
Getir.
Itulah kesan pertama saat Gemma menginjakkan kaki di rumah itu kembali setelah belasan tahun lamanya.
Yang membuat Gemma sedikit terkejut, bahwa setiap detail di rumah itu masih sama, tidak ada yang berubah sama sekali. Sofa itu, meja makan, bentuk dapur, dan letak kamar Gemma yang masih terpasang dengan sprai yang sama itu, membuat wanita tersebut seakan-akan masuk ke distorsi waktu dan terlempar ke masa lampau.
Sebuah nostalgia yang sebenarnya tak selalu buruk.
Ayahnya pernah bertindak bak ayah sejati yang menaruh kasih pada anaknya setiap waktu. Tetapi di menit berikutnya, dia bisa bertindak bak jelmaan Hades, menyiksa jiwa di alam bawah dengan tanpa belas kasihan.
Pria itu kini sedang duduk di sofa tunggal, menatap lurus secara bergantian pada Gemma dan Gala yang duduk berdampingan di sofa yang ada di sampingnya.
Wajahnya masih saja angkuh dengan dagu terangkat. Tatapannya tajam, jambang halus khas penjahat menghiasi rahangnya. Tapi bukan berarti wajah antagonis itu kebal dengan yang namanya waktu. Kerutan-kerutan sudah muncul di sekitar matanya dan wajah itu sudah tak sekokoh dulu lagi.
“Jadi… Kalian mau menikah?” tanyanya dengan datar.
Gala dapat menebak darimana calon istrinya punya wajah datar itu. Gala mengangguk sambil menggenggam tangan Gemma. “Iya, Om.”
“Kapan?”
“Bulan depan, Om.”
Ditatapnya sang anak dengan mata memicing, “Jangan maksa-maksa Pak Gala untuk cepat-cepat nikahin kamu! Seperti ibumu saja!”
“Eng, Om… Yang minta nikah cepat itu, saya,” koreksi Gala pada Yahya. “Saya yang nggak mau buang-buang waktu lagi.”
Menutupi rasa malunya, Yahya berteriak ke belakang. “Marni! Bikinkan teh!”
Jari telunjuk dan jari tengah Yahya beradu, saling menggosok satu sama lain. Gemma baru menyadari kalau pria itu tidak lagi merokok. Kebiasan itu tak bisa benar-benar hilang, terbukti dengan kedua jari ayahnya yang tak bisa diam itu.
Detik itu juga, dia baru mengerti, bahwa seberapa tak pedulinya dia, Gemma tak bisa menahan untuk menyadari detail sekecil itu.
Ada satu celah menyakitkan dalam hatinya yang selalu menaruh perhatian pada sang ayah. Pada bagaimana kebiasaan merokok itu, bagaimana gelapnya bibir sang ayah karena jadi pecandu. Pada ekspresi yang tak semenakutkan yang dulu.
Tak berapa lama kemudian, sosok wanita usia akhir 40an—bernama Marni—datang membawakan satu nampan berisi 3 cangkir teh hangat.
“Makasih, Bu,” Gala mengambil salah satu cangkir dan menyesapnya perlahan.
“Ini anaknya Bang Yahya?” tanya Marni sambil berkacak pinggang.
“Iya, Bu,” jawab Gemma pelan.
“Bang, kalo punya keluarga itu jangan dijauhin! Udah sakit begitu, malah nggak mau deket-deket keluarga!” omel Marni pada Yahya. “Abang sakit atau sekarat, ujung-ujungnya keluarga adalah tempat buat kembali! Saya sih nggak masalah dibayar jadi perawat Abang. Tapi Abang tuh perlu keluarga, apalagi anak! Kalo Abang punya salah ke dia, buruan deh minta maaf!”
“Cerewet! Kamu pergilah ke belakang, atau ke mana kek!” usir Yahya yang jengah pada perawatnya yang ceplas ceplos itu.
