Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
S2 Bab 30 – Merasa Bersalah


Sementara itu, Viani dan Vincent langsung disuruh tinggal di rumah Gala saja sampai hari H tiba.


Viani menempati kamarnya, sedangkan Vincent diberikan kamar tamu. Mereka bahkan sudah pindahan dari tadi siang setelah Gala yang memintanya langsung. Dari pada mereka dikira kumpul kebo, katanya.


Mereka kini duduk berempat membahas apa yang akan terjadi Sabtu nanti. Berhubung Gala, Gemma dan Indra sudah melunak, tentunya pernikahan ini bukan hanya tentang Viani dan Vincent lagi.


Vincent dan Viani kompak menolak resepsi besar-besaran yang Gala tawarkan dan hanya ingin pernikahan sederhana. Pernikahan besar-besaran itu tidak akan terasa apa-apa tanpa keluarga Vincent yang bisa menghadiri.


“Benar juga,” ujar Gemma. Dia lalu menatap sang suami yang wajahnya masih terlihat kusut. Sungguh, Gemma benar-benar ingin memarahi Gala, tetapi sudah cukup. Hari ini emosi Gala dikuras habis-habisan dan pria itu sebenarnya sudah terlihat lelah.


Kemudian wanita itu berkata pelan pada sang suai, “Sayang, istirahatlah. Kamu harus siapin mental dengar amukan Niko nanti malam.” Terdengar agak frontal, tetapi Gemma tidak suka berbasa-basi menyimpan kebenaran kalau Niko bisa saja marah atau bahkan bertindak lebih pada Gala. Ya, bukan tidak mungkin Niko akan balas memukul Gala karena sudah menghajar Vincent.


Gemma kemudian menatap Vincent, dan melihat lebam yang masih membiru. “Vin, sering-sering kompres es batu biar lebammu ilang. Sayang, ganteng-ganteng pas kalian nikah malah masih ternoda.”


“I-iya, Tan—“


“Panggil Mama aja. Panggil Om Gala dan Om Indra dengan sebutan Papa. Nggak usah sungkan, kamu udah jadi anak kami mulai sekarang. Ya kan, Yang?” tanyanya pada Gala.


Pria itu mengangguk dengan senyum tipis.


Vincent sendiri tersenyum lebar setelah mendapat penerimaan dari orang tua Viani. Satu beban di dada Viani dan Vincent terlepas. Tinggal Niko saja.


Ponsel di kantong Vincent bergetar, dia pun minta izin dari Papa Mama mertuanya untuk menerima telepon itu. Dari Erika.


“Sayang! Mama kangen!” pekik Erika langsung.


“Vincent juga rindu sama Mama … gimana keadaan di rumah, Ma?”


Erika menghela napas berat. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi.


“Ma? Are you okay?” tanya Vincent saat tak mendapat jawaban.


“Om Febri gagal bujuk Papa, Sayang …”


Vincent menundukkan kepalanya, matanya memanas mendengar kabar itu. Sampai kapan Niko akan marah dan berlaku seperti ini? “Ma, rencananya Om Gala akan ke rumah nanti malam.”


“Benarkah? Gala udah nggak marah lagi sama kalian?”


“Iya … mulai hari ini, aku bahkan tinggal di rumah mereka sampai hari Sabtu nanti …”


Jangan salah, Vincent selalu mengabarkan sang ibu semua perkembangan mereka beberapa hari ini lewat chat, meski tak pernah dibalas. Centang biru saja, Vincent sudah lega karena Erika membaca pesannya.


“Aku dan Om Gala yang akan ngomong langsung ke Papa.”


“Nanti dulu, Sayang …” cegah Erika tiba-tiba.


“Kenapa emangnya, Ma?”


“Biar malam ini, Mama yang bicara sama Papa.”


“Yakin?”


“Iya …”


“Yang bener?”


“Iya … Kalau Mama berhasil ngomong sama Papamu, kalian baru boleh datang.”


Vincent meragu, tetapi dia hanya mengkuti arahan Erika saja. Selama ini, Erika memang hanya diam. Tapi mungkin, ibunya memilih sekarang sebagai saat yang tepat untuk membujuk sang ayah.


Namun, belum ada satu jam telepon itu ditutup, sebuah telepon masuk kembali dari Elvina, sang adik.


“Ya, El?”


“Ko!! Ke Trisinar sekarang!”


Mendapat sambutan panik dari sang adik, Vincent mengerutkan keningnya. “Ada apa?”


“Mama, Ko! Mama tadi sesak!”


“Sesak? Kenapa bisa begitu?” Firasat Vincent sudah memburuk. Seingatnya, Ibunya tidak punya asma. Tapi dia tidak mau mengambil kesimpulan sebelum dia melihat sang ibu langsung.


Vincent buru-buru mengambil kunci mobil di atas nakas, dekat sofa ruang tengah, di mana semua orang berkumpul.


