
“Vi, elo CEROBOH BANGET, DASAR TOLOL!” Rianti, salah satu Chicrich—sekaligus teman satu kelompok Viani—tengah bertolak pinggang sambil berjalan mondar mandir.
“Lo tau kan hari ini hari terakhir kita ngumpulin makalah? Bisa-bisanya lo nggak bawa makalah kita?”
“Gue bawa tugasnya kok, Ri! Bukannya tadi lo lihat kalo gue bawa?”
Hari ini, seharusnya Viani dan kawan-kawan telah mengumpulkan tugas Bahasa Indonesia. Namun entah kemana, benda tersebut kini raib dari dalam tasnya. Viani sangat yakin kalau dia sudah membawa tugas tersebut.
“Nggak! Gue nggak lihat!” sanggah Rianti sambil bersedekap tak mau tahu dan mengelak perkataan Viani.
Tiga teman lainnya pun memberondong Viani dengan makian kasar yang membuat matanya berkaca-kaca menahan tangis.
Harry yang melihat hal itu dari jendela kelasnya--yang berada tak jauh dari kelas Viani--langsung pura-pura izin ke toilet agar bisa keluar dan segera memasang badan untuk Viani.
Tanpa memedulikan mereka dan guru Fisika killer yang telah dia bohongi tadi, Harry menarik lengan Viani untuk menjauh dari murka Rianti dan kawan-kawan menuju perpustakaan.
“Kamu baik-baik aja?”
Viani menggelengkan kepalanya. Air matanya masih menetes. Gadis itu memeluk dirinya sendiri karena merasa begitu terpojokkan tanpa ada yang membela. Wajahnya tertunduk malu, dengan semua kejadian yang sama sekali di luar kehendaknya.
Namun di tengah sedihnya Viani, matanya tiba-tiba terbeliak saat ada kedua tangan yang melingkar di punggungnya. Keningnya kini menempel pada dada hangat, dan telinganya mendengarkan embusan napas teratur beserta suara detak jantung yang bukan miliknya.
Dilihatnya Harry dari jarak yang terlalu dekat. Aroma maskulin dari cologne mahal yang Harry pakai pun menggelitik indera penciuman Viani hingga ia mendongak.
“Harry? What are you doing?”
“Nggak pa-pa, di sini nggak ada orang. Kamu boleh nangis sepuasnya.”
“Kamu pasti nggak percaya kalo aku bawa makalahnya,” Viani tertunduk pasrah.
“Aku percaya kok, Vi.”
Tangis gadis itu menjadi heboh begitu dia semakin masuk dalam dekapan Harry. Dia bahkan sudah tak sadar kalau panggilan mereka terhadap satu sama lain sudah berubah.
“Aku buatinnya begadang, Har … tulisan mereka semua amburadul dan aku yang harus perbaikin dari A zampe Z! Apa dengan segampang itu aku bakal hilangin tugas yang aku sendiri udah capek-capek bikin?”
Lama-lama emosi Harry tersulut juga pada geng tersebut. Dia yakin benar kalau hal ini adalah hal yang disengaja. Lebih-lebih, ada Rianti di sana yang memang dari awal tak suka pada gadis itu.
Harry menggeram. Dilepasnya Viani, dan dia pun melangkah keluar.
Viani mengikuti Harry, berusaha mengimbangi langkah kakinya yang lebar itu. “Harry, tunggu!”
Tapi Harry diam saja. Tatapannya lurus dan rahangnya mengeras.
“Harry! Kamu mau kemana?”
Harry berhenti pada wajah sembab yang menatapnya dengan tatapan lesu dan lelah. “Mereka harus dikasih pelajaran, Vi.”
“Nggak usah, jangan—“ permohonan Viani terhenti saat matanya menangkap sebuah benda familiar, yang tergeletak dengan posisi aneh di tempat sampah besar tak jauh dari perpustakaan. Benda itu adalah makalah yang Viani kerjakan tadi malam.
Harry berhenti saat melihat Viani berlari menuju bak sampah. Dia tak tega pada Viani yang dengan susah payah masuk ke dalam area paling kotor itu demi mengambil benda tersebut dari sana. Meski makalah itu masih bisa dibaca, kertasnya sudah terkena banyak noda dan berbau tak sedap.
“Emang cocok sih kalo elo dan Viani jadian …”
Viani dan Harry langsung menoleh pada sumber suara. Nadia dan kawan-kawan sudah berdiri di sana sambil terkekeh pelan.
