
Kamis ini, mereka bertemu lagi di tempat berbeda saat dijemput Vincent dengan mobilnya. Mereka mengunjungi bundanya Rinto di rumah sakit, dan melanjutkan menjajal tempat makan yang belum pernah mereka datangi.
“Sori ya, nggak senyaman mobil kamu,” ujar Vincent yang fokus pada kemudi dan jalanan di depan.
Viani tau, kalau harga mobil miliknya jauh lebih mahal dari yang Vincent miliki. Tapi itu tidak jadi soal. Dia tidak berjalan dengan pengangguran atau anak manja yang hanya tau mengandalkan uang orang tuanya seperti Alvin.
“Nggak masalah kok. Anyway, ini baru ya?”
Vincent mengelus kemudi Toyota Rush dengan sistem manual yang dia beli kurang dari sebulan.
“Iya, si Joni baru aja aku beli bulan kemarin. Hasil keringat sendiri nih,” ucapnya bangga.
Vincent menamai mobilnya Joni, dan entah kenapa itu lucu di mata Viani.
Kini mereka sedang berada di sebuah rumah makan Chinese Food yang berada di sebuah gang sempit, di daerah Karet Kuningan. It’s like a hidden gem, dan Viani mendapat suguhan makanan yang luar biasa enak.
“Kamu tau restoran ini dari mana sih?” tanya Viani sambil menghabiskan Fuyung Hai-nya setelah satu porsi mie goreng telah sukses meluncur dalam perutnya.
“Dari temen. Tapi udah beberapa kali juga ke mari.” Vincent memasukkan satu suapan terakhir nasi yang dia tambah dengan kakap asam manis itu ke dalam mulutnya.
“Eng … sama siapa?” tanya Viani penasaran.
Vincent tersenyum lebar. “Sama temen-temenlah ... Sama keluarga … Lalu yang terakhir ini, sama kamu.” Tatapnya melembut. "Kaki kamu gimana?"
"Udah nggak bau."
Mereka berdua tertawa kencang pada jawaban Viani yang beda konsep. Viani lebih banyak tersenyum dan bercanda.
Tanpa Viani sadari, hubungan mereka jadi jauh lebih hangat dari sebelumnya. Dia sudah membuka diri pada lelaki itu. Vincent juga melakukan banyak hal-hal manis pada Viani tanpa ragu-ragu atau menahan diri.
Selesai makan, mereka singgah di salah satu kafe milik Erika.
“Ini buat Om dan Tante, Vi …” Sekotak kue berisi 4 buah chiffon cake dengan rasa berbeda dan strawberry cream cheese rustic sudah tertata dalam goodie bag yang dibawa Vincent.
“Lalu, aku harus jawab ini dari siapa?”
“Bilang aja dari aku yang kebetulan ketemu kamu. Sekalian tes Papa kamu, masih sensi nggak sama aku?”
Iya juga, Viani belum kepikiran bagaimana cara menanyakan pada sang ayah, apa dia masih sensi dengan Vincent atau tidak.
“Ya udah. Makasih ya …”
Mereka duduk di pojok kafe itu sambil menikmati satu potong cake bersama dengan dua garpu berbeda.
“Vin, boleh nanya nggak?”
“Hm?”
“Kamu bawa aku jalan sana sini, emang nggak masalah sama pacar kamu?”
"Baru putus, udah lebih dari seminggu lalu. Itu sebabnya kamu lihat aku di klub. Bukan cuma Tian yang lagi bad mood.” Vincent mengambil sepotong besar dengan garpu, dan menyuap cake itu dalam mulutnya.
“Oh … putusnya kenapa?” Gadis itu semakin berani menanyai Vincent, dia memperlambat pengucapan pertanyaannya itu dengan penasaran.
“Nggak cocok.” Vincent terlihat tenang.
“Oh ya?”
