
Sebuah jet pribadi telah terparkir sempurna di landasan. Sayangnya, suasana hati penumpangnya tidak semulus jalan pesawat itu mendarat.
Mercy hitam segera memboyong pasangan suami istri dan anak-anak mereka menuju rumah sakit yang tak jauh dari tempat tinggal mereka.
"Di mana Viani?" tuntut Gemma saat kedatangannya disambut oleh wakil direktur rumah sakit. Kedatangan mereka berbarengan dengan Indra yang juga baru sampai.
Tiga orang tua putus asa itu berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Mereka langsung diantar ke depan ruang ICU menuju bed di mana Viani terbaring.
Gemma speechless setelah mendapat seluruh penjelasan dari pihak rumah sakit. Niko turut berhadir di sanasana dan turut menjelaskannya secara profesional.
"Kami mohon maaf yang sebesar-besarnya," kata Niko dengan kepala tertunduk lesu. Tidak ada yang bisa ia lakukan saat Gemma luruh dalam pelukan Gala.
...***...
Melihat keluarga itu dalam keadaan seperti ini tak pelak membuat Niko jadi tambah kepikiran. Dengan langkah berat, dia menyingkir ke tempat sepi.
Pelampiasannya akhirnya jatuh pada sekotak rokok yang selalu disesapnya kala dia dirundung stres.
"Merokok menyebabkan kanker, Ck!" Niko mencelos pada sebuah ironi. Dia yang menasihati orang agar hidup sehat, dia juga yang melanggar. Miris.
Lalu, pria itu menoleh pada langkah-langkah kaki yang terdengar semakin lama semakin dekat. Sontak, Niko menoleh pada dua sosok yang kini berjalan menuju ke arahnya. Adalah Febri dan Gala yang mendadak muncul. Niko segera membuang rokoknya dan menginjaknya hingga baranya padam.
"Lo di sini rupanya." Febri memasukkan kedua tangannya dalam kantong seraya menatap datar pada Niko.
Setelah mendapat kabar dari Niko kalau Viani masuk ICU, Febri dan Diana segera menuju kemari meninggalkan pekerjaannya. Dan benar saja, keadaan Viani memang sangat mengkhawatirkan. Gemma tak berhenti menangis, sedangkan Indra jadi sangat tertekan.
Sementara itu, Niko memandang gerah pada Gala yang muncul di belakangnya. Pikiran buruk sudah menyapanya lebih dulu pada sosok ayah sambung Viani itu.
"Mau apa lo ke sini? Mau minta pertanggungjawaban? Bukan gue yang bikin anak elo jadi kayak gitu. Ya meski gue emang nggak suka sama mereka, bukan berarti gue mau celakain anak elo."
"Gue ke sini bukan buat bahas itu, Nik. Gue justru ke sini karena ... Karena kita sedang dalam keadaan yang nggak baik-baik aja."
Niko diam, lalu berpaling muka, tak ingin menatap Gala atau pun Febri. "Pergilah, gue pengen sendiri."
"Sampai kapan lo mau begini?" tanya Febri tak sabaran. "Ini semua gara-gara elo juga, Nik! Lo nyumpahin apa ke anak-anak sampe Viani dan cucu elo sendiri jadi kayak gitu?"
"Gue nggak ada nyumpah-nyumpahin mereka! Gila aja lo nuduh gue!" sergah Niko tak terima pada tuduhan Febri.
"Maksud gue sekarang, bukan saatnya lo tetap dalam mode kayak gini, Nik ..." Gala berkata dengan nada pelan, menengahi Febri yang tengah kesal. "Gue tau, elo juga perlu teman. Karena gue juga. Gue butuh Febri dan elo."
Sekali lagi hanya ada kebisuan selama kurang lebih satu menit. Tatapan Niko masih datar, tak ada satu pun kata yang dia keluarkan.
"Nik?" panggil Gala lirih. "Gue bener-bener minta maaf atas semua prasangka gue sama elo. Maafkan gue sudah berpikir elo sebagai pria brengsek. Tapi sekarang, gue udah tau, bahwa di sini pikiran gue yang salah. Lo jadi brengsek karena pikiran gue, bukan karena elo. Gue mau kita balik kayak dulu lagi. Gue pengen sahabatan lagi sama elo. Tanpa elo, gue dan Febri nggak lengkap, Nik."
Semakin didesak, Niko rupanya semakin geram. Dia pun mendorong Gala dan menyerang pria itu hingga tubuh suami Gemma tersebut terbaring di lantai dengan Niko berada di atas, bersiap hendak memukulnya.
"Gue udah bilang lo pergi, kenapa lo nggak denger? Lo budek?"
“Nik …” lirih Gala. Kerah kemejanya sudah terlihat kusut dan ujung kemeja itu sudah keluar dari celananya. Gala sudah pasrah, bahwa wajahnya yang sudah terlihat tampan akan dipukul oleh Niko. Matanya memejam dan menanti kepalan tangan itu mendarat keras di pipinya.
Tapi ... tangan Niko masih terhenti di udara. Wajahnya penuh kemarahan dengan urat wajah dan leher yang mencuat.
Febri yang berdiri di dekat mereka tidak berbuat apa-apa, bahkan terkesan menunggu. Hal itu tak pelak membuat Niko sedikit keheranan. Temannya itu seakan sedang menanti pertarungan yang seru.
