
Kalender duduk yang berada di atas meja sudah menunjukkan hari Sabtu. Meski Sabtu ini klinik masih buka, hari ini bukanlah tanggal biasa.
Pria-hampir-paruh-baya yang berprofesi sebagai dokter kandungan itu tengah memegang selembar undangan pernikahan di tangannya. Undangan itu menunjukkan tanggal hari ini.
Pikirannya pun terdistorsi pada saat kemarin, tepat sehari setelah dirinya bertemu dengan sang anak. Di mana orang yang dia paling hindari muncul di hadapannya. Lelaki ini masih punya muka untuk menemui sang dokter yang tengah marah.
"Nik ... "
"Keluar!!"
"Gue ke sini cuma mau minta maaf doang! Gue mau memperbaiki persahabatan kita, Nik!" Gala terdiam di tempatnya. Ini sudah ketiga kalinya lelaki itu mendatangi sang sahabat hanya untuk mendapat maaf.
"Gue nggak sudi temenan sama orang muna kayak elo! Lo pikir gue nggak tau gimana elo sebelum ketemu Gemma? Lo bahkan lebih parah dari gue!"
Gala mengangkat kepalanya pada fakta yang Niko sebutkan. Lidahnya mendadak kaku dan kakinya tidak mampu bergerak. Dia malu pada sang sahabat. Dia sudah berpikiran buruk pada Niko, dan lupa bahwa dirinya sendiri jauh lebih parah.
"Napa? Lo diem karena gue bener? Sekarang, KELUAR!"
Selama ini, memang usaha Gala jadi sia-sia, sahabatnya tetap mengeraskan hatinya. Mungkin hati Niko terlalu sakit.
Kini ekspresi Niko berubah sendu saat teringat kejadian itu. Dia memikirkan banyak hal. Dimulai dari sang sahabat yang ternyata menusuknya dari belakang, sampai sang anak yang ternyata lebih memilih orang lain dari pada dirinya.
"Dok, kok di sini?"
Kepala Niko terangkat pada suara itu, pada seorang perawat yang baru satu hari ini turun kerja setelah cuti melahirkan 3 bulan.
"Kan malam ini nikahan--" Tubuh perawat itu terhuyung ke belakang sebelum dia sempat menuntaskan kalimatnya. Pintu ruangan dokter milik Niko langsung tertutup rapat. "Kenapa sih?" katanya kesal pada rekannya yang menariknya tiba-tiba.
"Hush! Dokter Niko lagi ada masalah sama Dokter Vincent! Dia nggak akan datang ke nikahan anaknya!"
"Haaa?" Mulut perawat bernama Lona itu mengerucut. Dia cuti sehingga tak tahu perkembangan terbaru tentang sang atasan di klinik.
Walaupun dia sadar betul kalau dirinya telah menjadi bahan gosip di kliniknya sendiri, Niko tidak memusingkan hal itu. Semua orang sudah melihat apa yang terjadi sehingga dia tidak perlu lagi merasa malu.
Pernikahan anaknya hanya tinggal 3 jam lagi. Amarahnya telah lama mereda, tapi kekecewaan itu masih terasa. Dengan memegang undangan tersebut, kakinya membawanya menuju tempat sampah.
"Lo mau buang undangan itu, Nik?"
Snelli Niko melambai tepat saat tangannya terhenti di udara. Telinganya menangkap suara sosok familiar yang memergokinya hendak membuang undangan tersebut.
Sosok paling pendiam dan paling lurus dari antara mereka bertiga. Sosok yang mencicipi kenikmatan dunia hanya setelah menikah dengan kekasihnya. Dialah Febrianto Girsang.
"Oh ... iya, udah kelewatan," bohongnya.
"Ngeles aja lo! Itu undangan anak elo sendiri!"
Niko tak dapat berkilah. Mata tajam dari pria berpangkat kolonel itu tidak dapat dibohongi. Meski Febri hanya sekali memegang undangan itu, dia sudah hapal betul bentuk, ukuran dan juga bahan kertasnya.
"Lo masih keras hati nggak mau dateng?" Febri mengambil posisi sendiri dengan duduk di kursi yang ada di ruang praktek Niko. Dirinya menatap sang sahabat dengan datar. "Sebegitu keras kepalanya elo sama anak sendiri?"
“Lo kira masalah gue selesai gitu aja? Gue ngerasa ditusuk dari belakang, Feb!” sergah Niko dengan nada meninggi.
Dari luar, sosok yang sedari tadi tidak tahan dengan keadaan ini akhirnya menampakkan diri lagi. Membuat Febri dan Niko menatap ke arah pintu.
