Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
S2 Bab 14 – Di Club


Bukannya ke bar, April malah memaksa Viani untuk pergi ke klub yang tak jauh dari bar itu.


“Ya ampun, Viani! Lo ke sini pake kaos putih V-neck sama celana jins doang?” April, wanita berwajah kotak dan rambut panjang itu memindai tubuh teman kerjanya dari atas sampai ke bawah. Matanya tertuju pada Velcro sneakers yang selalu dia pakai ketika jalan ke luar.


“Beb, di luar sana ada yang namanya High Heels dan wedges! Lo hidup di mana sih? Kalo lo mau, satu gedung mal bisa lo beli isinya semua. Tapi makin ke sini, tampilan lo kayak gembel gini!”


Tawa Viani pecah, lalu dia duduk di stool bar di samping April. Dia mencoba bersuara lebih nyaring sebab suara house music di sini benar-benar memekakkan telinga.


“Gembel nggak pake kaos Gucci, Pril."


“Ya tetep aja ini kaos, Vi! Dress kek, rok kek? Ini Sky Club, loh, tempat yang cukup high end. Banyak orang kaya datang ke mari. Cowoknya ganteng-ganteng lagi."


“Gue lagi nggak niat nyari cowok.”


“Bukan godain cowok juga. Lo dandan, lo bikin diri lo cantik, terus lo puas sama diri sendiri, gitu.”


Viani menggeleng, “Gue nggak dandan bukan berarti gue nggak puas sama diri sendiri, Pril. Udah ah, pesan minum yok.”


Ketika minuman itu datang, gadis bergaun kuning selutut dengan dada rendah itu kembali berdecak. “Seriously? Cuma mocktail? No-no! Udah saatnya lo nyobain alkohol … Mas, pesan Guiness, satu gelas!”


“Apaan si—“


“Nggak pa-pa! Lo nggak bakal mabok! Itu cuma bir, Beb! Kecuali lo minumnya satu galon!”


Oke, kalau hanya bir, Viani tak masalah. Setelah bartender memberikan pesanan itu, Viani meneguknya dengan kening mengernyit. Satu teguk, memberinya sensasi sedikit panas, sedikit asam cenderung pahit, dan entahlah … semacam minum rootbeer tapi sedikit lebih kuat.


Diletakkannya bir itu. tapi karena masih penasaran, dia mencobanya untuk minum seteguk lagi, hingga berubah jadi beberapa teguk yang meluncur hangat dalam tenggorokannya dan membuat suhu tubuhnya sedikit naik. Ya, hanya sedikit.


“Vi, ke dance floor yuk! Ada Lia dan kawan-kawan kita di HR.”


Gadis itu menoleh pada dance floor yang sudah penuh dengan manusia yang berjoget ria. Dia menertawakan diri sendiri karena di usia segini, dia baru tahu bagian dalam club itu seperti apa.


Mereka bergerak mengikuti alunan musik, namun sayang, Viani tak suka berada di sana. Manusia-manusia itu berdiri terlalu sesak dan berdempetan bagai antrian sembako yang membludak. “Lo aja, Pril. I’m good! Lo kan akrab sama mereka, gue nggak begitu kenal.”


“Yakin nih? Ya udah deh …” April meninggalkan Viani di area bar menuju ke sahabatnya yang bekerja di divisi HR itu. Viani hanya geleng-geleng saja melihat kelakuan temannya yang sedikit liar kalau sudah berjoget.


Dia mengambil gelas bir dan menghabiskannya. Tubuhnya sedikit bergerak-gerak mengikuti musik DJ tersebut tanpa ada niat bergabung dengan April dan Lia.


Dengan cepat, dia turun dari stool bar, mendatangi April untuk pulang lebih dulu.


Setelah memastikan kalau Lia yang menemani April pulang, dia pun berjalan menuju pintu keluar yang melewati area bar tadi. Kakinya dengan yakin melangkah pergi dan mengabaikan para lelaki yang menyapanya untuk berkenalan.


Tapi tetap saja ada satu orang yang nekat dan memblokade jalannya. “Halo cantik … gue Tian ... minum bareng gue yuk, gue traktir."


“Sorry, I need to go home,” ujarnya pada seorang pria dengan rambut silver yang lebih mirip uban dan sama sekali tidak keren.


“Need a ride?"pria itu tetap memaksa dan menghalangi langkahnya keluar. "Kita bisa having fun bareng."


Viani sudah bersiap untuk memukul pria itu lagi seandainya saja dia tetap berani. Tangan pria itu terulur untuk mencoba menjamah pinggang Viani, namun seketika tangan itu tak jadi menyentuh Viani karena ada yang menariknya paksa.


“Dia bilang nggak mau, Ngab. Jangan dipaksa! Lo itu udah mabuk!” katanya sambil menarik pergi temannya.


Suara …


Suara itu …


Viani menoleh ke belakang, pada teman pria ubanan yang berjuang menariknya. Pada kedua mata sipit yang mengecil saat keningnya mengernyit. Pada jam tangan hitam dengan aksen oranye yang pernah dia lihat sepuluh tahun lalu.


Tubuh Viani membeku di tempat. Dan saat pria itu akhirnya sadar kalau dirinya dipandangi, dia juga membalas tatapan Viani. Terkejut dan terdiam saat mereka berpandangan.


Lelaki tersebut juga terpaku pada tempatnya. Bibirnya membuka, dan dia seakan terbius dengan kehadiran Viani di sana.


Gadis itu menunduk, meneguk ludahnya sekuat tenaga dan menatap pria itu lagi.


Pria itu kini sudah jauh lebih tinggi darinya, kendati hidung mancung, wajah tirus, dan sorot mata itu masih seperti yang dulu. Rambut tebal pendeknya dipangkas curtain hair, dengan poni jatuh menutupi dahinya. Satu kata, tampan. Kalau ada yang mengatai pria ini jelek, berarti mereka buta.


Dilepasnya teman ubanannya itu sambil menggumamkan sesuatu yang tak dapat Viani dengar.


Dan sorot mata itu, yang membuat Viani kesulitan menemukan kata-kata yang tepat. Dia bingung pada diksi yang harusnya dia berikan pada lelaki itu setelah sepuluh tahun mereka tidak bertemu. Maka dengan ragu-ragu, dia melambai pada pria itu.


“Hai Vincent ...”


...****************...