Benar dugaan Niko, Febri memang menunggu. Pria itu bahkan memanas-manasi agar Niko cepat menghajar Gala. Yang hendak dipukul pun perlahan membuka matanya, penasaran dengan apa yang terjadi.
“Pukul aja Nik! Pukul aja orang yang pernah ngebantu elo saat orang tua elo bahkan udah nggak mau tau lagi sama elo!”
“Dan elo Gala, silakan aja lo berpikir kalau Niko seberengsek itu. Sekalian aja lo bilang dia maniak s3k5, predator, atau apa pun yang ada di dalam kepala elo!
Gue emang nggak pernah ada buat elo berdua. Selama ini gue bahkan nggak pernah ngeluh kalau elo berdua lebih dekat dan akrab.
Waktu bokap gue serangan jantung, gue nggak ngeluh waktu elo," Febri menunjuk Gala, “nggak nanya apa pun tentang bokap. Dan waktu nyokap gue kanker ovarium, gue nggak ngeluh sama sekali waktu elo,” Febri menunjuk wajah Niko, “pilih dahulukan pasien lain padahal lo lihat nyokap gue dah kesakitan…
Jadi sekarang gue menanti lo semua berantem. Kalo perlu, lo bunuh aja sekalian si Gala, Nik. Biar elo puas sekalian!”
Niko menurunkan kepalan tangannya dan menatap nanar pada Febri. Otaknya mencerna kalimat yang Febri sampaikan dengan hati berdenyut. Apakah Febri benar-benar mengatakannya dengan serius? Apakah itu selama ini yang dirasakan Febri? “Feb, gue nggak bermaksud gitu.”
Baik Gala dan Niko sama-sama berdiri, tak menyangka isi hati Febri selama ini yang tak pernah tersampaikan.
"Gue nggak pernah nyangka, persahabatan kita yang terjalin puluhan tahun hancur begini. Selama ini, gue nggak suka mengungkit segala sesuatu, karena bagi semua kesalahan itu udah nggak penting. Tapi elo semua udah bener-bener kelewatan!"
Niko dan Gala tertunduk, Masing-masing dari mereka sangat segan menatap Febri yang wibawanya sangat kental. Dari antara mereka bertiga, Febri lah yang kulitnya paling gelap dan paling tidak good looking.
Tapi pesonanya sebagai abdi negara tak bisa dipungkiri. Suaranya yang berat sekaligus lembut menambah kesan pengaruh kuat yang dapat membuat semua bawahannya menurut.
"Waktu elo perlu se-perlu-perlunya tapi malu sama kita sehabis diusir sama orang tua elo, orang pertama yang gercep bantuin elo tanpa nanya duluan, ya Gala, Nik!!"
Mata Niko mulai berkaca-kaca dengan tubuh yang gemetar. Teringat susahnya dulu kala, tidak ada orang yang bisa menolong. Hidupnya berat sekali, dia tak punya uang melanjutkan kuliah kedokterannya. Dan tiba-tiba di saat ujian, dia dipersilakan masuk dengan catatan uang semester yang telah dibayarkan.
Febri melanjutkan, kali ini mata bulatnya yang tajam menyorot Gala intens. "Inget nggak waktu elo, kecelakaan di Aussie? Orang pertama yang datang adalah Niko! Setiap kali lo pulang dari Aussie, Niko nggak pernah telat jemput elo ...
Sementara gue, waktu orang tua gue meninggal, lo pada baru datang pas pemakaman. Di sana apa gue marah? Enggak, karena gue tau posisi elo berdua di mana saat itu. Kalau dipikir-pikir, yang harusnya kecewa berat itu gue! Gue selalu jadi nomor 2 dan dianggap paling kuat! Lo aja nggak tau gimana rasanya gue---
Tubuh Febri menghangat, dilihatnya kedua orang yang tadi berseteru tengah memeluknya.
Seketika matanya menjadi panas, air yang terasa hangat di pelupuk matanya akhirnya turun jua. Tubuhnya didekap oleh kedua sahabatnya, terguncang karena masing-masing pria itu juga memeluknya dengan gemetaran.
Febri tersenyum, tetapi dia belum puas. "Inget nggak waktu Niko baru diusir dari rumah dan Gala ketinggalan dompet waktu kita makan di warung Pecel Lele Bu Lela?
Gue cuma bawa duit sepuluh ribu dan cuma mampu beli satu porsi. Terus kita makan bareng-bareng satu porsi itu. Kita saling nyodorin Lelenya satu sama lain. Kita sama-sama bilang 'elo aja yang makan' padahal kita semua kelaperan."
"Sudah Feb, gue inget semua. Gue inget!!" Niko semakin mempererat pelukannya pada Febri, diraihnya juga bahu Gala dan tangisnya pecah. "Maafin gue, Gala! Maafin gue, Feb!"
Dalam tangis itu, Gala mengangkat kepalanya dan tersenyum pada Febri. Abdi negara itu juga membalas senyum Gala. Hatinya lega saat melihat teman-temannya kini saling berpelukan dan mengingat banyak kenangan yang membuat mereka bersahabat sampai sekarang.
Semoga Niko tidak mengubah pikirannya kembali dan persahabatan mereka tetap seperti ini.
"Tim Lele Goreng?" tanya Febri.
"Tim Lele Goreng!!" seru Niko dan Gala bersamaan.
...****************...