
Kelopak mata Viani terbuka perlahan-lahan. Bau obat dan disinfektan merasuk dalam hidungnya dengan begitu kuat. Keningnya berkerut saat terlalu banyak cahaya yang masuk dalam matanya.
Ketika kesadaran itu terkumpul sepenuhnya, dia menyadari kalau dirinya terbaring di atas sebuah brankar, di punggung tangannya tertancap selang infus. Dia melirik ke samping kanan dan kiri yang tertutup gorden. Kendati di luar terdengar sangat berisik, di sini dia sendirian saja.
Beberapa menit kemudian, salah satu gordennya terbuka, dan masuklah Vincent.
"Kamu ngapain di sini?” tanya Viani ketus, lalu membuang muka.
“Alvin nelepon aku. Sekarang apa yang kamu rasain?” Vincent menjulurkan tangannya dan mengelus puncak kepala Viani.
Gadis itu tidak menolak terhadap belaian Vincent, tetapi dia masih buang muka. “Cuma sedikit pusing.”
Vincent tersenyum lembut. Dia mengambil kursi lalu duduk di samping brankar. “Mulai sekarang, kamu harus jaga kondisi kamu, Vi … Makan yang teratur, dan atur pola hidup yang sehat.”
Viani mengerutkan kening. “Kamu ngomong apa sih?”
Tangan Vincent terulur dan mengelus perut rata Viani. “Di sini ada anak kita.”
Deg!
“Apa? Anak?” tanya Viani tak percaya. “A-aku hamil?”
Lelaki itu mengangguk tanpa menghilangkan senyumannya. Usapannya di perut Viani semakin halus dan membuat mual yang sempat ada, menjadi lebih teredam.
“Tapi … masa iya dalam satu malam bisa jadi?” Viani masih berusaha menepis kemungkinan itu.
“Bisa jadi, Vi … artinya benihku subur kan waktu itu. Kamu juga sama-sama subur, kita horny dan kita M--"
"Vin!!"
Vincent terkekeh. "By the way, Mama ada di sini, lagi ngobrol di depan sama Mama Gemma dan Papa Gala.”
Astaga, pria ini memanggil Gemma kembali dengan sebutan Mama? Viani masih belum bisa mencerna apa yang terjadi hari ini. Dia masih bingung dengan semuanya.
“Permisi,” kata seorang perawat yang membawa beberapa peralatan. “Mbak Viani udah boleh pulang. Ini resepnya ya, Pak,” ujar perawat itu lagi sambil menyerahkan selembar kertas pada Vincent.
Perawat itu melepas infus dari tangan Viani lalu menutup bekas infusnya dengan kapas dan perekat. “Udah ya, Mbak.”
“Makasih, Sus.”
Viani kemudian turun dari brankar dibantu oleh Vincent. “Pelan-pelan, Sayang.”
Panggilan itu kembali lagi tanpa persetujuan Viani. Tapi Viani tidak menepisnya. Dia membiarkan Vincent memasangkannya sandal dan menuntunnya berjalan ke depan, di mana dia sudah disambut oleh Erika dan Elvina yang tersenyum lebar sekali.
“Ce Viani!! Aku seneng mau punya ponakan!” ucap Elvina girang.
“Viani Sayang. Mulai sekarang, panggil Mama ya. Jangan panggil Tante lagi,” ujar Erika sambil mengelus perut Viani. “Jaga baik-baik ya, ada cucu Mama di dalam.”
Gala dan Gemma juga tak henti-hentinya tersenyum dan bergembira. “Ah … iya. Viani, nanti soal pernikahan serahkan sama Papa. Papa udah ngomong sama hotel, kita tinggal pesan attire, souvenir, dan lain-lain. Kamu tinggal terima beres.”
“Papa … Viani baru aja bangun. Lengkapnya kita omongin di rumah aja,” ucap Vincent pada Gala.
Sejak kapan pula Vincent memanggil Gala dengan sebutan Papa?
Melihat semua orang yang tersenyum dan sumringah itu, Viani jadi tambah bingung hendak merespon apa. Hanya dalam waktu beberapa jam saja, semua langsung berubah. Gara-gara pingsan tadi, dia jadi semakin lambat berpikir.
Semua orang ini waras kah? Mereka malah senang melihat Viani hamil di luar nikah. Heran!
“Nanti kita bicarain di rumah aja, ya … atau mau ke apartemen aja? Biar Mama Erika bisa tinggal bareng sama kalian,” tawar Gala pada mereka.
“Emangnya, kenapa Mama Erika harus tinggal sama Viani?”
“Bukan gitu, Ma. Mama Erika nggak dicariin Om Niko?”
Tawa canggung Erika meluncur, wanita itu mengalihkan omongannya. “Niko akan aman-aman aja di rumahnya. Yang penting sekarang tuh kamu, dan Vincent junior di sini …” kembali tangan wanita itu mengelus perut Viani.
