
Hai Hai...
I'm sorry guys lama sekali tidak update, Ratna sekeluarga lagi sakit semingguan.
enjoy.
***
Erika baru saja kembali dari bicara dengan suaminya dan mendapati Viani yang tengah menatap nanar pada titik semu dengan mata berkaca-kaca. Di sana, dia tidak mendapati anaknya sama sekali.
“Vi?”
Panggilan itu membuat Viani mendongak, pada netra ibu mertuanya yang masih terbilang cantik di usia yang mendekati setengah abad.
“Vincent mana?”
Seketika, Erika tahu apa yang terjadi saat dia melihat Viani menggeleng lemah, lalu mengerang saat kontraksi itu datang lagi. Wanita itu segera menggenggam tangan menantunya dengan memberi satu elusan lembut. “Tarik napas, Vi … hembuskan. Pelan-pelan aja.”
Wanita hamil tersebut melakukan apa yang dikatakan ibu mertuanya sampai nyeri itu berlalu. Tak lama kemudian, Viani kembali mengerang sakit. Erika berinisiatif untuk mengecek bagian bawah tubuh Viani. Matanya melotot saat mulai melihat bahwa Viani mengalami pendarahan yang untungnya belum cukup banyak.
Baru saja Erika hampir panik memanggil bantuan, seorang perawat memanggilnya menuju nurse station. Mertua yang putus asa itu pun menyampaikan kondisi Viani dan menantunya langsung ditangani. Salah satu perawat mengajak Erika duduk dan meletakkan satu buah dokumen berisi berkas yang harus ditandatangani sebelum prosedur operasi. Namun saat hendak menandatangani persetujuan operasi itu, dia meragu karena dia bukanlah orang yang tepat untuk menjadi wali.
“Jadi bagaimana, Bu?” tanya perawat yang menyodorkan dokumen yang seharusnya ditandatangani oleh Vincent.
“Duh, Vincent ke mana sih?” geram Erika yang sudah tidak bisa menahan emosinya karena Vincent yang kabur entah kemana. Maksud Erika, ini bukanlah saat yang tepat untuk kabur dan terbawa emosi.
Namun di satu sisi, Erika paham kalau hal ini bukanlah hal yang dapat dengan mudah untuk dilakukan putranya. Ada nyawa yang berjuang antara hidup dan mati di sini, dan Erika tidak punya pilihan.
“Bisa tunggu sebentar, Mbak?”
Sang perawat mengangguk dan berkata bahwa Erika harus cepat kembali sebab prosedur ini harus segera dilakukan.
Erika melangkah menuju pintu keluar IGD dengan menghentak kaki, bersiap menjitak kepala anaknya yang tak tahu tempat untuk terbawa suasana. Ya jelas, ini bukanlah saat yang tepat untuk Vincent jadi seperti ini. Erika sudah naik pitam, mempersiapkan kedua telapak tangannya untuk menyadarkan anak Niko tersebut, jika saja dokter muda itu masih ngeyel dan terbawa emosinya sendiri.
“Ma.”
“Ayam!” Jantung Erika hampir copot saat Vincent tiba-tiba muncul seperti hantu, lalu memukul-mukul punggung anaknya dengan gemas. “Kamu ke mana aja sih! Dicariin dari tadi loh!”
“Sorry, Ma,” jawab Vincent seraya menatap dokumen tersebut. Dia pun duduk, tak membaca lagi apa yang tertulis di sana dan menandatanganinya dengan cepat.
Kendati rasanya lega, rupanya Vincent tak langsung mendatangi Viani. “Nitip Viani ya Ma,” ujar Vincent seraya berlalu dari IGD tanpa menunggu lagi.
"Kamu kemana lagi sih?" ringis Erika pada putranya. Lalu matanya bertemu dengan mata Viani yang terlihat semakin sendu.
Di saat itulah Erika tahu bahwa Vincent sedang mengalami tekanan emosional yang membuatnya tak ingin menghadapi Viani. Terlihat jelas dari mata mereka berdua yang menyiratkan sendu.
