
Indra akhirnya pulang dari ‘perjalanan bisnisnya’ pada tanggal 2 Januari 2022.
“Sayang?” panggil Indra saat akhirnya dia berhasil mencapai apartemen duplex milik mereka. “I’m home…”
Dari dalam, Gemma berjalan menemui Indra dengan senyum yang merekah. “Selamat datang, Mas,” ujarnya sambil mencium pipi sang suami. “I miss you…”
“I miss you too,” Indra mengelus pipi Gemma dan mengecupnya. “Aku lapar, Sayang.”
“Mandi dulu gih,” kata Gemma pada suaminya, mengambilkan tas kerja miliknya dan meletakkannya di atas meja kerjanya yang ada di lantai 2. “Aku udah siapin makanan kesukaan kamu.”
Setelah mandi, Indra memakai baju rumahnya. Dia menatap dirinya di cermin seraya mengenakan cologne dan deodorant. Dia meletakkan cologne itu dan terkesiap saat ada sepasang tangan yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Sayang? Kok peluk-peluk?”
“Kamu nggak kangen aku?” tanya Gemma dengan manja.
Indra berbalik dan mencubit hidung istrinya dengan gemas. “Tentu aja aku kangen, bukannya aku sudah bilang tadi?”
Gemma tersenyum misterius, sebelum berkomentar. “Sayang, kulitmu kayak tambah gelap ya. Kamu habis dari pantai?”
Indra refleks menatap kulitnya yang memang lebih kecokelatan sekarang. “Ah… Iya. Mumpung dekat Jogja, kami ke sana bareng tim Semarang.”
“Tapi kok perjalanan bisnis kamu sampe ngambil liburan akhir tahun, Mas?”
Kening Indra langsung lembab dan dia sempat tergagap. “Eng… i-itu…”
“Kamu pasti sibuk banget ya? Maafin aku ya yang habisin limit kartu kredit kamu.”
“Ooohh. Nggak… Nggak pa-pa kok!”
Kening Gemma mengernyit melihat sikap tak biasa Indra. “Kamu yakin?”
“Ya-ya! Nanti aku transfer lagi ke rekening kamu untuk uang bulanan bulan ini.”
“Mmm… Udah gajian ya Mas?”
“Udah tanggal 28 kemarin…”
Gemma kemudian melayangkan jari-jarinya, menyusuri kulit kokoh sang suami dari depan hingga belakang.
Indra begitu seksi, atletis dan sangat macho. Otot tubuhnya yang keras dan berisi selalu menggoda iman para kaum hawa yang melihat. Gemma sebenarnya tahu, kalau suaminya itu digandrungi banyak wanita.
Tepat saat jari Gemma turun pada pusat tubuh suaminya dan menyentuhnya dengan lembut, Indra melenguh di telinga sang istri. “Hhmm… Kamu ngajak aku main, Sayang?” bisiknya dengan sensual.
"Nggak ah. Iseng aja," Gemma kemudian menghentikan aksinya. Mengutuk dirinya yang sempat sedikit tergoda. Beberapa minggu Indra tak menyentuhnya, membuatnya merasa tak berharga. Tapi kemudian dia mengingatkan diri sendiri. Untuk apa lagi menggoda-goda Indra yang jelas-jelas bekas orang!
Aroma maskulin Indra menggelitik penciumannya. Kalau dulu, dia menyukainya, tapi sekarang, perutnya seakan diaduk dengan mixer.
Dia bermaksud akan merespon Indra, tetapi urung saat melihat ada ruam di bibir suaminya. “Itu bibir kamu kenapa, Mas?”
Indra meraba ruam yang terlihat memiliki dua gundukan di sana. “Wah, jerawat batu emang. Ada dua pula! Bakal sakit niih.”
“Tapi masih ganteng kok, Mas!”
Indra tertawa, mengelus puncak kepala istrinya lalu menggandengnya sampai meja makan. Mereka makan malam dengan hangat tanpa ada sesuatu yang mengganjal.
Namun semakin ke sini, Indra jadi makin gelisah. Menurutnya, Gemma bersikap aneh. Sementara Indra memperhatikannya dengan eskpresi rumit, lain halnya dengan Gemma yang santai, namun jauh di lubuk hatinya, dia sedang mencoba menahan diri.
Makan malam pun berakhir, Indra meletakkan semua alat makan kotor ke kitchen sink. Pria itu pergi ke living room dan menonton televisi.
***
Setengah jam kemudian, saking terlarutnya dalam berita yang sedang viral, Indra sampai tak sadar kalau Gemma sudah selesai dan sudah menghilang dari dapur.
“Sayang?” panggilnya pada sang istri. Tak ada jawaban, Indra membuka pintu geser dan mendapati balkon di sana kosong. “Sayang, kamu di mana?”
Gemma yang mendengar hal itu, melihat ke bawah dari lantai dua. Wanita itu menghembuskan napasnya dengan berat. “Aku di sini."
