semuanya. "Nggak semua. Kamu masih punya Viani. Sampai kapan pun, kami nggak akan pisahkan kamu dari dia, Mas."
Indra menunduk, hampir menangis. Tapi Gemma tak mau beranjak dari sana untuk menghapus air mata itu. Itu bukanlah tugasnya lagi.
“Kamu nggak usah kuatir, Mas. Gala benar-benar sayang sama Viani, bukan hanya sama aku aja.”
“Gala memang berkali-kali lipat jauh lebih baik dari aku. Pantas aja Viani bisa sayang sama dia. Memangnya apa yang bisa kujanjikan sama kalian sekarang? Aku udah masuk penjara. Semua asetku udah disita dan aku bahkan nggak bisa bekerja sama sekali.”
Gemma menggigit bibirnya, sedikit merasa bersalah dengan keadaan Indra yang sekarang begitu tak berdaya di penjara.
“Nggak usah rendah diri, Mas. Kamu nggak usah takut. Posisi kamu nggak tergantikan sama sekali. Hanya ada satu Papa, yaitu kamu. Sampai sekarang, Viani masih manggil Gala dengan sebutan ‘Om’, demi menghormati kamu. Dan Gala sama sekali nggak keberatan.”
“Benarkah?”
“Bahkan ide untuk mengunjungi kamu hari ini adalah ide dari Gala.”
Gemma melirik jam dinding yang ada di belakang Indra yang masih bergeming dalam pemikirannya, tak berani menatap Gemma.
"Aku ... masih cinta kamu," bisik Indra begitu lirih.
Gemma hanya tersenyum simpul. “Mas, kita udah jadi masa lalu ..." Gemma menarik ritsleting tasnya seraya berdiri. "Aku bakal datang ke sini lagi minggu depan sama Viani. Udah saatnya kami pulang. Sampai jumpa."
...***...
“Kamu kenapa Gem? Kok mukanya ditekuk gitu?” tanya Gala. Pria itu mendekati istrinya dan berbisik dengan kuatir. “Kamu baik-baik aja kan? Indra ngomong apa ke kamu?”
“Nggak apa-apa, Sayang,” ujar Gemma tersenyum manis. “Ayo, kita jalan …”
...****************...