
Malam itu, Gala sedang berada dalam mobilnya menuju Restoran RJ, memenuhi undangan reuni.
Katanya, keuntungan dari reuni itu akan dibagi-bagikan untuk guru-guru dan mantan guru di sekolah Tunas Persada, dan khususnya untuk Bu Susanti yang sekarang sedang sakit parah dan butuh biaya. Sebenarnya, format reuni itu bukan seperti ini dan bukan pula di restoran ini.
Seharusnya ada pembukaan Kapsul Waktu yang mereka simpan belasan tahun lalu pada angkatan mereka.
Tapi mengingat keadaan Bu Susanti, maka panitia berinisiatif untuk mengadakan reuni ini sekaligus penggalangan dana untuk guru mereka. Kapsul waktu bisa menunggu, tapi nyawa seseorang kita tidak tahu.
“Bro!”
Gala yang baru turun dari mobil sedannya berbalik saat mendengar panggilan itu sepertinya ditujukan pada dirinya.
Seorang pria bertubuh tinggi, berkulit sawo matang dengan rambut model side part berdiri gagah di hadapannya dengan setelan kasual. Gala mengenal garis rahang yang khas itu milik siapa.
“Lo Stefan ya…” tebaknya dengan ragu.
Stefan tersenyum jahil. “Makin keren aja lo! Coba gue lihat dulu,” ucapnya sambil memperhatikan Gala dari kepala sampai kaki. “Jangan bilang sama gue kalo lo single dan belum pernah married!”
Lesung pipi Gala langsung tercetak saat tawanya hampir meledak. “Tau aja lo. Eh, ini siapa?” tanya Gala saat melihat seorang gadis kecil di belakang Stefan.
Matanya yang bulat dan pipinya yang gembul membuatnya terlihat menggemaskan. Tebakan Gala, anak ini baru berusia tiga tahun atau empat. “Ini anak lo?”
“Iya, namanya Marsha, usianya baru tiga tahun setengah… By the way, lo sekarang kerja apa?”
“Gue pimpin Diverto, Fan. Makanya gue balik dari Aussie. Kalo lo gimana?”
“Gue CEO hahaha. CEO kentang tapi. Bokap gue males kerja, jadi gue yang naik. Kalo gitu, tukeran nomor hapelah! Siapa tau lo nanti perlu mobil dinas, hubungin gue aja. Gue pribadi yang bantu prosesnya, harga bisa cincailah.”
Gala dulu ingat kalo ayah Stefan memang pemilik sebuah dealer mobil. Dan seperti perusahaan keluarga pada umumnya, kalau para pemimpinnya pasti tak jauh dari keluarganya sendiri, sama seperti Gala saat ini.
Setelah bertukar nomor, Stefan tiba-tiba menerima panggilan. “Nitip Marsha bentar yak. Sepuluh menit aja.”
“Kalo gitu, Marsha gue bawa masuk aja sekalian, Fan,” ujar Gala yang langsung mendapat anggukkan dari Stefan. “Ayo ikut Om…” ujar Gala pada Marsha.
Sementara itu, restoran JD terlihat sudah hampir penuh. Di dalam sana, acara masih belum mulai, dan orang-orang sudah mulai ngalor ngidul kesana dan kemari saat mereka mengenali orang-orang yang menjadi teman mereka dulu.
Teringat tadi malam, saat Gala ingin bertanya pada Gemma apakah dia akan ikut reuni atau tidak, wanita itu malah mengacuhkan panggilannya dan menyuruhnya untuk berhenti menghubunginya.
Segera dia mengalihkan rasa gundahnya pada Marsha. “Marsha mau makan buah?”
“Mau…” jawab Marsha dengan polosnya. Anak itu menggandeng erat tangan Gala yang menuntunnya menuju meja makan. Pria itu mengambilkan beberapa potong buah yang dipilih oleh Marsha satu per satu, kemudian menarikkan kursi agar balita itu bisa duduk sambil menikmati buah tersebut. Gala duduk di sebelahnya, memandangi Marsha yang sedang asyik menyantap cemilannya.
