
Sekembalinya dari toilet, Gemma terlihat tenang dan santai. Mereka lalu berpencar, mengelilingi COEX tersebut sepuas-puasnya.
Apalagi Viani yang setelah makan, dia seumpama mainan crush gear yang dayanya terisi penuh, siap untuk menabrakkan diri ke toko mana yang dia mau. Dia pergi ke gift shop dan membeli banyak merchandise yang berbau Korea dan SM idols.
“Om, beliin!”
Seakan barang belanjaannya belum cukup, Viani menunjuk sepasang sneakers di pajangan gerai Andersson Bell, merk fashion asli negeri ginseng. Viani pasti ingin sekali beli salah satu dari ini karena Jungkook dari grup boyband BTS pun pernah tertangkap kamera mengenakan sneakers dari label ini.
“Vi, udah loh! Ini udah kebanyakan!"
“Nggak pa-pa, she’s the boss!” ujar Gala sambil mengacak rambut anak sambungnya itu.
Kendati Gala masih marah pada Gemma, pria itu tak bisa menahan diri untuk tidak menggenggam tangan Gemma lebih lama lagi. Digandengnya istrinya itu dengan begitu posesif.
Pasalnya, ada seorang pria yang mencoba mengobrol dengannya saat mereka mengantre untuk membeli cake di Billy Angel Cake Company. Tentu saja Gemma tak melewatkan kesempatan berinteraksi dengan penduduk lokal di sini.
“Nggak usah ngobrol sama orang asing!” Gala mengeratkan genggamannya.
“Cuma ngobrol bentar kok, dia lagi nyobain ngobrol pake bahasa Inggris. Katanya sih dia baru ambil kursus bahasa Inggris gitu. Lagian, sepi tauk, nggak ada yang ajak ngobrol.”
Gala meremas tangan Gemma lebih kencang, “Ngobrolnya sama aku aja!”
“Kamu kan lagi marah sama aku.”
Istrinya ini sengaja kah? Gala melirik pada istrinya yang sedang nyengir. Harusnya dia masih marah karena persoalan kemarin. Harusnya! Tapi ya sudahlah, Gala akhirnya mengalah duluan dengan meruntuhkan ego yang dari tadi dia bentangkan. Dari pada sang istri diajak ngobrol pria lain, kan?
Mona dan anak-anak kembali ke hotel untuk istirahat. Sedangkan sisanya langsung ngacir ke Taman Yeouido Hangang. Menikmati indahnya bunga sakura yang bermekaran dengan bersepeda bersama-sama sampai Gala benar-benar melupakan rasa marahnya.
Dia pun banyak mengabadikan foto bersama Gemma dan Viani, dan tentunya foto berduaan dengan Gemma. Mereka pulang sebentar untuk membersihkan diri dan berganti pakaian, lalu melanjutkan pergi ke 63 Building untuk melihat galeri seni, yang dilanjutkan dengan makan malam bersama dengan personel lengkap.
Hari itu, Viani benar-benar puas. Mereka yang mengikuti juga sama-sama menikmati betapa indahnya ibu kota Korea Selatan tersebut.
“Makasih, Om,” ujar Viani sambil memeluk Gala dengan manja. Awalnya Viani sudah agak takut pada Gala. Pada kemungkinan pria itu hanya akan mengajak Gemma saja untuk berbulan madu dan melupakan dirinya.
Tapi nyatanya, di sinilah dia sekarang. Pria itu bahkan lebih memperhatikan dirinya daripada sang ibu. Ya iyalah, Gala kan sedang marah tadinya pada sang ibu!
Pulang dari sana, Gemma meminta izin pada Gala untuk ke kamar Viani dan bercengkrama sebentar dengannya. Di jam segini, Viani masih dengan antusias menunjukkan pada Gemma sepatu yang dibelikan Gala untuknya.
“Besok-besok, jangan kebanyakan beli, nggak enak sama Om Gala, Vi!"
