
“Relakan, Sayang…” ujar Mona pada Gala yang kini sedang merenungi semua kejadian yang baru saja terjadi. “Jika dia emang mau tetap sama suaminya, ya udah. Itu yang dia mau, Gala… kita nggak bisa ubah apa yang udah jadi keputusan dia.”
Terlihat jelas raut wajah yang nampak kurang tidur. Lingkaran hitam terpampang di bawah mata Gala. Rasa bersalah hebat memenuhi hatinya. Berbagai pengandaian yang percuma bergejolak di dadanya, dan membuat dadanya kian sesak dengan rasa sesal.
“Sekarang … Kamu lihat sendiri… Apa untungnya kamu memelihara gengsi kamu untuk bersedih? Nggak ada kan? Kamu hanya nyakitin banyak orang. Febri, Niko, Gemma … semua orang yang kamu sayang jadi korbannya. Kalau kamu sedih, ya sedih. Itu rasa yang wajar… tapi kamu nggak boleh ngedorong mereka ngejauh, kamu butuh mereka.”
Gala dari dulu selalu punya masalah dengan emosi sedih. Dia tak pernah bisa meng-handle perasaan itu dengan baik. Kalau saat SMP dulu, pendidikannya yang jadi amburadul, kini kehidupan sosialnya yang akhirnya terkorbankan.
Sudah beberapa hari ini Gala mengurung diri di kamar dan merenungkan apa yang terjadi antara dia dan Gemma. Memori menyenangkan dan menyedihkan melebur jadi satu menyerang otak Gala, dan membuatnya sulit tidur. Perlahan tapi pasti, dia akhirnya memikirkan apa saja yang dia lewati selama ini.
Febri dan keluarganya, Niko yang dianaktirikan keluarganya karena married by accident. Belum lagi Mona yang akhirnya harus menerima tonggak kepemimpinan dari almarhum Bobby Aditya di usia 24 tahun, usia yang di mana Mona masih ingin bersenang-senang dengan masa mudanya. Gala melewatkan semua yang terjadi pada orang terdekatnya.
Egois… benar-benar egois karena terlalu fokus pada diri sendiri. Saat memikirkan itu semua, terbersit dalam otak Gala tentang apa saja yang dapat dia perbaiki sebelum angkat kaki dari negara ini. Maka ia mulai dari Mona terlebih dahulu, Kakak yang selalu dia abaikan keberadaannya. Mendengarkan setiap nasihat yang Kakaknya berikan untuknya dengan pikiran yang terbuka.
Saat mendengar nama Febri, kepala Gala menoleh pada Mona. “Mereka sekarang gimana kabarnya, Kak?”
“Akhir bulan ini, Febri dan Diana bakal masuk karantina. Sedangkan Niko lagi persiapan SNMPTN. Kenapa emangnya?”
“Aku lupa cerita sama Kakak, kalau perusahaan Om Togar gulung tikar.”
Mona membulatkan bibirnya tampak baru tahu, tapi tidak terkejut. “Oh… malang nian nasibnya keluarga Febri. Lalu dia tinggal di mana sekarang?”
“Katanya sih daerah Cengkareng, aku belum pernah ke sana sejak mereka pindah. Dulu rumahnya gede, sekarang tinggal ngontrak di gang sempit," kan? Segitu tidak pedulinya si Gala ini!
“Nanti kamu harus ke sana. Jangan sampe kamu dinilai sama Om Togar mau temenan sama Febri pas dia masih kaya aja lho! Ingat dulu apa yang Febri lakukan buat kamu?” Gala menjawab dengan mengangguk pelan. “Lalu, sekarang… kamu mau apa? Kamu kepikiran sesuatu? Kamu harus perbaiki hubungan kamu sama teman-teman kamu."
Gala menarik napasnya dalam-dalam. “Kakak bisa, kasih posisi buat Om Togar? Tapi yang biasa aja. Beliau pasti nolak kalo dikasih jabatan terlalu tinggi. Manager, Kepala Produksi, Kepala Gudang, dan lain-lain masih boleh.”
Mona tersenyum. Kalau adiknya memikirkan hal ini, berarti sang adik sudah bisa diajak berkomunikasi dan menerima saran dengan baik. Bahwa kemungkinan, pertemuannya dengan Gemma kemarin telah membukakan segalanya. Meski rasa bersalah dan menyesal itu tidak bisa dihindari, tetapi gadis itu sedikit banyak telah membantu Gala mengatasi rasa duka dengan cara yang tak biasa.
Satu yang Mona tahu, bahwa pelajaran yang diberikan gadis itu pada Gala begitu besar dampaknya. Meski adiknya memang agak berubah, tetapi hal itu lebih baik daripada melihat Gala semakin terpuruk.
“Nanti Kakak atur!”
***
Beberapa minggu kemudian…
“Take care, Bro!” kata Niko yang kemudian merangkul Gala. “Cepet balik ke Indo… jangan kelamaan betah di negri orang!”
Gala mengangguk pelan tanpa menjawab. Dia juga tersenyum melihat Niko dan Erika ternyata sangat bahagia. Niko akhirnya masuk ke kampus yang dia mau. Dan yang membahagiakan, jenis kelamin anak mereka adalah laki-laki yang lahir dalam waktu beberapa bulan lagi.
“Hadiah dah gue kirim langsung ke rumah!” kata Gala yang kelihatan tak mau repot.
“Kenapa gak lo kasih langsung aja sih?” tanya Niko ketus.
“Cerewet…” ujar Gala yang mengalihkan pandangannya pada Erika. “Sabar-sabar aja lo sama suami cerewet dan mesum kayak teman gue ini, ya.”
