
Satu sekolah terlihat heboh saat melihat Gala menggenggam tangan Gemma menuju kantin. Tak terkecuali Stefan dan Marco yang memandang sepasang lovebirds itu dengan geram. Bagaimana tidak? Selama satu bulan, mereka gencar mendekati Gemma tapi ditikung Gala. Kedua sepupu itu kesalnya bukan main.
Gadis itu semakin populer, terutama setelah menjadi kekasih Gala dan mendapat Juara Favorit untuk dalam kompetisi gitar solo wanita yang tempo hari diikutinya. Gala sendiri merasa bangga melihat perubahan cewek itu. Gemma jadi semakin positif, semakin ceria, bahkan nilai-nilainya tidak pernah turun. Ditambah lagi dengan restu dari Mitha dan izin dari Yahya, membuat Gala dan Gemma bahkan semakin dekat.
Sebentar lagi, ujian akhir nasional akan diadakan. Hampir semua siswa sibuk mengambil kursus tambahan dan semakin giat untuk belajar. Tak terkecuali Niko.
Tapi yang Gala heran, Niko juga akhir-akhir ini semakin seperti tidak fokus dan sering sekali terpergok sedang melakukan hal lain.
“Bro, nitip!” ucap Niko saat Gala baru saja turun dari mobilnya bersama Gemma di hari Senin itu.
“Apaan sih?” Gala hendak menoleh, tapi tak sempat. Tas punggungnya sudah lebih dahulu ditutup Niko. Lelaki tampan berpipi chubby itu segera pergi meninggalkan Gala dan Gemma yang berjalan berdampingan. Gala menoleh pada kekasihnya. “Kamu ngelihat nggak, si Niko tadi masukin apa?”
Gemma menggeleng. Mereka pun bergandengan tangan masuk dalam area sekolah. Kali ini, Gemma mengikuti Gala masuk dalam ruangannya.
“Aku boleh pinjem catatan bahasa Inggris kamu nggak?”
“Tapi kan, kelas kita beda. Takutnya pelajarannya sampe di mana juga beda.”
“Tapi guru kita kan sama? Aku cuma mau bandingin aja siapa tahu ada yang beda!” Gemma langsung merebut tas Gala di atas meja, dia mencari buku itu dan buru-buru memasukkannya dalam tasnya. Hal inilah yang membuat Gala sering gemas pada gadis ini. Dia sangat manja, tapi soal pelajaran, dia tak pernah lupa.
“Aku kembalikan pas istirahat pertama nanti… Anyway, sore nanti kita jadi kan nonton Pirates of The Caribbean?”
Lalu, speaker yang tersebar di seluruh penjuru sekolah berdenging. Ada suara ketukan yang mendahului suara bariton seorang pria yang berasal dari ruang piket guru, diikuti dengan beberapa guru yang siap siaga di beberapa pintu kelas.
“Seluruh siswa keluar dari kelas, tinggalkan tas dan semua barang-barang yang ada di sana! Sekarang!”
“Pasti ada razia nih!” seru seorang siswa. Saat melihat guru-guru tersebut membuka dan memeriksa setiap isi tas yang ada di bangku dan meja para siswa.
Berbagai macam barang sitaan sudah berjejer di tengah lapangan. Ada rokok, pemantik api, minuman keras, komik biasa dan dewasa, bahkan majalah porno serta lain-lain berkumpul jadi satu.
Dari jauh, Gala bisa mendengar suara Rosa yang sedang memarahi Stefan habis-habisan.
“A-ampun, Bu! Saya cuma belajar anatomi, Bu!”
“Anatomi-anatomi ndasmu! Orangtua kamu harus datang ke sekolah besok!”
Stefan ketakutan. Dia langsung memasang wajah memelas dan memohon. “Jangan dong Bu rosa … Please …! Bu Rosa cantik deh!”
“Contak cantik contak cantik! Ngerayu jago, pelajaran kamu nilainya memble semua!” Rosa sepertinya tidak dapat dirayu oleh Stefan.
Seketika itu juga, wajah Gala memucat. Biasanya Niko akan menitipkan benda itu padanya tiap Senin karena di kelas Niko karena hari ini selalu ada jam pelajaran Bapak Marbun yang killer dan suka razia dadakan. Karena pintu kelas itu sudah terlanjur ditutup dan dikunci dari dalam, Gala tidak bisa masuk lagi untuk mengambil benda tersebut.
Namun, sampai selesai razia tersebut, nama Gala sama sekali tidak dipanggil. Saat kembali ke kelas, Gala mencoba mencari keberadaan benda itu, tapi tidak menemukannya sama sekali.
Kemana perginya majalah itu?
...***...