“Mama …”


“Erika kenapa?” tanya Gemma.


“Mama dilarikan rumah sakit …”


***


Vincent dan Viani berangkat lebih dulu. Sedangkan Gala dan Gemma menyusul dua jam kemudian setelah mendapat kabar di mana Erika dirawat inap. Kondisinya ternyata seserius itu.


Kabarnya, Erika mengalami serangan jantung. Setelah serangkaian pemeriksaan, maka Erika akan menjalani prosedur pemasangan ring besok hari. Untungnya serangan jantung itu tidak terlalu parah.


Viani menemui orang tuanya di parkiran dan menemani mereka mendatangi kamar Erika. Wanita itu sedang tertidur nyenyak di atas brankarnya, Elvina sedang membereskan barang-barang Erika untuk diletakkan di tempat yang tepat. Sedangkan Vincent baru saja pergi ke toilet. Saat melihat mereka, Niko berjalan ke luar.


“Kita bicara di luar.” Niko terus berjalan menuju area ruang tunggu yang letaknya tak jauh dari lift, berada di tengah-tengah area besar dan luas di depan pintu masuk paviliun dan bangsal tempat para pasien di rawat.


Segera setelah di rasa cukup jauh, Niko berbalik dan menghimpit Gala ke dinding. Gemma terkesiap, sedangkan Viani segera menghubungi Febri untuk datang ke rumah sakit dan mengatakan bahwa Niko dan Gala kemungkinan akan berkonflik lagi.


“Keluarga gue rusak gara-gara elo! Erika sakit gara-gara elo!"


Gala mengerutkan kening dan mencoba membujuk Niko, “Nik …”


“Diem lo! Sampai kapan pun gue nggak sudi besanan sama elo! Heran gue, apa Erika masih naksir sama elo makanya dia ngebelain elo terus?”


Gala merampas tangan Niko yang kini mencengkeram bahunya dengan keras. “Lo gila! Itu nggak mungkinlah, Nik! Gue ke sini bukan untuk berantem sama elo! Gue pengen minta maaf!”


“Cih! Ogah gue! Vincent lebih milih elo, Erika memihak elo sampai dia sendiri sakit begini. Lo bikin keluarga gue kacau!”


Sementara Niko terus mendebat Gala yang pasrah dan hampir didatangi satpam rumah sakit, Febri datang melerai dengan seragam tentaranya. Keadaan jadi agak kacau karena mereka jadi bahan tontonan orang-orang.


Viani—dengan rasa bersalah yang amat besar—berjalan menuju kamar Erika untuk mencari Vincent. Lelaki itu sudah keluar dari toilet dan sedang membasuh tangannya di wastafel. Vincent tidak tahu apa yang terjadi di luar. “Vincent …”


“Ya, Viani?”


Viani menoleh pada kondisi di sekeliling ruangan, pada Erika yang sedang terbaring lemah dengan selang oksigen terpasang di bawah hidungnya. Hatinya berdenyut sakit.


“Bisa ngomong bentar? Di luar … Aku pinjem Koko dulu ya, El,” ujarnya pada Vincent lalu beralih ke Elvina.


Gadis itu mengangguk pelan dan membiarkan Vincent keluar.


Viani menutup pintu kamarnya dengan perlahan. “Aku mau ngomong, Vin …”


“Ya, Vi … ada apa?” terlihat gurat lelah di wajah Vincent yang masih sedikit lebam itu.


Duh, hati Viani semakin kacau balau dengan semua ini. Terlintas bayang-bayang Erika yang tadi sempat ditangani dan juga betapa berangnya Niko saat menghadapi Gala.


Kalau saja malam itu, Viani tidak pergi ke klub …


Kalau saja dia tidak minum sama sekali …


Kalau saja … Kalau saja dan kalau saja …


Karena kecerobohannya, dia tidak hanya mengorbankan diri sendiri, tetapi keluarga Vincent juga.


Berbagai pengandaian sudah terjadi dalam otak Viani yang mempengaruhi proses berpikirnya. Semua sudah terjadi dan tidak ada yang bisa diubah.


Tetapi kalau sudah begini, seseorang harus mengalah dan menengahi. Viani berpikir cepat dan cepat, sampai akhirnya dia sampai pada sebuah kesimpulan bahwa inilah yang terbaik …


“Vin … kita batalin aja pernikahan kita.”


...****************...


Haiii Author kembali!! Maaf ya menghilang hampir 2 minggu. Aku stuck sekali!! Tapi syukurnya setelah lihat2 IG Lee Thanat dan Ji Chang Wook, mendadak ide itu datang lagi.


Enjoy ya! aku usahakan up 2 bab hari ini.


Jangan lupa komen yang positif ya, biar semangat sampe ending. Love u xoxo


❤️❤️❤️