“Perawat?” tanya Gemma pada sang ayah. Pada akhirnya, dia tak bisa menahan diri untuk tak bertanya.
Yahya memalingkan wajahnya, “Nggak mungkin bocah sialan ini nggak cerita sama kamu, Gemma.” Pria tua itu tetap mengatai Gala untuk menutupi situasi yang menurutnya memalukan saat ini. “Saya memang sudah sakit parah. Kamu puas kan? Udah nggak kuat seperti dulu. Nggak berdaya lagi mukul kamu.”
“Kenapa Ayah nggak bisa ngomong sedikit aja yang baik terhadap aku?”
“Kata-kata baik apalagi yang saya mau tunjukkan ke kamu? Lihatlah, kamu udah besar. Udah dewasa. Bahkan udah mau nikah untuk kedua kalinya. Kamu nggak perlu lagi omongan baik dari saya. Kalian bisa langsung menikah.”
Yahya berdiri dari tempatnya, disusul Gemma dan Gala yang juga ikut berdiri. Pria tua itu bermaksud berbalik, tetapi dihadang oleh anaknya sendiri.
“Mau apa kamu?”
Kalau sekarang dia tak menerima kabar apapun dari wanita itu, itu semua karena salahnya sendiri yang menghilang dari Gemma selama belasan tahun.
Tatapan Yahya terpusat pada tubuh Gemma yang mendadak gemetar tak terkendali. Matanya berkaca-kaca dipenuhi cairan bening. Dia tak pernah melihat anaknya dalam kondisi seperti ini. Pria paruh baya itu terpaku pada tempatnya, dibekukan oleh emosi yang ditebar sang anak tanpa dia sadari, membiarkan dirinya terpengaruh pada semua asa yang belum sampai.
“Aku benci Ayah!” pekiknya secara tiba-tiba. Dia maju, dan memukul-mukul dada sang Ayah berulang kali dengan air mata yang membludak bagaikan bendungan air yang runtuh. Tubuhnya bergetar karena luapan emosi yang begitu dalam, yang menusuk kuat-kuat sampai luka lama itu akhirnya menganga lebar.
Padahal akal sehatnya sudah mati-matian menyuruhnya untuk tak menaruh belas kasihan pada lelaki tua itu. Gemma meluruhkan segala egonya, segala gengsi yang menahannya menemui sang ayah, dengan harga yang sangat mahal. Bahwa sekali lagi, hati Gemma tak tega sekaligus tercabik-cabik dalam waktu bersamaan.
Pertemuan kembali ayah dan anak itu tak pelak membuat Gala ikut terenyuh. Dilihatnya sang calon istri—yang dengan segala kebenciannya—masih saja menaruh sayang pada sang ayah yang jelas-jelas sudah pernah melukai dirinya.
“Aku… benci Ayah! Aku…” bisik Gemma lagi sampai dia tak lagi memukul. Kedua tangannya bertumpu di hadapan dada Yahya dan meremas kemeja pria tua itu. Kendali dirinya dibabat habis-habisan oleh rasa sayang yang ternyata masih ada untuk Yahya.
Tangisan Gemma semakin terdengar pilu sampai terisak-isak. Begitu lama dia berada di sana, menangis di dada sang ayah dan membasahi kemejanya dengan segenap air mata yang tumpah. Tubuh wanita itu bergeliat mengikuti sampai mana emosinya meluap.
“Sudah,” Yahya menggenggam erat kedua tangan Gemma. Berusaha menghentikan tangis Gemma dengan suara yang amat rendah. ”Sudah…”
Dari tempatnya, Gala bisa melihat air muka Yahya yang berubah. Pria itu menunduk, menatap perih pada sang anak yang seperti tak mau melepasnya, kendati setiap kata yang keluar dari mulutnya mengatakan hal berbeda.
Bibir pria tua itu berkerut dan matanya berkaca-kaca. Ada penyesalan yang begitu dalam merangsek masuk dalam hatinya. Putri satu-satunya itu kini sedang berada di depannya, berkutat dengan segala kebencian tetapi tak mampu membenci dengan utuh. Padahal, anak ini sudah dia sakiti habis-habisan untuk sesuatu yang tak pernah dia lakukan.
