
Gala memang memberi kesempatan pada pria itu untuk menyampaikan pidato. Gemma menegang, dia menggenggam tangan Gala begitu erat. Meski Gala memberi elusan pada punggung tangan istrinya, tetap saja wanita itu merasa tidak tenang.
“Sebenarnya saya baru dapat undangan 2 hari yang lalu dari kedua mempelai. Saya sudah mengajak istri saya, tapi dia tidak mau ikut. Ya sudah, saya hadir saja di sini sendirian.” Philip menatap meja makan lalu melemparkan pandangan kakunya ke semua orang.
Sebenarnya aura Philip lebih mengerikan dari Yahya sendiri. Bedanya, pria itu tidak pernah main tangan dengan siapa pun. Tatapannya yang tajam ditambah perangainya yang berwibawa, membuat semua orang tidak berani mendekat. Kadang kala, banyak yang mengira Philip pensiunan militer, padahal bukan.
“Saya tau, kalian semua sudah baca berita bagaimana kelakuan anak saya, bagaimana dia menyakiti Gemma dan membuat malu kami, terutama Viani.
Saya tau, kalian semua di sini melihat saya seperti apa. Ada yang takut. Ada pula yang menganggap saya tak tau malu karena berani hadir dalam pernikahan ini setelah semua yang terjadi. Setelah apa yang anak saya lakukan pada Gemma.
Saya hanya berpikir, kenapa mereka masih menganggap saya keluarga padahal Gemma telah jelas-jelas meninggalkan Indra untuk Gala. Saya ada di sini bukan untuk membuat keributan atau membuat takut semua orang.
Saya hanya memenuhi undangan, kalau itu yang ingin kalian tahu… Sekaligus… Saya ingin mengucapkan beberapa hal, yang seharusnya didengar oleh wanita yang berani meninggalkan Indra dalam keadaan terpuruk seperti itu…”
Philip mengangkat kedua alisnya satu kali dengan tatapan skeptis, dan mengerutkan bibirnya seraya menunduk. Lalu menatap Gemma dengan tatapan menghunus. Gemma sendiri merasa akan dikuliti hidup-hidup. Para WO sudah kalang kabut. Paul beserta sang istri menatap Gala dengan kening berkerut.
Ya sudah, Gala hanya menunduk saja. Ini salahnya. Seratus persen salahnya. Sebab dari tadi yang dikatakan Philip semuanya memojokkan Gemma dan sayangnya semua sudah terlanjur. Menarik Philip dari tempatnya, akan lebih memalukan sekaligus menimbulkan kegaduhan.
“Gemma,” Philip meletakkan gelasnya dan membungkukkan tubuh tegapnya, “Atas nama istri dan anak saya, saya minta maaf sama kamu. Atas semua perlakuan kami yang tak pernah menganggap kamu ada dalam keluarga kami.
Atas semua tuntutan kami selama kamu menikah dengan Indra yang tak ada habisnya. Atas keabsenan saya sebagai Bapak mertua kamu yang seharusnya jadi penengah untuk semuanya, yang harusnya membela kamu saat semua orang memojokkan kamu.
Selama ini, kamu sudah berusaha untuk jadi sempurna di hadapan kami. Saya sangat berterima kasih."
Mata Gemma melebar mendengar permintaan maaf tulus itu. Bahkan semua orang yang berada di sana tidak menyangka kalau seorang Philip akan membungkuk dan minta maaf di hadapan semua hadirin.
Gemma sebenarnya hendak berdiri dan menghampirinya. Dia tak tega melihat keruntuhan harga diri pria itu, yang dengan rela membabat habis semua egonya. Namun tidak jadi, karena pria itu kembali menegakkan badan, mengambil gelas dan menaikkannya sejajar dengan bahunya.
“Saya titip Gemma padamu. Sampai kapan pun, Gemma akan jadi ibunya Viani, cucu saya. Selamat atas pernikahan kalian. Mari bersulang, untuk Gala dan Gemma.”
Semua orang merasa lega. Para kru WO tidak lagi gelagapan dan Paul mulai tenang. Philip kembali ke tempat duduknya setelah menyesap satu kali pada gelasnya, sambil berdeham menahan limpahan emosi yang dia tahan sejak tadi.
“Vi, Opa mau pulang,” ucapnya pada Viani.
“Opa. Acara belum selesai,” tahan Viani. “Tapi … Eng, ya udah deh.” Viani akhirnya melepas Opanya karena teringat pidato tadi.
Opanya pasti merasa sangat rendah diri sekarang. Tak baik menahan pria itu di sini terlalu lama. Viani juga tak bisa membayangkan bagaimana Omanya sekarang di rumah.