***
Viani saat ini sedang dibawa ke ruang bersalin, bukan untuk melahirkan spontan, tetapi lebih kepada persiapan.
"160 per 100," kata sang perawat pada perawat lainnya yang menuliskan sesuatu di atas kertas.
Seorang gadis yang mirip dengan suaminya meringis mendengar angka tersebut. Adalah Elvina yang sudah berada di sini untuk memberi dukungan pada kakak iparnya. Di sampingnya ada juga Erika yang sedang bicara di telepon dengan Gemma dan juga Gala.
Tubuh Viani sudah terlepas dari baju yang dikenakannya tadi, digantikan dengan baju operasi berwarna hijau. Dia sudah terbaring pasrah di atas brankar dengan rambut yang sudah ditutup nurse cap. Dirinya juga sudah dipasangkan oksigen.
"Ce Viani mau minum?" tanya Elvina hendak menyodorkan botol, tetapi urung karena dia baru ingat sesuatu. "Eh iya, Cece kan mau operasi."
Hanya senyum tipis yang diberikan Viani pada Elvina. Adik iparnya menggenggam tangan Viani erat. "Maafin Koko ya, Ce. Dia hanya nggak tega lihat Cece kayak gini. Cece harus kuat ya? Kami selalu do'ain biar operasinya lancar, ponakan aku sehat dan Cece selamat."
"Gemma kamu mau bicara," ujar Erika memotong sebelum Viani menjawab Elvina.
Tangan Viani terjulur untuk menerima ponsel itu, dan mendekatkannya pada telinganya. "Halo? Hm. Iya Ma, Pa. Enggak tau, tadi sempat ketemu Papa Niko sebentar. Iya, Ma. Nggak usah buru-buru. I'll be okay."
Jari Viani mengusap tombol merah untuk mematikan teleponnya. Kabarnya, Gala dan Gemma sedang boarding di jet pribadi mereka untuk segera kembali ke Jakarta.
Dua orang perawat bersiap menarik brankar menuju lantai 4 pada ruang operasi. Elvina dan Erika serentak mundur. Mereka pun mengikuti brankar yang membawa Viani pada sebuah prosedur medis yang harus dia jalani.
Kali ini, brankar itu sudah tiba di depan pintu baja besar dengan lampu merah menyala di atasnya.
"Sebentar ya Bu," ujar para perawat sambil bekerja sama membukakan pintu baja itu dan mendorong masuk brankar. Mereka pun meminta Erika dan Elvina menunggu di ruang tunggu.
Lalu ketika pintu itu ditutup, seketika Viani jadi merasa sendirian. Bola matanya mengarah ke sana dan kemari seakan mencari pijakan untuk bersandar, tetapi dia tidak menemukannya.
Sudut matanya mulai mengembun saat mendapati ruang hampa ini. Kedua perawat tadi tengah bersiap seraya mengganti seragam mereka, di mana salah satunya sedang mempersiapkan kateter dan beberapa perlengkapan lainnya.
Kini dia jadi sangat merindukan sang suami. Perlahan dia mengusap perutnya, di mana dia merasakan sedikit kontraksi kala perutnya menegang. Tak ada pilihan lain, dia pun hanya bisa menyemangati diri sendiri dan sang bayi.
"Semangat Baby V, kamu pasti akan keluar dengan selamat dan sehat. Mama akan berjuang semampu yang Mama bisa," ucapnya menahan sesak dalam dada.
Ada sedikit rasa getir di kata-kata tersebut. Baby V pasti merasa ada yang kurang, sang ayah pergi entah kemana. Air mata itu menetes di pipi Viani dan tubuhnya mulai bergetar. Dengan punggung tangannya, dia mencoba menutup kedua matanya agar tidak dilihat oleh orang lain, meski tangannya gagal menghalangi air yang masih mengalir dari pelupuk matanya.
