Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
S2 Bab 22 – Alvin dan Viani


Vincent sudah memikirkan banyak hal yang dia akan lakukan bersama Viani. Dia ingin menebus 10 tahun itu, saat dia membiarkan gadis itu hidup dalam kebingungan akan hubungan mereka yang telah lalu. Bahkan dia memikirkan hal yang begitu jauh, yaitu menikah. Vincent juga sudah nekat memberitahu niatnya.


Tak ada gunanya lama-lama dalam status pacaran. Dia akan berusaha memberi Viani pernikahan yang bagus agar layak di hadapan Gala.


Dia pun semakin senang kala dia sudah berhasil menghubungi Indra dan mendatanginya langsung. Dengan Indra, semuanya jadi lebih mudah, karena pria itu berkata apapun yang dapat membuat Viani bahagia, dia pasti akan setuju.


Vincent mengambil tasnya, dan mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna hitam. Dia membukanya lalu muncullah sebuah cincin solitaire dengan berlian yang dipotong round brilliant. Benda itu diam-diam dia beli bersama Erika satu hari sebelumnya. Rasanya dia sungguh tak sabar.


Tapi saat ini, he will take it slow sambil menunggu kedatangan Gala. Sebentar lagi, dia akan melamar Viani dengan benar. Dan jika Gala tidak setuju, dia akan tetap nekat mengajak Viani menikah, tak peduli Gala setuju atau tidak.


“Dok. Saya pulang ya,” ujar Lana yang telah bersiap dengan sling bag yang sudah tergantung di bahunya. “Oh ya, di depan ada Kak Jenny.”


“Jenny?” Vincent mengerutkan kening.


Tanpa melepas snellinya, Vincent berjalan keluar, menutup pintu ruangannya dan mendapati Jenny berdiri di sana dengan ekspresi rumit.


“Vin!” Tanpa peduli pada Lana yang masih berdiri di dekat mereka, Jenny berulah. Dia berdiri, memandang Vincent dengan wajah kecewa mendalam. “Kita baru putus dan kamu udah jalan sama cewek lain? Kamu tega banget! Nggak punya perasaan!”


Vincent memasukkan tangannya dalam saku celananya. “Pulanglah, Jen. Di antara kita udah nggak ada apa-apa lagi.”


“Apa jangan-jangan kamu selingkuh ya, sama tuh cewek?”


“Aku nggak pernah selingkuh. Aku balik ke mantan aku karena emang masih ada rasa."


Mulut Jenny terkatup, wajahnya pias dengan ekspresi kekecewaan yang begitu dalam.


“Kamu—“ Dia tahu kalau dirinya telah dicampakkan, dan Vincent benar-benar sudah tak punya rasa apa pun padanya.


Jenny tiba-tiba memucat, lalu wanita itu pingsan tepar saat Vincent menangkapnya.


“Lan, buka pintunya!” Lana melakukan apa yang disuruh dan segera mengikuti Vincent.


Lelaki itu langsung menggendong Jenny dan merebahkannya di atas bed pasien. Dia melakukan apa yang dia bisa pada Jenny mengingat gadis itu memang punya tekanan darah rendah.


Tapi belum sempat Vincent melonggarkan kerah kemeja Jenny, gadis itu tiba-tiba membuka mata lalu menarik wajahnya dan berusaha mencium Vincent. Untung saja tidak terjadi karena lelaki itu dengan sigap mundur dua langkah.


Lana malu melihat kejadian itu lalu dia keluar, sementara Jenny berusaha duduk dan bangkit berdiri berhadapan dengan Vincent.


“Itu namanya eksploitasi penyakit, Jen,” Vincent geleng-geleng kepala dengan kelakuan sang mantan yang pura-pura pingsan.


“Aku nggak peduli kalau aku sakit terus-terusan, selama aku bisa dekat-dekat dengan kamu.”


“Kita udah putus,” Vincent melepas snellinya dan menggantungnya dengan membelakangi Jenny.


Jenny tak melewatkan hal itu dan berhasil memeluk Vincent dari belakang. “Aku nggak bisa, Vin … tanpa kamu sepi rasanya.”


Vincent membalik diri, bermaksud melepas lengan Jenny dari tubuhnya, tetapi yang terjadi adalah malah Viani muncul di depan pintu.


