Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
S2 Bab 26 – Break Sebentar


“Ooh … Jadi karena itu, elo nggak mau Vincent dekat-dekat sama Viani? Karena gue orang tua mesum yang mengajarkan anak gue s**eks bebas, begitu?”


Semua kepala sontak menoleh ke arah suara. Di mana Niko berdiri di sana, menatap Gala dengan tajam.


“Alasan elo beneran picik banget …” Niko berjalan mendekati Vincent yang sudah babak belur setelah mendapat beberapa pukulan dari Indra dan Gala. Tangannya terjulur untuk menyentuh wajah Vincent dan meraba luka-luka anaknya. Hatinya pun turut patah melihat sang anak dengan keadaan seperti ini.


Bagaimana pun juga, Vincent pasti punya penjelasan yang valid tentang apa yang sebenarnya terjadi. “Kamu baik-baik aja, Vin?”


Vincent mengangguk kecil pada sang ayah.


Dokter bertubuh besar itu berjalan menuju Gala, sahabatnya, atau mungkin sebentar lagi jadi mantan sahabatnya.


“Bertahun-tahun gue dan Vincent bingung dengan alasan elo. Kami berspekulasi, mungkin elo nggak ijinin karena saat itu mereka masih sekolah. Dan gue kira, sekarang semua udah berubah. Ternyata enggak. Vincent kayaknya kebanyakan mimpi bisa bersanding sama Viani.


Gue nggak akan biarkan anak gue lo rendahin dan lo sama-samain dengan pria hidung belang di luar sana. Bukankah Vincent tadi udah bilang kalau dia bakalan tanggung jawab? Tapi apa yang dia terima? Makian dan masa lalu gue yang akhirnya lo bongkar secara brutal di hadapan anak gue!”


Gala bungkam. Tak disangkanya Niko akan berada di sini. “Siapa yang menghubungi Niko? Apa kamu, Gem?”


Gemma mengangguk. “Sudah jelas kalau dalam persoalan ini, Niko sebagai ayah Vincent harus tau, Gala. Tapi bukan berarti masa lalu harus kamu bawa-bawa!”


Gemma saat ini betul-betul kesal pada sang suami. Demi apapun, alasan itu seharusnya bisa dibicarakan baik-baik! Apalagi ini menyangkut anak dari teman baiknya sendiri.


“Oh, jadi lo awalnya nggak niat hubungin gue dan diam-diam ngehajar anak gue? Istri lo aja bisa berpikir lebih pintar dari elo,” ujar Niko sambil menyunggingkan seringaian tipis.


“Bertahun-tahun gue dan Erika bertahan seorang diri setelah bokap usir gue dari rumah dan orang tua Erika nggak mau akuin anaknya lagi. Kita berjuang dari awal, mati-matian, Gala … Mati-matian … sampe Erika punya usaha di tengah kesulitannya urus Vincent seorang diri saat gue kuliah, dan gue bisa jadi dokter. Ini semua karena kita saling support satu sama lain.


Gue tau, elo juga pernah beberapa kali bantu gue. Berkali-kali, gue nolak karena takut utang budi dan berkali-kali pula elo maksa yang akhirnya gue terima. Gue sempat parno atas utang budi macam apa nanti yang gue punya sama elo. Tapi gue nggak nyangka, utang budi ini bikin elo bertindak seenaknya sama gue dan anak gue.


Dan apa elo pikir, apa yang terjadi pada kita dulu akan kita ulangi lagi? Apa gue akan ajarin Vincent dan memberi contoh tentang semua kenakalan gue waktu SMA dulu? Elo bener-bener temen yang—ah! Gue sampe nggak bisa ngomong apa lagi karena sumpah serapah ini sudah elo rebut dan elo timpakan ke anak gue!”


Puas memuntahkan amarah pada Gala, Niko beralih pada anaknya. “Vin, bisa cerita ke Papa apa yang terjadi?”


Vincent langsung menceritakan semuanya, versinya, bagaimana Alvin yang membawa botol biru itu dan Marsel yang ingin agar Alvin membagi Viani dengannya setelah gadis itu teler. Semuanya tanpa terkecuali. Mulai dari klub sampai apartemen.


Tapi yang terjadi selanjutnya, Viani malah menggelengkan kepalanya menyanggah Vincent yang menyalahkan Alvin atas semuanya. “Bukan! Bukan begitu!”


Vincent menatap Viani sengit. “Apalagi, Vi? Kamu masih tetep ngebela Alvin? Dia yang jelas-jelas cekokin kamu dengan obat itu.”


“Vincent. Aku yakin 100% kalau itu bukan Al—“


“Cukup, Vi …” Vincent mengangkat telapak tangannya di hadapan Viani. Kekecewaan terlihat jelas di wajah lelaki itu.


“Di sini aku benar-benar ingin bertanggung jawab atas apa yang sudah dia perbuat sama kamu. Tapi hingga sekarang, mulut kami masih membela dia? Hati kamu buat dia? Iya?”