Bukan salah Gemma kalau dia tumbuh dengan fisik dan bakat yang semakin mirip sang ibu.
Bukan salah Gemma kalau Mitha memang dahulu berselingkuh di belakangnya.
Padahal sebelum Gemma SMP, hidup mereka sebagai satu keluarga sangatlah bahagia. Kendati Gemma hanya mendengar versi rumah tangga mereka dari ibunya saja, Yahya tetap menyimpan kejadian sebenarnya versi dirinya yang telah dia pendam selama bertahun-tahun.
Yahya menerima hal itu, bahwa dia selamanya akan jadi orang terburuk di mata Gemma. Biarlah dia yang dicap ‘orang jahat’ oleh sang anak kalau hal itu yang memang membuat hatinya puas.
“Kalau ini yang kamu mau, saya merestui kalian berdua. Tapi saya nggak bisa jamin saya bisa datang atau tidak,” katanya kembali datar.
Namun, tatapan itu tidak sedatar itu. Dilihatnya jemari Gemma yang dulu sempat dia patahkan. Saat itu, dia begitu kesetanan setelah mengetahui Mitha punya hubungan gelap. Diremasnya tangan Gemma dengan lembut dan hati-hati, seakan-akan jemarinya akan patah lagi dalam genggaman tangannya. Sebelum melepaskan tangan Gemma dan kembali ke dalam kamar dengan hati yang hampir hancur.
Terburu-buru dia membuka pintu kamar Gemma yang paling dekat dengan jangkauannya saat ini. Dilihatnya setiap inci kamar itu dari atas sampai ke bawah. Betapa dia merindukan Gemma kecilnya, yang bermain di kamar ini. Begitu sayangnya dia, hingga sampai sekarang, sprai motif Doraemon kesukaan anaknya itu tak pernah dia buang. Begitu juga tempat duduk dan meja belajar. Baju-baju seragam TK dan SD Gemma masih terlipat rapi dalam lemari kecil itu.
Diraihnya seragam TK milik Gemma sementara tubuhnya bergerak untuk duduk di ranjang itu. Akhirnya dengan kekuatan diri yang sudah luluh lantak, dipeluknya seragam itu untuk menangis pilu dalam sepi senyap.
Anak satu-satunya sudah dewasa dan siap menikah dengan pilihannya sendiri. Ternyata hingga sekarang, dia tidak siap dengan hal itu.
Dulu, dia memaksa Gemma menikah dengan Indra, hanya karena ketakutan kalau suatu saat Gemma yang akan meninggalkannya. Jadi dia memutuskan, kalau dialah yang akan meninggalkan Gemma lebih dahulu pada pria yang dia kira akan mencintai anaknya.
Dia tak bisa menahan diri bahwa dia harus terluka sekali lagi. Kepergian Mitha darinya sudah cukup baginya. Batinnya tak mampu lagi jika harus merasakan sakit ditinggalkan dua kali oleh orang yang dikasihinya.
Tapi sekarang? Dengan semua yang sudah terjadi, pria itu merasa sama sekali tidak berhak untuk melakukan apapun. Bahkan untuk merestui saja, dia sungguh malu. Harusnya Gemma tidak usah melakukan itu, datang padanya hari ini dan meminta restu bersama sang calon suami yang kelihatan begitu menyayanginya.
Maka sekarang, yang dapat dilakukannya hanyalah memberi hal terakhir yang membuat anaknya bahagia walaupun sekali saja, sebelum dia tak mampu lagi melakukannya.
...****************...
Sori Ratna baru up sayang.
Weekend sibuk sekali, plus ide blm datang2 😭
entah, Ratna agak hati2 nulis tema ini, ternyata sulit juga.
doain biar ga buntu ide terus menjelang tamat ini.