“Makan banyak ya…”
Perintah itu Marsha jawab dengan anggukan yang benar-benar menggemaskan, sampai Gala tak tahan untuk tidak mencubit lembut pipinya.
Beberapa teman-temannya pun datang menghampiri Gala untuk menyapanya. Hampir semua wanita mengenalnya mulai dari kelas IPA, IPS, hingga Bahasa, terutama para wanita yang masih lajang atau barusan saja bercerai dari sang suami.
“Uh… Suami idaman banget sih lo,” ujar Kiki saat mendatangi Gala dan memandangi Marsha. "Udah cakep, kebapakan lagi. Lo jomblo, Gala?"
“Om…” tiba-tiba Marsha berhenti mengunyah. Dengan bahasa cadel, dia mencoba berkomunikasi pada Gala. “Malsha mau pipis!”
Alamak, Gala belum cek apa anak ini sudah lepas popok atau belum. Stefan juga masih belum kelihatan di mana batang hidungnya. Tapi karena Kiki sudah mulai mengganggu ketenangannya, Gala akhirnya memanfaatkan keadaan Marsha.
“Sori, Ki… gue tinggal dulu ya.”
Marsha yang terlihat kebelet, mulai berlari-lari kecil dengan gaya lucu sambil menahan pipis. Mereka pun berhenti di depan papan penanda toilet yang terpasang di depan dinding yang mengarah pada lorong menuju tempat itu.
“Marsha udah bisa pipis sendiri?” tanya Gala yang terlihat canggung.
“Bisa. Tapi nggak bisa naiknya!”
Gala paham kalau kaki anak itu masih begitu kecil mungil. Dia jadi semakin bingung harus berbuat apa.
Hingga seseorang yang dia kenal keluar dari toilet. Gala terpaku melihatnya.
Gemma… muncul di hadapannya. Dengan balutan dress selutut dan cardigan oranye yang menampilkan lekuk tubuhnya dengan amat manis, dan rambut panjang yang di cat cokelat terang di biarkan terurai, membuat wanita itu terlihat menawan. Mata hijau itu pun bersinar dengan begitu indah, seakan-akan menghipnotis siapa saja yang nekat memandangnya.
Wanita itu juga sama terpakunya dengan dirinya. Buru-buru Gemma menjauhi Gala di depan toilet, tetapi langkahnya dicegat Gala.
“Ada apa?” tanya wanita itu dingin.
“Kamu dateng…” ujar Gala dengan senyum yang merekah.
“Iya…” kata Gemma dengan raut wajah datar. “Nggak usah senang banget kali.”
“Kalau tau kamu bakal ke sini, kita bisa bareng.”
“Aku bawa mobil sendiri kok. Permisi.”
Ketika Gemma hendak menjauh lagi, pria itu mencekalnya dengan memegang lembut lengan Gemma. “Gem, cewek kemarin itu bukan—“
“Tapi kamu harus dengar, Gem. Kamu suka atau nggak suka, nggak pa-pa. Yang pasti, dia bukan siapa-siapa.”
Gemma menggosok pelipisnya. Gesturnya seakan tak peduli. Tapi warna hijau dalam mata Gemma akan selalu jadi organ tubuh yang paling jujur.
Meski dulu mereka hanya sempat pacaran beberapa bulan, Gala sudah cukup banyak memperhatikan wanita itu, dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Akhirnya wanita itu menyerah. Kalau tak diiyakan, laki-laki ini akan tetap menahannya. “Iya gue percaya—“
“Om!” omongan Gemma terputus saat gadis kecil di hadapannya memekik merengek sambil menyilangkan kakinya. “Malsha mau pipis!”
“Oh My... Om lupa…” mata Gala berpendar antara toilet wanita dan toilet pria. Dia tak mungkin membawa Marsha dalam toilet wanita. Tapi dia merasa sedikit kurang pantas saat membawa anak perempuan ke toilet laki-laki.
Gemma yang menyadari hal itu langsung menggandeng tangan Marsha. “Mau pipis ya? Ayo ikut Tante.”
Marsha langsung mengikuti Gemma, melangkahkan kaki kecilnya dengan terburu-buru. Gala menghembuskan napas dengan lega.