“Terlalu hedon, walau aku sanggup tapi aku nggak suka. Ya udah, kita bubar aja."
“Udah lama pacarannya? Pasti masih sayang, kan?” Viani tak tahan untuk tidak kepo. “Um … sori, aku kepo banget ya?”
“Nggak pa-pa … Belum ada setahun usia hubungan kami. Rasa yang kupunya nggak sekuat itu." Vincent tak bohong. Dirinya memang hampir tak ada rasa pada mantannya, kecuali ruang kosong setelah putus.
"Kalo kamu? Gimana? Nggak mungkin dong 10 tahun nggak punya pacar?”
Viani berdeham. “Aku juga baru putus. Tapi … aku nggak ngerti, apa itu layak disebut putus? Karena kami nggak pernah pacaran.”
“Gimana ceritanya?”
“Well, aku ketemu sama dia hampir dua bulan lalu. Dia, katanya sih, langsung suka sama aku gitu. Keluarganya punya usaha tekstil besar di Kalimantan. Papanya datang ke rumah, mau ngelamar aku dan harusnya bulan ini kami tunangan.”
“Lalu apa yang terjadi?”
Tiba-tiba Viani tertawa geli. “Um … gimana ya ceritainnya? Hm …" Viani menceritakan kronologis lengkap malam itu. Di akhir cerita, dia menutup mulutnya yang hampir terbahak.
“Lalu aku tonjok dia satu kali, sebelum aku lempar pake iPhone yang kenanya pas di hidung dia.”
Vincent tertawa singkat lalu menganga, “Terus? Kamu nggak takut dituntut?”
“Nggak, kok. Tapi dia emang kesakitan sih. Sebenarnya, aku sempat rekam dia pas lagi begituan. Niatnya buat blackmail dia. Tinggal aku kasih ke Papanya kalo dia sampe berani nuntut aku. Tapi Papa Mama tetap siapin pengacara sih, kalau-kalau Alvin bikin tuntutan.”
Astaga, Viani memang terkadang bisa jadi sangat barbar kalau sudah marah seperti itu.
“Sebenarnya yang bikin aku marah saat itu, bukan karena aku suka. Tapi lebih ke kasihan sama orangtua kami. Terus, si Alvin Chipmunk itu, malah bikin malu. Okelah Papa Gala dan Papa Indra nggak pa-pa, kalau Om Chandra-nya gimana?”
“Oh, I see …” Vincent mengangguk paham pada penjelasan Viani. “Kalau udah melibatkan keluarga itu urusannya emang panjang.”
“Gitu deh … Jadi, aku aman nih kan? Aku … lagi beneran nggak jalan sama pacar orang kan?” Viani menyelidik.
“Nggaklah ... Aku juga … nggak beneran lagi jalan sama tunangan orang kan?” Vincent balas menyelidik. Lalu mereka tertawa bersama sebelum menghabiskan cake itu dan memutuskan mengantar Viani pulang.
...***...
Di depan komplek, Rinto sudah menunggu sambil mengobrol dengan Satpam yang ada di sana, sedangkan Vincent dan Viani masih di dalam mobil menuju komplek tersebut.
Rinto kaget saat melihat mobil yang berisikan Viani tiba-tiba masuk ke dalam tanpa singgah padanya.
Dia buru-buru masuk mobil dan mengikuti karena biasanya, Viani akan turun dari sana lalu masuk di mobilnya sendiri sebelum mencapai kediaman Gala Aditya.
“Vin!” Gadis itu kaget saat Vincent tak jua berhenti.
"Biarin aku anterin kamu ke rumah.” Vincent menatap lurus ke depan.
“Vin, jangan! Kita nggak tau reaksi Papa gimana. Aku takutnya dia malah tambah nggak suka!”
Sadar kalau tindakannya kini sama sekali tidak sabaran, Vincent memberhentikan mobilnya, menetralkan transmisi dan menarik handrem. Mereka stop beberapa blok dari rumah Viani.