“Om Gala bolehin kok Ma. Kan Om Gala itu Papa sambung Viani. Udah kewajibannya penuhin kebutuhan dan semua yang Viani pengen. Masa Viani nggak memanfaatkan keadaan. Kalo nggak begitu, Mama rugi dong nikahin Om?”
"Ih, Mama nggak nikah sama Om karena harta loh! Jangan keseringan begini, entar kita dibilang mata duitan!"
"Bukan mata duitan, Ma! Hanya re-a-lis-tis... Mama pede aja lagi, kan Om Gala suami Mama, ya wajar dong kalo Om juga belikan apa-apa buat Mama. Mama sih selalu nolak kalo mau dibeliin."
Kadang ceplas-ceplosnya abege satu ini bikin Gemma urut dada. Namun, apa yang dikatakan Viani semuanya adalah kebenaran. Kini mereka sudah sah jadi suami istri, kenapa harus gengsi untuk minta dibelikan apa-apa? Anak kecil seperti Viani saja tidak mau rugi.
“Kamu lihat aja malam ini.”
Gemma mendadak teringat interaksinya dan ucapannya pada Leticia tadi. Hal itu belum sempat diceritakannya pada Gala.
Ancaman bernada serius yang dilontarkan Leticia terkesan memang tidak main-main. Pikiran Gemma pun beradu pada pintu suite yang tertutup itu. Menebak-nebak apakah wanita itu akan benar-benar nekat seperti yang dikatakannya malam ini?
Tapi cinta memang membuat semua orang nekat kan?
Sejurus kemudian, dia mendengar ribut-ribut. Mona yang dari dalam tiba-tiba saja keluar dengan terburu-buru dan menutup pintu suite rapat-rapat. Sementara Rachel dan Viani masih sibuk dengan barang yang mereka beli, tidak peduli dengan apa yang terjadi di luar.
Gemma turun, dibukanya pintu suite itu untuk melihat apa yang terjadi di luar. Mata Gemma terbeliak saat melihat satu sosok yang dia kenal dibawa paksa oleh 2 pria bertubuh besar-besar—yang Gemma asumsikan sebagai pihak keamanan hotel—diikuti oleh Gala di belakangnya yang mengekor dengan tangan bersedekap di depan dada.
“Leticia kok bisa sampe sini sih?” tanya Mona yang menatap adiknya minta penjelasan. “Lo nggak berbuat macem-macem sama dia kan? Awas lo ya!!”
Gala menatap Mona sengit. “Emangnya buat apa aku panggil satpam kemari buat nyeret nih cewek? Dia tiba-tiba nyelonong masuk waktu aku buka pintu. Ya, aku kagetlah. Kuusir dan kusuruh pulang, dia nggak mau. Ya udah, aku telepon pihak keamanan aja.”
“Kak, kalo kita mau ngapa-ngapain, waktunya harusnya lebih dari ini dong. Kita aja baru banget nyampe. Cek ajalah CCTV kalo nggak percaya!”
...***...
Sepuluh menit berlalu, Gemma akhirnya kembali ke kamar saat memastikan Mona sudah ada di sini bersama anak-anak. Begitu dia masuk suite-nya dan Gala, dia langsung menyambar kamar mandi untuk membersihkan wajahnya, lalu memakai pakaian tidur miliknya.
Dalam hati, dia harus meluruskan semua yang terjadi mulai malam tadi hingga sekarang. Melihat Gala terus-terusan ngambek padanya, jujur saja membuatnya jadi merasa sangat kesepian di tengah keramaian ini.
Dilihatnya Gala sedang duduk di balkon sambil menikmati angin musim semi yang semilir lembut. Di tangannya ada sekaleng bir yang menemani sunyi.
“Gala?”
Pria itu menoleh, “Hai.”
“Tadi itu Leticia ya?”
Mata pria itu melebar karena tak menyangka kalau Gemma juga melihat kemunculan Leticia di hotel ini.
“Nggak usah kaget. Aku udah ngelihat dia waktu kita di COEX tadi.”