Mungkin sedang marah-marah, atau mengamuk hebat. Atau bisa jadi sedang nonton drama Korea untuk mengalihkan pikirannya yang penat. Viani juga sadar sekali kalau Mira tidak pernah memperlakukan Gemma dengan baik.
Sejahat-jahatnya perlakuan Indra, dialah yang paling baik terhadap Gemma dari semua keluarga Suteja. Tak heran sang ibu mau bertahan dalam pernikahannya dengan sang ayah selama 15 tahun.
Baru saja Philip hendak berjalan pergi, dia melihat Gemma semakin lama semakin mendekat.
“Mau apa kamu?”
Gemma tak bilang apa-apa saat tubuh itu menubruk Philip, tanpa pria paruh baya itu bisa mengantisipasinya. Dipeluknya bekas mertuanya dengan haru. Sama seperti Yahya, pria itu hampir sama kakunya dengan mendiang sang ayah.
Perbedaannya, Yahya terkesan galak dan tak bersahabat, sedangkan Philip begitu berwibawa sehingga sulit didekati. Entah bagaimana caranya Mira memenangkan hati Philip saat mereka muda, Gemma tak pernah sekalipun bertanya. Dia hanya ingin menyalurkan rasa terima kasihnya yang begitu dalam.
Selesai Gemma memeluknya, hal yang sama juga dilakukan Gala. Mereka berterima kasih dengan pelukan.
“Sudah-sudah. Saya mau pulang,” kata Philip.
“Kita foto dulu, Om,” kata Gala yang langsung memanggil fotografer dan mengabadikan momen langka itu, meski Philip masih kaku dan tidak tersenyum sama sekali.
***
Sebelum pergi ke pernikahan Gemma dan Gala.
“Mau ke mana kamu?” tanya Mira yang terganggu dengan penampilan rapi Philip sore itu. Dia tetap bertanya walaupun sudah tahu ke mana tujuan suaminya.
“Kamu kan udah tau, buat apa saya ngomong lagi?”
Philip mengambil rompi yang masih terpasang pada hanger dan membawanya pergi bersama dengan kunci mobil yang berada di nakas.
“Kalau kamu pergi, kamu nggak boleh lagi kembali!!”
Langkah Philip terhenti. Dia menatap sang istri dengan tajam. “Kamu tahu, Mir? Saya sudah capek hidup sama kamu selama lebih dari 47 tahun ini. Kalau kamu tidak malu jadi janda di usia 69 tahun, saya siap menceraikan kamu, karena saya sudah tidak tahan berpura-pura tidak tahu apa-apa tentang kelakuan kamu di belakang saya selama ini.”
“Kamu memang seharusnya tidak tahu apa-apa. Kamu jadi seperti sekarang karena keluarga saya! Apa sekarang kamu jadi tak tahu terima kasih?”
“Kurang apa lagi pengabdian saya selama puluhan tahun bagi keluarga Suteja? Bahkan nama belakang saya saja tidak diperbolehkan dipakai dan harus diganti menggunakan nama Suteja! Selama ini saya selalu diam dengan kelakuanmu. Tapi kali ini, semua sudah kelewatan, Mira. Saya tidak lagi ingin harga diri saya diinjak-injak olehmu. Good luck, cari pria yang mau dengan nenek-nenek keriput seperti dirimu. Atau haruskah saya hubungi pool boy yang dulu pernah kamu goda?”
“Kamu—“
“Berhentilah bicara! Karena semakin lama kamu bicara, semakin pula kamu terdengar seperti ayam yang hendak bertelur. Telurnya hanya satu, tapi satu negara bisa dengar suara kamu!”
****************
Tak lama, Mona datang dan mengajak Viani untuk pergi ke tempat lain, keluar dari acara tersebut, meninggalkan orang tuanya yang seakan tak mau jauh-jauh dari remaja tersebut.
“Viani aku amankan. Lakukan tugas negara, segera kasih gue ponakan!” perintah Mona pada telinga Gala dengan nada berbisik lalu pergi dari sana.
“Kok masih di sini? Dah mau jam 9 loh! Nggak langsung ke kamar?”
“Sabar, Pa! Mereka capek banget itu. Duduk bentar napa, ngumpulin tenaga sebelum masuk kamar!” tegur sang istri saat Paul malah menyuruh mereka masuk cepat-cepat.
“Justru itu kan. Lebih cepat lebih baik. Ada baiknya sang burung cepat istirahat dalam sangkarnya.”
Istri Paul menepuk lengan Paul dengan kesal. “Papa! Frontal amat!”
“Shh!! Semua orang bisa dengar kalo Papa orangnya mesum!” sergah Felix yang buru-buru cabut, tak mau melihat orang tuanya kembali melontarkan kata-kata bernada dewasa di hadapannya. Awkward sekali bagi seorang anak mendengar sang orang tua masih sepanas itu, terutama dalam urusan ranjang.
