
Dengan kembalinya tim Lele Goreng, Niko, Febri dan Gala akhirnya kembali akrab dengan tingkah bak anak SMA slengean.
Mereka turun sambil dorong-dorongan di dalam lift. Keluar dari baja kotak itu, mereka bertiga tersenyum pada pemandangan tiga orang wanita bak gadis yang masih seksi.
“Cantiknya bini gue,” gumam Niko. Isi pikiran itu tak jauh dari pikiran Febri dan Gala.
Dengan sumringah ingin memberitahukan kalau hubungan mereka kembali membaik,
Erika malah menghampiri suaminya tanpa senyuman, malah ekspresi sedih yang ada. Matanya bengkak dan berkaca-kaca.
“Apa yang salah?” tanya Niko lagi.
“Cucu kita, Nik … “ bisik Erika lirih sambil berusaha menahan air mata yang hendak turun lagi.
Di saat itu, perasaan mereka semua sudah semakin tidak enak.
***
Siapa sangka beberapa jam ini adalah waktu paling meresahkan dalam hidup Vincent.
Bayi mereka masuk dalam status yang kritis. Para dokter sudah angkat tangan. Bayi itu tidak bisa bertahan, katanya.
Masih di ruang ICU, Vincent terduduk sambil bersandar ke dinding menatap sosok Viani yang sampai sekarang belum bangun juga.
Mata sipit dari wajah tampan itu tampak dikelilingi lingkaran hitam. Rambut Vincent yang biasa tertata rapi sudah tidak tersisir lagi. Dia sudah kehilangan selera makan maupun seleranya untuk mengurus diri.
Diraihnya tangan Viani dan mengusapnya dengan lembut.
“Cepatlah sembuh,” bisiknya lagi. “Habis kamu sembuh, kita akan ke mana aja yang kamu mau. Asal kamu sembuh Sayang,” ucapnya pada sosok sang istri yang masih tidak sadarkan diri.
Secara fisik, Viani sudah kehilangan wajah cantiknya, tubuh rampingnya dan kulit halusnya. Wajah yang masih bengkak itu dipandangi Vincent dengan sayang, seperti tak ada yang berubah dari saat pertama kali Vincent merasakan jatuh cinta.
Tak ada satu pun rasa ilfeel yang Vincent rasakan kala berat badan Viani sempat naik drastis akibat pre eklamsia. Rasa itu malah semakin bertambah, berkali-kali lipat dari sebelumnya.
“Tapi … kata dokter, kita harus siap-siap untuk kemungkinan terburuk, Sayang …”
Embun di mata Vincent semakin pekat dan siap-siap menetes. Ingatannya pada kondisi sang anak membuatnya jadi rapuh, hatinya seakan diremas-remas dan bersiap untuk luluh lantak.
Tidak ada yang lebih sakit daripada bersiap menghadapi kenyataan kalau anak yang sudah dinanti, yang sudah disayang bahkan sebelum bisa dilihat, sudah bersiap-siap pergi tanpa bisa mengucapkan selamat tinggal.
***
Merasakan ada yang basah di tangannya, perlahan mata Viani yang semua tertutup kini membuka. Hal pertama yang ditangkap Viani adalah bunyi bip dari monitor yang terpasang di sebelahnya.
Perlahan, dia merasakan sesuatu yang aneh di mulut dan hidungnya. Ada dua buah selang yang terpasang di hidung dan mulutnya. Yang pasti, selang yang ada di mulut ini terasa tebal dan mengganggu, serta sedikit nyeri.
Lalu dia melihat sumber air itu datang dari mana. Lelakinya sedang menangis di sampingnya dalam keadaan diam. Dengan gerakan amat lambat, Viani berusaha menyentuh kepala Vincent. Seketika tangis pria itu berhenti, lalu mengangkat kepalanya.
"Sayang?! Udah sadar?"
Tidak berani mengeluarkan suara, Viani hanya bisa menunjuk selang-selang tersebut. Keberadaan benda asing di sana membuat Viani sama sekali merasa tidak nyaman.
Vincent segera memanggil perawat. Tak lama, dokter pun datang dan melihat keadaan Viani. Saat didengar ada kabar baik, Vincent langsung mengecup kepala sang istri.
"Anak kita?" bisik Viani tanpa suara.
Vincent menggeleng kepalanya, "Kamu istirahat aja dulu ya. Anak kita ... anak kita masih dalam perawatan." Jujur saja, hatinya perih karena dia harus berpura-pura kalau segalanya baik-baik saja. Tapi dia masih menahan berita itu, Viani masih sangat lemah dan Vincent sangat takut kalau terjadi apa-apa lagi pada istrinya.
Gemma dan Indra yang mendengar kabar bahwa anaknya sudah sadar langsung menghambur ke kamar, melepas segala rindu dan ketakutan mereka terhadap kondisi Viani. Vincent pun keluar karena memang tak boleh ada banyak orang di area steril tersebut.
Karena progress Viani semakin baik, keesokan harinya semua selang itu dilepas. Viani akhirnya dipindah ke kamar rawat biasa dan bisa bicara dengan bebas. Lega sudah hati Vincent melihat keadaan sang istri.
Ponsel Vincent berbunyi, menampilkan nama Alvin di sana. Lelaki itu keluar ruangan, seketika mendapatkan kehadiran Alvin di sana.
"Lah, udah di sini aja?" ujar Vincent.
"Iya, sori gue baru datang," ujar Alvin dengan sendu.
"Lo kenapa? Kayak habis kalah judi," kelakar Vincent.
