Our Story : Mendadak Sekantor

Our Story : Mendadak Sekantor
60. Kunjungan Tak Terduga


Sudah dua hari Indra terbaring di atas tempat tidur. Kalau dihitung-hitung, sudah 3 kali panasnya naik turun dalam kurun waktu 48 jam.


Sementara itu, Gemma masih senantiasa menemani sang suami, menyuapinya makan, membantu Indra membersihkan diri dan menggantikan pakaiannya yang basah karena keringat pasca panasnya reda. Hati Indra terasa sesak kala merasakan perhatian sang istri yang tidak pernah berubah meskipun dia sudah menyatakan ingin berpisah.


Hal itu semakin membuat dadanya nyeri. Bagaimana pun dia cintanya pada Ranita, tapi kalau soal perhatian, wanita itu belum melewati ujian seperti yang Gemma alami.


Jatuh bangunnya Indra, Gemma pernah lalui. Tak pernah sekalipun dia mengeluh meski tinggal di apartemen sederhana, atau saat mereka harus tinggal di gang sempit beberapa tahun yang lalu. Perhatian yang padanya tak pernah berubah.


Apakah Ranita akan lolos ujian nantinya? Dia sudah terbiasa dimanjakan Indra dengan barang-barang mewah dan mahal.


Seperti saat ini saja, saat Indra sakit, wanita itu tak terpikir untuk menghubunginya. Hanya mengirim pesan agar dia cepat sembuh saja.


“Ke dokter yuk, Mas?” bujuk Gemma pada sang suami.


“Nggak. Besok, aku pasti udah sembuh.”


Dan benar saja. Keesokan harinya, Indra akhirnya terlihat jauh lebih segar dan lebih sehat. Mereka kini baru saja selesai makan siang. Makanan itu masih enak, seperti biasanya.


Sisi yang paling egois dalam diri Indra masih merajai. Dia tidak bisa membiarkan Gemma lepas darinya begitu saja. Bukan hanya karena sesuatu di usianya yang ke 44 tahun pada tahun ini, tetapi lebih karena dia masih belum yakin pada Ranita.


Tapi dia juga tak mau melepas Ranita, terlebih saat wanita itu tahu segala kebusukannya. Meninggalkan wanita itu bukanlah perkara mudah.


Indra meminum air hangat dari gelasnya dan meletakkannya di depannya, menatap Gemma dengan intens.


“Gem…”


“Hm?” Gemma mengangkat kepalanya menatap Indra lurus-lurus dengan begitu dingin.


“Apa nggak ada kesempatan lagi untuk aku?”


Gemma mendesah pelan, wajahnya masih tetap tanpa ekspresi. “Kesempatan itu udah aku kasih kemarin sama kamu, Mas.”


"Please. Paling nggak kasih aku kesempatan selama setahun. Hanya setahun, Sayang. Setelah itu kamu bebas pergi kalau kamu dapatin aku masih nggak setia."


"Aku nggak bisa nunggu setahun, Mas. Aku udah lelah."


“Bagaimana kalau aku nggak mau lepasin kamu?”


“Sudahlah, Mas. Pernikahan kita udah nggak bisa dipertahankan. Aku nggak bisa tetap di sisi kamu sementara kamu bersenang-senang dengan Ranita.


Hampir dua minggu kamu extend liburan dari perjalanan bisnis yang seharusnya hanya sehari… I’m not stupid… Aku udah lelah dibohongi dan mendengar mulut manis kamu!"


“Tapi gimana dengan Viani? Kamu nggak takut kalau Viani lebih milih aku dari pada kamu?”


Alis Gemma langsung menukik tajam saat dia mendengar kalimat yang lebih terdengar sebagai sebuah ancaman. “Apa kamu sedang mengancam aku dengan Viani sebagai tameng kamu, Mas?”


“Well,” Indra menyatukan kedua tangannya. Kendati dagunya terpangku di atas kedua tangannya, auranya terkesan percaya diri. “Aku benar-benar nggak bisa bercerai dari kamu, Gem. Aku udah bilang itu dari awal sejak kamu temukan pesan Rita. Apa kamu masih nggak ngerti cinta aku sama kamu itu besar banget? Aku—“


Seluruh perhatian mereka teralih pada pintu rumah mereka yang tiba-tiba terbuka. Gemma berdiri mendekati pintu dan mendapati satu-satunya orang yang punya kartu akses selain mereka kini berdiri di hadapan mereka dengan begitu cerita.


“Mama, Papa, Viani pulang!”


“Sayang!” Gemma langsung berhambur memeluk Viani begitu erat. “Mama kangen banget sama kamu. Lama banget sih perginya?”


Viani tertawa canggung. “Eng… Hehehe… Habis seru banget sih sama Oma dan Opa.”


“Selamat siang!”


Kembali perhatian Gemma dan Indra menyorot pada dua sosok yang berdiri di dekat pintu. Kedua mertua Gemma memberi sebuah kunjungan tak terduga.


“Masuk, Pi, Mi…” kata Indra yang langsung menjemput kehadiran orang tuanya. Baik Gemma dan Indra serentak menyalami dan mencium tangan kedua pasangan paruh baya tersebut.


“Mami dan Papi udah makan?” tanya Gemma sambil membawa Mira duduk di sofa.


“Kami semua udah makan. Bikinin teh aja buat kami,” perintah Mira.


“Siap, Mi…”


“Viani bawa oleh-oleh buat Mama,” bisik Viani setelah dia meletakkan duffle bag-nya di kamarnya. Viani mengeluarkan sebuah dress salur warna putih garis hitam untuk Gemma, dari Joger. “Kita punya sepasang, Ma… Viani juga bawa pie susu sama Heavenly Chocolate Bali.”