Tapi Gala yang mendengar hal itu malah tidak keberatan. Yang dia harapkan adalah stay hot until they aging together.
“The hotter, the better, ya kan Sayang?” bisik Gala sensual. Sang suami lalu berdiri dan menjulurkan tangannya padanya. “Ayo. Kita ke kamar dan istirahat. Besok masih ada acara besar menanti kita.”
Gemma menatap tangan Gala itu dengan meragu, sebelum tangannya terulur untuk meraih tangan itu dengan perasaan gugup. Mereka berjalan berdua, bersama-sama pamit pada semua orang. Tiba saatnya mereka pamit pada yang terakhir, yaitu Niko dan Erika.
“Cieeee, ada yang mau bajak sawah!” teriak Niko.
“Pastikan sawahnya basah, Gem!” kata Erika sebelas duabelas dengan sang suami.
“Sialan lo pada!” pekik Gala sambil menarik tangan Gemma yang wajahnya sudah memerah karena malu.
***
Gemma berjalan mengikuti Gala keluar dari lift menuju Royal Suite yang berada di lantai tertinggi hotel tersebut. Kedua tangan mereka masih terjalin dengan erat hingga pintu kembar yang menjadi pembatas antara koridor dan kamar tersebut menutup dengan perlahan.
“Aku boleh ke toilet dulu nggak?” tanya Gemma setelah melepas kedua sepatunya dan menempatkannya pada rak sepatu.
“Jangan lama,” Gala tidak menoleh, dia berjalan terus menuju ujung ruangan.
Begitu pintu itu tertutup, Gemma mengerjap-ngerjap dan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan panik. Dia menarik dan menghembuskan napasnya berkali-kali. Ditatapnya dirinya di cermin. Jujur, dia terpesona pada diri sendiri. Pantas saja Gala sampai menangis. Dia berusaha mengatur emosinya.
Wanita itu sebenarnya merasa gugup sekali saat ini. Berduaan dengan Gala adalah hal yang biasa, tetapi berduaan pertama kali setelah menikah, sensasinya tentu jauh berbeda. Ujung jemarinya yang tadi sudah menghangat, kembali jadi dingin dan basah karena keringat.
Kedua tangannya yang gemetar kini bertumpu pada wastafel counter. Dengan napas yang berat, dia berusaha menenangkan dirinya sendiri dari debaran jantung yang menghentak gila-gilaan. Pantulan cermin itu tidak membuatnya lebih baik.
Gemma tiba-tiba terlonjak saat pintu toilet itu diketuk pelan.
“Gem, lama banget. Kamu ngapain?”
“A-aku baik-baik aja kok. Bentar ya…”
Ada secercah ketakutan yang muncul saat ini. Wanita itu berusaha keluar dan menata wajahnya sebiasa mungkin. Dia berjalan menuju ke tengah kamar temaram itu tanpa menemukan siapa-siapa. Suasana mendadak horor. Tubuh Gemma gemetar dan keringat dingin mulai mengembun.
Apa lagi saat sepasang tangan menyergap nya dari belakang dan ...
Jangan bayangkan malam ini akan panas. Hal selanjutnya yang terjadi adalah Gemma yang histeris ketakutan. Dia mendorong, menendang apa saja yang ada di dekatnya.
Trauma itu kembali lagi, dan Gemma mengalami serangan panik.
Tak pernah seumur hidup Gala melihat Gemma seperti ini. Ia puk berusaha menarik, memeluk dan menenangkan Gemma yang ketakutan. Gala memaki mantan suami sang istri yang menorehkan luka sedemikian lupa.
***
"Better?" tanya Gala seraya menyerahkan segelas air gula pada Gemma yang duduk dengan riasan acak-acakan.
Setelah meminum air itu sampai tandas, Gemma meletakkan gelasnya di nakas lalu membelakangi Gala.
"Maaf Gala. Harusnya aku nggak begini. Maaf."
"Nggak apa-apa, it's okay. Aku ngerti apa yang terjadi."
Gemma perlahan menoleh pada Gala. "Setelah ini, kamu pasti anggap aku gila. Aku emang sudah kotor, aku udah bekas orang. Aku nggak pantas untuk kamu! Aku..."
Tangannya terulur dan membelai rambut Gemma dan menariknya ke dalam pelukannya. Merengkuh nya lembut seakan Gemma adalah permata yang paling bernilai.
"Aku ngerti apa yang kamu rasakan sekarang, Gem. Tapi ukuran yang kamu pakai untuk menilai dirimu berbeda dengan ukuran ku. Kamu berharga, Sayang. And you deserve to be loved."
Gala menunduk, mengecup puncak kepala Gemma dan membiarkan wanita itu bersandar pada dirinya.
...****************...