"Bisa-bisa aja lo becanda!" Wajah Alvin sudah seperti pedagang cilok yang dagangannya diserempet becak. Alvin juga menceritakan bagaimana dia sekarang sedang diserang keluarga besarnya gara-gara kehilangan 3 customer sekaligus. Ada-ada saja ulah cowok penggemar choki-choki ini.
"Ogah gue kerja bareng keluarga lagi," ujar Alvin sambil mengusap wajahnya.
"Lo mau gue cariin kerja di Aryaditya?" tawar Vincent.
Tangan Alvin terangkat untuk menolak. "No, thank you. Gue ada ide yang lebih oke daripada kerja sama orang. Anyway, bini lo gimana?"
Giliran Vincent yang sendu. Dia pun menceritakan semua yang terjadi pada Alvin. Lelaki itu sampai menutup mulutnya tak percaya.
"Jangan bilang Viani, Vin."
"Loh, Viani nggak tau?"
"Gue belum ngasi tau."
Sebuah tepukkan mendarat di kening Alvin dari tangannya sendiri. Lelaki itu tak habis pikir kenapa Vincent belum memberitahu istrinya. Kalau ada apa-apa lantas Viani tidak sempat melihat ankanya, bagaimana?
"Gue bakal ngasih tau bentar lagi. Tenang aja. Maksud gue, jangan sampai dia taunya dari elo! Elo mah mulutnya lemes, kayak mulut tetangga! Nggak bisa jaga rahasia!"
"Ish! Itu lain cerita, Vin! Gila aja gue ngomong sembarangan ke Viani. Udah, gue mau jenguk!"
Dengan tubuh Vincent yang mendahului, Alvin mengikuti di belakangnya dan menyaksikan pemandangan menyedihkan dari mantan tunangannya tersebut.
"Vi, ada Alvin," ujar Vincent saat mempersilakan Alvin masuk.
Lelaki berwajah Asia dengan mata monolid itu datang sambil membawa makanan kesukaan Viani.
"Hi girl ..." ucapnya menatap Viani yang sudah bengkak dan selang oksigen yang masih terpasang di bawah hidungnya.
Kedatangan Alvin membuat Viani tersenyum tipis, sebuah senyum yang lama tak dilihat Vincent. Suami Viani itu sama sekali tidak cemburu. Sebab inilah yang dinantikannya, melihat sang istri melupakan sedikit kesedihannya.
Kadang Vincent merasa kejam, sebab rencananya setelah ini, dia akan memberitahukan kondisi anak mereka yang sebenarnya.
"Gue jelek banget, Vin ... hehe ..."
"Tenang, lo masih cantik kok. Masih kayak yang di film Jumanji. Itu loh yang ..."
"Jangan bilang kuda nil-nya!"
Alvin ngakak.
"Sialan!"
Mereka pun ngobrol, tapi lebih banyak Alvin dan Vincent. Sedangkan Viani, terkadang masih sedikit sesak sehingga masih belum bisa lepas dari oksigen.
Viani pun menunjukkan foto anaknya yang berada dalam perawatan intensif. Alvin tersenyum melihat makhluk itu, seakan melihat Vincent versi mini di sana.
Mendadak, ponsel Vincent berbunyi. Dia menerima telepon yang membuat ekspresi wajahnya berubah pias, tangannya gemetar dan maniknya bergerak ke sana ke mari dengan panik.
Anak mereka sudah semakin lemah. Dirinya pun tak bisa lama-lama menyimpan kabar ini dari Viani. Akan lebih buruk lagi kalau Viani tahu jika semua sudah terlambat.
"Sayang ..." panggil Vincent lembut setelah kembali dari NICU.
"Ya?" jawab Viani sambil berbaring dengan wajah yang masih terlihat amat lelah. "Gimana anak kita, Vin? Aku udah kangen banget, nggak cukup rasanya kalau cuma lihat dari hape doang." Sekali lagi Viani bertanya tentang kabar anaknya.
Bibir Vincent mendadak kering, dia pun membasahi bibirnya dengan lidah. Lelaki itu memutuskan memberitahu Viani. "Anak kita ..."
Semuanya terasa seperti slow motion saat semua keadaan seperti jatuh tertimpa tangga. Napas Viani semakin memburu, dan air matanya pun tak berhenti mengalir.
"Bawa aku ketemu dia!"
***
Seperti tebakan Vincent, Viani sangat syok melihat keadaan anaknya. Andai tidak berada di NICU, wanita itu pasti sudah histeris.
"Kenapa aku baru dikasih tau, Vin? Aku ini ibunya!! Aku berhak tau apa pun yang terjadi sama anakku!"
"Kamu lagi dalam kondisi yang tidak baik, Sayang."
"Lantas, apa anak kita harus kenapa-napa dulu baru aku diberitau?!"
Vincent menghela napas. Alvin pun mencoba membantu menenangkan Viani tetapi hasilnya gadis itu malah tambah marah.
"Dahlah Vi, Vincent juga begini karena dia mikirin kamu. Kamu nggak tau aja beban dia jadi suami gimana."
Bukannya tenang, Viani malah lebih marah lagi dan mulai melontarkan kemarahannya bertubi-tubi sambil sesekali bernapas tersengal.
Sudahlah, Alvin diam saja. Maju mundur dia kena. Tapi dia tidak pergi ke mana-mana, lalu memberikan satu botol air mineral. "Nih, minum! Kamu kurang a*ua. Marah-marah mulu kayak perawan tua."
Di luar NICU, suasana mulai sepi karena jam besuk sudah habis. Sementara Viani masih mengomel, mereka dikejutkan dengan banyak paramedis yang tiba-tiba berlari menuju ke sebuah titik.
Titik di mana bayi mereka terbaring lemah, dengan bunyi "bip" yang panjang.
...****************...