
Viani kini terbaring pasrah di atas brankar pasca operasi. Matanya menatap sendu pada langit-langit kamar yang seputih tulang. Tidak ada warna, sama seperti suasana hatinya sekarang.
Di sampingnya, Vincent sedang duduk sambil mengerjakan pekerjaannya. Lelaki itu bekerja seperti tidak terjadi apa-apa saja. Malah tampak sedikit tidak mengacuhkan Viani yang ternyata sudah sadar.
"Vin ..." panggil Viani dengan suara parau.
Kaca mata Vincent tampak berkilau saat lelaki tampan itu mengangkat kepalanya dan mempertemukan mata mereka, menambah kesan maskulin yang terlihat amat dewasa.
"Ya?"
"Aku mau duduk."
Tanpa berbantah-bantah ataupun menunjukkan penolakan, Vincent turun dari sofa dan segera membantu sang istri duduk. Sikap lemah lembut itu tetap ada meski masih terasa dingin, namun justru hal itulah yang membuat pikiran Viani makin tidak menentu.
"Sampai kapan kamu mau diamin aku, Vin?"
Vincent kembali dalam kebisuannya. Dia juga kembali pada pekerjaannya dan tak mempedulikan pertanyaan Viani.
"Sebenarnya aku kenapa dioperasi sih?"
Mata Vincent langsung mendelik pada sisi kosong pada ruangan itu, teringat apa yang terjadi pagi tadi.
Saat itu, mereka menemukan Viani tak sadarkan diri dalam kamar mandi. Saat Vincent memperhatikan keadaan istrinya, terdapat pendarahan yang cukup deras terjadi.
"Lakukan aja," ujar Vincent yang sudah terlihat lelah.
Viani langsung diboyong menuju kamar operasi dalam keadaan tak sadarkan diri. Pasrah akan semuanya, lelaki itu hanya bisa menunggu di depan ruang operasi ditemani oleh keempat orang tua mereka, sedangkan Indra masih berada di luar kota dan baru dapat sampai di Jakarta malam ini.
Ingin marah, tetapi Vincent urung. Dia pun hanya bisa menunggu saat yang tepat menanyakan Viani, kemana kb spiral di rahimnya menghilang.
***
Tak lama setelah mengingat hal itu, tatapan Vincent menyorot Viani dalam-dalam. Wanita yang amat dicintainya itu hampir meregang nyawa lagi untuk kedua kali di depan matanya.
"Kamu nggak sadar, Vi, apa yang kamu lakukan ini bikin kita semua trauma?"
"Maksudnya?"
"Jangan pura-pura bodoh!"
Mata Viani terbelalak pada bentakan Vincent yang semakin menjadi.
"Kamu segitu inginnya anak, Vi? Aku udah bilang berkali-kali sama kamu kalau bagi aku cukup kita bertiga. Kenapa kamu nggak mau nurut sama sekali?"
"Aku bukan nggak nurut, Vin! Coba kamu lihat posisi aku gimama?"
"Kamu juga nggak mau ngerti posisi aku gimana, Vi! Betapa traumanya aku ngelihat kamu keluar dari kamar operasi! Kamu nggak ngelihat gimana Mama Gemma menangis dan pingsan waktu kamu masuk ruang OK. Sekarang aku tanya, di mana kamu lepas di mana kb spiral yang udah dipasang dalam rahim kamu?"
"I-itu ..."
"Kalau kamu mau bikin aku cepat jadi duda, lebih baik kita udahan aja, Vi."
Mata Viani membelalak, kepalanya menggeleng tak terima. Sedangkan seluruh tubuhnya yang lemas mendadak bergetar tak terkendali diiringi dengan rasa sesak yang membuncah dalam dadanya.
Langsung saja air mata yang sudah berkumpul di pelupuk mata Viani menetes satu per satu. Sementara Vincent masih mencecar Viani dengan semua emosi yang bertumpuk dalam hatinya.
"A-aku ..."
"Aku udah kehabisan cara gimana meyakinkan kamu kalau aku tetap cinta sama kamu dengan atau tanpa anak. Kehadiran bayi kita udah cukup. Aku nggak mau nambah lagi sekalipun dunia ngejek kita nggak bisa punya anak.