“Nik …”
Kepala Niko terangkat, pada sosok yang sedang memakai kemeja putih dan celana bahan yang terlihat mahal. Jelas, Gala menyempatkan diri ke sini sebelum acara.
Sang dokter menghempas undangan itu di tempat sampah dan menatap Gala dengan marah. “Pergilah, Gala! Sebelum gue panggil satpam buat usir elo!”
“Nik … demi anak-anak kita, gue ke sini beneran mau memperbaiki semua.”
“Sedari awal, hubungan kita udah rusak, Gala! Gue aja yang teralu bodoh menyadari kalau teman gue sendiri nusuk gue dari belakang. Buat apa lo berteman sama gue bertahun-tahun kalau ternyata yang lo simpan dari gue adalah kesalahan gue yang udah lama? Bahkan gue nggak ngerasa kalau gue bersalah sama elo!”
“Gue nggak mau tau!”
Gala yang sudah tak tahan, mendekati Niko. “Gue mohon, Nik. Jangan lo timpakan semua kesalahan gue sama anak-anak! Mereka nggak bersalah ... Kalo elo mau lampiaskan, silakan ke gue. Tapi jangan lo beginikan Vincent dan Viani!”
“Sudah cukup ya, Gala! Elo nusuk gue dari belakang, lalu elo bikin keluarga gue berpaling dari gue. Lo nggak puas sama keluarga gue yang udah hancur?”
Tingkah Niko yang masih keras kepala dan terus menyalahkan Gala tak pelak memantik emosi Febri. Dia pun menyuruh Gala mundur di belakangnya. Justru dia yang maju dan menunjuk wajah Niko dengan jengkel.
“Cukup, Nik! Gue udah sabar sama elo. Udah berapa kali Gala datang ke elo, rendahin harga dirinya buat minta maaf! Tapi elo masih dengan kekerasan hati elo!
Kalau elo mau hubungan pertemanan kita rusak dengan cara seperti ini, fine! Ini adalah hari terakhir elo lihat gue dan Gala menampakkan diri di hadapan elo! Good luck cari orang yang mau temenan dan hadapin sikap elo yang kekanak-kanakan itu! Ayo Gala!”
Febri pun menarik lengan Gala yang tampak tak ingin pergi dari sana. Namun Gala akhirnya mengikuti Febri, karena tahu bahwa Niko tidak akan luluh seperti harapannya.
Sempat dia membayangkan kalau Niko akhirnya mau datang ke pernikahan Vincent dan Viani. tetapi semua asa itu pupus sudah. Mereka pun meninggalkan klinik itu dengan tangan hampa.
Sementara itu, Vincent, Viani dan Erika yang mendapat cerita Gala akhirnya hanya bisa pasrah. Sepasang kekasih itu akhirnya tetap menikah, meskipun pernikahan besar itu terasa hampa.
***
“Kakiku sakit, Vin …” keluh Viani saat menatap kakinya yang bengkak dan memerah.
Vincent bangkit dari tempat tidur, dan mengambilkan kompres air hangat yang biasa membuat Viani lebih rileks.
Vincent menatap Viani yang terlihat sangat tidak nyaman. Di usia 36 minggu ini, perut Viani sudah terlihat semakin besar, dan dia juga semakin sering buang air kecil.
Kemarin, saat konsultasi dengan dokter Melissa, Viani dinyatakan berpotensi Pre Eklamsia—sebuah komplikasi pada ibu hamil. Semua usaha dilakukan untuk menanggulanginya. Maka makanan Viani pun semakin dikontrol. Wanita itu rutin meminum obatnya agar tekanan darahnya tetap stabil dan dia bisa melahirkan tanpa ada komplikasi.
“Gimana pemeriksaan kemarin?” tanya Erika yang hari ini berkunjung ke rumah Gala, menengok anaknya dan menantunya yang kini tinggal bersama Gala dan Gemma. “Tekanan darah Viani udah normal kan?”
“Syukurnya udah, Ma. Tapi Viani masih tetap rutin konsumsi obat dokter biar nggak kumat lagi,” ujar Vincent seraya mengesampingkan baskom kecil berisi air hangat yang tadi diberikan oleh ART padanya untuk kompresan Viani.
Ada rasa kuatir yang cukup besar dalam hati Erika mengingat kondisi Viani saat ini. Komplikasi tersebut cukup membuat Erika takut. Merasakan ibu mertuanya masih cemas, Viani pun mengalihkan pembicaraan.
“Oh, ya Ma … kabar Papa gimana?” celetuk Viani yang kini terlihat semakin chubby. Tubuh Viani terlihat agak menonjol di beberapa sisi.
Sayangnya, itu bukan gemuk, tetapi lebih kepada bengkak, terutama pada wajah dan kaki.