Senyum Gemma merekah saat menerima semua dari Viani. Bukan bentuk hadiah yang dia terima, tetapi karena Viani benar-benar memberinya dengan tulus. Dia tak lagi marah pada Gemma dan itu sudah lebih dari cukup.


Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Senyumnya memudar kala dia mengingat kalau barusan, dia sudah meminta cerai dari Indra. Bahkan seminggu lalu, sebelum tahun baru, dia sudah mendaftarkan perceraiannya. Indra hanya tinggal menunggu panggilan saja.


Bagaimana kalau anak ini tak bisa menerima perceraian Gemma dan Indra. Akankah dia dengan tega memberitahu Viani bahwa sang ayah sudah berselingkuh darinya? Atau, apakah dia bawa lari saja Viani tanpa berkata apa-apa lagi pada Indra?


Opsi terakhir itu sungguh tidak mungkin. Viani sudah cukup besar untuk menyadari kalau Gemma tengah menyembunyikan sesuatu. Apakah dia harus menunggu saja? Memberi Indra kesempatan dan bertahan empat tahun lagi saat Viani akhirnya lulus SMA, berkuliah dan bisa memilih akan tinggal bersama siapa?


Diliriknya GPS tracker yang terletak di atas nakas. GPS yang daya baterainya hanya bertahan selama seminggu itu menyimpan banyak kebohongan yang Indra lakukan. Meski hanya seminggu dan hanya hidup tepat saat Indra tiba di Derawan—tanpa bisa merekam apa pun lagi selama di sana karena dayanya sudah habis—isi GPS itu sudah jadi bukti yang cukup kuat.


Hubungannya dengan Viani baru saja membaik. Haruskah dia rusak dengan keinginannya bercerai? Anak mana yang rela melihat orang tuanya berpisah?


Dulu saja, waktu Yahya berpisah dari Mitha, Gemma sungguh tidak senang melihatnya. Walaupun pada akhirnya itu menjadi opsi yang terbaik karena Yahya yang begitu ringan tangan. Dia tidak ingin Viani jadi korban seperti dirinya. Tapi… Haruskah dia mengorbankan diri sendiri?


Belum lagi hubungannya dengan Gala. Dia sudah terlanjur menjalin hubungan lagi dengan pria itu. Kapan saja bisa ketahuan. Dan itu artinya dia akan kehilangan Viani dengan cara uang sungguh menyakitkan.


“Ma?” panggilan Viani itu menyadarkan Gemma.


“Ya, Nak?”


“Mama kok melamun?”


“Eng… Nggak pa-pa. Kamu ke kamar gih. Istirahat, oke? Kamu pasti capek.”


“Oke deh…”


Setelah Viani menghilang dari pandangannya, Gemma mengambil segelas air mineral dan membawanya ke ruang tengah untuk bergabung bersama kedua orang mertuanya. Sementara Indra pergi ke balkon saat menerima panggilan dari seseorang.


“Kalian beli apartemen baru kok nggak bilang-bilang?” tanya Philip seraya matanya berkeliling, menatap kemewahan apartemen dupleks yang beberapa minggu lalu Indra beli khusus untuk Gemma. “Berapa duit?”


“4 milyar, Pi,” jawab Gemma sambil meminum dari gelasnya.


“Kok bisa beli? Kalian kan bukannya udah punya apartemen?”


“Gemma yang pengen pindah dari sana, Pi… Pengen suasana baru aja," jawab Gemma.


“Kenapa nggak sabar aja sih? Nanti kan kalian dapat warisan juga dari almarhum Opa Charlie!”


“Warisan?” tanya Gemma bingung.


“Loh, kamu nggak tau?” tanya Mira menatap Gemma yang terlihat benar-benar have no idea. “Opa Charlie sudah siapin kalian properti berupa rumah di kawasan Pondok Indah di hari ulang tahun Indra, dua bulan setelah usia pernikahan kalian mencapai 16 tahun.


Sebenarnya sih, harusnya di yang ke 15… Tapi karena dulu pernikahannya dengan Oma Christy mencapai angka 16 tahun plus 2 bulan sebelum Oma meninggal dunia, jadilah Opa Charlie menentukan angka itu untuk Indra.”


“Maksudnya, Mas Indra akan dapat properti ini kalau kami masih menikah?” tanya Gemma.


“Pertanyaan macam apa itu, Gem? Ya iyalah kalian yang dapat berdua, kan kalian suami istri! Ya memang di wasiat hanya tertulis nama Indra, tapi ini kan harta kalian bersama...”


“Kenapa warisan itu segini lamanya baru bisa dikasih, Pi?”


“Ya karena menurut Opa Charlie, di angka itu kesetiaan pernikahan kalian akan lolos ujian. Rumahnya gede. Ngga kurang lah dari 30 Milyar kalau disesuaikan sama inflasi sekarang.”


Dhuar!


Serasa dilempar granat. Tubuh Gemma langsung membeku dengan lidah yang kaku. Jadi karena ini Indra tak mau bercerai darinya?


Brengsek!


Dia menatap Indra yang masih tenggelam dalam obrolannya di telepon dengan deru napas yang cepat. Emosinya memuncak sangat tinggi kala mengetahui kalau status dirinya hanya akan dijadikan legalitas untuk mendapat wasiat itu.


Pantas saja pria itu memohon memberinya kesempatan selama satu tahun!


...****************...