Indra naik ke atas menemui sang istri. Mencium gelagat aneh dari Gemma, Indra berhenti di depannya, menatapnya dengan ekspresi rumit.
“Hai…” sapa Indra. “Are you okay?”
“Menurut kamu gimana, Mas?” tanya Gemma dengan tenang.
Tatapannya yang kelewat normal itu membuat Indra bergidik. Kalau Indra boleh jujur, dia lebih suka melihat Gemma mencak-mencak dan murka dengan sangat emosional seperti saat dia mendapat pesan dari Ranita dulu.
Dengan diamnya Gemma seperti ini, seisi apartemen itu terkesan lebih horor.
“Kamu sakit?” tanya Indra.
“We need to talk.”
Dengan pelan, Indra mendekati Gemma yang sedang duduk di sofa, dia pun mengambil posisi untuk duduk di sofa tunggal.
“Aku capek, Mas… Dibohongin terus sama kamu.”
“Bohong gimana?” tanya Indra, mencoba ingin tahu apa yang Gemma lihat dalam pesan yang dikirimkan Ranita padanya.
“Kamu sudah janji untuk nggak selingkuh. Tapi nyatanya, itu cuma mulut manis kamu aja kan?”
“Dari mana kamu punya kesimpulan kalau aku selingkuh lagi?”
Gemma tersenyum. “Dari pesan yang dikirimkan Ranita lewat ponsel kamu.”
Deg!
Saking gugupnya, Indra bisa mendengar dengan jelas detak jantungnya yang kian berpacu dan membuat tubuhnya sedikit bergetar. Dia sadar betul kalau kebohongannya saat ini memang sudah terbongkar habis.
“Kok kamu jadi nuduh Ranita?”
“Aku nggak peduli siapa perempuannya sebenarnya, Mas. Tapi yang paling dekat sama kamu adalah dia. Foto itu udah menunjukkan segalanya. Kenapa sih kamu nggak ngaku aja?!” bentak Gemma yang sudah tak tahan.
“Kalian bisa jujur dari awal, Mas! Jangan nambah dosa dengan menutupi kebohongan di atas kebohongan!”
Gemma berdiri dari hadapan Indra, meraih tas kerja yang selalu di bawa-bawa Indra kemana pun dia pergi, dan mengeluarkan sebuah benda kecil yang sudah kehabisan daya dan melemparnya di atas coffee table di hadapan mereka.
GPS tracker sahabat Gemma, benda mati yang jadi saksi perselingkuhan itu. Dia bisu, namun mendengar. Dia tanpa otak, tapi dia bisa mengingat.
Wajah Indra memucat. Dia ingin sekali menelan salivanya tapi tenggorokannya begitu tercekat. “Ka-kamu? Jadi selama ini, kamu…”
“Ya… Mas… aku udah tau semuanya. Keputusan aku udah bulat, Mas. Kita cerai.”
Indra langsung mendatangi Gemma, berlutut dan menggenggam tangannya memohon. “No-no please. Sayang, aku nggak bisa pisah dari kamu. Aku cinta kamu. Please, Gem… Please!”
“Kamu bisa katakan itu di pengadilan sebagai alasan kenapa kamu nggak mau pisah dari aku. Dan aku yakin kalau yang berpikiran kalau kamu itu buaya, bukan cuma aku!”
Gemma menghempas tangan Indra yang berlutut dalam diam dan tetap dalam posisinya. Sebenarnya Gemma ingin sekali menunjukkan video itu sekalian pada Indra. Tapi dia memilih untuk menyimpannya dan mengeluarkannya di saat yang tepat nanti.
...***...
“Gemma…”
Mata Gemma mendadak terbuka saat mendengar seorang pria memanggilnya. Rintihan pria itu begitu pilu, membuat Gemma jadi tak tega. Dia turun dari tempat tidurnya di kamar tamu dan mendatangi kamar utama, yang seharusnya jadi kamarnya bersama Indra.
Begitu dia membuka pintu kamar, hal yang didapatinya pertama kali adalah sebuah gundukan selimut yang bergerak-gerak.
“Gem… Sayang…” panggil Indra dengan suara serak. “Aku nggak enak badan, Sayang.”
Kakinya melangkah begitu saja mendekati Indra dan membuka selimut itu. Mendapati sang suami tengah menggigil kedinginan.
“38,9. Tinggi banget ini.” Segera, Gemma mengambil air hangat dan obat panas. Dia membantu Indra duduk dan meminumkan obat penurun panas itu untuknya.
“Makasih istriku. Stay, please. Nggak enak banget sendirian di sini… Jangan tinggalin aku malam ini."
Melihat Indra yang begitu tak berdaya, hati Gemma jadi luluh. Dia pun mengangguk dan berbaring di sebelah suaminya. Memastikan sang suami memejamkan matanya sebelum akhirnya dia tertidur lelap.
"Aku nggak bisa hidup tanpa kamu, Gemma."
Tai!
...****************...