Isakan kecil pun menghiasi ruangan yang berada persis di sebelah ruang operasi tersebut. Viani larut dalam sedih, tak bisa membayangkan pergi seorang diri menuju medan perang sesungguhnya tanpa ada dukungan suami hingga tanpa sadar, tubuhnya gemetar.
Pasrah saja Viani saat dua tangan menjamah tubuhnya, mengelus perut dan keningnya. Mungkin itu adalah tangan kedua perawat wanita yang mengantarnya ke sini tadi. Mereka pasti iba melihat Viani yang terus menangis.
"Sayang ..."
Langsung saja Viani berhenti menangis dan melepaskan tangannya dari matanya yang kini membulat. Tepat di hadapannya, Vincent sudah berdiri menemani. Diraihnga tangan Viani dan dikecupnya pergelangan tangan itu dalam-dalam.
Dari mata Vincent yang terluka, Viani akhirnya tahu betapa hancurnya mental Vincent saat tahu Viani harus menjalani prosedur ini. Bukan hanya operasi yang ditakutkan Vincent sebenarnya, tetapi juga pada apa yang terjadi setelah operasi. Kapan saja, komplikasi yang dialami Viani bisa jadi sangat serius dan mengancam nyawa.
"Akhirnya kamu datang," kata Viani dalam lirih dengan mata yang sendu.
"Kamu ... marah?" tanya Vincent dengan kernyitan di dahinya.
Dengan senyum tipis, Viani menggeleng. "Bagaimana bisa aku marah sama Papanya anak aku?"
Awalnya Vincent tersenyum, namun lama kelamaan senyum itu menghilang saat pandangannya mengingat status Viani dan betapa tubuh cantik itu bukan lagi gemuk dan chubby. Tubuh itu sudah membengkak tak wajar karena penumpukan cairan yang diakibatkan komplikasi pada kehamilannya.
"Aku..." Mata Vincent mulai berair dan dirinya terisak. "Aku ... beneran takut banget kehilangan kamu," kata Vincent dengan suara bergetar, kepalanya pun rebah di sisi brankar yang kosong sambil sesekali terdengar erangan menyedihkan.
Kelopak mata Viani mengerjap. Ungkapan putus asa itu membuat dirinya refleks menyentuh rambut Vincent dan mengusapnya dengan lembut. "Aku pun takut, Vin. Tapi aku akan lebih takut lagi kalau aku hadapi ini sendirian."
Apa ini yang Viani rasa? Istrinya merasa sendirian menghadapinya? Akhirnya Vincent mengerti bahwa sikapnya tadi sangat kekanak-kanakan dan malah justru memperkeruh perasaan Viani. "Kamu nggak sendirian, Vi!" ucap Vincent dengan tak terima. "Maafkan aku, sudah bikin kamu merasa sendiri. Aku terlalu fokus sama perasaan aku dan melupakan kamu."
Giliran Viani yang meneteskan air mata, "Aku kira kamu tinggalkan aku."
Kedua tangan kokoh yang berasal dari pria bermata sipit itu kemudian melingkar di tubuh Viani, memeluk sang istri dengan rasa sayang yang meluap-luap. "Mana bisa aku tinggalkan kamu, Sayang."
"Sayang aku nggak?"
"Tentu. Kamu kuat dan kamu pasti bisa! Aku nggak akan putus-putusnya do'ain kamu dan anak kita."
Mata Viani kembali membanjir, pelukan mereka semakin erat dengan tubuh yang sama-sama gemetaran seakan tidak rela melepas satu sama lain.
"Kumohon, kamu harus kuat, demi anak kita, Sayang," bisik Vincent pada telinga istrinya.
Tak sampai satu menit kemudian, pelukan mereka terurai kala sebuah suara akhirnya mengalihkan perhatian mereka.
"Bu Viani?"
"Ya?"
"Sudah saatnya."
Tanpa membuang waktu, Vincent menunduk dan mencium kening sang istri lembut dan lama, seakan ini adalah ciuman terakhir untuk istrinya. Ciuman itu mengantarkan Viani masuk ke ruang operasi tanpa ada Vincent di sampingnya.
***