
Introducing
Amanda Seyfried as Gemma Aruna Fransius
Gemma tak bisa tidur hingga pagi setelah membaca pesan dari wanita yang bernama Rita. Siapa dia? Sejauh mana hubungannya dengan suaminya itu? Pesan ini jelas-jelas menandakan kalau dia sudah selingkuh.
Gemma memang terkadang ketakutan terhadap hal itu. Sebab kini, dia memang tidak semenarik, semuda, dan seindah dulu. Sepanjang subuh, wanita itu sudah amat banyak berpikir.
Kenapa Indra bisa melakukan pengkhianatan seperti ini saat dirinya mati-matian berjuang untuk tetap setia pada jalur yang sudah dirancang oleh suaminya sendiri? Dia sudah menuruti semua keinginan Indra, tapi sekarang apa yang dia dapat?
Pikirannya melayang pada kapan terakhir kali Indra menciumnya atau menyentuh dirinya. Itu sudah lama sekali.
“Sayang?”
Panggilan itu membuat Gemma menoleh ke belakang. Dia tak sadar kalau waktu sudah menunjukkan pukul 4 lewat 35 menit. Setengah jam lagi, Viani pasti bangun dan bersiap-siap untuk ikut Indra yang akan bekerja, sekaligus menurunkannya di depan gerbang sekolahnya.
Buru-buru, Gemma berdiri dan pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Otaknya sudah amat buntu karena terus terisi berbagai pertanyaan yang dia bingung kapan akan mengutarakannya pada sang suami. Dia membuka kulkas, melihat apa saja yang bisa dimasaknya untuk seisi rumah pagi ini.
Pilihannya jatuh pada potongan Ayam Karage beku dalam kemasan yang tinggal setengah. Dia mengeluarkan makanan itu. Bermaksud meletakkannya pada kitchen island, bungkusan ayam beku itu malah terjatuh dan menghentak permukaan counter dengan keras.
Hal itu tak terhindarkan karena tangannya yang terus gemetaran, menahan kecewa, sedih dan amarah yang bercampur jadi satu menghancurkan mood-nya pagi ini secara membabi buta.
“Apa sih yang jatuh itu?” tanya Indra yang kini sudah selesai mencuci wajahnya dan menghampiri sang istri.
“Minggir,” ucap Gemma yang menghindari tatapan Indra.
Wanita itu mengambil berbagai peralatan masak yang dia letakkan secara asal-asalan hingga menimbulkan bunyi-bunyi yang tidak sedap untuk didengar. Sambil menahan air matanya, dia menghidupkan kompor, meletakkan wajan dengan kasar lalu menuangkan minyak goreng di dalamnya.
“Kenapa? Ada yang salah? Kamu nggak biasanya kayak gini.”
Tak tahan lagi, Gemma mengangkat kepalanya dan bertanya dengan lantang. "Kamu baru tanya apa yang salah? Kenapa kamu nggak tanya Rita aja sekalian?!”
Tubuh Indra langsung berdiri kaku di belakang istrinya. Lidahnya mendadak kelu dan matanya terbeliak saat mendengar nama itu disebut oleh sang istri.
“Sudah berapa lama?”
“Gem…”
“Jawab jujur! Udah berapa lama?!” Wanita itu menggeram dengan kemarahan yang memuncak.
Wajah Indra berubah pias, mulutnya membuka tetapi tak ada satupun kata-kata yang keluar dari sana.
“Jawab.”
Indra menunduk, tak berani menatap sang istri yang menatapnya dengan tatapan marah yang bercampur dengan kesedihan.
“Sebulan.”
Suara dengkusan kasar dari mulut Gemma terdengar seiring dengan air mata yang mulai menetes perlahan.
Indra menangkup wajah Gemma dengan penuh kelembutan. “Maafin aku, maafkan aku! Aku menyesal sekali …”
Sambil menghapus cairan di wajahnya dengan punggung tangannya, Gemma kembali bertanya. “Waktu kamu selingkuh sama dia, apa kamu mikirin perasaan aku?”
“A-aku …”
“Nggak, kan? Apa karena ini, kamu nggak mau sentuh aku lagi selama setahunan ini?”
“Gem … Sumpah, aku sama Rita baru sebulan ini …”
“Lalu yang dulu-dulu dengan siapa?” jangan salahkan Gemma yang sudah menuduh tidak-tidak mengingat Indra itu punya gairah yang stabil.
“Nggak ada, Sayang!”
“Aku udah sering ajak kamu. Tapi kamu selalu menolak. Apa karena ini?”
“Bukan, Sayang… kamu tahu setahun belakangan, aku udah jadi GM, udah banyak sibuknya. Gajiku naik, berikut sama waktuku yang nggak bersisa.”
“Itu cuma alasan kamu aja!”
“Gem! Aku megang area Jawa! Kamu bayangin aja sibuknya kayak gimana? Aku sampai harus punya dua asisten! Dan aku sering bepergian keluar kota. Itu semua demi keluarga kita!”