“Sori, aku lupa.”
Tindakan cerobohnya bisa saja membuat Viani dan dirinya tak boleh bertemu lagi.
“Sori kalau aku gegabah …” Dia menatap Viani, lupa kalau gadis ini dan dirinya belum terikat hubungan apapun. Bahkan untuk berteman saja, mereka kesannya harus hati-hati.
“Nggak pa-pa. Aku turun ya? Makasih buat traktirannya. Next time, kita gantian. Dan aku janji, bakal ngomong ke Papa dulu.”
Namun sebelum tangan Viani membuka tuas pintu, Vincent mencekalnya.
“Vi ...."
Gadis itu berbalik, menatapnya, “Ya?” Dia menunggu lelaki itu bicara.
Vincent sudah dilanda gejolak rasa yang membuatnya selalu berpikir kalau gadis di samping ini masih kekasihnya. Saat perasaan itu kembali meletup-letup, di situlah dinding yang dia bangun mulai runtuh.
Dia sudah bodoh amat terhadap siapa Papa dari gadis ini dan cinta mereka yang sempat terhalang restu.
Sesaat, suasana semakin hening. Dia menjulurkan tangannya menuju gadis itu, disampirkannya anak rambut yang sedari tadi mengganggu wajah cantik Viani. Tangan kirinya hinggap pada rahang Viani dan mengelus pipi halus itu dengan ibu jarinya.
Ada sebuah sensasi yang sudah lama tak dia rasakan. Seperti ada aliran listrik kecil yang menjalar dari ujung jarinya, dan membuat tubuhnya seolah membeku di tempat.
Rasa yang sama seperti 10 tahun lalu itu pun bangkit, di saat mereka bahagia berdua tanpa memikirkan restu dari siapapun.
“Vin …” mata Viani membulat ketika dia sadar apa yang akan terjadi. Aroma maskulin dari Vincent menguar dan menggelitik hidungnya. Wajahnya kini merona, dan dia mulai salah tingkah saat jarak mereka mulai terpangkas habis.
Vincent menunggu, pada penolakan Viani yang sama sekali tidak terjadi.
Maka pria itu maju, menunduk, lalu memejamkan matanya tepat saat bibir mereka saling bersentuhan. Gadis itu dibungkam dengan kecupan hangat dari Vincent.
Dan benar tebakan Vincent, rasa itu benar-benar masih ada, bahkan kini semakin meningkat.
Lelaki itu melepas seat belt-nya dan maju lebih mendekat. Kedua tangannya kini merangkum wajah Viani dengan kecupan yang belum juga berhenti, lama, lembut, dan begitu merindu.
Tak membutuhkan waktu lama bagi Viani untuk membalas ciuman lembut dan tak menuntut itu. Tak pernah memaksakan apalagi terburu-buru. Rasa itu menguasai dan menyerobot celah hati Viani yang tertutup.
Lelaki itu tak tahu, kalau dia sudah berhasil mencuri hati Viani sejak dulu. Pria itu selalu berhasil masuk dalam tanpa pernah memaksakan diri.
Saat kecupan itu berakhir, Vincent menyatukan kening mereka dan berusaha bernapas lebih teratur. Detak jantungnya sudah terpompa habis-habisan setelah dia mengambil langkah besar dengan mengklaim bibir itu untuk dia miliki--walau hanya beberapa detik saja. Dia baru sadar, kalau dia baru saja mencium Viani tanpa persetujuannya.
Diusapnya bibir itu dengan ibu jarinya, sambil merasakan embusan napas hangat Viani yang sama-sama tak beraturan, seperti dirinya.
“Maaf. Aku lancang …” bisiknya.
Vincent memisahkan kening mereka, dipandanginya Viani. Kembali, disampirkannya anak rambut yang masih saja terjatuh di depan wajah gadis itu.
