Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
20. Harga Diri yang Terluka


“Aku mau kamu…”


"Mau apa?"


"Kita nikah yuk?"


"He?"


Kening Gala berkerut saat mendengar permintaan absurd dari sang pacar. "Wait? Kamu gak lagi nyimeng kan?"


Gemma menepuk keras bahu Gala. "Aku serius, ih!"


Gala terkekeh Geli saat Gemma tak henti-hentinya tertawa geli. Gemma yang merasa niatnya tidak ditanggapi serius langsung berdiri dan membentak Gala.


"Terus aja ketawa! Kamu pikir aku becanda, Gal? Sejak Om Bobby gak ada, kamu gak pernah lagi anggap omonganku serius. Kamu kira cuma kamu yang punya perasaan? Aku punya masalahku sendiri, tapi aku gak menghindar. Bahkan stelah dapat kekerasan dari papaku, aku gak bersikap seperti kamu."


"Terus gimana? Apa aku harus disalahkan karena kesalahan Papa kamu? Bukan salahku kalau Papa kamu KDRT sama Mama kamu terus mereka cerai!


Gemma bungkam. Lalu ia mengambil tas untuk pulang.


“Gem… what’s wrong with you?” tanya Gala


“To the point aja, kamu nggak mau?”


Gala menggeleng keras pada kenyataan kalau Gemma benar-benar serius. Cewek ini gila apa? Ngajak nikah umur segini? Perasaan kencing aja belum lurus.


“Ini salah, Gem! Aku bahkan belum siap untuk fase seperti ini. Aku masih kepikiran masa depan kamu, masa depan kita! Masih banyak hal yang bisa kita lakukan sebelum kita nikah."


“Masa depan aku nggak akan ada artinya kalau nggak ada kamu,” kata Gemma putus asa.


“Aku cuma mau nyenangin kamu. Kamu udah terlalu sedih sama kepergian Om Bobby. Kamu jadi pemurung, pemarah, dan udah berubah total. Kamu nggak lagi kayak Gala yang aku kenal dulu.”


Gala menghela napas lalu membuangnya perlahan, membiarkan akal sehatnya kembali untuk mengontrol dirinya.


“Kamu nggak mikir apa kalau nanti kita nikah terus kalau kamu nanti sampai hamil? Bakal banyak yang terbengkalai dari masa depan kamu.”


“Malah bagus!” Gemma berdiri. Dia maju melangkah mendekati Gala perlahan. Tunggu, eh mata itu? Kenapa menatap Gala dengan aneh. Ini...


Bahaya... Bahaya!


“Lo mau apa deket-deket, Gem?! Berhenti gak?!” hardik Gala sambil langsung menangkap kedua tangan Gemma dan mencengkeramnya kuat. “Gemma!! Sadar dong! Jangan murah kayak gini!”


“Kalau dengan murah aku bisa tetap sama kamu, kenapa nggak?”


“Kamu nih ngomong apa sih?! Gemma, stop! Atau…”


Gemma menghentikan aksinya dan mundur dari hadapan Gala. Dia menatap Gala dengan sendu. Gala tahu, harga diri gadisnya sudah terluka.Tidak, dia tidak bisa membiarkan Gemma bertindak seperti ini.


“Atau apa?!"


Kalimat itu sukses membuat Gemma tercenung. Sejurus kemudian, gadis itu langsung mundur teratur.


"Kita putus atau nggak, udah nggak ada bedanya sejak kamu berubah ..."


Mata hijau yang tadi berkabut, kini terlihat begitu sendu. Gala sebenarnya merasa iba, tetapi urung. Dia merasa begitu marah saat Gemma bertindak semurahan itu.


"Katakan Gem, kamu belajar hal-hal begitu dari mana? Nggak mungkin kalo kamu bisa sendiri. Apa kamu sudah melakukannya sama orang lain?"


"Aku nggak pernah melakukannya sama siapa-siapa! Kalau kamu mau, kita bisa buktikan sekarang ..."


Gala bungkam. Kekasihnya itu malah menantang balik dirinya. Ini seperti bukan Gemma kan? Ada apa lagi sih dengan dia?


Gemma terlihat pasrah dan menyerah. Gala sampai baru sadar, kalau Gemma sudah memandangnya dengan tatapan yang amat berbeda.


Entah sejak kapan, Gemma sudah kehilangan binar itu. Binar yang selalu terpancar di matanya kala bertemu dengan Gala. Kenapa baru sekarang Gala memperhatikan kalau gadis ini ternyata juga berubah?


"Aku pulang ..." Gemma kemudian meninggalkan Gala sendirian setelah merapikan baju dan rambutnya yang sempat berantakan.


Awalnya Gala hendak membiarkan Gemma pergi seorang diri. Namun, beberapa detik kemudian, Gala berubah pikiran. Dia segera turun untuk mencegah kepergian gadis itu.


Belum sempat Gala mengambil kunci mobilnya, Gemma sudah berlari keluar. Dikejarnya gadis itu sampai ke depan rumah, tetapi Gemma benar-benar tidak bisa dijangkau. Cewek itu sudah pergi entah kemana, dan Gala tidak bisa berbuat apa-apa.


Gala terus menerus menelepon ponsel Gemma, tetapi tidak ada jawaban. Kini dia hanya pasrah menunggu sampai esok hari, untuk meminta maaf secara langsung pada kekasihnya.


Tapi, setelah penuturan Gala tadi, apakah hubungan mereka masih sama?


***


Satu bulan yang lalu…


Seorang pria paruh baya sedang duduk bersama seorang pria muda berusia 28 tahun. Mereka bergitu asyik mengobrol sambil mengepulkan asap rokok di smoking room sebuah restoran.


“Ya kalau kamu mau dipromosikan jadi manajer, kamu harus sudah nikah…”


Pria muda itu mematikan puntung rokoknya yang sudah habis, untuk menyesap rokok yang baru. “Tapi itu masalahnya. Open position-nya bulan depan, dan saya sama sekali nggak punya calon. Nyari calon yang langsung mau itu susah… Saya bisa kalah saing sama rekan yang udah menikah."


“Kamu mau saya kenalin sama cewek? Usianya bulan depan 18 tahun. Orangnya cantik, tinggi, dan bisa melakukan pekerjaan rumah.”


“18 tahun? Masih muda Om.”


“Tapi udah legal untuk menikah… dari pada sama orang lain yang saya nggak kenal keluarganya, mending sama kamu.”


Lelaki itu tampak berpikir keras… tetapi begitu pria di depannya menyodorkan foto sang gadis, lelaki itu langsung menyetujui. “Aku ambil, Om!”


...****************...