
Setelah memberi pesanan Yahya yang tidak boleh lama-lama itu, Gala kembali membawa Gemma untuk makan malam bersama. Dalam perjalanan mereka, Gemma banyak bercerita tentang kehidupannya. Tentang sang ayah, tentang sang ibu, dan juga tentang semua yang terjadi sebelum Gala hadir dalam hidupnya.
“Makasih karena udah ajak aku makan,” kata Gemma pada Gala. Cewek itu memintanya untuk singgah di taman depan komplek. Dia ingin berbicara lebih lama dengan Gala sebelum akhirnya pulang ke rumah untuk kembali ke dunianya sendiri.
”Kamu adalah orang pertama yang nggak pernah ngengata-ngatain Ayah... Selama ini, yang dengar cerita aku selalu memaki-maki Ayah. Meski dia sebenarnya pantas dikata-katain, tapi aku nggak ngerasa nyaman dengarnya.”
Memang. Gala tidak melakukannya. Bagaimanapun, dia adalah Ayah Gemma, dan dia harus menghormatinya. “Ya aku harus membangun hubungan baik sama Ayah kamu, dong. Siapa tau nanti kita married dan—“ Gala keceplosan. Dia langsung menutup mulutnya dengan mata yang terbeliak.
“Kamu segitu cintanya sama aku?” Tentu saja pertanyaan itu mengandung unsur godaan. Gemma mengangkat alisnya sebelah, heran dengan kata-kata Gala tadi. Tapi dalam hati, gadis itu juga senang. Dia juga tidak dapat menahan gejolak rasa kasmaran yang tercetak jelas dalam lengkungan bibirnya.
Gala membuang wajahnya, tidak berani menatap Gemma. Beberapa menit, dia berusaha untuk menetralkan gemuruh yang bergejolak dalam dadanya.
Dan ketika mereka sampai di depan taman komplek, Gala menepikan mobilnya dan menarik handrem. “Kamu harus tau, kalau kamu nggak pernah sendirian, Gem.”
“Aku tau… sejak lomba gitar solo waktu itu, kamu selalu ada buat aku… kecuali sebulanan kemarin,” Gemma terkekeh pelan.
Sejenak, mereka menertawakan apa yang terjadi sebulanan kemarin. Gala menyerah saat Gemma me-roasting rasa cemburu berlebihan cowok itu, dan membiarkan gadis yang disukainya terhibur.
Lalu pelan-pelan, suara tawa itu menghilang. Gala mendadak H2C lagi saat ini, dia teringat fakta bahwa gadis itu belum mengatakan apa-apa tentang hubungan mereka.
Karena kalau sampai bersambut, Gala dan Gemma bakal resmi malam ini! OMG!
“Gem… Aku udah utarakan perasaan aku. Sekarang, aku mau kamu jujur tentang perasaan kamu sama aku. Aku akan terima apapun yang jadi isi hati kamu. Bilang iya kalau memang iya. Bilang nggak, kalau kamu nggak punya rasa. Aku nggak mau kamu berhubungan sama aku karena kepaksa."
Gemma mengernyit dan langsung melepas kontak mata antara dirinya dan Gala. Dapat dilihat oleh Gala kalau gadis itu kini gugup, bahasa tubuhnya sama sekali tidak bisa berbohong karena wajah salah tingkah itu tak bisa disembunyikan.
Lelaki itu tetap menuntut jawaban. Dia tidak ingin mati penasaran atau menjalani sebuah hubungan tidak jelas.
“Gemma…” panggil Gala lagi.
“Harus!” jawab Gala tegas. Dia tidak rela malu sendiri karena rasa itu. “Aku udah jujur sama semuanya loh, Gem. Aku udah berusaha supaya nggak malu! Jangan bikin aku konyol sendirian!"
“Aku…” Gemma menghentikan kata-katanya, menunduk dengan malu-malu. "Ki-kita nggak konyol sama sekali..."
Takut-takut, Gemma mengangkat wajahnya, menatap cowok itu dengan begitu rumit. Hingga matanya turun pada pipi Gala untuk beberapa detik.
Tiba-tiba Gala merasakan ada sepasang benda kenyal menempel di pipinya. Ya! Gemma menciumnya! Hanya satu detik, tapi satu detik itu adalah momen terbaik seumur hidup Gala.
Gala tersenyum penuh kemenangan. Dia menang dari semua konflik ini. Dia menang atas kompetisi yang tak pernah diikutinya secara aktif, mengalahkan Stefan, Marco dan beberapa orang lainnya yang sering mendekati gadisnya.
Dan saat ini, status mereka harus dipastikan. “Gem, aku udah tau perasaan kamu. Tapi kamu nggak ngomong yang jelas… aku nggak mau kita TTM-an doang.”
“Nggak… kita nggak TTM-an.”
“Jadi… Kita jadian?” Gala mencelos, kenapa ini cewek nggak langsung ke intinya aja sih?
Tapi ekspresi Gemma itu sungguh menggemaskan. Pipi itu bersemu merah, mata bulatnya malu-malu untuk menatap langsung, dan bibir yang barusan itu, apakah Gala yang pertama kali menciumnya?
Sungguh, Gala bisa mati penasaran kalau Gemma tidak segera menjawab.
Lalu, saat yang dinanti Gala pun tiba. Gemma, yang masih ada dalam pengaruh euforia kecupan itu, menggigit bibir bawahnya lalu mengangguk pelan.
...****************...
Siap2 ditagih pajak jadian...
🤭🤭🤭