"Kenapa baru cerita? Dia ngomong apa sama kamu?”
“Banyak hal. Kamu nggak perlu kuatir. Aku sama sekali nggak terpengaruh. Kita emang ada debat sebentar. Mungkin karena dia ngerasa kalah, makanya nekat kemari.”
“Aku nggak tau gimana dia bisa temuin kita di sini,” tukas Gala. "Tapi dia emang suka gitu. Tiba-tiba muncul."
Hening pun tercipta lagi di antara keduanya. Gemma tahu kalau mereka tak boleh lama-lama seperti ini. Dia pun duduk di sebelah Gala, membuka kaleng bir di depannya yang masih tersegel dan meminumnya.
Gemma menarik satu napas pendek dan meluncurkan sebuah kalimat, “Maafin aku sama kejadian kemarin…”
Pernyataan maaf itu membuat Gala sekali lagi menoleh padanya.
“Aku emang ngerasa kalau rasa insecure aku ini udah berlebihan. You know, kamu itu kayak a dream come true. Saking cintanya aku ke kamu, aku sampe nggak berani ngebayangin apa-apa. Terlalu takut kehilangan kamu dan terlalu takut buat bayangin masa depan.
Aku jadi merasa tiba-tiba nggak sepadan sama kamu. Aku nggak ngerasa cukup baik.
Gimana kalo nanti aku nggak sesuai sama ekspektasi kamu? Giamana kalau nanti aku dihadapkan lagi sama yang namanya orang ketiga dan ditinggalin? Itu sebabnya kenapa aku nggak mau kita melangkah lebih jauh sebelum nikah. Kalau kamu tiba-tiba niggalin aku, aku bisa apa? Aku udah banyak kehilangan dan kalau sampai aku kehilangan kamu, aku bisa hancur bang—“
Gala tiba-tiba berpindah menuju sofa yang Gemma duduki. Kedua bibir Gemma yang tadi terbuka untuk menyambung kalimat langsung dibungkam oleh sepasang benda kenyal milik Gala sendiri.
Dikecupnya bibir yang sedari tadi memuntahkan kata-kata rendah diri yang membuat telinga Gala panas. Tangannya terjulur untuk menarik tengkuk Gemma dan merapatkan tubuh istrinya pada tubuhnya.
Hari ini serasa jadi salah satu hari terlama sepanjang hidupnya karena tak banyak bicara pada sang istri selama beberapa jam. Dan itu sangat membuatnya tersiksa.
“Aku nggak suka kamu insecure terus sama aku, Gem. Nggak ada yang perlu kamu takutin selama kamu sama aku. Keluargaku bukan keluarga Indra yang suka nuntut macam-macam, dan aku bukanlah Indra.
Kalo seandainya kita belum punya anak, Thats okay with me. Kita bisa perbaiki apa yang salah di kamu atau di aku. Aku bukan cowok yang hanya kepingin punya anak karena mau tunjukin eksistensi aku sebagai pria. Kita bahagia dengan cara kita sendiri aja, Gem. Nggak usah pake standar orang lain!"
Gemma mengangguk dan menunduk, “Jujur aja, aku takut ditinggalin sama kamu.”
“Aku nggak ada rencana buat tinggalin kamu. Berhentilah rendah diri, Gem, dan nggak usah overthinking. Kita juga baru aja menikah, nggak usah buru-buru mikir anak. Lagipula, kalo kita belum dikasih, berarti kita disuruh berduaan dulu buat ngebayar 15 tahun yang telah lewat. Paham?"
Mata Gemma berbinar mendengar hal itu. Hatinya yang tadinya sesak, sekarang terasa lebih lega dan plong. Satu kekuatirannya terhadap Gala terlepas semua.
"Sekarang, kita fokus aja pada bagian produksi. Kita pastikan bahwa nggak ada satu proses pun yang terlewatkan."
Mendengar kalimat suaminya, Gemma langsung merinding.
...****************...