“Apa itu kamu jadikan pembenaran atas perselingkuhan kamu? Bilang sama aku, siapa Rita?!”
“Dia bukan siapa-siapa, dia orang lain! Aku nggak ada rasa sama dia!”
"Punya rasa atau nggak, kamu itu udah selingkuh!"
"Gem... aku bener-bener minta maaf. Aku benar-benar nggak sengaja."
"Sebulan itu bukan nggak sengaja lagi namanya...” bisik Gemma dengan napas memburu dan dada kembang kempis. Maksud hati masih ingin mencecar Indra dengan berbagai pertanyaan lagi, tetapi semua terusik saat Viani muncul.
“Pagi-pagi ribut apa sih, Pa, Ma?” katanya sambil menggosok matanya yang masih mengantuk.
Tanpa menunda, Indra mengatur ekspresinya. Begitu juga dengan Gemma yang berbalik badan untuk menghapus tetesan air mata dengan ujung piyama miliknya. Dia langsung menghidupkan kompor dan menggoreng Ayam Karage yang dia keluarkan dari kulkas belasan menit yang lalu.
“Ayo Lunaviani Suteja-ku yang paling Papa sayang… Buruan mandi, nanti Papa anter,” kata Indra pada Viani. Saat Viani sudah kembali ke dalam kamarnya untuk mandi, Indra menyentuh tangan Gemma dan berbisik. “Kita bicara lagi nanti. Jangan sampai Viani tau hal ini… nggak baik buat dia.”
Akhirnya semua berjalan seperti biasa pagi itu. Kecuali dengan perasaan Indra dan Gemma masing-masing. Kerutan di kening mereka tak bisa ditutupi.
Setelah semua berpakaian dengan rapi, mereka duduk bersama di dining room dan makan dalam diam. Perhatian mereka terpecah saat ponsel Indra berbunyi. Dia mengangkatnya dan berbicara beberapa menit. Sepertinya dengan orang tuanya.
“Tadi itu Papi, katanya mau datang sore ini… Masak yang enak ya?” Indra menoleh pada Viani. “Ayo Sayang. Dah siap kan?”
“Sudah…” ujar Viani yang tertawa-tawa sambil menatap ponselnya. Tanpa memandang Gemma atau menurunkan ponselnya terlebih dahulu, dia menyalami Gemma dan berlalu begitu saja.
“Aku sayang kamu,” ujar Indra. Dia menunduk, hendak mencium Gemma, tetapi istrinya buru-buru menepis dan menghindarinya, sehingga bibir itu hanya sampai pada pipi sang istri. Dia pun mendesah kecewa. “Aku rasa, itu hukuman buat aku… Aku pergi sekarang.”
Sambil mengawasi kepergian kedua belahan jiwanya, Gemma menatap pintu yang telah ditutup Indra itu dengan nanar. Dia pun terjatuh, terduduk di lantai sambil menangisi nasibnya kini. Dadanya berdenyut nyeri… hatinya sakit atas pengkhianatan Indra.
Tak ada yang dia lakukan selain menangis dan meratap dengan suara ringisan yang memenuhi seisi apartemen. Teringat masa-masa bahagia antara mereka di mana akhirnya dia bisa mengampuni dosa masa lalu yang dilakukan Indra padanya, Gemma pikir suaminya itu berubah.
Kejadian hari ini benar-benar menampar dirinya dengan keras, bahwa semua hal di dunia ini punya masa kadaluarsa, termasuk kesetiaan suaminya.
Gemma menangis habis-habisan sampai tak ada air mata lagi yang tersisa. Dia duduk menyandar di lantai pada punggung sofa dengan wajah kusam karena air mata yang telah mengering.
Kemudian ada tiga pesan, masuk bersamaan pada ponsel Gemma. Yang pertama, dari sang ibu mertua yang mengatakan kalau dia ingin Kakap Asam Manis untuk makan malam.
Yang kedua, dirinya yang tiba-tiba dimasukkan dalam sebuah grup bernama Alumni SMA Tunas Persada angkatan 2004-2006.
Baru saja Gemma masuk ke dalamnya, grup tersebut langsung ribut. Gemma terkekeh saat melihat kesemua teman-temannya bersahut-sahutan.
Yang paling ribut adalah Stefan dan Marco. Gemma mendengar kalau Stefan sudah menjadi seorang pengusaha, sedangkan Marco adalah seorang Engineer di sebuah perusahaan alat berat.
Dan di sinilah dia. Gemma agak takut jika dia akan ditanyai. Jadi dia mematikan notifikasi grup tersebut dan stay silent. Karena dia takut kalau akan ditanyakan tentang kehidupannya setelah SMA yang amat suram dan memalukan. Serta, tak ada apa-apa yang bisa diceritakan dari kehidupannya selain sudah menikah dan memiliki anak.
Tak bekerja, tak berkuliah, semua mimpi yang sempat dia rangkai dulu itu akhirnya menguap begitu saja.
Kemudian, perhatiannya teralih pada pesan chat ketiga yang belum dia baca. Gemma membuka pesan itu. Dan seketika jantungnya berdetak sangat cepat.