Tak lama kemudian, wanita itu kembali membawa Marsha yang terlihat telah lebih santai. Melihat Gemma menggandeng anak perempuan tersebut, Gala tidak bisa menahan untuk tak membayangkan macam-macam.
“Thanks Gem…”
“No problem. Ini anak siapa? Anak temen kita juga kah?”
“Anaknya Stefan.”
“Ooohhh ini sih muka Stefan banget.”
“Kalo kita punya anak, kayak gini juga nggak ya? Bakal mirip aku, terus cantik kayak kamu.”
Seketika air muka Gemma berubah. Dia sedang dalam mood yang tidak baik saat membicarakan komitmen yang melibatkan ayah ibu dan anak. Yang ada dalam pikirannya adalah pengkhianatan, perusak hubungan orang dan perceraian.
“Berhenti ngehalu!”
“Halu?” Gala mencerna apa artinya kata itu. Terlalu lama di Aussie membuatnya sedikit terbatas dengan istilah gaul yang baru.
“Ohhh…. Halu… bermimpi begitu kan? Ya terserah aku mau ngehalu siapa dan ngehalu apa, Gem… Lagian aku masih punya keinginan kok. Berkarir, punya pacar, tunangan, menikah.”
“Kamu masih jauh dari kata ‘mampu’ untuk berkomitmen seperti itu."
Gemma tak dapat mengontrol diri untuk tidak mengatakan hal itu. Bagaimana bisa dia mengatakan hal bernada komitmen itu sementara dia punya 'pacar’ dan sekarang sedang berdiri di sini menggoda Gemma habis-habisan?
Wajah Gala menegang. Baik ekspresi maupun suaranya berubah jadi amat serius. “Kenapa kamu selalu anggap aku nggak serius?”
“Setiap kali kita ketemu, kamu nggak ada omongan lain selain godain aku yang udah punya suami. Coba bilang sama aku sekarang, berapa banyak cewek yang kamu godain tiap hari? Atau fetish kamu cuma sama wanita bersuami?"
Otot-otot wajah Gala melemas. “Cuma sama kamu.”
Tanpa Gala sadari, kalimatnya barusan justru memancing amarah Gemma. “Orang-orang kayak kamu itu bisa aja dapat cewek dengan mudah! Kalian tuh semuanya bullshit!”
“Gem!” pekik Gala saat menyembunyikan Marsha di belakang tubuhnya. “Ada anak kecil di dekat kita. Kenapa sih kamu mikir seburuk itu tentang aku?”
“Kamu punya semua sumber dayanya… Uang, harta, ganteng… Jadi, stop main-main! Di luar masih banyak yang sendiri. Kayaknya cewek kemarin suka banget sama kamu!”
Gala meremas rambutnya frustrasi. "Kamu mau kemana? Aku belum selesai ngomong!"
"Permisi," wanita itu tak ingin mendengarnya lagi dan pergi dari sana.
Gala menggandeng Marsha dengan kening terlipat. Dipandanginya anak lucu itu dengan tatapan serius sebelum akhirnya membawanya keluar dari lorong.
“Ck!”
Pria itu menoleh pada asal suara. Ayah Marsha ternyata ada di dekat sana dan kemungkinan besar, dia sudah menyaksikan konfliknya dengan Gemma tadi.
“Emang bener ternyata lo belom move on,” Stefan geleng-geleng kepala sambil menarik tangan Marsha.
“Pa, tadi tante itu malah-malah,” katanya polos.
“Iya, Marsha. Tadi itu, pacar Om Gala. Mereka lagi berselisih paham…” kata Stefan mencoba menjelaskan.
“Pacal? Belselisi aham?”
“Eh, jangan ngajarin anak lo aneh-aneh!” geram Gala pada Stefan.
“Ayo, ikut Papa,” mengabaikan Gala, Stefan segera menggandeng tangan Marsha dan keluar dari sana.
Dari jauh, Gala bisa melihat Gemma sedang duduk sendirian di tengah keramaian, tenggelam dalam pikirannya sendiri tanpa menyadari ada banyak orang yang berusaha.
...****************...