Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
S2 Bab 45 - Jadi Karena Itu?


Rambut basah dan tubuh lembab itu dibawa keluar oleh Viani dari kamar mandi. Dengan hanya menutup diri dengan handuk, Viani langsung melenggang ke dekat meja rias dan mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.


Hanya keributan suara hair dryer yang menghiasi ruangan itu. Sedari tadi saat dia pulang, dia tidak mau menyapa siapa-siapa, beruntung tidak banyak pertanyaan, sebab Gemma dan Gala sedang tidak berada di rumah.


“Kamu habis jalan?”


Suara dalam pria yang dicintainya itu membuat Viani berbalik dan menatap sang suami yang sedang berdiri tegak di belakangnya. Setelah insiden ******* itu, Vincent keluar dari kamar mandi dan langsung tertidur pulas di samping Viani tanpa menyentuhnya sama sekali. Hingga Viani meninggalkannya yang tak terbangun sama sekali.


Viani jadi semakin risih dan rendah diri.


Kecupan sayang dan ciuman mesra memang didapatkannya setiap hari. Tetapi sentuhan itu, ahh, sudah lama Viani tidak merasakannya.


“Elvina tadi ngajak hang out,” kata Viani dengan berusaha biasa-biasa saja. Masih mengenakan handuknya, berusaha menutupi tubuhnya. Lalu dia mengenakan pakaian seadanya yang sekiranya kini muat. Memilih pakaian rumah yang sekira nyaman saja membutuhkan waktu. Memalukan.


“Aku nggak diajak nih?” tanya Vincent lagi sambil mengecup puncak kepala Viani.


“Girls only,” ucap Viani santai.


Lelaki berwajah oriental itu tersenyum lalu mengecup lagi puncak kepala Viani. "Cantiknya istriku ..."


Bukannya melambung, Viani malah tersinggung pada pujian itu. “Berhenti gombal nggak mutu, Vin!”


“Lah, emang iya? Istriku yang paling cantik," sergah Vincent yang malah memeluknya.


“Jangan gombal.”


“Nggak gombal kok. Itu kenyataannya, aku punya istri yang cantik.”


“Cantik?” Viani tersenyum getir.


Seketika Vincent langsung tahu ada yang salah. “Vi … are you okay? Apa ada yang mengganggu pikiran kamu?”


“Nggak ada!”


“Vi …” Vincent meraih tubuh Viani dan memeluknya dari belakang sebelum tubuh Viani melangkah lebih jauh menuju ranjang dingin mereka.


“Lepas, Vin! Aku mau tidur!"


Vincent mengernyitkan keningnya, "Apa yang salah? Aku nggak boleh meluk istri aku sendiri?"


"Aku lupa kapan terakhir kali kamu peluk aku setelah aku melahirkan."


Kening Vincent semakin berkerut mendengar penuturan aneh istrinya. Terakhir kali peluk? Dia sendiri lupa sebenarnya. Sedangkan Viani sudah terlanjur merasa insecure sendiri pada perubahan fisiknya yang kini sudah tak sesempurna dulu.


Tak mau berkonflik lebih jauh, Vincent akhirnya menjatuhkan dirinya di sebelah Viani yang sudah lebih dulu terlelap dalam hitungan detik.


***


Merasakan rasa ingin buang air kecil, Vincent segera pergi ke toiletnya. Namun ketika dia kembali, dia baru sadar kalau ranjangnya ternyata kosong. Viani ke mana?


Vincent langsung pergi ke kamar bayi yang berada tepat di samping kamarnya, yang terhubung dengan sebuah pintu yang sudah dimodifikasi, menghubungkan kamar besar itu pada kamar berbeda yang berukuran lebih kecil dengan motif gambar hello kitty yang lembut.


Sesosok tubuh sedang bersandar di dinding sambil menatap jendela. Tubuh itu sedikit bergetar. Istrinya sedang menangis?


Tanpa membuang waktu, Vincent langsung duduk di sebelah Viani. Perasaannya cukup cemas dan kuatir. Takut Viani sakit. Takut Viani mengalami baby blues, post partum depression, atau gangguan psikologis lainnya. Sudah cukup Viani mengalami hal kemarin. Sudah cukup!


Vincent langsung meraih Viani ke pelukannya, tetapi wanita itu menolak.