Pipi Viani memanas sampai berubah warna menjadi kemerahan. Dia mengangguk, menerima maaf Vincent pada hal yang terjadi di luar keinginannya, namun tak terbersit untuk menolak.
Viani baru saja akan membuka mulutnya untuk bicara, namun bunyi ponselnya mendadak mengganggu. Vincent kembali pada posisi duduknya, berusaha menetralkan diri dari euforia ciuman pertama setelah 10 tahun berlalu.
Gemma menelepon Viani dan menanyakan keberadaannya. Viani menjawab kalau dia sudah dekat dengan rumah dan menutup telepon itu.
“Vin, aku harus pulang …” bisik Viani yang dibalas anggukan dari Vincent.
“Makasih atas malam ini, Vi … I really have a good time with you.”
Viani menggigit bibir bawahnya. Gadis itu terlihat ragu-ragu untuk keluar dari sana. “Vin …”
“Hm?”
Viani menarik kerah kaus Vincent dan mengecup sekilas bibir Vincent dengan begitu cepat namun tepat. Dipandanginya Vincent, lalu tanpa membuang waktu, dia turun dari mobil itu dan menutup pintunya terburu-buru.
...***...
Begitu Viani sampai di rumah, dia menutup pintu itu dengan kencang, lalu menyandar di sana. Wajahnya masih merah, napasnya menderu dan berkali-kali dia menutup wajahnya karena malu.
Tingkahnya jadi seperti anak remaja yang baru jatuh cinta.
"Neng, Viani?"
Sapaan Bu Marni mengagetkannya. "A-apa, Bu?"
"Neng kenapa? Sakit kah?"
"Eng-nggak kok! Nggak! Mama mana?" Viani langsung mengalihkan perhatian Bu Marni.
"Oh, di atas. Lagi beres-beres."
"Beres-beres?"
"Besok katanya mau ke Aussie."
"Ohh ..." Viani naik ke lantai 2. Di sana dirinya sudah disuguhkan pemandangan sibuk di kamar orang tuanya, serta kamar Geraldo dan Gemini.
“Ma?”
Gemma yang terlihat keringatan itu mengangkat kepalanya dan mendapati anak sulungnya telah pulang kerja. Tangannya masih bertumpu pada koper besar yang sudah penuh dengan pakaian. Ada pakaian rumah, santai, dan juga dress pesta yang jarang dipakai oleh ibunya.
“Oh! Viani! Makan dulu, Sayang! Bu Marni udah bikinin risoles kesukaan kamu. Ada di kulkas tuh, angetin aja di Teflon,” ujar Gemma memberi kode dengan dagunya.
“Katanya kalian mau ke Aussie?”
Gala muncul dari walk in closet membawa beberapa lembar baju miliknya. “Mau ke pernikahan Om Lucas, Vi. Minggu sore.”
“Kok bisa mendadak?”
“His girlfriend is pregnant. Biasalah orang bule,” kata Gala sambil mengangkat alisnya dengan gestur memaklumi.
“Ya … untungnya Lucas bukan orang brengsek yang nggak mau tanggung jawab,” imbuh Gemma seraya menutup koper miliknya.
“Sekalian ada urusan kerja di sana. Mungkin kami extend agak lama,” kata Gala sambil mengumpulkan toiletries miliknya dan memasukkannya dalam sebuah pouch besar. “Kamu nggak pa-pa tinggal sendirian? Geraldo dan Gemini ikut kami."
Viani tersenyum dan mengangguk. Ya, dalam hatinya dia senang karena bisa bebas sedikit.
“Pesan Mama, jangan jauh-jauh dari Rinto. Oke?”
“Aku boleh tidur di apartemen kan?”
“Boleh,” jawab Gala tanpa memandang Viani. “Pokoknya nempel terus sama Rinto! Jangan clubbing atau ke bar!”
Viani memberi hormat pada kedua orang tuanya. “Siap, Bos!”
...****************...