“Jadi Viani masih bisa membela mantan pacarnya itu dari pada kamu, Vin? Menurut kamu apa hubungan kalian pantas dipertahankan? Gala bahkan nggak menginginkan kita—kamu dan Papa—untuk masuk ke keluarga mereka yang besar dan kaya raya.” Niko berdecak menyindir. “Ck! Entah sampai kapan kita bakalan layak di hadapan Bapak Galandra Putra Aditya yang terhormat ini. Level kita emang di bawah mereka, Vin ….”


“Bukan gitu, Om … Vin—“


Vincent bimbang. Dilihatnya Viani dan Niko bergantian, dia tak bisa memilih.


“Nik … please! Jangan pergi! Gala, say something!!” Gemma memohon pada suaminya dengan sangat. Hari ini sudah berjalan semakin buruk. Sudahnya mereka melihat Viani dan Vincent seperti ini, persahabatan selama puluhan tahun pun menjadi taruhan dan terancam bubar.


“Gala! Please! Minta maaflah pada Niko! Dia itu teman kamu dan udah kayak saudara sendiri! Ingat pertemanan kalian!”


Tetapi lelaki itu malah terdiam. Sepertinya semua ini benar-benar di luar prediksinya dan dia tidak siap saat Niko akhirnya mengetahui semua dari mulutnya tanpa antisipasi sama sekali. Dia tak mengerti kenapa saat ini kepalanya mendadak sulit berpikir.


Tak ingin membuang waktu, Niko mengangkat tangannya. "Nggak perlu! Karena mulai sekarang, kita udah bukan sahabat lagi …” Niko menarik lengan Vincent. “Ayo, Vin … kita pulang.”


“Vin!!” Viani memanggil Vincent, dengan tatapannya memohon agar lelaki itu tak pergi. Tetapi Vincent tak menoleh lagi dan menghilang dari pandangannya.


Sebelum mencapai daun pintu, Niko kembali beberapa langkah. Tidak ingin melihat Gala langsung, tetapi hanya memastikan suaranya kali ini didengar oleh sang mantan sahabat.


“Gue nggak nyangka selama ini lo berpikir gue seburuk itu. Jadi pertemanan kita selama ini apa? Palsu? Gue ngerasa dikhianatin selama bertahun-tahun …” Niko berbalik, lalu pergi dari Gala untuk yang terakhir kalinya.


Viani menatap ayah dan ibunya bergantian, meminta saran apa yang harus dilakukannya. Tapi sepertinya mereka tidak dalam kondisi yang tepat untuk itu. Bahkan untuk bicara pun, mereka kesulitan.


Gadis itu memutuskan sendiri, berlari mengejar Vincent. Lelaki yang amat dicintainya. Dia keluar, dan berhasil menarik Vincent sebelum lelaki itu memasuki lift bersama Niko.


“Vin … Please jangan pergi. Kita bisa bicara lagi baik-baik—“


Urat-urat leher Vincent menyembul dan mengetat. Penghinaan yang Gala lakukan hari ini pada ayahnya benar-benar membuatnya marah. Walaupun dia tak sanggup membenci Viani yang tak memiliki kesalahan di sini, tetap saja dia tidak bisa terima.


“Gini aja Vi … kamu pilih siapa? Aku atau Alvin? Pilih salah satu sekarang juga. Kalau kamu pilih aku dan nggak ngebahas Alvin, maka aku akan stay di sini.”


“Vin! Kamu nggak bisa kayak gitu. Aku membela Alvin bukan karena—“


“Aku nggak bisa terima,Vi! Aku terima kalau orang tua kamu menghina aku, tetapi aku nggak bisa lihat kamu membela orang yang jelas-jelas salah!”


“Gimana aku bisa jelaskan kalau kamu potong kata-kata aku terus, Vin!!”


“Setelah apa yang aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, kamu pikir aku bisa terima kalau kamu dilecehkan, Vi? Coba kalau kamu ada di posisi aku sekarang?”


Viani bungkam pada pertanyaan Vincent. Dia tidak punya bukti kuat untuk membela Alvin.


“Dengar. Aku nggak bermaksud untuk ninggalin kamu. Tapi aku ingin kita break sebentar untuk berpikir. Semua orang hari ini terlalu emosi dan nggak bisa berpikir jernih. Termasuk aku dan kamu.”


Vincent benar. Semua orang sedang dalam keadaan hati yang kacau balau. Tidak ada satu pun yang bisa berpikir jernih sekarang ini, termasuk Vincent atau pun Viani. Tapi apakah dengan ‘break’ akan menyelesaikan semuanya? Atau jangan-jangan, mereka akan break selamanya?


“Aku pulang …” Tanpa menatap Viani lagi, lelaki itu berbalik menuju lift untuk menyusul Niko yang telah lebih dulu turun ke bawah.


...****************...