Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
S2 Bab 48 - Rumah Sakit Terdekat


Entah bagaimana ceritanya, kini April telah berada di sebuah coffee shop bersama Varel.


Setelah mengetahui anaknya--Zein--telah tertidur pulas di kamar Januar, Varel yang pasrah dan tak ingin mengganggu anaknya langsung mengajak April pergi ke coffee shop. Untuk mengusir sepi, mungkin.


Lagi, dia penasaran pada sosok April. Sosok perempuan yang sedikit hedon--yet simple. Aneh kan?


Seperti saat ini. Saat dia tidak bekerja, April terlihat seperti perempuan muda pada umumnya dengan penampilan sederhana. Hanya kaos V neck dan boyfriend jeans yang tidak ketat sama sekali, wanita tanpa make up itu kini duduk dengan santainya sambil minum air putih.


"Nggak minum kopi?" tanya Varel yang baru saja menyesap Latte miliknya.


Sudut bibir April tertarik dan menyunggingkan senyum tipis. "Saya nggak begitu suka ngopi, Pak." Entah karena memang tidak suka atau berhemat, Varel tidak paham. Sebab kopi yang dia beli saja sekarang sudah lebih dari 40 ribu rupiah.


"Kamu nggak perlu formal, kita nggak di kantor."


Kembali, April tersenyum tipis. "Nggak bisa begitu, Pak. Secara, Bapak usianya jauh di atas saya. Mana mungkin saya bertindak tidak sopan."


"Anggap aja aku seorang teman."


April menatap Varel dengan tatapan tak terbaca. Dia lalu mengikuti maunya Varel saja. Begitu banyak yang mereka bahas, mulai dari masalah Zein dan Januar, sampai pada masalah April di kantor tadi siang.


"Ada apa memangnya antara kamu dan Bu Viani?"


Sepertinya April malam ini banyak tersenyum, tetapi kali ini jauh lebih getir. "Katakanlah saya salah pilih teman setelah Bu Viani resign. Tapi kami udah baikan kok. Saya sudah datang ke rumah beliau dan minta maaf langsung. Tadi siang adalah pelajaran berharga untuk saya. Dan saya  nggak akan mengulanginya."


Varel mendelik, mencaritahu apakah ada kebohongan di mata itu, namun tidak mendapatkannya. April memang menyesal dan meminta maaf dengan sungguh. Datang ke rumah? Itu adalah hal yang di luar dugaan Varel. "Yang bener?" pancingnya.


"Saya nggak punya apa-apa lagi untuk dipertahankan. Harga diri pun udah nggak ada. Melawan Bu Viani sama aja kayak bunuh diri. Dan lagi, saya emang bersalah dan saya pantas menerima SP itu, Pak!"


"Bapak lagi!" sergah Varel tak suka pada panggilan itu.


April menengadah bingung. "Ada yang salah, Pak?"


"Saya nggak suka kamu panggil Bapak!"


"La-lalu mau dipanggil apa?" April yang kaget kemudian tergagap.


"Mas."


He?? Mas?


Situasi pun mendadak canggung.


***


Dan di sanalah mereka, sepulang dari rumah Mira dan Philip, kakek nenek Viani, sekaligus mengunjungi Indra.


Wanita milik Vincent tersebut kembali mengalami krisis setelah bertemu tante-tante (para sepupu) Indra.


Viani jadi sedikit agresif dengan emosi yang menggebu-gebu. Tetapi itu adalah hal yang aneh. Viani tidak biasanya seperti ini. Wajahnya kaku, dan dia tidak berniat melakukan apapun. Garang. Seperti ingin melampiaskan sesuatu.


"Yang ..."


"You ok?"


"Hm ..."


"Kamu cantik ..."


"Hm ..."


Berbagai puja puji sudah Vincent keluarkan, namun respon Viani justru datar.


"Tell me, ada sesuatu yang salah, Vi? Apa ini ada kaitannya sama kunjungan kita ke rumah Oma Mira?"


Viani tak bicara. membuat Vincent kembali mendesaknya. "Kalau diam berarti iya! Apa kamu kepikiran kata-kata Tante Sari tadi?"


Kembali Viani terdiam. Sari, sepupu Indra juga turut berkumpul di rumah. Dia membahas tentang serba serbi melahirkan normal dan bagaimana pengecutnya wanita yang melahirkan dengan cara operasi ceasar. Dan kenapa seharusnya Viani memiliki anak lebih dari satu, lalu menyuruhnya jangan terlalu takut.


Bisa dibilang, dari semua keluarga, Sari adalah ibu yang paling bodoh, padahal dia terpelajar dan berprofesi sebagai bankir. Makhluk yang namanya perempuan ini lucu.


Terkadang mereka saling merendahkan satu sama lain dan menganggap hal seperti ini sebagai perkara sepele, seakan-akan seluruh masalah perempuan itu semuanya sama.


"Nggak usah dipikirin! Kamu itu kuat! Ingat perjuangan kamu selama hamil dan melahirkan anak kita? Apa jadinya kalau kamu dipaksa melahirkan normal? Bisa-bisa aku kehilangan kamu!"


Rasa gundah tersebut masih terlihat menguasai benak Viani. Sebaik-baiknya dia menyimpan perasaannya, Vincent masih bisa mengendus hal itu.


"Tapi, apa kamu nggak mau punya anak lagi, Vin?"


"Kenapa hal ini dibahas, Vi? Cukup kamu, aku dan anak kita. Bukan aku  nggak mau punya anak lagi, tapi aku nggak mau lihat kamu menderita seperti kemarin."


"Tapi sebenarnya hal itu bisa dicegah kan?"


Vincent mendengkus kasar dan meraup wajahnya dengan gusar. "Aku nggak mau diskusi soal ini, Vi. Keputusanku udah bulat, aku nggak mau nambah lagi. Yang satu ini aja belum gede!"


Oke baiklah. Viani mengalah. Dia pun tak membahas lagi perkara ini. Lagipula, Viani sudah mengenakan KB spiral pada rahimnya. Vincent merasa dia tidak perlu merasa cemas saat ini.


Namun pada suatu pagi, rasa cemas yang harusnya tidak ada, tiba-tiba muncul dan bertambah berkali-kali lipat.


Saat itu mereka sedang sarapan bersama di meja makan. Saat Viani sedang menyantap telur mata sapi. Tiba-tiba, Viani merasakan mual dan segera pergi ke toilet.


"Hueek!"


Buru-buru Vincent mendatangi sang istri dan memijat tengkuk sang istri dengan lembut. "Kamu kenapa, Sayang?"


"Nggak tau, Vin. Kepalaku mendadak pusing juga ... eh?" Wajah Viani yang pucat lama-lama jadi tambah pias saat dirinya menyadari sesuatu.


Seakan mereka bisa bertelepati, Vincent langsung membawa Viani saat itu juga ke rumah sakit terdekat.


...****************...