“Nggak bakal ada yang suka sama cewek jahat kayak lo, Nad,” Harry menggelengkan kepalanya pada sikap Nadia dan kawan-kawan yang sudah keterlaluan. "Vincent palingan bentar lagi ilfeel sama lo."
Tangan Harry terkepal. Dia hendak maju, namun sejurus kemudian, sebuah sentuhan kecil menjalar mulai dari lengan hingga ke telapak tangannya. Harry menoleh pada mata bulat cokelat gelap itu, yang memandangnya dengan tatapan memohon seraya menggeleng samar.
“Untung lo cewek, Nad,” tukas Harry. Dia langsung membawa Viani pergi dari sana.
Tak peduli pada Hana yang menatap mereka dengan penuh harap dan rasa bersalah.
...***...
Meski Vincent sudah menjauh dari Viani, tapi bukan berarti serangan dari Chicrich sudah selesai.
Sebenarnya Viani bingung, apa salahnya pada geng gadis-gadis yang sebenarnya terlihat agak kampungan tersebut.
Mereka mau jadi superior, tetapi jatuhnya malah jamet—kata Harry.
Lucunya meski orang tua mereka tajir, selera mereka kampungan. Itu kenyataan.
Beberapa kali Viani dikerjai oleh gadis-gadis norak tersebut. Tugas-tugas yang selalu dia kerjakan sering mendadak hilang. Terutama jika tugas itu bersifat lembaran terpisah. Raibnya tugas juga hanya berlaku pada pelajaran yang terjadi setelah istirahat pertama. Maka dari itu, dia sering dihukum di luar kelas.
Kini, Viani mulai protektif terhadap seluruh tugas yang para guru berikan. Setiap pagi, dia selalu jadi paling awal yang meletakkan tugas di meja guru masing-masing. Tak akan dibiarkannya satu tugas pun meleset.
Namun ternyata, hal itu tidak semudah yang dia kira saat tugas itu masih bisa hilang sekalipun telah ada di meja guru.
Paling tidak, sekali seminggu, dia akan dihukum karena tidak membawa tugas atau tidak mengumpulkan. Harry ingin sekali membalas gadis jahat itu, tapi Viani selalu melarang.
Jadi sesekali, Harry menolong Viani, dengan memberinya tugas yang dia miliki, atau membuat ulang tugas yang hilang itu sebelum dikumpulkan.
Mereka kini sedang duduk berhadapan di kantin, makan siang bersama. “Makasih ya udah nolongin aku tadi pagi.”
“Nggak masalah,” Harry mengambil tempat sambal dan meletakkan setidaknya tiga sendok penuh ke dalam kuah baksonya. “Kamu tuh seharusnya jangan diem aja, Vi.”
Viani meringis seakan ikut kepedasan saat memperhatikan Harry mengaduk kuahnya, mencampur sambal hingga kuah bakso miliknya memerah.
“Aku nggak suka bermasalah sama orang,” jawab Viani sambil meletakkan sebutir bakso kecil di mulutnya.
“Tapi jangan pasrah aja gitu! Aku geregetan sama sikap kamu yang begini loh. Aku nggak tega lihat kamu di-bully terus sama geng jamet!”
Viani tertawa simpul lalu menunduk, dan memakan baksonya lagi.
“Eh itu, ada noda,” tangan Harry terjulur untuk menghapus noda kuah bakso di sudut bibir Viani menggunakan tisu, lalu peregerakannya berhenti pada usapan yang ketiga. Ditatapnya Viani dengan dalam dan misterius.
“Kamu kalo ketawa manis juga …”
Seketika wajah Viani memerah seperti udang rebus. Dia pun berdeham dan meminum jus alpukatnya sampai habis. Harry menarik tangannya dengan canggung. Dia ikut berdeham dan mengikuti Viani, meminum jus miliknya hingga tandas, lalu masing-masing menghabiskan makan siang mereka dalam diam.
“Ayo, aku anter kamu ke kelas," Harri meletakkan sendok garpunya dalam posisi terbalik. "Bentar lagi bel masuk."
“Aku bisa jalan sendiri kok.”
“Aku anterin … Biar aku bisa lindungin kamu kalo geng jamet lewat."
Seakan belum selesai semua kata-kata manis itu, Harry berdiri, menggandeng tangan Viani kedua kalinya keluar dari kantin diiringi dengan bisik-bisik heboh para siswa yang menjadi saksi mata.
...****************...