Kendati rasa sendu itu tetap merajai hatinya, terhadap kekerasan hati Niko yang tak kunjung ada habisnya, Erika berusaha tersenyum pada kedua anaknya.
“Papa sehat, Sayang.” Setelah pernikahan Vincent dan Viani, Erika kembali ke rumahnya. Ranjang mereka sempat dingin selama seminggu, sebelum Niko akhirnya luluh karena tak tahan berjauhan dari sang istri.
Vincent juga sempat beberapa kali mendatangi klinik milik Niko, tetapi pria itu tidak ingin menerima kehadiran Vincent.
Satu kali Vincent menerobos masuk, Niko langsung mengusirnya tanpa ingin mendengar apapun dari sang anak yang sudah sangat jarang dilihatnya.
Melihat senyuman Erika yang terpaksa, Vincent tahu kalau hati sang ayah masih membatu. Dia juga sudah jengah membahas tentang Niko terus menerus, pada kekerasan hati sang ayah yang tiada habisnya.
Vincent langsung mengalihkan pembicaraan. “Mama udah makan?”
“Belum Sayang,” jawab Erika.
Vincent pun turun dan menggandeng tangan Erika, “Ayo kita makan, Ma. Aku kangen ngobrol lama sama Mama.”
Saat melihat Vincent hanya menggandeng dirinya, Erika berbalik, “Viani nggak ikut?”
“Aku udah makan, Ma,” jawab Viani dengan suara agak nyaring, dia kini sudah duduk di tempat tidur. Dia bersandar pada head board sambil mengerjakan pekerjaannya lewat laptop. “Nanti aku nyusul, Ma.”
Ibu dan anak itu pun pergi menuju meja makan dan makan malam dengan santai. “Oh ya, Papa Mama mertua kamu ke mana?”
“Ke Australia, Ma. Lagi ada urusan dengan PH Papa yang dulu.”
“Ooh. Terus Viani? Masih kerja di Aryaditya bareng sama kamu?”
“Masih, Ma. Aku bisa bawain kerjaan dia ke rumah kapan pun dia mau.” Setelah berhenti dari klinik ayahnya, Gala membawa Vincent bekerja di Aryaditya dan memberinya posisi yang cukup tinggi. Vincent sendiri tidak menolak.
Bisa saja dia mencari pekerjaan di rumah sakit lain, Tetapi akan gengsi rasanya untuk Gala membiarkan Vincent seorang diri berjuang di luar sana, sementara rumah sakit miliknya sedang memerlukan tenaga.
Lalu sebelum suapan terakhir, Vincent mendadak sendu dan meletakkan sendok di atas piringnya, tanpa sempat memakan lagi. “Aku rindu sama Papa, Ma.”
Erika tersenyum lembut. Hatinya bergetar karena rasa sayang pada putranya yang lahir saat mereka sedang susah-susahnya.
“Papamu sayang sama kamu, Vin. Suatu saat dia pasti luluh. Mama terus berdoa setiap malam agar keluarga kita utuh kembali.”
“Entahlah, Papa keras, Ma …” Vincent langsung tidak percaya diri.
“Kamu yang sabar ya, Vin. Banyak-banyak berdoa dan berusaha biar Papamu luluh.”
“Kemarin, aku datengin Papa di klinik sambil bawa makanan kesukaan Papa. Tapi kulihat, Papa ngasih makanan itu sama orang … aku pulang waktu dikasih tau sama Mbak admin kalau Papa nggak ada di tempat …”
Vincent menunduk lalu menatap sang bunda dengan tatapan penuh penyesalan yang membuat dadanya terasa amat sesak. “Maaf sudah membuat Mama sempat berantem sama Papa.”
“Apa yang terjadi kemarin bukan salah kamu, Vin. Papa hanya perlu waktu untuk memaafkan orang lain. kamu jangan kepikiran sama Papa, oke? Begitu anak kalian lahir, Mama punya keyakinan kalau Papa kamu pasti akan luluh.”
Vincent memaksakan dirinya untuk membalas harapan positif ibunya dengan senyuman tipis. Mereka pun menyelesaikan makanannya dengan saling menceritakan apa yang terjadi di rumah.
Lalu, saat Vincent dan Erika selesai makan malam dan puas bercerita, Viani keluar dari kamarnya sambil memegang perut besarnya.
“Sayang, mau makan?” tanya Vincent menawarkan makan malam. Lalu seketika ekspresinya berubah jadi kaget, saat Viani menatapnya dengan ekspresi kesakitan.
“Vin … perutku sakit,” katanya dengan bagian bawah tubuh yang basah karena ketuban yang telah pecah.
****
Lupa sama visual mereka? Noh aku persembahkan 😍😍😍