Gadis yang sebenarnya tampak sedikit kusut hari itu termangu pada pemandangan dalam ruangan Vincent, saat Vincent yang baru hendak melepas Jenny tetapi malah terlihat seperti orang berpelukan.


“Viani …” gumamnya hendak mengejar kekasihnya yang sudah berbalik pergi, tetapi ditahan oleh Jenny.


“Buat apa kamu ngejar dia? Hubungan kalian baru aja mulai, kan? Nggak masalah kalau kalian putus sekarang.”


“Nggak masalah apanya, Jen?! Dia itu bukan pacar lagi, tapi udah jadi calon istri!”


Vincent tak punya banyak waktu pada Jenny berdiri dengan wajah syok dan mulut menganga.


Ketika Vincent sampai di parkiran itu, dia terlambat karena Viani sudah lebih dulu pergi.


...***...


Viani pulang ke apartemen dengan membawa beban yang cukup banyak. Dimulai dari masalah approval di kantor, hingga mantan pacar Vincent yang tiba-tiba datang.


Sebenarnya, sebelah hati Viani tahu dari gelagatnya kalau Jenny sebenarnya ingin kembali. Dan kemungkinan besar, Vincent sudah menolaknya. Kalau Vincent menerima gadis itu, dari awal Jenny tak perlu melakukan sandiwara memalukan dengan pura-pura pingsan, kan?


Namun satu yang Viani tidak bisa antisipasi: rasa cemburu.


Dari punggung hingga tengkuknya terasa panas saat melihat Jenny berani-beraninya melakukan kontak fisik dengan Vincent. Tak ada yang lebih memuakkan dari perasaan cemburu yang merusak mood Viani hari ini dengan begitu sempurna.


Dia perlu pengalihan dari semua masalah yang dia hadapi hari ini.


Maka, beberapa jam kemudian, di sinilah dia berada, di klub yang di mana dia pertama kali bertemu dengan Vincent. Entah apa yang membawa kakinya ke sini, dia juga bingung sendiri. Seperti biasa, dia hanya mengenakan kaos oblong, jins panjang dan sneakers.


Beberapa pria mencoba bicara padanya, tapi tidak ada satu pun yang berhasil. Termasuk seorang teman Alvin bernama Marsel, yang tadi sudah duduk di sebelah Viani dan hampir berhasil mengobrol santai dengan gadis itu. Tapi obrolan itu berakhir dengan usiran kasar dari si gadis, saat Marsel terang-terangan ingin mengajaknya ONS.


Marsel pun menjauh dan menatapnya dari jarak dekat. Meski marah, namun lelaki itu tak bisa apa-apa, terutama saat ada satu sosok lain yang muncul tak lama kemudian.


“Vaini. Lo sendirian?”


“Ya gitu deh,” jawab Viani ketika sebuah mocktail mendarat di depannya setelah pesanannya dari bartender tadi selesai. Dia tidak terlalu menghiraukan Alvin, tetapi lelaki itu tetap duduk di sampingnya, pada stool yang tidak ditempati orang.


“Lo lagi banyak pikiran ya?” katanya setelah memesan segelas bir pada bartender.


“Begitulah …” kata Viani seraya mengambil botol air mineralnya yang dia letakkan tadi di atas meja counter. Gadis itu memilih meminum air mineral alih-alih mocktail yang sudah tersedia di depannya, dan meletakkan kembali botol minum itu di sebelah gelas mocktail.


“Vi ... gue mau minta maaf soal tempo hari.”


...***...


“Makasih, Bang … ”


Vincent menutup panggilan itu dan meletakkan ponselnya pada kursi penumpang di sebelahnya. Setelah menghilang selama 4 jam, akhirnya Viani ditemukannya berada di sebuah klub yang tempo hari pernah dia datangi bersama Tian saat mereka berdua sama-sama galau.


Vincent tak habis pikir, untuk apa dia pergi ke sana seorang diri? Tapi Rinto tadi mengatakan kalau Viani sempat begitu frustrasi saat pulang kantor. Mungkin dia masih dilanda masalah yang tadi. Ah, Vincent semakin merasa bersalah, karena kemungkinan besar masalah Viani jadi bertambah pelik.


Lelaki itu menekan pedal gas lebih dalam dan memacu mobilnya untuk melaju lebih cepat.


Sesampainya di klub, dia melewati dua orang pria yang berkumpul dekat pintu masuk. Mereka sedang menatap ke satu titik di meja bar dengan nada suara yang agak nyaring, mengimbangi hingar bingar musik yang tak kalah kerasnya.