Erika terkekeh sambil mengelus perutnya.
“Anyway, Febri sama Diana nitip salam. Doi baru boleh pegang hape pas sore nanti. Pagi siang latihan mulu,” tambah Niko. “Dah, gue cabut ah… see you later!”
***
[Niko Oktavius : Thank you, baby crib-nya… Untung gue belom beli, hahaha!]
Gala tersenyum menatap pesan dari Niko yang mengatakan kalau hadiahnya sudah sampai. Tak ada yang bisa diberikannya selain boks bayi super besar, yang bisa dipakai hingga usia Vincent—begitulah rencana nama anak Niko dan Erika—mencapai tiga tahun.
Suara speaker memecah lamunan Gala, yang memanggil para penumpang maskapai dengan tujuan Sydney, Australia, untuk segera check in. Lelaki itu sendiri sudah check in sedari tadi dan koper-koper besar miliknya sudah masuk bagasi. Dan hanya menunggu jam 14.05 untuk segera boarding. Itu artinya, masih ada satu jam lagi sebelum mereka harus masuk dan stand by dalam pesawat.
“Tunggu bentar ya… Kakak harus kerjain dokumen ini dulu, bentar.” Di ujung sana, Mona sedang duduk beberapa kursi darinya untuk bekerja. Kacamatanya berkilau terkena cahaya di layar laptop yang dia pakai.
“Perusahaan yang baru diakusisi Papa sebelum beliau meninggal.”
“Perusahaan apa Kak?”
“Ekspedisi… Agak kacau manajemennya. Waktu itu langsung Kakak terapin aturan Aditya Group di sana, mulai dari keuangan sampai penerimaan karyawan. Pokoknya semuanya deh… Eh, mereka pada kalang kabut…”
“Pasti banyak yang korupsi…” komentar Gala asal.
Mona mengangguk. “Iya, salah satunya… disiplinnya parah banget. Tunjangan karyawan lower level banyak dipotong, sama Nepotismenya tinggi. Terus banyak banget yang akal-akalin peraturan kita.”
“Contohnya?”
“Presensi di sana masih pake jam absensi karyawan yang bisa sering dimanipulasi jamnya. Terus ada beberapa nota klaim karyawan yang dimanipulasi, tapi tetap lolos aja di akunting. Lalu status karyawannya pada nggak jelas dan nggak sesuai sama aturan kita. Pokoknya parah. Ada juga yang denger para manajer yang main kawin cerai tanpa update status, atau ada yang nulis status udah kawin buat akal-akalin tunjangan dan supaya bisa masuk promosi.”
Gala manggut-manggut mendengar keluhan Mona tentang perusahaan baru itu, lalu membiarkan kakaknya mengerjakan pekerjaannya.
Sambil memutar-mutar paspornya dengan bosan, Gala duduk di sebuah restoran cepat saji yang menyajikan ayam goreng tepung. Ketika lelaki itu menoleh, ada seorang anak kecil yang sedang membawa vanilla ice cream.
Memori indah itu kembali terbersit, hingga tak sadar, Gala tersenyum. Tetapi dia tidak ingin membeli es krim itu, cukup dipandangi saja dari jauh.
“Ready?” tanya Mona.
“Hmm,” jawab Gala pelan. Dia pun memasukkan ponselnya ke dalam saku celana jeansnya lalu mengikuti Mona menuju pintu di mana petugas ada yang menunggu.
Gala dan Mona, dengan menenteng duffle bag masing-masing segera menunggu di antrian orang-orang yang akan masuk untuk di pintu check in. Lalu perhatiannya teralih saat ada yang memanggilnya.
“Gala! Tunggu!”
Suara samar-sama itu membuat Gala menoleh. Tetapi tidak menemukan siapa-siapa yang dia kenal. Kembali, dia berdiri di posisinya untuk maju mengikuti urutan antrian manusia yang mengular.
“Gala!”
Kali ini dia yakin kalau ada yang memanggilnya. Gala langsung berpaling dan melihat gadis yang disayanginya dari arah terminal 1, dengan wajah putus asa dengan tatapan merindu, berlari dengan sekuat tenaga menuju dirinya.
Gala membulatkan matanya melihat dengan terkejut. “Kamu ngapain di sini?”
***
🥳🥳GIVEAWAY ALERT!🥳🥳
Hai-hai ketemu lagi sama Ratna di sini… Pertama-tama, Ratna ucapin terima kasih banyak buat kalian yang udah pantengin novel aku yang judulnya 15 Years Later. Kalian da best!!! Sebelumnya, like, komen, dan favoritkan dulu dong novel ini, biar otor makin semakin semangat nulisnyaa 🤗🤗🤗
Nah untuk ngerayain bab 25 yang bentar lagi masuk ke periode waktu Gala dan Gemma di 15 tahun kemudian, Ratna mau bagi-bagi giveaway nih. Caranya? Gampang banget! Tinggal jawab pertanyaan yang ada di bawah ini.
1. Apa nama makanan yang pernah dipesan Yahya pada Gala?
2. Apa es krim yang Gala dan Gemma pernah makan?
3. Apa kepanjangan IELTS, dan buat apa Gala ambil tes IELTS?
Semua jawaban ada di novel Ratna ya say, kirim via DM ke instagram @ratna_jillian ; Jangan lupa follow IG dulu ya buat liatin update-an novel Ratna.
Hadiahnya : pulsa/go-pay/ovo/shopeepay @50ribu untuk 3 orang pemenang… Lumayan kannnn?
Pengumuman pemenang di Minggu, 16 Januari 2022 malam di instagram @ratna_jillian
Semoga beruntung yaaaa! 💪💪💪