"Aku nggak pa-pa!" kata Viani gusar. Buru-buru dia berdiri lalu pergi dari Vincent.


Tentu saja Vincent tidak membiarkan istrinya sendiri. Dia tetap mengikuti Viani untuk kembali ke kamar mereka, meninggalkan bayi mereka yang terlelap dalam boksnya, bayi dua bulan yang telah terbiasa pada jam tidur orang dewasa.


Viani menghempaskan tubuhnya begitu saja di ranjang diikuti oleh Vincent. Seketika saat dilihatnya piyama satin lembut miliknya sedikit tersingkap, buru-buru Viani menutupnya. Selulit itu seakan jadi momok menakutkan. Vincent akan semakin tidak menginginkannya sama sekali, dan mungkin akan berujung pada ******* di kamar mandi lagi.


Masih untung jika Vincent bermain solo. Jika dia sampai seling--


"Kenapa ditutup?" tanya Vincent lagi.


Wajah Viani seketika memerah luar biasa. Dia begitu malu karena ratusan guratan laknat itu sudah bersarang di kulitnya. Mereka memang kaya, tetapi menghilangkan selulit pastilah perlu waktu. Pengalaman ibunya saja, dia sempat memakan enam bulan lamanya untuk menyamarkannya hingga jadi garis halus. Padahal Gala sudah melarang ibunya habis-habisan karena merasa istrinya cantik dan fisiknya baik-baik saja.


'Ah! Jadi karena itu!' gumam Vincent dalam hati.


Seketika pria itu langsung tahu bahwa mereka selama ini salah paham. Vincent ketakutan menyentuh Viani, Viani merasa malu karena tubuhnya berubah. Dia terlalu takut menyentuh istrinya dan berujung pada kontak fisik panas yang sudah lama tak dirasakannya.


Dia takut lepas kendali dan akan berbuat kasar pada istrinya. Viani masih terlalu rapuh untuk menerima sentuhan itu. Itu pikirannya saja sebenarnya.


Baiklah, Vincent harus meluruskan semuanya. Tak akan dibiarkannya Viani ber-negative thinking malam ini.


"Jangan simpulkan segala sesuatu sendiri, Sayang! Kamu pikir aku nggak menginginkan kamu lagi?"


Seketika tangis Viani kembali turun perlahan. Dia merasa rendah, malu dan tak punya apa-apa yang bisa dibanggakan pada tubuhnya yang telah sedikit rusak itu.


"Kamu nggak perlu malu, Vi ..." bisik Vincent mesra sambil mengarahkan tangannya pada selulit pada perut Viani. "Garis ini, adalah tanda cinta kamu sama aku. Di mana aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, bahwa kamu mempertaruhkan hidupmu pada benih yang tumbuh jadi bayi dalam perut kamu."


"Tapi kamu--"


"Sshh! Salah aku juga. Seharusnya aku bisa tanya kamu, apakah kamu bisa aku sentuh atau nggak. Karena jujur, aku sendiri takut kalau tubuhmu terlalu rapuh untuk menerimaku. Takut kalau--"


Tanpa mempedulikan sisa kalimat Vincent, Viani langsung menarik tengkuk suaminya dan menautkan bibir mereka dengan lembut. Jemari Vincent naik, merangkum wajah Viani dan membalas ciuman itu tak kalah lembutnya. Jempolnya terangkat untuk menghapus setitik air mata yang jatuh di pipinya.


"Aku cinta kamu, Viani Suteja. Semakin cinta ... Jangan berpikir yang nggak-nggak!"


Viani semakin berbunga-bunga hingga pipinya bersemu merah muda, mengundang senyum lembut dan tulus dari suaminya.


"Pikir yang iya-iya aja!"


Viani tertawa dan menepuk lengan suaminya dengan gemas. Pria itu juga tertawa renyah sambil kembali mencium sang istri dengan penuh perasaan.


Ciuman itu menumbuhkan perasaan bagai berjuta kupu-kupu beterbangan di perut Viani. Perasaan seperti itu, sudah lama tak ia rasakan. Dirinya merasa amat dicintai, apalagi saat bibir itu menari lembut pada guratan selulit dan juga bekas operasinya.


Bagai ucapan terima kasih dari Vincent atas segala perjuangan Viani bersama dirinya.


...****************...