Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
66. Di-reject


Di hari yang sama, di kantor Rapidash Express.


Gala sedang berada di kantornya, bekerja cukup keras dan berusaha menyelesaikan semua pekerjaannya dengan baik. Hari itu terpantau aman terkendali. Tak ada aktifitas yang begitu mencurigakan selain menunggu proses pencairan dana sebanyak hampir 100 milyar itu selesai.


Di tengah pekerjaannya yang padat, Gala masih sempat memperhatikan isi ponselnya. Benda pipih itu berbunyi saat sebuah chat masuk.


[ Stefan : Bambang ngasih DP ke gue! Dia rencana beli sama gue pakai tunai bertahap. ]


Bukan hanya chat yang dikirimkan, tetapi foto tangkapan layar berupa bukti transfer yang sudah masuk dari rekening Bambang sendiri sudah ada di sana.


Gala tersenyum senang. Berarti, Bambang sungguh-sungguh terpancing untuk membeli yang sesungguhnya jauh dari jangkauannya tersebut. Memancing orang tamak itu gampang sekali ternyata.


Tanpa membuang waktu, pria itu membuat panggilan pada kakaknya. “Kak… It’s time…”


“Oke…” jawab Mona.


Tak ada pembicaraan lebih panjang dari itu. Perkiraan Gala, saat uang itu sepenuhnya dicairkan, dia pasti akan muncul ke kantor untuk membicarakan pembagiannya dengan orang-orang yang ikut menikmati hasil korupsi itu, termasuk pada Hendra, Daniar dan Gio. Dia hanya menunggu informasi selanjutnya dari mereka.


“Gala…”


Pria itu segera masuk ke ruangan Hendra dan menutup pintunya.


“Ada update?”


“Hari ini semua dana sudah cair,” ucap Hendra sambil menunjukkan ponselnya pada Gala, memperlihatkan pesan yang dikirimkan oleh Indra. “Tapi ini ada yang aneh.”


“Maksudnya?”


Hendra kembali membuka pesan chat lain yang baru saja masuk. “Kami semua dapat kabar kalau udah ditransfer. Biasanya nggak begini.”


“Biasanya kita bicarakan pembagian yang adil untuk kami masing-masing. Dari uang sebanyak itu, Daniar, Gio dan Anton hanya kebagian 35 juta. Sedangkan saya dapat 70juta aja.”


Di balik kaca matanya, mata Gala memicing untuk memperhatikan nama di rekening itu yang ternyata atas nama orang lain.


Bambang, Hendra dan lain-lain tak ada satu pun yang menggunakan rekening pribadi. Semuanya sudah direncakan dengan baik sejak awal. Korupsi ini adalah tindakan paling ‘niat’ sekaligus paling ceroboh.


Gala pernah berandai-andai, kalau dia yang ada di posisi Bambang, dia tidak akan setamak ini. Terlalu besar angkanya. Bukankah korupsi sebesar ini hanya akan mengundang kecurigaan orang? Sulit sekali mendapatkan orang yang berintegritas sekarang ini.


“Jadi, menurut Pak Hendra, ini pembagian yang nggak rata?”


“Iya, Pak.”


“Apa Anda tau kenapa pembagiannya jadi seperti ini?”


Hendra menggelengkan kepalanya. “Saya juga tidak tahu, Pak. Yang jelas, ini pertama kalinya terjadi hal begini.”


“Terima kasih atas informasinya. Artinya, hari ini adalah hari saya terakhir bekerja di sini.”


“Apa rencana Bapak selanjutnya?”


“Sesuatu yang seharusnya saya lakukan dari awal.”


Hendra langsung mengalihkan pembicaraan saat mengartikan kalimat itu. Dari wajahnya nampak ketakutan yang luar biasa, sebab ini menyangkut masa depannya.


Oooohhh!! Jadi itu jawaban kedekatan antara Daniar dan Hendra selama ini? Hendra memanglah seorang duda tanpa anak. Istrinya meninggal lima tahun lalu, dan setelah itu, pria itu hanya tenggelam pada pekerjaannya sebelum dia bertemu dengan Daniar satu setengah tahun yang lalu.


“Saya tak akan ingkar janji. Tapi sekali saya dapati Bapak berkhianat, Anda akan tau akibatnya.”


***


Setelah membawa Viani pulang ke apartemen, Indra kembali ke kantornya dengan perasaan yang tak tenang sampai-sampai dia menyenggol mobil milik Manajer Personalia yang baru hingga sedikit penyok di bagian bumper.


Urusan itu tidak begitu panjang karena mobil tersebut masih ada asuransi dan sang pemilik tidak terlalu mempermasalahkannya.


Kini dia sudah duduk di ruangannya. Setumpuk dokumen yang ada di depannya telah diabaikannya sejak tadi. Pikirannya masih bergelut pada pertemuannya dengan calon mantan istri.


Dari yang dia ingat dalam otaknya, wanita itu seperti tidak takut sama sekali dengan gertakannya yang akan memisahkan Viani darinya.


Bahkan menyindirnya dengan kata ‘karma’ dan ‘curang’. Ini apa maksudnya?


Indra mulai overthinking.


Sedikit banyak, sebenarnya Indra merasa perkara overthinking-nya ini kemungkinan adalah salah satu karma yang dia terima juga. Dia telah mempermainkan wanita itu sekaligus pernikahan mereka.


Tapi Gemma mungkin saja tahu tentang kecurangannya, tetapi untuk melaporkannya ke kantor ini, tentu tidak ada gunanya. Dia masih merasa sedikit di atas angin. Benar kan?


Setelah dapat sebuah pesan dari sekretaris Bambang tentang pencairan dana, emosi Indra spontan naik ke level tertinggi.


Dia menghubungi Hendra dan Pak Anas, sang COO, dengan suara meninggi untuk memberitahukan kabar itu, bahkan meminta mereka untuk protes bersama-sama.


Yang membuatnya kesal bukan kepalang, atasannya sampai sekarang tak bisa dihubungi. Sekretarisnya pun tak berkata apa-apa dan tak memberi jawaban yang memuaskannya. Suara ribut-ribut saat Indra memaki-maki itu membuat Ranita berlari dari ruangannya menuju ruang Indra.


“Ada apa, Sayang?” tanya Ranita dengan kuatir.


Indra menoleh kesal pada Ranita. “Sudah saya bilang, panggil saya BAPAK, kalau kita lagi di kantor!”


Ranita menunduk segan, “Maaf, Pak. Kalau saya boleh tau, ada apa? Kenapa Bapak berteriak?”


Dengan kesal, Indra masuk ke ruang Bambang dan mendapati pria itu ternyata tidak ada di tempat.


“Pak… Bapak mau apa?” tanya sekretaris Bambang yang melihat Indra yang menyerobot masuk ke dalam ruangan sang CEO.


“Dasar pemalas!” umpat Indra pada Bambang yang jarang turun ke kantor. Dia pun meraih ponselnya dan menelepon ponsel pria berperut buncit yang menjadi bosnya itu. Namun sayangnya, teleponnya tak diangkat sama sekali. Bahkan tiga panggilan terakhir ditolak.


“Si goblok! Berani-beraninya telepon gue di-reject!” makinya lagi.


Tiba-tiba pintu ruangan CEO terbuka lagi, masuklah Ranita yang menghampirinya dengan wajah pucat pasi. “Pak…”


“Apa?!”


“I-itu…”


***