[ Diana : Gem… Gala di sini, di Jakarta. ]
Bukannya Gemma senang dengan kabar itu. Dia malah justru semakin down. Lihat dia sekarang? Jauh dari kata cantik atau bersinar. Dia mengintip nama Gala di grup.
Foto yang terpajang adalah foto dirinya sendiri. Masih tampan, dengan lesung pipi dalam yang amat dia sukai. Ratusan purnama telah berlalu, namun ternyata senyum itu masih saja mampu membuat Gemma kesulitan bernapas.
Tapi saat mengingat pernikahannya dengan Indra, Gemma segera menggelengkan kepalanya, menepis semua rasa yang sebenarnya masih ada. Maka wanita itu mengabaikan pesan dari Diana.
Dia mandi dan bersiap-siap. Dia pun pergi ke pasar besar untuk mencari Kakap segar pesanan sang mertua, sambil menahan rasa yang menyesakkan dadanya.
...***...
“Kami turun ke bawah, Pi,” ujar Indra sembari menutup teleponnya. Dia pun menoleh pada Gemma yang telah memakai celana jeans sebetis dengan blus bunga-bunga yang cantik. Dia terlihat segar dengan penampilan itu.
Indra memandangi istrinya yang sedang menata meja makan dengan rapi. “Aromanya enak, Sayang…”
Gemma tidak melirik dan tidak merespon Indra sama sekali. Dia malah segera berlalu dari Indra, mendahuluinya untuk keluar dari apartemen mereka. “Viani, tunggu di sini ya… sambil potongin puding yang udah Mama bikin di kulkas.”
“Oke!” Viani menjawab tanpa memandang Gemma lagi.
Sesampainya di bawah, sebuah mobil SUV putih melaju dari gerbang masuk area tersebut.
“Kita harus mesra, Sayang…” kata Indra sambil merangkul Gemma dan mengecup pipinya dengan lembut. “Kamu wangi… I like it.”
Dalam situasi seperti ini, Gemma memilih untuk mengikuti apa yang dikatakan Indra. Berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja daripada nanti diinterogasi mertuanya.
Mobil SUV itu pun berhenti tepat di depan lobby, dan keluarlah kedua mertuanya dari dalam sana. Mereka pasangan serasi dan begitu berwibawa. Gemma mengagumi orang tua Indra yang amat setia satu sama lain.
Tetapi itu juga yang membuatnya amat segan. Selama ini, Gemma tidak dekat pada siapa-siapa, terutama setelah Mitha meninggal dunia dua tahun yang lalu akibat serangan jantung. Begitu juga dengan Yahya yang lost contact dengannya. Terakhir kali Gemma mendengar dari Indra kalau ayahnya sekarang berada di kota lain.
Awalnya Gemma berpikir, mereka akan menjadi pengganti orang tuanya. Tetapi kenyataannya mereka sangat perfeksionis. Tak jarang, Gemma mendapat teguran untuk hal-hal kecil. Hal itulah yang membuat Gemma tidak pernah detail menceritakan hal-hal dalam rumah tangganya.
“Selamat malam Pi, Mi…” kata Gemma dengan sopan sambil mencium punggung tangan kedua mertuanya diikuti oleh suaminya.
“Hmm… Selamat malam,” kata Philip, ayah Indra.
“Selamat malam, Nak…” Mira, ibu Indra, juga turut menyapa balik menantunya. “Pesanan Mami sudah dibikin?”
“Sudah, Mi…” kata Gemma takut-takut.
“Ayo, Pi… Mi… masuk,” ajak Indra pada kedua orang tuanya.
Gemma menghela napasnya dalam-dalam untuk malam panjang yang akan dilaluinya dan membiarkan mereka memasuki lobby terlebih dahulu. Dia harus mengesampingkan masalah tadi sampai mertuanya benar-benar pulang, dan berniat menyelesaikan semuanya hanya berdua dengan sang suami.
Tetapi ada perasaan aneh yang mendera pikiran Gemma saat ini. Dia merasa sedang diawasi oleh orang lain. Gemma mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya. Dan menangkap ada seseorang yang memang sedang menatapnya dengan intens saat ini.
Dia memicingkan matanya lalu menutup mulutnya, tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Gemma yakin dia tidak salah orang.
Gala, berdiri di seberangnya, memandangnya dengan tatapan itu. Tatapan yang selalu membuat hatinya luluh setiap kali dipandangi seperti itu.
Kenapa pria itu harus muncul lagi? Gemma terganggu… dia tidak suka melihat Gala di sini.
“Gemma…”
Meski tak kedengaran, Gemma bisa melihat kalau Gala mencoba memanggilnya. Dengan mengabaikan semua perasaan yang telah lalu, Gemma berbalik, dan meninggalkan Gala di sana tanpa menyapanya sama sekali.
Tidak… Gala tidak boleh melihatnya seperti ini. Dia sedang tidak dalam penampilan terbaiknya. Dia merasa sangat memalukan dan terlihat menyedihkan.
...****************...