Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
S2 Bab 37 - NICU


Di depan Vincent, mungkin Viani terlihat kuat. Tetapi di dalam sini, dia benar-benar ketakutan. Air mata itu terus mengalir tanpa henti.


Dia bukan perempuan bodoh. Selama kehamilan, dia terus membekali diri dengan ilmu kehamilan. Apa yang boleh dan tidak apa untuk dimakan, dia sudah tahu dan dirinya cukup menjaga pola makan serta kesehatannya dengan baik. Tapi kenapa dirinya yang harus punya potensi komplikasi kehamilan semacam ini?


"Bu, semangat. Biar operasinya lancar dan bayi selamat, ibunya juga harus kuat," ujar perawat yang mendorongnya tadi masuk ke dalam ruangan steril yang sudah dipenuhi berbagai macam alat bedah. Ruang ini sangat kental dengan bau rumah sakit. "Kalau bundanya sedih terus, bisa pengaruh ke bayinya."


Mendengar hal itu, Viani langsung menghentikan tangisnya. Dia pun berusaha memberitahu dirinya sendiri bahwa semua ini akan baik-baik saja. Berulang kali dia mengambil napas dan mengembuskannya perlahan.


Lewat ekor matanya, dia melihat Niko, ayah mertuanya baru saja masuk dengan atribut lengkap dan separuh wajah tertutup masker medis. Lelaki itu masih dingin, tak bicara apapun pada Viani yang sudah pasrah di atas meja operasi.


Saat mata mereka bersirobok, Viani menyapa Niko dengan sopan.


"Pa--Om... eng... Dok?"


Hampir saja dirinya keceplosan memanggilnya dengan sebutan Papa. Seketika, Viani menahan bibirnya yang begitu lancang. "Ma-maaf Dok."


"Cobalah tenang," jawab Niko datar.


Tak lama kemudian, prosedur anastesi pun dilakukan.


***


Indra bersama Erika dan Elvina sedang menunggu di ruang tunggu. Mata pria paruh baya itu tak henti-hentinya menyorot lampu merah menyala di atas pintu baja tempat Viani masuk tadi.


Perhatian Indra langsung tertuju pada pintu yang terbuka itu, pada sebuah peti transparan bernama inkubator yang di dalamnya terdapat seorang bayi tak berdaya.


"Cucuku," gumam Indra.


Erika turut menyaksikan Baby dibawa pergi menuju NICU. Seorang perawat tinggal di sana pun menjelaskan status sang bayi yang ternyata harus dimasukkan ke dalam inkubator karena paru-paru yang masih belum sempurna.


Hancur, satu kata yang mewakili perasaan para orang tua yang menyaksikan cucu mereka satu-satunya tengah berjuang hidup dalam tubuh kecil mungil dan rapuh.


Digerakkan oleh naluri ayah, kaki Vincent secara alami terus mengikuti kemana roda milik bayinya pergi tanpa ingin melepas tatapannya sedetik pun.


Sesampainya di ruang NICU, Vincent hanya bisa menyentuh permukaan inkubator yang melindungi sang anak dengan hati porak poranda.


"V ..." bisiknya lirih dengan tetesan air mata pada sosok bayi perempuan mungil itu. Vincent bicara sendiri sambil menatap anaknya seakan sang bayi mengerti apa yang dia katakan. "Yang kuat Sayang! Papa di sini, nggak akan meninggalkan kamu."


Satu jam kemudian, Vincent kembali tepat saat operasi itu akhirnya selesai dilakukan dan Viani dinyatakan dalam keadaan stabil.


***


Dikembalikan ke ruang rawat inap VVIP, Viani masih dalam kondisi tertidur setelah menjalani operasi subuh tadi. Tubuhnya masih dalam kondisi bengkak, di sampingnya sudah ada botol-botol cairan berupa infus, antibiotik dan juga anti nyeri berupa drip yang masuk dalam tubuh wanita itu secara bergantian.


Meski lelah, Vincent tetap mencoba sadar dan duduk di kamar itu menemani Viani. Hari ini perasaannya campur aduk.


Senang karena Viani telah melahirkan, sedih karena dirinya masih terbatas menemui Baby V.


Jemari Viani bergerak, seiring dengan matanya yang membuka dengan lemah. Matanya menyorot ke sekeliling ruangan. Vincent langsung mendatangi istrinya dan memegang tangannya dengan lembut.


"Sayang?"


Viani berusaha bangun dengan melawan kelemahannya. Dia seorang ibu, dia harus tahu keadaan anaknya. "Vin. Di mana anak--"


"Dia lagi dibawa di ruang NICU."


Mata Viani membukat sempurna. Dia spontan berusaha hendak duduk, namun dia sadar tak bisa melakukannya.


"Kamu masih dalam pengaruh bius. Percayakan sama tenaga medis, Sayang. Tugas kamu sekarang istirahat, supaya ASImu lancar."


Vincent mengelus kepala Viani, menenangkan sang istri yang hatinya sedang dilanda gundah gulana. Baby V sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja akibat lahir prematur, ibu mana yang bisa tidur tenang?


"Kamu nggak ngerti perasaan aku, Vin! Aku--"


"Aku ngerti, Sayang. Kamu kira dari tadi aku gimana? Aku harus menghadapi kamu dan anak kita dalam waktu bersamaan, aku hampir nggak bisa milih antara temanin kamu atau pergi menemani anak kita."


Tetes air mata tertahan itu dapat Viani lihat di pelupuk mata Vincent. Dia seketika merasa bersalah dan urung menuntut untuk bertemu anak mereka.


"Tidurlah dulu, Vi. Kamu harus istirahat, oke?" Vincent menunduk, mengecup singkat dahi Viani.


***