Pada saat jam istirahat pertama, seperti biasanya, Gala mendatangi Gemma untuk makan pagi bersama di kantin. Gadis itu menggandeng tangan Gala dan mereka makan dengan wajar, seperti pagi-pagi sebelumnya.
Sebenarnya Gala gelisah. Apa Gemma lihat benda itu, majalah dewasa yang selalu dibeli Niko setiap kali terbit edisi terbaru? Kalau iya, haduh… dia begitu ingin melepas wajahnya dan menaruhnya di dalam tas!
“Gem…” Gala memberanikan diri bertanya pada Gemma. “Kamu lihat ada buku lain nggak dalam tas aku? Kayak majalah gitu?
“Dalam tas kamu?”
“Nggak sih… aku kan tadi cuma ngambil buku catatan kamu aja. Nanti aku balikin habis kita makan…”
Gemma terlihat benar-benar tidak tahu menahu perihal tersebut. Ah... Mudah-mudahan saja Niko memang tidak menaruh benda itu dalam tasnya.
Lalu, yang dipikirkan Gala tiba-tiba datang dengan wajah cemas. Niko menatap Gala dengan seksama. “Lo baik-baik aja kan? Lo nggak dihukum kan?”
Gala menabok lengan Niko dengan kuat, perasaannya kesal bukan main. Dia menarik Niko menjauh dari Gemma dan memaki-makinya. “Setan, sialan lo! Hampir aja! Kalo Gemma ngeliat gimana? Jangan-jangan gue yang dianggap sangean! Lo sih, mesum banget jadi orang!”
Niko terkekeh malu. “Hehehe… Sorry bos... habisnya dapatin majalah itu susah banget!”
“Susah apaan, yang lo tiap minggu dapet! Gue nggak mau lagi ya dititipin ama lo! Hampir aja ketahuan tadi!”
“Eh, terus sekarang majalahnya mana?”
Gala mengendikkan bahunya. “Ilang!”
Mata Niko membulat sempurna. Perasaan terkejut dan takut langsung menyerbu dan membuat lututnya lemas. “Astaga Gala! Kok bisa ilang sih!”
“Ya mana gue tau! Pokoknya ini terakhir kalinya lo nitip-nitip. Gue ogah! Udah kelas 3, Man! Inget-inget, bentar lagi kuliah!”
“Iya… iya…” Niko kembali terkekeh pelan dan tak berani lagi menatap Gala.
Tiba-tiba pertemuan mereka diserobot oleh seseorang. “Bisa kita bicara, Nik?”
Erika? Ada apa nih? Gala memperhatikan Erika yang kini berdiri di depan Niko. Gadis itu membawa Niko menjauh dari Gala, menuju ke parkiran sepeda yang sepi dan tidak ada orang. Gala mengajak Gemma mengikuti kemana mereka pergi dan mengintip dari balik pohon Pinang Merah yang ada dekat parkiran tersebut.
"Gala ..." bisik Gemma. "Kamu nyadar nggak sih kalo Erika belakangan ini lain banget? Dia kayak nggak cantik lagi, kurus, kusut, kayak lagi ada masalah berat gitu ..."
"Ah iya juga," ujar Gala membenarkan. "Aku baru nyadar..."
"Ih kamu kok nggak peka kalo dari kemarin, Erika udah kayak gitu?"
"Ya mana aku sadar, Gem ... Kan yang aku lihat setiap hari tuh kamu... di mata aku ya cuma kamu..."
Gemma mencubut perut Gala sampai lelaki itu mengaduh. "Gombal!"
Lalu tatapan mereka kembali pada Erika dan Niko. Saat ini, siswi tersebut sedang berusaha bicara. Tapi belum sempat ada kata-kata yang keluar dari mulutnya, isak tangis sudah mendahuluinya.
“Hei… what’s wrong?” tanya Niko menatap Erika dengan lembut, dan perlahan mengusap wajah yang telah bersimbah air mata kesedihan. “Erika, kamu kenapa nangis?”
He? Aku dan kamu? Gala dan Gemma sampai saling berpandangan saat mereka menggunakan kata ganti yang lebih akrab itu. Tak pernah Gala melihat Niko mengganti sebutannya, kecuali dengan orang tua saja.
“Aku …” Erika menangis sesenggukan. Dia menyeka matanya yang merembes keluar dari kelopak matanya.
Niko sendiri menunggu dengan sabar. Berulang kalo dia mengelus kepala Erika dengan lembut dan mengelus punggung tangannya. Sampai akhirnya gadis itu mengucapkan satu kalimat yang meluluhlantakkan seluruh mental Niko.
“Aku… Aku hamil, Nik!”
...****************...
Hemmm.... Belajar anatomi.. 😏