Viani belum bisa berpikir banyak. Dia hanya mengiyakan perkataan semua orang dan mengikuti mereka masuk ke dalam mobil untuk dibawa pulang ke rumah Gala terlebih dulu.
***
Tercium bau harum yang memenuhi seisi dapur di detik pertama Viani menginjakkan kaki di rumah. Viani menengok di bagian kitchen, ada Chef Jamie sedang berkutat di sana. Chef itu biasanya dipanggil saat ada acara keluarga yang penting saja.
Tapi kali ini, atas perintah Gala, sepertinya beliau akan terus berada di rumah, mengingat Viani yang sedang hamil dan memerlukan asupan nutrisi yang cukup.
Gemma langsung membawa Erika dan Elvina menuju ruang tengah, sedangkan Vincent membawa Viani menuju kamar tamu yang ada di lantai bawah.
Kamar tamu paling besar dengan view kolam renang dan taman belakang yang cukup luas. Kamar ini bagus, tetapi tidak memiliki walk in closet seperti kamarnya.
Saat pintu kamar dibuka, Viani bisa melihat seluruh barang-barangnya telah dipindah ke mari. Dia hanya mengikuti arahan Vincent untuk duduk di atas ranjangnya dan melepas alas kakinya.
Di jendela kamar itu, Viani bisa melihat Geraldo dan Gemini sedang bermain dengan Blue, anjing Beagle mereka yang terkenal jago kabur. Blue terlihat mengibaskan ekornya saat merasakan kehadiran Viani dari jendela kamar.
“Kamu laper? Atau ada sesuatu yang kamu perlu?” tanya Vincent.
“Nggak. Perlakukan aku kayak biasa aja, aku nggak sakit,” ujar Viani sambil merebahkan diri di kasurnya.
Vincent langsung mengambil posisi duduk di samping Viani dan mengelus kepalanya dengan sayang.
Viani masih terasa canggung, karena merasa dia dan Vincent tidak ada hubungan apa-apa lagi. Perempuan ini sedang menahan diri, untuk menyentuh tangan itu.
Lalu telapak tangan Vincent turun ke perut Viani dan kembali mengusapnya perlahan. Dibiarkannya tangan itu berada di sana berlama-lama.
“Aku bahagia, Vi …” ucapnya pelan. “Kamu yang sehat ya, jaga kondisi baik-baik sampai hari H nanti.”
“Aku belum setuju loh sama konsep ini, Vin. Barusan tadi siang aku nolak-nolak kamu.”
“Aku nggak peduli berapa kali pun kamu nolak aku, dengan atau tanpa adanya janin ini, aku akan tetap kejar kamu …
Kamu nggak usah merasa bersalah sama Mama dan Papaku. Apa pun yang terjadi dalam rumah tangga mereka, itu adalah badainya mereka, dan bukan salah kamu. Mama udah cukup lama diam sekaligus bed rest setelah pemasangan ring itu. Tapi bukan berarti dia tidak berbuat apa-apa.”
Mata Viani langsung berkaca-kaca. Sudah lama rasanya mereka tidak bicara dari hati ke hati seperti ini.
“Apa lagi sekarang ada anak kita di dalam sini,” Vincent meraih tangan Viani dan menggenggam erat. “Dia harus punya Mama dan Papa yang lengkap dan terikat dalam pernikahan yang benar.”
Dirasakan Viani kalau Vincent sedang mengambil sesuatu dari laci nakas. Tapi Viani tidak menoleh, sampai pada akhirnya, kotak beludru kemarin terjulur padanya dalam keadaan terbuka.
“Marry Me, Viani …” ucap Vincent mengulang lamaran itu dengan begitu putus asa. “Aku mohon, Sayang. Demi calon anak kita.”
Cincin yang berkilau itu dipandangi Viani. Gunung es yang dipasangnya besar-besar, kini meleleh begitu saja. Viani menangis dan terisak pada kegigihan Vincent yang sampai saat ini masih bersabar dengan dirinya.
Tak pernah juga dia bayangkan hidup sendirian tanpa suami saat mengasuh anak. Lagi pula, ini Vincent, orang yang sangat disayanginya, orang yang sudah dekat dengannya sejak mereka remaja.
Vincent dapat merasakan anggukan samar Viani. Senyumnya melebar kala mendapat persetujuan dari gadis itu. Tanpa membuang waktu, Vincent langsung menyematkannya di jari manis Viani.
“Jangan tinggalin aku, Vin …” bisik Viani dengan suara bergetar menahan rindu yang semakin menyesakkan dada. “Maafin aku yang sempat dorong kamu ngejauh.”
Kecupan hangat dan lama mendarat di puncak kepala Viani. Vincent menyentuhnya dengan amat merindu dan penuh kasih sayang. “Kita hadapi apa yang di depan kita sama-sama, ya …”
Viani mengangguk dan memegang erat tangan Vincent sambil menangis, melampiaskan semua rasa yang dia tahan berminggu-minggu sendirian.
...****************...