“Tenang aja, Marsel ... Paling bentar lagi Viani teler tuh! Kita tungguin aja, siapa tau Alvin mau bagi-bagi!”


Mendengar dua nama yang dikenalnya itu disebutkan, spontan membuat langkah Vincent terhenti. Dia berbalik dan menatap kedua pria yang tak sadar dengan kehadirannya itu.


“Lo bilang apa tadi? Viani teler?”


Kedua pria itu sontak memucat begitu merasakan aura Vincent yang menggelap. Bukan hanya pada pembicaraan mereka yang didengar orang yang kenal Viani, tapi juga terutama pada sosok Vincent yang jauh lebih tinggi dari mereka, membuat mereka tak berani nyolot atau melawan.


Vincent yang sudah punya firasat buruk itu masuk ke dalam dan mendapati Viani tengah menenggak habis isi gelas yang tadinya berisikan mocktail. Sementara lelaki di sebelahnya tengah memasukkan sebuah botol kecil berwarna biru ke dalam saku celananya. Oh My God! Jangan-jangan …


Vincent mendatangi mereka mengangkat kerah pria itu sehingga lelaki itu mau tak mau ikut berdiri.


“Hei! Apa-apaan—“


Bugh! Pria itu terjatuh saat tonjokan Vincent mendarat pada tulang pipinya.


“Lo sentuh cewek gue sekali lagi, lo mati!” teriak Vincent sambil menunjuk wajah Alvin dengan emosi meninggi dan hampir gelap mata.


“Vincent!” pekik Viani. “Jangan pukul Alvin—“


Tidak ada lagi kelembutan di wajah Vincent. “Diem kamu, Vi! Kamu boleh kemana aja pas lagi pusing, tapi seharusnya nggak ke sini!” bentaknya sebelum menarik gadis itu pergi dari tempat tersebut.


Meski Viani dilanda rasa tidak nyaman, dia hanya bisa mengikuti langkah Vincent dari belakang. Dia terlalu takut karena tak pernah melihat Vincent semurka ini. Lalu saat dia teringat rasa marahnya dengan Vincent, gadis itu merengek untuk dilepaskan. “Vin, lepasin! Aku masih marah sama kamu!”


Tapi Vincent terus membawanya berjalan keluar dari gedung tanpa peduli pada penolakan Viani. Wajahnya mengeras dan kaku, tidak ada semburat ramah atau senyum yang menghiasi wajah tampannya seperti biasa.


Mendadak langkah mereka terhenti saat Alvin datang mengejar. “Vi, lo nggak pa-pa? Dia ngasarin elo kah—“


Vincent mencegatnya saat Alvin hendak mencapai Viani. “Berhenti di sana! Lo jangan sentuh cewek gue!”


“Hah?” Terkejut, Alvin cukup terkejut karena Viani sudah menemukan pria secepat itu. “Vi, ini cowok elo—“


“Jangan ngomong sama dia!” larang Vincent yang tetap menarik tangan Viani menjauh.


Alvin tak terima karena dari tadi omongannya selalu dipotong. “Lo ini kenapa sih? Gue ke sini mau lihat keadaan Viani!”


“Vin, Alvin itu cuma temenin aku mi—“


“Nggak usah sok-sokan peduli sama cewek gue! Gue udah tau gimana niat busuk elo!” bentak Vincent. Dia menoleh pada Viani. “Sekarang, kamu masuk ke mobil aku, Vi!”


Kendati Viani menatap Vincent dengan tajam, gadis itu tetap masuk dalam mobil Vincent yang pintunya sudah dibuka dengan smart key.


“Gue nggak bakal diem aja waktu ngelihat cewek gue mau kalian garap kayak gini!”


“Garap?” Alvin mengernyit tak mengerti. “Kalian itu siapa??”


“Masih ngelak ya! Botol di saku elo adalah bukti yang cukup! Ini terakhir kalinya gue lihat elo dan temen-temen elo deketin cewek gue!”


Alvin menggeleng pada tuduhan itu. "Gue nggak punya niat jahat sama Viani, Bro!"


Vincent menatap skeptis pada wajah tengil itu.


“Jangan pura-pura bego! Kalo sampe Viani kenapa-napa, lo semua siap-siap!”


...****************...