Kalau kamu nggak mau pikirkan perasaan aku, kamu lihat aja Mama Gemma dan Papa Indra. Pikirkan perasaan mereka, Vi. Kamu bisa dengan gampang pertahanin diri jika suatu saat kamu hamil lagi dan memilih nyawa bayi kamu. Tapi mereka?
Apakah mereka sanggup menguburkan anak mereka di mana seharusnya kamu yang nanti menguburkan orang tua kamu saat mereka meninggal dunia?
Belum lagi bayi kita yang nggak tau apa-apa, Vi! Usianya masih kecil, tetapi dia sudah harus berduka! Kamu benar-benar egois dan nggak memikirkan anak kita!"
Kalimat panjang lebar itu seakan menampar wajah Viani dengan telak. Mulutnya bungkam, seperti disumpal oleh sebuah balok besar yang menghantam sampai ke dalam rongga dada.
Bodoh? Mungkin itu adalah kata yang mewakili dirinya saat ini. Betapa dungunya dia mau termakan ucapan Sari sehingga dengan nekat, dia pergi ke dokter dan melepas sendiri alat kontrasepsi yang sudah terpasang di rahimnya hanya demi mencoba peruntungan untuk memiliki anak lagi?
Kini tubuhnya kembali gemetar pada kenyataan itu. Rasa sesal akhirnya menguasai hatinya. Air mata semakin banyak yang turun dan sayangnya hal itu membuat tubuh bagian bawahnya jadi terasa nyeri sehingga tangis itu bercampur dengan sedikit erangan kesakitan karena rasa perih.
Membayangkan wajah bayi mereka jika kehilangan ibunya membuatnya semakin sakit.
"I'm sorry, Vi!" Vincent langsung mendatangi Viani dan memeluknya. "Maaf. Aku terlalu keras sama kamu."
Tidak mau bicara, Viani hanya menangis di dada Vincent sampai dia puas. Tak peduli rasa perih itu sedikit terasa lalu hilang karena obat penahan rasa sakit berbentuk drip yang terus dimasukkan dalam tubuhnya.
Dia menyesal. Sungguh menyesal. Betapa bersalahnya dia pada anak mereka dan orang tua mereka. Masih bersyukur Tuhan memberinya kesempatan untuk hidup.
"Maaf, Vin..." sela Viani dalam isaknya. Dia malu, sungguh malu karena sempat berpikir pendek.
Tangan Vincent meraih puncak kepala Viani dan membelainya dengan lebut. "It's okay, Sayang. Aku yang keras sama kamu tadi."
"Mama gimana? Tadi beneran pingsan?"
Pahitnya, Vincent membenarkan dengan anggukan. Ternyata Gemma benaran pingsan. "Beliau dirawat di ruang sebelah."
"Apa? Beliau kenapa?"
"Syok, trauma, lalu darah rendah."
Sudahlah, Viani benar-benar sadar kali ini tindakannya sudah membuat sang ibu jatuh sakit. Belum lagi saat dia melihat Vincent yang marah besar. Apa kadar cinta Vincent untuknya sudah berkurang.
"Kamu pasti ilfeel sama aku, kan?"
"Kenapa kamu bilang kayak gitu?"
"Aku udah nggak cantik, Vin! Ditambah lagi aku nggak boleh hamil lagi. Kamu pasti nggak betah nikah sama aku, kamu--"
"Kamu kira aku menikahi kamu hanya karena pengen anak? Kalau mau, aku bisa nyari ke panti asuhan sekalian buat adopsi banyak. Yang kuinginkan adalah kamu, aku mau kamu untuk menghabiskan sisa hidupmu bersamaku dalam satu ikatan sah.
Emangnya tujuan menikah cuma buat punya anak? Sekarang kamu mikir deh, di luar sana banyak yang nggak punya anak, sedangkan kamu udah punya satu, apakah kamu nggak bersyukur? Apakah kamu siap membagi perhatian di saat anak kita masih bayi, dan kamu yang punya bayi lagi?"
Viani diam. Namun, Vincent memang tidak ingin menunggu jawaban Viani. Saat ini adalah saat paling tepat karena Viani sudah tidak mengeraskan hatinya.
"Maafkan aku, aku sayang sama kamu,"
...****************...